meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Bulan Penentuan Dan Tetangga Yang Tak Terduga
Tiga bulan. Waktu yang terdengar singkat bagi sebagian orang, namun bagi Meylani dan Bima, itu adalah periode maraton tanpa henti. Tekanan dari Jakarta tidak surut; justru semakin intensif. Setiap minggu, tim audit dari kantor pusat datang ke Surabaya untuk memeriksa laporan keuanganp, progres konstruksi, dan tingkat okupansi ruang komunal di "Ruang Pulang".
Meylani bekerja dengan standar perfeksionis yang melelahkan. Ia memastikan setiap angka akurat, setiap presentasi visual sempurna, dan setiap pertemuan dengan investor lokal berjalan mulus. Sementara itu, Bima mengambil alih peran "wajah" proyek di lapangan. Ia menghabiskan harinya berbicara dengan warga, menyelesaikan keluhan kecil, dan memastikan bahwa suasana komunitas tetap hidup dan dinamis.
Namun, tantangan terbesar bukan berasal dari Jakarta, melainkan dari lingkungan sekitar mereka sendiri.
Suatu sore, saat Meylani pulang kerja lebih awal karena sakit kepala migrain, ia menemukan suasana aneh di depan rumah mereka. Sebuah mobil SUV hitam mengkilap terparkir di depan pagar tetangga sebelah—rumah Bu Siti. Mobil itu tampak sangat mahal, kontras dengan lingkungan perumahan padat di Wonocolo.
Meylani mengerutkan kening. Ia mengenal Bu Siti sebagai wanita sederhana yang hidup dari berjualan kue dan menerima bantuan sosial dari anaknya yang bekerja di luar negeri. Dari mana datangnya mobil mewah itu?
Saat Meylani membuka pintu pagar, seorang pria keluar dari mobil tersebut. Pria itu mengenakan setelan jas biru dongker yang tailor-made, sepatu kulit Italia, dan jam tangan yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun Bima. Wajahnya tampan, rapi, dan memancarkan aura kekuasaan yang dingin.
Pria itu sedang berbicara dengan Bu Siti di teras. Suaranya rendah, namun nadanya memerintah.
"Ibu harus paham, ini demi kebaikan Ibu juga. Tawaran saya sudah sangat adil. Lebih baik Ibu terima sekarang daripada nanti digusur paksa oleh pihak lain," kata pria itu.
Bu Siti tampak gemetar, memegang kerudungnya dengan erat. "Tapi Pak, saya sudah nyaman di sini. Anak-anak saya juga..."
"Nanti anak Ibu bisa sekolah di tempat yang lebih baik. Jangan keras kepala, Bu," potong pria itu dingin.
Meylani merasa ada yang tidak beres. Insting bisnisnya menangkap aroma intimidasi. Ia segera melangkah mendekati mereka.
"Permisi," sapa Meylani tegas, suaranya jelas dan berwibawa.
Pria itu menoleh, matanya menyipit saat melihat Meylani. Ia menilai penampilan Meylani blazer rapi, tas branded, dan postur tegak dalam sepersekian detik.
"Siapa Anda?" tanya pria itu datar.
"Saya Meylani, istri dari Bima Arkhan Bagaskara. Kami tinggal di sebelah sana," jawab Meylani sambil menunjuk rumahnya. Ia kemudian menoleh pada Bu Siti. "Ada masalah apa, Bu Siti? Apakah ada orang yang mengganggu Ibu?"
Bu Siti menggeleng cepat, wajahnya pucat. "Nggak, Mbak. Ini... ini kenalan lama suami saya dulu. Cuma mau ngobrol."
Pria itu tersenyum tipis, senyuman yang tidak mencapai matanya. "Benar, Bu. Saya hanya menawarkan solusi atas masalah tanah sertifikat ganda yang dimiliki ibu ini. Sebagai pengacara, saya ingin membantu membereskannya secara hukum agar tidak jadi sengketa di masa depan."
Meylani terkejut. Sertifikat ganda? Itu adalah isu sensitif dalam properti. Jika benar, posisi Bu Siti sangat rentan.
