Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab16
Tiga puluh menit kemudian, setelah membersihkan diri, Arjuna berjalan menuju meja makan kayu kecil di sudut dapur dengan langkah gontai. Selly sudah duduk di sana, menunggunya dengan sabar tanpa menyentuh makanannya sedikit pun sebelum suaminya duduk.
Arjuna menarik kursi dengan kasar, lalu mulai mengambil nasi dan lauk pauk dengan gerakan malas. Suasana makan malam itu berlangsung dalam keheningan yang pekat, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Selly sesekali melirik suaminya, mencoba mencari celah untuk membuka obrolan demi mencairkan ketegangan.
"Mas... besok rapatnya jadi jam sepuluh pagi, kan?" tanya Selly dengan sangat hati-hati, memecah kesunyian.
Arjuna menghentikan kunyahannya sejenak, lalu meletakkan sendoknya ke atas piring dengan dentingan yang cukup keras, membuat Selly sedikit tersentak di tempat duduknya.
"Ya. Besok rapat jam sepuluh," jawab Arjuna dengan nada suara yang ketus dan dingin. "Dan kamu tahu siapa yang harus aku hadapi besok di sana? Larasati. Dia sengaja menunda rapat hari ini hanya untuk mempermainkan mentalku, untuk menunjukkan padaku kalau dia sekarang punya kuasa atas nasib proyekku."
Selly menundukkan kepalanya dalam-dalam, dadanya terasa berdenyut sakit setiap kali nama Larasati keluar dari mulut suaminya. Ia tahu, bayang-bayang Larasati akan selalu menjadi dinding pembatas yang tebal di antara mereka seumur hidup.
"Maafkan aku, Mas... Ini semua karena kesalahanku." bisik Selly lirih, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.
"Memang karena kesalahanmu, Selly! Jadi stop memasang wajah melas seperti itu di depanku!" bentak Arjuna, amarahnya yang tertahan seharian di kantor akhirnya meledak juga di atas meja makan. "Persiapkan mentalmu baik-baik, karena mulai besok hidup kita tidak akan mudah lagi. Uang tabunganku sudah habis terkuras untuk membayar pengacara dan cicilan ganti rugi vendor pernikahan yang dituntut oleh keluarga Larasati. Ditambah lagi posisiku di kantor sedang di ujung tanduk. Jika besok aku gagal melunakkan hati Larasati dalam rapat itu, kita berdua akan benar-benar menjadi gelandangan di kota ini!"
Arjuna bangkit berdiri dari kursinya, meninggalkan makan malamnya yang baru termakan setengah. Ia menyambar ponselnya di atas meja, lalu melangkah lebar menuju ruang tamu dan kembali membanting pintu, memilih untuk tidur di sofa yang dingin daripada harus berbagi ruang dengan wanita yang kini ia anggap sebagai sumber dari segala kemalangannya.
Selly hanya bisa mendekap perut buncitnya erat-erat di atas meja makan yang sepi, menangis dalam diam menahan perih di dadanya. Namun di sela-sela tangisnya, Selly terus merapalkan doa di dalam hati agar Tuhan memberikan kelancaran bagi rapat suaminya besok pagi. Ia ikhlas menerima seluruh kemarahan Arjuna, asalkan karier suaminya tidak hancur demi masa depan anak yang sedang dikandungnya ini.
Hari Selasa pukul sepuluh pagi yang mendebarkan akhirnya tiba. Sinar matahari Jakarta yang terik menembus dinding kaca megah gedung Dirgantara Media Group. Di dalam lobi utama, Arjuna berdiri dengan tubuh yang mendadak kaku. Ia mengenakan setelan jas terbaiknya, namun tidak bisa menutupi rona wajahnya yang pucat dan bayang hitam di bawah matanya.
Pagi ini, ia datang bukan lagi sebagai tunangan yang dielu-elukan, melainkan sebagai perwakilan mitra yang posisinya sedang di ujung tanduk. Setiap langkah Arjuna menyusuri koridor lantai atas terasa begitu berat. Ia bisa merasakan tatapan sinis dan bisik-bisik dari para staf yang berpapasan dengannya.
Surat pengumuman pembatalan nikah dari Papa Baskoro terbukti sukses mematikan karakter sosialnya.
Langkah Arjuna terhenti tepat di depan pintu ruang rapat utama. Pintu kaca itu terbuka, menampilkan sosok Larasati yang sedang berdiri di dekat meja oval. Jantung Arjuna mencelos seketika. Larasati tampak begitu bersinar dan luar biasa cantik. Wanita berusia 35 tahun itu mengenakan setelan formal berpotongan asimetris warna putih gading dengan rambut yang disanggul modern secara rapi. Auranya terpancar begitu kuat, seolah-olah skandal pengkhianatan dua minggu yang lalu tidak pernah menyentuh hidupnya sedikit pun.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok