NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Pertempuran di Jembatan Gaib

Detak gaib Istana Sisik Hitam runtuh berkeping-keping di belakang tumit Bintang. Ketika tebasan Pisau Sungsang Buwana memutus jalinan sulur hitam di belikat Sekar, dimensi bawah tanah itu meledak dalam kepulan uap belerang yang menghanguskan. Tubuh spiritual Sekar tidak lagi melungker di atas lantai batu kali; esensinya ditarik meluncur ke atas oleh benang perak ghaib yang menyala benderang.

Namun, Bintang tidak ikut terlempar ke dunia fana. Aliran balik dari sisa Wisa Sengkolo yang dilepaskan dalam lolongan murka Kalingga menghantam dada sukmanya, menciptakan daya tolak masif yang melemparkannya ke samping.

Sreeeeet... Blam!

Bintang tidak mendarat di lantai kamar belakang rumah Rahayu. Dia terjerembap di atas sebuah titian panjang yang sempit, sunyi, dan diliputi kabut kelabu sepekat semen basah. Tempat itu adalah Wates Ghaib—jembatan perbatasan—sebuah dimensi abu-abu yang memisahkan batas mutlak antara raga fana manusia dan alam pemukiman lelembut. Di sini, tidak ada langit maupun dasar; yang ada hanya hamparan kabut dingin yang baunya menusuk seumpama bangkai tikus yang membusuk di dalam sumur tua.

Titian yang dipijak Bintang terbuat dari tumpukan tanah kuburan yang kering dan rapuh, lebarnya tidak lebih dari dua jengkal orang dewasa. Di sisi kiri dan kanan jembatan ghaib itu, terbentang jurang kegelapan tanpa dasar yang mengeluarkan suara gemuruh rendah—suara tangisan jiwa-jiwa yang tersesat dan gagal kembali ke raga mereka.

"Sekar...!" Panggilan Bintang tertahan di tenggorokan sukmanya.

Dua puluh langkah di depannya, sukma Sekar sedang melayang kaku dalam posisi tegak, terombang-ambing di dalam pusaran kabut abu-abu. Benang perak yang terikat pada kebaya putihnya tampak menegang gila, ditarik oleh kekuatan doa Mbah Sariti dari dunia atas. Namun, gerakan naik sukma Sekar terhenti total.

Dari dalam jurang kegelapan di bawah jembatan, menjalar tiga utas rantai ghaib berukuran sebesar lengan pria dewasa. Rantai itu berwarna hitam legam, terbuat dari jalinan besi kuno yang berkarat dan terus mengeluarkan uap bisa berwarna hijau keunguan.

Clang... Clang... Clang...

Ketiga rantai jahanam itu melilit kencang pinggang, leher, dan pergelangan kaki spiritual Sekar, menahannya dengan paksa di garis batas. Setiap kali rantai itu menegang, lapisan sisik emas di leher Sekar kembali berkerut, mengeluarkan suara derik halus yang menandakan bahwa klaim Kalingga belum sepenuhnya musnah. Jiwa Sekar meronta tanpa suara, matanya yang memutih menatap kosong ke arah kegelapan.

Bintang mencoba melangkah maju untuk menebas rantai tersebut dengan Pisau Sungsang Buwana. Namun, tepat ketika dia mengangkat kakinya, bilah pusaka di tangan kanannya mendadak meredup drastis. Pendaran kuning keemasannya menyusut, menyisakan pamor besi hitam yang dingin. Sifat sungsang dari pusaka Ki Prakoso telah mencapai batas maksimumnya; energi pusaka itu terkunci sementara karena benturan langsung dengan wujud kobra purba Kalingga di dimensi terdalam tadi.

Sreeet... Sssshhh...

Dari balik kabut abu-abu di ujung jembatan, bayangan-bayangan melata mulai bermunculan. Mereka bukan lagi Kalingga, melainkan Balatentara Bhujangga—pasukan siluman ular penjaga perbatasan yang dikirim langsung untuk menagih sisa seserahan Sabtu Kliwon. Jumlah mereka tak terhitung, merayap tumpang-tindih di atas titian tanah kuburan dengan kecepatan yang mengerikan.

Wujud makhluk-makhluk itu sanggup meruntuhkan kewarasan manusia biasa. Beberapa di antara mereka memiliki tubuh ular piton raksasa namun berkepala manusia tanpa kulit, menyingkap otot-otot merah yang basah dan berulat. Yang lain berwujud perempuan kerdil dengan perut membusuk yang memancarkan bau bangkai kenanga, berjalan menggunakan kedua tangan sementara bagian pinggang ke bawah adalah seuntai kelabang dan ular-ular kecil yang saling melilit beringas.

"Manusia lancang... serahkan jiwa wadah itu...!" Suara mereka bersahut-sahutan, berdesis di dalam rongga telinga batin Bintang seumpama gesekan sapu lidi di atas kuburan tua. Hhhssss... Hhhssss...

Bintang mundur satu langkah, merasakan pijakan tanah kuburan di bawah kakinya mulai gembur dan rontok jatuh ke dalam jurang ghaib. Tanpa Pisau Sungsang Buwana yang menyala, dia hanyalah seonggok sukma fana tanpa perisai di tengah kepungan ribuan lelembut kelaparan. Darah spiritual mulai merembes dari sela-sela kuku jarinya—tanda bahwa raganya di kamar belakang rumah Sekar sedang mengalami kritis hebat akibat serangan beruntun ini.

Pada detik yang krusial itu, sebuah pendaran cahaya merah sepekat darah mendadak menyala dari balik sabuk kain mori yang melilit pinggang sukma Bintang. Cahaya itu memancar hangat, mengusir kabut kelabu yang berada di sekitar tubuhnya.

Bintang tersentak. Dia merogoh sabuknya dan menarik keluar sebilah keris kecil tanpa pamor yang bentuk luk-nya meliuk gila—Keris Tirto Menggolo, pusaka titipan Mbah Sariti, proyeksi energi dari keris fisik yang ditancapkan Mbah Sariti ke lantai Nggreeeng...!!!

Saat bilah Keris Tirto Menggolo tercabut sepenuhnya, hawa hangat yang murni langsung meluluri lengan sukma Bintang. Keris ini tidak membawa energi pembalik seumpama pusaka Ki Prakoso, melainkan membawa karomah penarikan batin—sebuah kekuatan yang ditempa dari air suci tujuh sumur penjuru bumi untuk menjemput jiwa-jiwa yang ditawan oleh penguasa ghaib.

"Bintang... gunakno keris iku, Le...! Tebas rante sing nggandoli Sekar...!"

Suara Mbah Sariti menggema samar di langit dimensi abu-abu, terdengar terputus-putus diselingi suara batuk darah yang berat dari dunia fana. Dukun sepuh itu sedang memuntahkan seluruh sisa batinnya di dunia atas untuk mempertahankan eksistensi keris ini di tangan Bintang.

"Mati kau, cacing tanah...!"

Sesosok siluman ular berkepala mayat perempuan membusuk melesat meloncat dari atas kabut, rahangnya menganga lebar hingga merobek lehernya sendiri, menyingkap barisan taring hitam yang meneteskan cairan ulat busuk tepat ke arah wajah Bintang.

Bintang tidak menghindar. Dengan kecepatan batin yang dipicu oleh rasa terdesak, dia mengayunkan Keris Tirto Menggolo dalam satu gerakan vertikal ke atas.

Creees... Wuuush!

Bilah keris kecil itu memancarkan tebasan cahaya merah tua sepekat darah yang membentuk sabit ghaib di udara. Hantaman cahaya itu membelah kepala siluman mayat tersebut menjadi dua bagian. Makhluk itu tidak mengeluarkan darah merah, melainkan meledak menjadi tumpukan cacing tanah hitam yang membusuk dan langsung rontok jatuh ke dalam jurang ghaib di sisi jembatan.

Namun, matinya satu siluman justru memicu amukan masif dari ribuan makhluk melata lainnya. Mereka merayap lebih beringas, saling menginjak tubuh sesama mereka untuk bisa mencapai posisi Bintang. Bau amis darah ghaib kini bercampur dengan uap racun Wisa Sengkolo yang dikirimkan Kalingga dari dasar istana untuk memperberat bobot rantai yang mengikat Sekar.

Clang... Clang!

Rantai hitam yang melilit leher Sekar semakin menegang, menarik tubuh spiritual gadis itu mendekati bibir jurang kegelapan. Sekar mulai mengeluarkan suara rintihan parau, kulit wajahnya kian mengilat kaku karena lapisan sisik emas yang terus tumbuh merayap menembus batas pipinya.