"Bisa saya lihat dokumennya, Pak?" tanya Meylani langsung.
Pria itu tertawa pendek, nada sinis terdengar jelas. "Ini urusan privat, Mbak. Tidak perlu melibatkan orang luar. Lagian, sepertinya Mbak bukan ahli hukum properti. Lebih baik fokus saja mengurus diri sendiri."
Kalimat itu seperti tamparan. Meylani merasakan darah mendidih di pelipisnya. Namun, sebelum ia bisa membalas, suara motor matic terdengar masuk ke halaman.
Bima turun dari motornya, masih mengenakan helm dan jaket kerja berdebu. Ia melihat ketegangan di teras tetangga, lalu menatap pria berjasa itu. Matanya menyipit tajam.
"Mey? Ada apa?" tanya Bima, melepas helmnya.
"Pak ini mengaku pengacara, Mas. Katanya ada masalah sertifikat tanah Bu Siti," lapor Meylani cepat.
Wajah Bima berubah seketika. Dari lelah menjadi waspada. Ia mengenali pria itu. Bukan secara pribadi, tapi dari berita-berita kriminal properti yang sering ia baca.
"Anda... Pak Viktor?" tanya Bima tiba-tiba, suaranya rendah dan berbahaya.
Pria itu, Pak Viktor, terlihat sedikit terkejut bahwa seorang pria berseragam kerja mengenalnya. "Anda tahu saya?"
"Saya tahu modus operandi Anda," jawab Bima dingin, melangkah maju hingga berdiri sejajar dengan Meylani. "Anda membeli tanah bermasalah dengan harga murah dari pemilik yang tidak paham hukum, lalu memanipulasi dokumen untuk menggusur mereka. Dan sekarang, target Anda adalah Bu Siti, janda tua yang tinggal sendirian?"
Pak Viktor tertawa gugup, mencoba mempertahankan wibawanya. "Hati-hati bicara, Mas. Bisa kena pasal pencemaran nama baik. Saya punya izin praktik dan klien-klien besar."
"Saya nggak peduli siapa klien Anda," potong Bima tegas. "Di Surabaya, kami punya aturan sendiri. Kalau ada yang main kotor di wilayah kami, kami nggak diam. Bu Siti adalah bagian dari komunitas ini. Dan saya akan pastikan setiap inci tanah ini dilindungi oleh hukum yang benar, bukan manipulasi Anda."
Bima mengeluarkan ponselnya, merekam wajah Pak Viktor. "Silakan pergi sekarang, Pak. Atau saya hubungi polisi dan media lokal untuk melaporkan upaya intimidasi terhadap warga lanjut usia. Saya yakin wartawan Surabaya senang sekali mendapat cerita tentang 'Pengacara Predatory' yang menargetkan janda miskin."
Wajah Pak Viktor memerah padam. Ia menatap Bima dengan kebencian, lalu menatap Meylani yang berdiri tegak di samping suaminya.
"Kalian akan menyesal," geram Pak Viktor sebelum masuk kembali ke mobilnya dan tancap gas meninggalkan lingkungan itu.
Setelah mobil itu hilang dari pandangan, Bu Siti ambruk duduk di tangga teras, menangis tersedu-sedu.
"Maafkan saya, Mbak, Mas... Saya takut. Dia bilang kalau saya nggak jual, dia bakal bikin saya susah. Surat-surat saya memang agak berantakan karena warisan dari suami saya dulu..." keluh Bu Siti.
Meylani segera duduk di samping Bu Siti, memeluk pundaknya. "Jangan takut, Bu. Sekarang ada kami. Kita akan urus bersama-sama."
Bima menghela napas panjang, lalu duduk di sisi lain Bu Siti. "Tenang, Bu. Masalah sertifikat itu bisa diselesaikan lewat BPN (Badan Pertanahan Nasional). Kita nggak perlu jual. Saya kenal seseorang di kantor pertanahan yang jujur. Besok kita urus bareng-bareng."
