Pernikahan adalah salah satu untuk menyempurnakan agama. Tetapi bagaimana jika pernikahan dilandasi karena keterpaksaan dan kebohongan?.
Disha Haura, gadis cantik yang duduk di bangku semester akhir terjebak dalam pernikahan dengan adik tingkatnya. Keduanya di jebak dan di fitnah sehingga membuat keduanya harus menikah.
Di samping itu seseorang yang selalu menyebut nama Disha dalam sepertiga malam harus menelan ludah melihat pujaan hatinya menikah dengan adiknya sendiri.
Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan baca sehingga kalian menemukan jawabannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ragu
Hari ini sudah ke 5 minggunya Husein tak kunjung menampakkan wajah dihadapan Disha dan yang lainnya. Bahkan tidak memberinya kabar apapun, sebenarnya Disha tidak perduli hanya saja dia takut jika kedua mertuanya bertanya ini itu.
Pernikahan mereka juga sudah memasuki bulan ke 4, tetapi sedikit pun tidak ada perubahan. Bukannya makin dekat tetapi malah semakin jauh.
'Sebenarnya pernikahan jenis apa yang aku jalani ini?" guman Disha yang baru saja mengeluarkan motornya dari rumah yang dibeli Husein
'Bahkan sedikit pun tidak ada memberikan kabar" keluhnya
Hari ini Disha berencana akan datang ke rumah orangtuanya, sejujurnya Disha tidak ingin pergi tetapi dia berharap ada wakil untuknya saat wisuda yang akan beberapa hari lagi.
Motor yang dikendarai oleh Disha melaju kencang membelah jalanan kota, sudah cukup lama dirinya tidak mampir kerumah tempat dirinya besar, entah bagaimana respon mereka nanti, Disha tidak berharap banyak pada Duanda. Meskipun di lubuk hatinya yang terdalam menginginkan Duanda melihatnya saat menaiki mimbar wisuda.
Motor Disha berhenti di gerbang berwarna hitam tersebut, terlihat seorang penjaga yang menatap Disha dan memberikannya senyuman.
'Eh non Disha, sudah lama tidak mampir" ucap penjaga itu sambil membuka pintu pagar
'Iya nih pak, kesibukan kampus" balas Disha tersenyum kecil
'Papa ada dirumah kan pak?" tanya Disha pelan
'Ada non, tuan besar baru pulang semalam dari luar kota. Tetapi nyonya besar tidak ada, barusan keluar" terang sang penjaga
'Terimakasih informasinya ya pak, Disha masuk dulu" pamit Disha memasuki halaman yang luas itu
Disha mengehentikan motornya cukup jauh dari pintu utama rumah Duanda, sejenak Disha berhenti dan menatap sekeliling.
Banyak kisah pilu dan senang yang dia hadapi di kediaman ini, tanpa adanya perhatian Duanda. Disha juga tidak berharap akan kasih sayang Duanda karena dia merasa dia tidak pantas mendapatkannya.
'Assalum'alaikum" ucap Disha memberikan salam
Cukup lama Disha berdiri sambil memencet bel rumah, dan tidak lama kemudian seorang pembantu berusia 59 tahun membukakan pintu rumah.
'Eh non Disha, masuk non....aduhh kenapa tidak langsung masuk aja tadi, ini kan rumah non" ucap pembantu itu mempersilahkan Disha masuk
'Terimakasih bi" Disha pun mengikuti langkah pembantu itu
'Mau minum apa non, biar bibi buatkan" tawar sang pembantu
'Tidak perlu bi, Disha hanya sebentar kok. Ngomong-ngomong bibi bisa tidak panggilkan papa sebentar, ada yang Disha sampaikan" Disha merasa tidak enak pada pembantu papanya itu
'Bisa non, tunggu sebentar yaa" ucapnya
Disha menatap setiap sudut rumah, terlihat sebuah figura foto yang besar terpasang indah di dinding. Sejenak Disha tersenyum melihat foto berisikan lima orang tersebut. Ada Duanda dan Maria yang duduk di kursi, sedangkan dua orang gadis yang berdiri di belakang yaitu Fara dan Gea, serta seorang pria yang mengapit Fara dan Gea adalah Anddrew anak pertama Duanda dan Maria. Anddrew jarang berada di Indonesia karena dia bekerja di negara Italy mengembangkan bisnis dari kakeknya. Tidak ada foto dirinya karena dia tidak termasuk dalam keturunan Duanda.
'Ehemm"
Suara seseorang menyadarkan Disha dari pikirannya, terlihat Duanda kini berjalan kearahnya membuat Disha berdiri dan menyalami tangan Duanda, hal itu membuat Duanda terkejut apalagi melihat jika Disha kini telah memakai jilbab.
