Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Sepotong Kue untuk Semua Orang
Keira berjalan ke sana sambil menyembunyikan senyum.
Senyum itu bertahan sampai sore, meski ia sudah kembali tenggelam di antara revisi warna, pesan dari Naomi, dan suara Salma yang beberapa kali menyanyikan potongan lagu cinta dengan nada sengaja fals.
Namun ketika mobil berhenti di depan TK Internasional untuk menjemput Genki, senyum itu berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut.
Genki keluar dari kelas sambil membawa kotak plastik transparan. Di dalamnya ada potongan kue cokelat kecil dengan taburan meses warna-warni.
"Kak Kei!" Ia berlari, lalu mengangkat kotak itu seperti piala. "Genki bikin kue."
"Wah, hebat." Keira berjongkok. "Ini dari kegiatan kelas?"
"Iya. Genki aduk sendiri. Sedikit tumpah."
Guru yang mengantar tertawa. "Sedikit sekali, hanya setengah meja."
Genki menoleh cepat. "Bu Guru jangan bilang."
Keira tertawa. "Rahasia aman."
Anak itu menggenggam tangan Keira, lalu menariknya ke arah mobil. "Kue buat semua orang."
Ternyata yang dimaksud semua orang benar-benar semua orang yang ia pilih.
Di Vila Biru, Genki meminta piring kecil. Pengasuh mendapat satu potong. Gio yang kebetulan datang mengantar dokumen mendapat satu potong. Aiden, yang entah sejak kapan sudah duduk di ruang keluarga sambil bermain game di ponsel, mendapat satu potong besar karena katanya "Om Aiden capek hidup".
Keira mendapat potongan paling rapi, diletakkan di piring putih dengan garpu kecil.
"Ini punya Kak Kei. Paling bagus."
Keira menatap kue yang miring sedikit di satu sisi, lalu mengangguk serius. "Terima kasih. Ini kehormatan besar."
Genki puas.
Rayhan masuk dari arah tangga dengan lengan kemeja tergulung. Ia baru selesai video call, wajahnya masih menyimpan dingin ruang kerja.
"Aku dapat?"
Genki memeluk kotak kue.
"Habis."
Aiden langsung batuk keras menahan tawa.
Rayhan menatap meja. Masih ada satu potong kecil di dalam kotak.
"Itu apa?"
"Cadangan."
"Untuk siapa?"
"Untuk Genki besok."
Rayhan berjalan mendekat. "Aku papa kamu."
Genki mengangguk. "Iya."
"Papa tidak dapat?"
"Papa tadi kerja. Nggak bantu aduk."
"Gio juga tidak bantu."
Genki melirik Gio.
Gio yang biasanya tenang langsung duduk lebih tegak, seolah sedang menghadapi audit paling berbahaya.
"Om Gio bawa kertas untuk Papa. Capek."
"Aiden?"
"Om Aiden capek hidup."
Aiden mengangkat garpu. "Argumen valid."
Keira menunduk, bahunya bergetar karena menahan tawa.
Rayhan menatap putranya beberapa detik, lalu berkata datar, "Aku juga capek hidup."
Genki berpikir.
Sangat serius.
Lalu menggeleng. "Papa kuat."
Aiden hampir tersedak.
Keira akhirnya tertawa. Suaranya ringan, membuat ruang keluarga yang biasanya terlalu rapi terasa lebih manusiawi.
Rayhan melihatnya, dan ekspresi dinginnya melunak sekilas.
"Baik," katanya. "Papa kuat."
Ia duduk di sofa tunggal, mengambil tablet dari meja, seolah menyerah. Genki tampak makin bangga karena berhasil memenangkan sesuatu.
Keira menusuk kue di piringnya. Rasanya terlalu manis, teksturnya agak padat, tetapi ia mengunyah dengan wajah sungguh-sungguh.
"Enak?"
"Enak sekali."
"Lebih enak dari kue toko?"
"Lebih enak."
"Lebih enak dari kue Papa?"
Keira menoleh ke Rayhan. "Papa bisa bikin kue?"
Aiden menjawab sebelum Rayhan sempat membuka mulut. "Ko Ray bisa bikin kopi pahit dan suasana rapat mencekam."
Gio menunduk terlalu cepat.
Rayhan menatap Aiden.
"Aku diam," kata Aiden, tetapi senyumnya tidak membantu.
Genki mengambil garpu kecil, memotong kue cadangannya, lalu menyuapkan ke mulut sendiri dengan puas. "Kak Kei suka kue Genki."
"Kak Kei sopan," kata Rayhan.
Genki langsung membeku. "Apa?"
