Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kehancuran
Zoya berjalan di pinggir jalan dengan pikiran kemana-mana, dia melamun dan bahkan tidak sadar dia sekarang pergi kemana.
Bagi kalian yang berpikir kenapa dia tidak naik taksi saja, sebenarnya dia masih punya banyak uang dan dia bisa naik taksi seandainya saja ada taksi yang lewat, tetapi dari tadi Zoya tidak menemukan taksi sama sekali. Juga, handphonenya mati dan tidak menemukan tempat untuk bisa mencharger handphonenya.
Hingga tanpa dia sadari, dirinya berjalan semakin menuju ke tengah jalan dan hampir saja di tabrak oleh sebuah mobil jika saja orang yang mengendarai mobil itu tidak langsung mengerem mobilnya.
Karena sangat terkejut, orang itu segera turun dari mobilnya dan memastikan bahwa seseorang yang hampir ditabraknya itu tidak apa-apa dan baik-baik saja.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya cowok itu pada Zoya.
"Nggak, aku nggak apa-apa," ucap Zoya.
"Lagian kamu ngapain jalan sambil ngelamun gitu, sih?" tanya cowok itu lagi.
"Hah? Nggak, itu aku tadi lagi mikirin sesuatu aja," ucap Zoya yang masih terduduk di jalanan karena syok.
Dengan cepat, cowok itu menariknya dan membantunya untuk berdiri. Dan alangkah terkejutnya mereka berdua saat melihat wajah satu sama lain.
"Zoya? Kamu beneran Zoya, kan?" tanya cowok itu.
Zoya mengangguk dengan mulutnya yang ternganga. "Agam?" gumamnya.
Orang yang disebut Agam itu mengangguk.
Saat dirinya sudah berdiri, Zoya memandangi wajah Agam sedetail mungkin dengan mulutnya yang masih ternganga tak percaya bahwa dia bisa bertemu teman masa kecilnya disini.
"Zoy, kamu kan tau kalo aku udah lama tinggal disini, jadi aku hampir lupa ngomong pake bahasa dari sana. Bahasa ini lebih nyaman," ucap Agam.
"Gue ngerti, kok." Zoya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Agam kemudian mengajak Zoya untuk masuk ke mobilnya dan dia segera melajukan mobil itu di jalanan yang masih gelap karena ini masih jam 5 subuh.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini. Pasti susah buat ketemu kamu karena sekarang kamu kan artis," ucap Agam seraya terkekeh.
"Udah nggak lagi. Film itu bakal jadi film pertama dan terakhir aku karena aku mutusin buat mundur dari dunia hiburan," ucap Zoya.
"Tapi kenapa? Sayang banget loh, Zoy. Kamu itu sekarang adalah pendatang baru paling diminati. Masa kamu mau mundur gitu aja?"
"Ada alasan dibalik semua ini, dan maaf aku nggak bisa kasih tau itu sama kamu"
Agam hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dia tidak sekepo itu untuk ingin mengetahui urusan orang lain. "Tapi, kamu kok sendirian? Zayn Mahesa mana? Biasanya kan kamu selalu sama dia. Terus kamu mau kemana subuh-subuh gini udah keluyuran?" tanyanya.
Zoya hanya diam dan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Agam.
"Rumah kamu dimana? Biar aku anter pulang," ucap Agam.
"Aku tinggal sama Zayn."
"What? Kalian tinggal bareng?" tanya Agam terkejut dengan apa yang diucapkan Zoya.
"Di rumahnya ada tiga kamar. Aku tidur di kamar tamu di sebelah kamar dia tapi Zayn yang punya rumah," ucap Zoya.
"Oh, gitu ya. Sekarang di mana alamat tempat tinggal kamu?" tanya Agam lagi.
"Daripada nganter aku ke rumah Zayn, kamu mending cariin aku apartmen atau rumah deh. Aku mau tinggal sendiri dan mandiri aja," ucap Zoya.
"Kebetulan, di sebelah apartmen aku ada apartmen kosong. Kalo kamu mau, kamu bisa tinggal di sana dan aku bakal anter kamu ke sana."
"Boleh tuh."
Agam kemudian segera melajukan mobilnya menuju apartmen. Setelah mengurus pembayaran dan yang lainnya, akhirnya Zoya bisa masuk ke dalam apartmennya dan beristirahat di sana.