"Sekar!!!"

Bintang berteriak gila. Dia menerobos barisan pasukan melata itu dengan nekat. Setiap kali sepasang ular siluman mencoba menggigit kakinya, dia menghantamkan tumit sukmanya yang telah dilapisi energi zikir, menghancurkan kepala makhluk-makhluk itu hingga lumat. Langkah kakinya kian berat, setiap jengkal titian tanah kuburan yang dilaluinya terasa seumpama berjalan di atas hamparan pecahan kaca ghaib yang membakar batin.

Dia harus mencapai titik di mana rantai ghaib itu mengunci tubuh Sekar sebelum jarum jam di dunia nyata berdentang tepat di angka dua belas malam. Jika dia terlambat, rantai itu akan menarik Sekar jatuh ke dalam jurang Wates Ghaib, tempat di mana jiwa manusia akan hancur dan menjadi makanan abadi bagi balatentara Kalingga.

Jarak antara Bintang dan Sekar kini tersisa lima langkah, namun lima langkah itu dipenuhi oleh gumpalan daging-daging melata yang saling mengait membentuk dinding pembatas. Sesosok siluman ular raksasa dengan tiga kepala manusia berkulit legam keluar dari balik kabut bawah, menghalangi jalur titian secara mutlak. Enam pasang matanya yang merah menyala menatap Bintang dengan kebencian yang mendalam.

"Sungsang nyawa... kene sukmamu dadi pakanku...!" lolong ketiga kepala siluman itu secara serempak, menciptakan gelombang getaran ghaib yang meretakkan struktur tanah jembatan ghaib di bawah kaki Bintang.

Krrraakkk... Blam!

Bagian jembatan di depan Bintang runtuh, menyisakan celah kosong selebar dua meter yang langsung menyingkap pemandangan jurang kegelapan di bawahnya. Dari dalam celah itu, ratusan tangan manusia kurus kering berselimut lumpur hitam mencuat ke atas, melambai-lambai mencoba mencengkeram ujung kain celana sukma Bintang untuk menyeretnya jatuh.

Bintang tidak berhenti. Jiwanya telah disatukan dengan ketetapan hati yang murni untuk membawa Sekar pulang, atau mati bersama di tempat ini. Dengan sisa energi batin yang dikumpulkan dari helaan napas spiritual terakhirnya, Bintang berlari kencang menuju tepi belahan jembatan yang runtuh, lalu melompat tinggi menerobos kabut abu-abu.

Hup!

Saat tubuh sukmanya melayang di udara di atas jurang ghaib, tiga kepala siluman ular itu melesat maju bersamaan, bermaksud mencabik tubuh Bintang sebelum kakinya menyentuh seberang. Taring-taring mereka yang panjang berkilat mengeluarkan cairan bisa pekat.

Bintang memutar tubuh sukmanya di udara. Dengan menggunakan tangan kirinya yang masih memegang Pisau Sungsang Buwana yang meredup sebagai tameng fisik ghaib, dia menahan hantaman taring kepala siluman pertama.

PRRAAAK!

Gigi taring siluman itu pecah berantakan saat menghantam besi malela pusaka Ki Prakoso, namun hantaman itu membuat bahu kiri sukma Bintang robek besar, mengeluarkan pendaran uap spiritual berwarna kuning yang menjadi indikator bahwa batinnya terluka parah.

Bersamaan dengan itu, tangan kanan Bintang yang memegang Keris Tirto Menggolo bergerak melakukan tusukan beruntun ke arah dua kepala siluman lainnya.

Jleb... Jleb...!

Keris kecil titipan Mbah Sariti itu menembus mata ghaib kedua kepala manusia siluman tersebut. Cahaya merah tua sepekat darah meledak di dalam rongga kepala mereka, menghancurkan struktur mistis makhluk itu hingga melengkingkan jeritan melengking yang memekakkan telinga. Tubuh raksasa siluman berkepala tiga itu limbung, jatuh terkapar ke dalam jurang kegelapan di bawah celah jembatan.

Brak!

