NovelToon NovelToon
After Reunion

After Reunion

Status: sedang berlangsung
Genre:Teman lama bertemu kembali
Popularitas:231.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mak Nyak

Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Abah dan Ibu

Pov : Widya

Jantung abah kembali berdetak. Perasaanku sedikit lega. Kucoba hentikan isak tangisku. Mendekati tubuh lelaki yang selama ini menjagaku. Pria yang sedari kecil memberikan cintanya tulus padaku. Lelaki yang rela tubuhnya diterpa terik matahari dan basah kuyup karena hujan.

Maaf telah membuatmu sakit seperti ini. Widya tidak bermaksud melakukan hal ini. Tolong segeralah sadar, Bah, agar perasaan bersalah Widya dapat memudar. Aku akui diriku salah.

Coba saja aku tidak menerima cinta Tompi, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Harusnya kutolak dari awal. Semestinya tidak kujalin lagi komunikasi dengannya. Aku memang bodoh dalam hal percintaan.

Aku duduk termangu menunggu abah sadar. Entah kapan, aku berharap segera. Agar perasaanku sedikit lega. Aku ingin meminta maaf atas semua hal yang telah kulakukan. Jujur, aku takut kehilangan orang tuaku.

Ibu mendiamkanku. Tidak menyapa ketika aku ada di dalam ruangan. Kubiarkan, memang seperti itulah ibuku jika sedang marah. Diam entah untuk waktu berapa lama, nanti tiba-tiba sudah baik lagi. Aku keluar untuk mengabarkan pada Gata.

Adikku perlu tahu keadaan orang tua kami. Aku menghubungi nomornya. Kukabarkan padanya bahwa abah ada di ICU. Dia akan segera pulang.

Panggilan masuk dari Tompi, kuangkat dan kukabarkan padanya.

"Nggak, nggak usah kesini. Nanti makin rumit, Mas. Tolong, mengalahlah." Aku berusaha mencegahnya datang. Takut ketahuan oleh ibu dan akan semakin rumit keadaannya.

Kuserahkan semua urusan pada Banun. Aku meminta Gandi membawakan pakaianku. Kuminta anakku membujuk mbah utinya pulang, karena ibuku lebih nurut dengan Gandi dibanding denganku.

"Mbah, ayo pulang dulu. Istirahat dulu. Nanti Gandi antar lagi kesini." Gandi mencoba membujuk ibu.

Ibu menggelengkan kepalanya, "Uti mau disini saja, kasihan akung nanti kalau bangun nyari Mbah Uti tidak ada."

"Ada mamah disini, Uti istirahat dulu. Nanti kalau sama-sama sakit bagaimana?" Gandi masih merayu ibuku agar mau pulang.

Aku hanya diam, tidak berani bersuara. Takut nanti amarah ibu meledak lagi. Kubiarkan anak lelakiku membujuknya, akhirnya ibu mau pulang bersama Gandi.

Aku mengambil wudhu lalu kubacakan surat yasin. Beberapa kali hingga akhirnya ada tanda kesadaran abah kembali. Telunjuk kanannya menunjuk ke arahku. Segera kupanggil dokter untuk mengecek tanda vital abah.

"Barakallah, terima kasih Ya Allah." Kulantunkan do'a pada Sang Pencipta.

Dokter menjelaskan padaku bahwa abah mulai sadar. Perlu pemantauan lebih lanjut untuk beberapa hari ke depan. Aku terharu, terima kasih Bah, masih mau memberikan kesempatan Widya untuk minta maaf.

Aku membasuh wajah, tangan, dan kaki abah. Kusisir rambutnya yang sudah memutih itu. Adzan berkumandang, kupilih salat di ruang ICU karena takut meninggalkan abah.

Gandi memberitahuku bahwa tubuh ibu menjadi panas. Kuminta dia untuk memberikan obat penurun panas terlebih dahulu. Keadaan menjadi tidak terkendali. Orang tuaku jatuh sakit semua.

Aku memang egois. Hanya karena memikirkan perasaanku sendiri, aku mengabaikan hal penting yang harus kurawat dan kujaga.

"Abah, maafkan Widya. Cepat bangun, Bah." Kugenggam tangan abah, terasa kulitnya sudah mengendur karena usia.

**

Gata dan Ita menggantikanku menjaga abah. Sekarang giliranku mengurus ibu. Terpaksa aku harus memasang infus padanya. Panasnya terlalu tinggi. Ibu mengeluh kepalanya berputar dan mual.

Di hatiku rasanya sesak. Beberapa saudara membantuku untuk menjaga ibu. Pakdhe bertanya padaku kenapa hal ini bisa terjadi. Aku menceritakan semuanya.

Terserah jika mereka mau menyalahkanku. Ya, itu memang karena aku salah. Semalam suntuk aku tidak tidur. Kuabaikan pesan dan panggilan di ponsel.

"Wid ..., Wid ...," lirih terdengar suara ibu memanggilku.

Kudekatkan telingaku padanya, "Ya, Bu?"

"Tolong kamu jangan ngeyel, Nduk. Tinggalkan Tompi, sudah cukup kamu dihina seperti dulu. Ibu dan abah hanya ingin kamu bahagia." Permintaan itu terdengar sangat berat bagiku.