"Kalo gitu aku pamit ya, karena aku harus kerja." Agam lalu pergi dari sana.
Dan akhirnya, Zoya bisa mencharger handphonenya. Apartmennya ini sebenarnya cukup luas jika hanya ditinggali oleh satu orang dan harganya pun lumayan mahal. Tapi mau bagaimana lagi, daripada dirinya menjadi tunawisma lebih baik dia menyewa apartmen ini untuk jangka waktu sebulan ke depan. Masalah perpanjangan, dia akan lakukan itu setelah mendapat pekerjaan yang lumayan menjanjikan.
***
Saat Zayn bangun tidur, dia sangat kebingungan karena tidak menemukan Zoya di mana pun. Alhasil, dia mencoba untuk bertanya pada Aidan.
"Dan, lo liat Zoya pergi ke mana nggak? Kok dia nggak ada sih pagi-pagi buta begini?" tanya Zayn.
"Ya mana gue tau. Lo kira gue emaknya apa? Mungkin dia pergi ke pasar kali," ucap Aidan ngawur. Dia sungguh pintar menyembunyikan kebohongan, pantas saja selama ini Airin tidak tahu bahwa dirinya menyukai gadis itu jika saja Aidan tidak mengatakannya.
"Ya kali Zoya pergi ke pasar. Lo jangan asal ngomong deh."
"Ya abis lo nanya sama gue, sih. Mana gue tau Zoya pergi kemana."
"Ah udahlah nggak ada gunanya ngomong sama lo," ucap Zayn seraya berlari mengambil kunci mobilnya.
"Lo mau kemana?" tanya Aidan.
"Nyari Zoya."
"Lo ngapain nyari dia sih? Dia bukan anak TK yang harus dicariin kalo pergi!"
"Ya tapi dia itu baru di Jakarta! Kalo dia nyasar atau dalam bahaya lagi gimana?" tanya Zayn.
"Lo udah telpon dia belum?"
"Udah, Dan. Tapi handphonenya nggak aktif jadi gue nggak bisa ngelacak keberadaan dia," ucap Zayn lalu pergi dari sana dan tidak menghiraukan Aidan yang memanggil-manggilnya.
***
Setelah lelah mencari Zoya kemana-mana dan tak kunjung menemukan gadis itu, Zayn pulang ke rumahnya.
"Gimana? Nemu Zoyanya?" tanya Aidan.
Zayn menggeleng lemah dan mendudukkan dirinya di sofa. Aidan ikut duduk di sebelahnya.
"Pak Bobby minta lo buat ganti kerugian dia atas berita lo yang kurang enak," ucap Aidan.
"Yaudah bayar aja," ucap Zayn.
"Lo udah gila, ya? Ngeganti kerugiannya itu nggak sedikit loh. Tabungan lo bakal terkuras banyak kalo mesti bayar itu," ucap Aidan.
"Ya terus mau gimana lagi?" tanya Zayn.
"Zayn, lo masih bisa memperbaiki ini semua. Lo masih bisa ngebersihin nama lo dan lo nggak harus ganti rugi atas semua itu," ucap Aidan.
"Tolong ambilin gue bir dong di dalem kulkas."
Aidan hanya menururi perintah Zayn dan mengambilkannya satu kaleng bir. Zayn segera membuka bir itu dan lantas menengguknya.
"Setelah semua film-film lo yang selalu booming dan jadi blockbuster, sekarang lo nggak punya jadwal lagi. Nggak ada yang mau kerja sama lo. Lo udah nggak punya apa-apa lagi. Nggak ada yang mau mensponsori artis peminum kayak lo, nggak ada yang bisa mentolerir itu. Dan sekarang, kita udah sampe di titik ini di mana kita nggak punya jadwal apa-apa lagi," ucap Aidan.
Zayn menghabiskan satu kaleng birnya dan membuangnya sembarang. "Ada banyak hal yang terjadi di hati gue juga."
"Tolong berhenti minum. Kita belum kehilangan semuanya. Dulu lo adalah bintang, dan sekarang lo masih seorang bintang...." lirih Aidan.
"Udah selesai? Gue mau tidur" ucap Zayn seraya memejamkan matanya. Dia sangat kelelahan karena sudah berjam-jam berkeliling Jakarta dan tak kunjung menemukan Zoya.
