NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Nyonya Ketiga

Keira tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana.

Ethan juga tidak langsung bicara.

Koridor belakang terasa terlalu panjang di antara mereka. Di satu ujung, Keira berdiri dengan lengan kiri yang baru dibalut dan tangan kanan yang masih merah oleh deterjen. Di ujung lain, Ethan menatap luka itu dengan wajah yang tidak berubah.

Keira menurunkan lengan sedikit, membuat kain seragam menutup perban.

"Ko Ethan," ucapnya.

"Siapa?"

Satu kata. Dingin. Langsung.

Keira tahu ia bertanya siapa yang melakukan itu.

Ia juga tahu kalau ia menjawab sekarang, Ningsih bisa saja jatuh, tetapi dirinya ikut terseret sebelum bertemu Nyonya Ketiga. Di rumah ini, kebenaran yang keluar tanpa waktu tepat bisa berubah menjadi pisau yang kembali ke tangan sendiri.

"Saya ceroboh di laundry room," jawabnya.

Mata Ethan menyipit.

Keira menahan napas, menunggu ia memotong kebohongan itu.

Namun Ethan hanya berkata, "Ganti perban yang benar. Jangan meneteskan darah di koridor utama."

"Baik."

Ia menyingkir lebih dulu.

Saat melewati Ethan, Keira merasakan tatapannya masih menempel di lengan kiri. Tapi pria itu tidak menahan. Tidak bertanya lagi. Tidak menolong juga.

Itu membuatnya lebih sulit dibaca.

Menjelang siang, Keira sudah mengganti perban dengan rapi, membersihkan tangan kanan, dan memakai seragam berlengan panjang. Perihnya masih ada setiap kali kain menyentuh luka. Ia menyembunyikan rasa sakit itu di bawah wajah tenang.

Bi Sari menjemputnya setelah makan siang staf.

"Ingat," kata Bi Sari saat mereka melewati koridor menuju sayap yang lebih terang dan wangi. "Nyonya Ketiga suka orang yang cepat menangkap maksud. Tapi jangan terlalu cepat terlihat pintar."

Nasihat itu terdengar seperti teka-teki.

"Baik, Bi Sari."

Area Melissa berbeda dari kamar Stephanie.

Kalau kamar Stephanie menyimpan sisa badai dan obat, ruang duduk Melissa seperti panggung arisan yang tidak pernah bubar. Sofa krem, vas bunga segar, meja kaca dengan kue kecil, aroma parfum manis, dan foto keluarga yang dipilih dengan terlalu hati-hati. Semua tampak ramah, tetapi Keira merasa setiap benda di ruangan itu punya posisi politik.

Melissa Cin duduk di sofa panjang, mengenakan kebaya modern warna hijau pucat. Rambutnya tersanggul rapi, antingnya kecil tapi mahal. Senyumnya hangat ketika melihat Keira.

"Jadi ini Keira."

Keira menunduk. "Selamat siang, Nyonya Ketiga."

"Tidak perlu tegang. Duduk."

Bi Sari memberi Keira satu tatapan singkat sebelum mundur keluar.

Keira tidak langsung duduk sampai Melissa mengangkat dagu kecil, mengulang izin itu tanpa kata. Baru setelah itu ia duduk di tepi kursi.

Mata Melissa turun sekejap ke lengan panjang Keira.

Sangat cepat.

Tapi Keira melihatnya.

"Aku dengar kau sibuk sekali beberapa hari ini," kata Melissa. "Menyelamatkan bayi, membuat Steph tenang, membuat Gilbert mulai berpikir. Rumah ini sudah lama tidak punya staf muda yang begitu... berguna."

Kata berguna terdengar lembut.

Tetapi Keira tidak suka rasanya.

"Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya Ketiga."

"Semua orang selalu bilang begitu." Melissa tersenyum. "Bedanya, tidak semua orang benar-benar bisa menjalankan tugas."

Sebelum Keira menjawab, suara benturan terdengar dari ruang makan kecil di samping.

"Aku nggak mau!"

Suara anak laki-laki.

Lalu piring plastik jatuh ke lantai.

Melissa menghela napas, tetapi wajahnya tidak benar-benar marah. "Jay."

Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun muncul dari balik pintu, memakai kaus mahal dengan gambar mobil balap. Pipinya bulat, matanya tajam karena marah. Di belakangnya, seorang pengasuh tua membawa mangkuk nasi tim dengan wajah hampir menangis.

"Mama, aku nggak mau dia!" Anak itu menunjuk Keira sebelum mereka bahkan diperkenalkan. "Aku nggak mau pengasuh baru!"

Keira berdiri.

Jayden Ciu.

Anak Nyonya Ketiga.

Ia baru mengingat catatan kecil dari Bi Sari tentang Tuan Muda Kecil yang tidak pernah bertahan dengan satu pengasuh lebih dari beberapa minggu.

Melissa tidak menegur Jayden keras. Ia justru menatap Keira, seolah piring yang jatuh itu bagian dari ujian yang memang sudah disiapkan.

"Adik Jay sedang kurang mood hari ini."

Jayden menghentakkan kaki. "Aku nggak kurang mood! Aku nggak suka dia!"