Rayhan menatap piring Keira. "Mungkin dia bilang enak karena tidak ingin kamu sedih."
Keira tahu itu jebakan. Terlambat.
Genki menoleh kepadanya dengan mata membulat. "Kak Kei bohong?"
"Tidak." Keira cepat-cepat menggeleng. "Enak kok."
"Bener?"
"Bener."
"Kalau begitu Kak Kei makan lagi."
Keira melihat potongan kue yang tersisa. Demi menjaga harga diri koki kecil itu, ia mengambil satu suap lagi.
Rayhan tiba-tiba mencondongkan tubuh, mengambil garpu dari piring Keira, lalu mencicipi sedikit kue.
Semua orang terdiam.
Genki membuka mulut.
"Papa!"
Rayhan mengunyah pelan. "Ternyata enak."
"Itu punya Kak Kei!"
"Kak Kei belum marah."
"Kak Kei punya Genki!"
"Tadi katanya orang bukan barang yang bisa dipunya."
Genki terdiam karena kalimatnya sendiri dikembalikan.
Aiden memukul sofa sambil tertawa tanpa suara. Gio pura-pura membaca dokumen, tetapi sudut mulutnya bergerak.
Keira menatap Rayhan dengan campuran malu dan ingin tertawa. "Anda sengaja."
"Aku hanya mengevaluasi kualitas kue."
"Pak Rayhan."
"Rayhan."
Genki makin marah. "Papa jangan dekat-dekat."
Rayhan menyandarkan punggung ke sofa, wajahnya tetap tenang. "Kenapa?"
"Nanti Kak Kei diambil."
"Kalau Kak Kei mau pergi denganku, itu pilihannya."
Keira tersedak.
Aiden langsung bersiul pelan. "Waduh."
Genki menatap Keira, panik. "Kak Kei mau pergi sama Papa?"
Keira memegang tangan kecilnya. "Sekarang Kak Kei di sini."
"Besok?"
"Besok jemput Genki."
"Lusa?"
"Jemput juga."
Genki berpikir lagi. "Kalau malam?"
Rayhan menjawab dengan terlalu cepat. "Malam mungkin Kak Kei punya urusan."
Keira menoleh.
Rayhan menatapnya. Tidak ada tekanan dalam tatapan itu, tetapi ada undangan yang jelas.
Aiden langsung memutar badan, pura-pura melihat vas bunga. "Aku tiba-tiba tuli."
Gio berdiri. "Saya izin ke ruang kerja, Pak."
"Duduk," kata Rayhan.
Gio duduk lagi.
Keira merasa wajahnya panas. "Saya belum tahu jadwal."
"Aku bertanya untuk Sabtu malam," kata Rayhan. "Makan malam. Hanya kamu dan aku. Bukan urusan Genki, bukan urusan D.N, bukan urusan keluarga."
Genki langsung memeluk pinggang Keira. "Genki ikut."
"Tidak."
"Papa jahat!"
"Kadang."
"Genki juga mau makan."
"Kamu makan di rumah."
"Mau sama Kak Kei."
Rayhan menatap putranya dengan sabar yang tipis. "Kamu sudah menghabiskan jatah kue hari ini."
"Itu kue Genki sendiri!"
"Justru itu."
Keira menahan tawa sambil berusaha menyelamatkan situasi. "Sabtu malam aku cek jadwal dulu, ya."
Rayhan mengangguk. "Aku tunggu jawabanmu."
Tidak memaksa.
Tetap menunggu.
Genki menyandarkan kepala ke lengan Keira dengan wajah curiga. "Kalau Kak Kei pergi sama Papa, Genki boleh marah sedikit?"
Keira mengusap rambutnya. "Boleh sedikit."
"Sedikit aja?"
"Sedikit."
Genki mengangkat satu jari kecil. "Segini?"
"Segitu."
Aiden akhirnya tidak tahan. "Ko Ray, sainganmu tingginya belum satu meter tapi strateginya bagus."
Rayhan mengambil tisu, membersihkan remah kue di ujung piring Keira, lalu berkata datar, "Aku tahu."
Keira menatap gerakan kecil itu.
Di antara tawa Genki, komentar Aiden, dan pura-pura sibuknya Gio, ia merasakan sesuatu yang diam-diam lebih kuat daripada keramaian.
Rayhan tidak sedang menariknya masuk paksa.
Ia hanya membuka pintu, lalu menunggu Keira memilih apakah ingin melangkah.
Sabtu malam.
Dua kata itu tinggal di kepalanya sampai ia pulang dari Vila Biru, seperti janji yang belum berani ia sebut janji.