Lalu bagaimana janjiku dengannya? Masing-masing dari kami sudah berjanji tidak akan saling meninggalkan. Kupilih diam tidak menjawab. Tanganku memeriksa dahi ibu. Panasnya sudah mulai turun.

Kupaksa ibu untuk makan dan minum. Tapi, ibu menolak.

"Kepala Ibu rasanya masih berputar."

"Ya sudah, Widya temankan Ibu tidur." Aku merapikan rambutnya yang berantakan.

**

Gata memberitahuku bahwa abah sudah sadar. Kuminta Banun menjaga ibu sebentar, sedangkan aku bergegas ke rumah sakit. Sesampainya aku disana, kuminta Gata dan Ita pulang.

"Kamu sudah makan, Mbak?" tanya Ita padaku.

Aku menggeleng, bahkan untuk mandi saja aku lupa. Saking rumitnya pikiranku hingga tidak mengingat itu semua. Aku segera memakai gown dan menemui abah.

Kulihat air mata mengalir ke samping telinga. Cepat-cepat kuambil tisu dan kuseka air mata itu.

"Maafkan Widya, Bah. Widya salah, Widya menjadi anak nakal." Aku juga menangis saat mengatakan hal itu.

Bibir abah sudah tidak simetris. Begitulah jika orang sudah mengalami stroke. Dokter mendatangiku dan menjelaskan keadaan abah. Anggota tubuh sebelah kiri mulai dari bibir hingga ke tangan tidak bisa bergerak.

Kadar gula abah juga tinggi. Dokter spesialis penyakit dalam memberikan suntikan insulin untuk menurunkan kadar gula darahnya. Dokter saraf memintanya untuk terapi, agar anggota tubuh abah yang saat ini tidak bisa bergerak bisa aktif kembali, meskipun tidak sempurna.

Abah memintaku mendekat padanya, "Jangan menikah sama Tompi, orang tuanya jahat padamu, berjanjilah," ucap Abah terbata-bata.

Aku mengangguk. Meskipun hatiku teriris oleh kenyataan yang ada. Permintaan kedua orang tuaku membuatku tersiksa. Tapi, aku juga tidak ingin melihat mereka menderita.

Kuputuskan untuk fokus merawat kedua orang tuaku dulu.

Beberapa hari setelah abah berada di rumah sakit, keadaannya sudah mulai membaik. Abah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Ibu sudah bisa bangun dan makan, tetapi terlihat masih pucat.

Gata tidak bisa izin dari pekerjaannya terlalu lama. Aku memintanya untuk pulang.

"Lalu kamu akan seperti apa?" tanya adikku.

"Abah dan ibu memintaku meninggalkan Tompi, ya ..., mungkin sudah jalan takdirnya kami tidak berjodoh." Aku menghela napas panjang lalu kuhembuskan perlahan. Berharap sesak yang kurasakan sedikit mereda, nyatanya semakin sesak saja hatiku.

"Hal ini mengingatkanku pada sebuah ayat yang ada di dalam surat yasin, ayat ke empat puluh, tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, masing-masing beredar pada garis edarnya."

Aku ingat betul ayat ini, selama beberapa hari ini aku membacanya dan menyadarkanku akan hal ini.

"Tapi kamu lupa, Mbak. Kun fayakun, jadi maka jadilah. Takdir hanya Allah yang tahu. Ikhlaskan saja dulu. Mungkin bukan sekarang kalian berjodoh, tapi nanti, aku yakin itu."

Gata mencoba memberiku semangat. Aku membalasnya dengan senyuman. Ku ikhlaskan semua jika memang itu keinginan orang tuaku, dan yang terbaik bagi semua.

Me : Ayo bertemu di rumah makan dekat rumah sakit. Ada yang ingin aku sampaikan.

1
Ari Utami Ningsih
Luar biasa
Ari Utami Ningsih
Lumayan
Sri Lestari
andai anakku ketemu jodoh sprti tompi...
alhamdulillah...
Mukmini Salasiyanti
klrga cemara??
pinus kaliiikkkkk

wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
lahhh
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
Mukmini Salasiyanti
eng ing eng......
fighting!!!!!


wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
wowwwwww
kereeeen!!!!?
martina melati
versi laki2 widya y
martina melati
bikanny pusing krn soal matematika???
martina melati
saling tekan menekan nih...
martina melati
kalo dkota sdh hilang tuh sepeda dan motor
martina melati
cara gentelment y pria vs remaja lelaki (man vs boy)
martina melati
hahaha...
martina melati
kan grouo cerdas band.../Grin/
martina melati
acara reuni pas smp ato smu bahkan kuliah sdh tidak ku ikuti lagi... artiny jika gk celutuk y dsentil bahkan dbully gt.. bikin emosi bergejolak... blm lg jika ada cinta tumbuh bersemi lagiii...
martina melati
hahaha. polisi mah siap tangkap badan y
martina melati
emang sih apa pun alasanny... buntut2ny jd bersitegang malah berantem, pi yere??
martina melati
betulkn reuni maut tuh... bukan berharap jelek lho, nti pas karma pasangan april yg selingkuh bgm???
martina melati
emang ada apa y thor???
martina melati
shrsny terbuka aja, ceritakn ayahmu selingkuh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!