Bintang mendarat dengan lutut kirinya yang membentur titian tanah di seberang celah. Tubuh sukmanya bergetar hebat, pendaran energinya kian menipis dan mengabur, pertanda bahwa raga manusianya di dunia fana sedang berada di titik nadir terkritis—menghadapi risiko henti jantung akibat pendarahan organ dalam yang kian parah.

Namun, Bintang menolak untuk tumbang. Dia menegakkan tubuhnya, menatap Sekar yang kini jaraknya sudah berada tepat di hadapannya. Rantai hitam ghaib yang melilit leher Sekar telah menarik kepala gadis itu menekuk ke belakang, bersiap untuk diseret jatuh ke dalam jurang ghaib. Lapisan sisik emas telah menutup separuh wajah manis Sekar, menyisakan mata kirinya yang putih bersih mengeluarkan air mata darah kental.

"B-Bintang... l-luwih becik... pateni aku... hhh..." bisik nurani Sekar yang terjepit di antara batas kesadaran manusianya. Dia tidak ingin melihat Bintang ikut hancur menjadi abu di tempat jahanam ini hanya demi menyelamatkan sukmanya yang terkutuk.

"Aku ora bakal ninggalno kowe, Sekar! Kita mulih bareng!" bentak Bintang dengan sisa suaranya yang menggelegar ghaib.

Bintang mengangkat Keris Tirto Menggolo dengan kedua telapak tangannya yang kini telah berlumur darah spiritual sendiri. Dia memusatkan seluruh sisa zikir keselamatan yang dia miliki, menyalurkan energi hidup raganya secara total ke dalam bilah keris kecil tersebut. Bilah keris itu merespons dengan menyala merah menyala seumpama besi baja yang baru dikeluarkan dari tungku perapian ghaib paling panas.

Nggreeeng...!!!

Kalingga yang berada jauh di dasar istana merasakan ancaman mutlak ini. Melalui perantara rantai hitam tersebut, dia menyuntikkan seluruh sisa Wisa Sengkolo miliknya, membuat permukaan rantai besi itu menumbuhkan duri-duri ular yang bergerak liar, mencoba mematuk tangan Bintang yang mendekat.

"Demi Gusti Kang Murbeng Dumadi... SAKING KERSANING ALLAH... PEDOT!!!"

SWUUUUTTT...!!!

Bintang menebaskan Keris Tirto Menggolo dengan ayunan horizontal yang luar biasa bertenaga tepat ke arah titik temu ketiga rantai hitam yang melilit pinggang Sekar.

BOOOOOOMMMM!!!

Ledakan energi suci berwarna merah tua berbenturan dengan bisa ungu milik Kalingga, menciptakan guncangan masif yang merobek seluruh dimensi Wates Ghaib. Jembatan tanah kuburan di bawah mereka runtuh total, hancur menjadi partikel debu kelabu yang berhamburan.

Ketiga rantai hitam legam itu retak seketika, lalu pecah berkeping-keping menjadi serpihan karat besi yang hangus terbakar oleh karomah air suci tujuh sumur yang dibawa oleh keris Mbah Sariti.

KRAAAKKK... PYAAARRR!!!

Bersamaan dengan hancurnya rantai tersebut, ikatan mistis Kalingga pada jiwa Sekar terputus mutlak. Benang spiritual perak di kebaya putih Sekar yang semula tegang mendadak melesat ke atas seumpama anak panah yang lepas dari busurnya, membawa tubuh ghaib Sekar meluncur naik menembus kegelapan dimensi abu-abu menuju dunia fana secara instan.

Namun, akibat ledakan pemutus itu, tubuh sukma Bintang terlempar bebas ke belakang. Karena jembatan ghaib telah runtuh total, tubuh sukmanya mulai jatuh meluncur bebas ke dalam jurang kegelapan tanpa dasar tempat balatentara siluman menantinya dengan rahang terbuka lebar. Kesadaran batin Bintang mulai meredup lambat laun seiring dengan jarum jam di dunia nyata yang bergetar... bersiap berdentang tepat di angka dua belas malam.

1
Tina Martince
anak kandung loh 🤭,penasaran ikutin cerita ini ya...😍
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
ibu nya sekar aneh ...
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wajah tampan kalingga terlalu mempesona yaa sekarr😂
Tina Martince: 🤭 ya terlalu mempesona
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
perjanjian apa ,
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
lahir nya sekar tibo weton wingit
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
harusnya ibu nya sekar lebih jujur
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!