Saat baru saja tertidur, tiba-tiba Zayn kembali bermimpi buruk. Alhasil, dia terpaksa bangun dari tidurnya.
Tiba-tiba dia kembali teringat dengan Zoya, dia sangat panik karena sampai sekarang gadis itu tidak menghubunginya sama sekali.
Zayn kemudian masuk ke kamar Zoya dan melihat sebuah surat terletak di atas nakasnya. Zayn kemudian membuka dan membaca surat itu.
*Zayn... maaf sebelumnya karena aku pergi tanpa pamit sama kamu. Aku nggak bisa berada di sisi kamu dan tinggal di rumah kamu lagi. Dan apa yang dibilang Aidan itu bener, kalo aku cuma nyusahin kamu dan bikin karir kamu terhambat. Makanya aku harus pergi, supaya kamu bisa terus bersinar dan terang, Zayn. Sekali lagi maafin aku.
Salam, Zoya*.
Tak terasa, air mata Zayn menetes saat dirinya membaca surat itu. Dia sangat murka terhadap Aidan karena telah mengusir Zoya dari rumahnya dan segera mencari laki-laki itu.
Didapatinya Aidan sedang berada di dapur, Zayn langsung memberikan satu pukulan pada wajah cowok itu.
"Apa-apaan sih, Zayn?"
"Jangan tanya kenapa gue ngelakuin itu! Lo udah tau!" teriak Zayn.
"Maksud lo apa sih Zayn?!"
Zayn kemudian melemparkan kasar surat Zoya kepada cowok itu.
"Tuh lo baca sendiri! Berani-beraninya lo ngusir dia dari rumah gue! Gue udah bilang kalo dia bakal jadi aktris terkenal. Gue udah bilang kalo dia bakal jadi bintang besar. Dan apa yang lo lakuin? Lo ngerendahin dia! Lo ngancam dia kayak musuh!" teriak Zayn. Amarahnya sudah tidak dapat dibendung lagi sekarang.
"Ya, karena gue temen lo! Gue udah bareng lo selama 7 tahun. Lo selalu ngehormatin gue. Dan gara-gara cewek biasa itu--"
"Dia bukan cewek sembarangan!"
"Ini alasan kenapa gue ngelakuin itu biar lo bisa jauh dari dia! Gue nggak mau ini terjadi, bro! Pertama alkohol, dan sekarang--"
"Apa pun yang gue lakuin itu urusan gue, Aidan!" teriak Zayn seraya mendorong cowok itu.
"Nggak! Ini bukan masalah pribadi lo! Gue udah bareng lo selama 7 tahun. Gue ngejaga lo, karir lo. Gue ngeliat kesuksesan lo, kegagalan lo. Tapi, gue nggak bisa ngeliat lo ngasih kesuksesan lo yang bener-bener lo butuhin sekarang cuma buat seorang cewek! Gue nggak bisa ngeliat lo ngelakuin ini buat siapa pun itu. Gue sedih, hati gue juga sakit ngeliat lo berhenti mengenal bakat lo. Lo ngelupain akting lo yang nggak ada tandingannya. Kenapa? Kenapa lo nggak liat diri lo? Kenapa nyerah segampang itu? Lo manggil gue musuh lo. Liat diri lo sekarang!" teriak Aidan tak kalah sengitnya dengan Zayn.
"Lo bener. Tapi yang sebenernya, gue nggak pengen apa-apa. Ketenaran, keberuntungan, kesuksesan, uang, rasa hormat. Ini seharusnya buat orang-orang yang bener-bener pantas mendapatkannya. Memberi roti pada orang yang kelaparan. Dan gue ngeliat hal itu sama Zoya. Dan gue nggak memiliki itu lagi. Gue udah mengakui kebenaran ini, lo harusnya juga. Sahabat lo ini nggak bisa ngegaji lo lagi," ucap Zayn.
"Zayn--"
"Lo sekarang bebas, Aidan. Lo bisa pergi kemana pun yang lo mau," ucap Zayn lalu pergi dan kembali mencari keberadaan Zoya. Meninggalkan Aidan yang menatap punggungnya dengan tatapan tak percaya bahwa Zayn bisa melakukan hal itu padanya hanya demi seorang gadis.
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...