Pengasuh tua berusaha mendekat. "Adik Jay, makan dulu sedikit."

"No!"

Jayden menepis sendok.

Nasi tim terciprat ke lantai dan mengenai ujung sepatu Keira.

Ruangan hening.

Keira menunduk melihat noda itu, lalu kembali menatap Jayden. Ia tidak mengambil tisu. Tidak menunjukkan jijik. Tidak memarahi.

Ia malah berjongkok.

Posisinya membuat mata mereka sejajar.

Jayden tampak terkejut sedikit, lalu mengerutkan wajah lebih galak. "Apa lihat-lihat?"

"Adik Jay boleh marah," kata Keira.

Anak itu berkedip.

Mungkin ia terbiasa mendengar jangan marah, jangan nakal, jangan teriak. Kalimat boleh marah membuatnya kehilangan ritme.

"Tapi kalau kamu melempar makanan," lanjut Keira tenang, "berarti kamu nggak lapar. Aku nggak akan memaksamu makan."

Jayden menatapnya curiga. "Aku memang nggak lapar."

"Baik."

Keira berdiri, mengambil mangkuk dari tangan pengasuh tua, lalu meletakkannya di meja samping, jauh dari jangkauan Jayden.

Jayden membelalak. "Eh! Itu punyaku!"

"Tadi Adik Jay bilang tidak lapar."

"Tapi itu punyaku!"

"Punyamu. Jadi tidak ada yang akan makan. Tapi makanan juga tidak dilempar."

Jayden membuka mulut, menutupnya lagi, lalu menoleh ke Melissa. "Mama!"

Melissa mengangkat alis. "Kamu bilang tidak lapar."

Jayden tampak makin bingung karena ibunya tidak langsung menyelamatkannya.

Ia menendang udara sekali. "Aku mau main!"

"Boleh," kata Keira.

Pengasuh tua menatap Keira seolah ia baru saja membuka pintu menuju bencana.

Jayden juga tidak percaya. "Boleh?"

"Boleh. Tapi main di meja kecil, bukan di lantai yang ada nasi. Setelah lantainya dibersihkan, Adik Jay boleh pilih, makan tiga suap dulu atau tunggu sampai jam makan berikutnya."

"Aku nggak mau tiga suap!"

"Berarti tunggu jam makan berikutnya."

"Nanti aku lapar!"

"Kalau lapar, tubuh Adik Jay sedang memberi tahu sesuatu. Lain kali, makanan tidak dilempar."

Jayden menatap Keira lama.

Di wajah kecil itu, marah masih ada. Tapi untuk pertama kalinya, marah itu bercampur bingung.

Tidak ada orang yang mengejarnya dengan sendok. Tidak ada yang membujuk memakai mainan. Tidak ada yang panik karena ia menendang.

Keira hanya berdiri di sana, tenang, seperti kemarahannya bukan badai besar yang bisa menghancurkan seluruh rumah.

"Kamu nggak takut aku nangis?" tanya Jayden.

"Kalau Adik Jay mau menangis, boleh."

"Aku bisa nangis keras."

"Saya tahu."

"Sangat keras."

"Nanti saya tunggu sampai selesai."

Jayden terdiam.

Melissa yang sejak tadi menonton akhirnya tertawa kecil. "Menarik."

Keira menunduk sedikit, tetap menjaga jarak. "Anak seusia Adik Jay butuh batas yang jelas, Nyonya Ketiga. Kalau semua orang selalu takut pada tangisnya, Adik Jay belajar bahwa tangis adalah cara tercepat mengatur ruangan."

Jayden menatap Keira, lalu ibunya. "Aku nggak ngatur ruangan."

"Sekarang belum," jawab Keira. "Tadi hampir."

Mulut Jayden maju. Ia tampak ingin marah lagi, tetapi tidak menemukan tempat untuk menaruh marah itu.

Melissa mengangkat cangkir tehnya. Matanya pada Keira, senyumnya lebih dalam daripada tadi.

"Kalau begitu, mulai hari ini kau bantu mengawasi Jay juga."

Keira menahan napas. "Saya masih bertugas utama di Nyonya Stephanie dan bayi."

"Aku sudah bicara dengan Nyonya Besar. Tidak setiap hari. Hanya saat diperlukan." Melissa meletakkan cangkir. "Kau keberatan?"

Pertanyaan itu punya jawaban benar yang sudah disediakan.

Keira menunduk. "Saya akan mengikuti pengaturan rumah, Nyonya Ketiga."

"Bagus."

Jayden menarik ujung kausnya. "Aku nggak mau dia."

Keira menatapnya. "Tidak apa-apa. Aku juga belum minta Adik Jay suka padaku."

Jayden lagi-lagi kehilangan kata.

Setelah Keira keluar dari ruang duduk, luka di lengannya berdenyut lebih keras. Ia berjalan perlahan, tidak ingin perban bergeser.

Di dalam ruangan, Melissa menunggu sampai langkah Keira benar-benar menjauh.

Lalu ia mengambil ponsel dari meja.

"Dia lebih pintar dari yang sebelumnya," ucap Melissa pelan kepada seseorang di seberang sana. Senyumnya tetap manis. "Kita bisa memakainya."

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!