Malam itu, rumah Meylani dan Bima tidak tidur. Mereka membantu Bu Siti mengumpulkan semua dokumen lama, memotretnya, dan menyusun kronologi kepemilikan tanah. Meylani menggunakan koneksi hukum perusahaannya untuk mendapatkan konsultasi gratis dari rekanan pengacara terpercaya, sementara Bima menghubungi kontak lamanya di instansi pemerintah untuk memastikan proses verifikasi berjalan transparan.
Di tengah kesibukan itu, Meylani menyadari satu hal penting. Bima bukan hanya suami yang romantis atau pekerja keras. Ia adalah pelindung. Pria yang berani berdiri di garis depan ketika ketidakadilan terjadi, bahkan jika itu berarti berhadapan dengan orang-orang berkuasa.
"Kamu hebat, Mas," kata Meylani pelan saat mereka selesai menyusun berkas di meja makan pukul dua pagi.
Bima tersenyum lelah, mengusap keringat di dahinya. "Bukan hebat, Mey. Cuma nggak tega aja. Orang tua kayak Bu Siti nggak pantas diperlakukan begitu. Lagian, kalau kita diam, besok-besok giliran kita yang digilas."
Meylani menatap suaminya dengan kekaguman mendalam. Dalam tiga bulan tekanan dari Jakarta, ia hampir lupa bahwa perjuangan terbesar seringkali terjadi di halaman belakang rumah sendiri.
"Kita tim yang bagus, ya?" tanya Meylani.
Bima tertawa, meraih tangan Meylani. "Tim terbaik. Kamu otak strateginya, aku otot lapangannya. Kita nggak bisa dipisahkan."
Esok harinya, kabar tentang keberanian Bima dan Meylani menyebar cepat di lingkungan RT. Tetangga-tetangga lain mulai datang, bukan lagi hanya untuk meminjam gula atau mengobrol santai, tapi untuk meminta saran. Mereka melihat pasangan muda ini sebagai simbol harapan: orang yang berpendidikan dan berkelas, namun tetap membela rakyat kecil.
Reputasi "Ruang Pulang" di mata masyarakat lokal melonjak drastis. Warga tidak lagi melihat proyek ini sebagai sekadar bangunan komersial milik korporat Jakarta, melainkan sebagai gerakan yang dipimpin oleh orang-orang yang peduli.
Dan ironisnya, dukungan komunitas inilah yang menjadi senjata utama Meylani dalam laporannya ke Jakarta. Ia menambahkan bab baru dalam presentasinya: "Social Capital as Business Asset". Ia menunjukkan bagaimana loyalitas warga dapat mengurangi biaya keamanan, meningkatkan okupansi, dan menciptakan branding organik yang tak ternilai.
Ketika laporan itu dikirim ke Jakarta, Pak Hartono, Direktur Utama, mengirim balasan email singkat:
"Impresif, Mbak Meylani. Angka dukungan komunitas ini melebihi proyeksi kami. Lanjutkan. Kami mulai ragu apakah akuisisi masih diperlukan jika aset ini sudah memiliki 'jiwa' yang begitu kuat."
Meylani membaca email itu dengan mata berkaca-kaca. Mereka berhasil. Tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk membuktikan bahwa visi mereka valid.
Malam itu, Meylani dan Bima merayakan kemenangan kecil mereka dengan makan malam spesial: nasi goreng telur dua, ditambah dengan es teh manis buatan Bu Siti sebagai hadiah terima kasih.
"Makanan paling enak sedunia," kata Bima sambil mengunyah lahap.
Meylani tersenyum, menyuapkan sepotong telur dadar ke mulut suaminya. "Setuju, Mas. Karena dimasak dengan cinta dan perjuangan."
Di luar, langit Surabaya cerah berbintang. Badai dari Jakarta telah mereda, setidaknya untuk saat ini. Namun, Meylani tahu, kehidupan tidak pernah benar-benar tenang. Akan selalu ada Pak Viktor lain, akan selalu ada tekanan baru. Tapi kali ini, ia tidak takut. Karena ia memiliki Bima, dan mereka memiliki komunitas.
Dan bagi Meylani, itu adalah kekayaan yang sesungguhnya.
...****************...