'Assalamu'alaikum pa" sapa Disha sambil mengucapkan salam
'W.. wa'alaikumussalam" balas Duanda gugup
'Ada perlu apa kemari?" tanya Duanda dingin membuat Disha hanya tersenyum pahit
'Disha hanya ingin bersilaturahmi sama papa dan mama" balas Disha mencoba untuk tetap kuat
'Istriku tidak di rumah" Duanda sejenak melihat wajah Disha yang hanya mengangguk mengerti
'Ada apa? Kamu ingin meminta uang?" tanya Duanda pelan
'B...bukan pa, Disha cuma ingin memberitahukan jika Disha empat hari lagi akan wisuda. Apa.... Disha boleh meminta tolong?" tanya Disha penuh harap
'Katakan" jawab Duanda masih melihat raut wajah Disha yang berubah-ubah
'Apa nanti saat wisuda papa bisa jadi pendamping Disha saat penyerahan ijazah?" tanya Disha pelan
'Tidak bisa, tiga hari lagi saya sibuk dan akan ke Italy buat liburan keluarga jadi tidak bisa menjadi pendamping mu" jawab Duanda cepat sehingga membuat Disha terdiam dan penuh kekecewaan
Dia sudah tau jika jawaban Duanda akan seperti ini tetapi kenapa hatinya begitu sakit, seharusnya dia tidak perlu datang kemari.
'Ooo... Begitu ya pa, ummm... Tidak apa-apa deh, ngomong-ngomong Fara dan kak Gea kemana pa?" tanya Disha lembut
'Fara sudah duluan ke Italy, sedangkan Gea masih ada pemotretan di bekasi" jelas Duanda
Tadinya Disha berpikir jika kata berlibur keluarga hanyalah alasan Duanda supaya tidak jadi pendampingnya tetapi setelah mendengar jika Fara sudah di Italy berarti memang benar jika mereka akan liburan. Sejak dirinya tinggal di kediaman ini Disha sudah tau seluk beluk kehidupan semuanya, Fara akan pergi buat observasi melihat tempat liburan dan keluarganya akan pergi menyusul meninggalkan dirinya, yaaa.... Disha tidak pernah ikut.
'Baiklah kalau gitu Disha pamit pulang pa, maaf sudah mengganggu waktu istirahat papa, Disha pamit Assalamualaikum" pamit Disha dan langsung berdiri
Duanda hanya diam tanpa menjawab salam Disha, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat melihat senyum Disha.
'Apa kamu baik-baik saja?" tanya Duanda cepat setelah Disha melangkah membuat Disha berhenti dan menoleh pada Duanda
'Baik kok pa, Disha pamit" balas Disha dan langsung pergi tidak mau lagi melihat Duanda
Disha berhenti sejenak saat akan naik ke atas motornya, matanya berembun. Terlihat juga hidungnya yang memerah dan kelopak mata yang memerah juga menandakan jika dirinya tengah menahan tangisnya.
'Sadarlah Disha, kamu tidak diharapkan. Seharusnya kamu tidak perlu datang kemari" ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak
'Tidak ada yang mengharap mu, kamu harus tau itu" gumannya
Disha masih berdiri disamping motornya tanpa tau jika sedari tadi Duanda melihat semua gelagatnya dari jendela kaca.
'Sebaiknya aku pergi, lagian aku harus bekerja juga" ucapnya dan langsung naik ke atas motor
Disha tidak jadi ke cafe dan memilih ke sebuah danau yang sepi, danau itu berada di pusat kota tetapi nampak sepi dikarenakan hari ini masih jadwalnya orang berkerja, kecuali jika weekend maka danau itu akan ramai.
'Pernikahan yang tidak jelas, apa yang harus kulakukan sekarang" ucapnya sambil melempari kerikil kecil ke dalam danau
'Bukannya aku tidak tau semuanya hanya saja entah apa motif dari Husein melakukan semua ini" gumannya
Disha sudah tau jika Husein hanya bermain-main dengan pernikahan, dia juga sudah tau jika Husein tengah menunggu seseorang yang dia cintai. Jangan salahkan dirinya yang kepo dan mencari tau semuanya, hanya bermodalkan ponsel dan internet semuanya langsung dia dapat. Dia takut mengatakannya pada tuan Malik dan umi Velany yang begitu menyayangi dirinya.
'Aku tunggu Husien jujur saja setelah itu aku akan mengambil keputusan yang tepat" ucapnya dan langsung berdiri kemudian pergi
💐💐💐
Jika seandainya di posisi Disha kalian akan bersikap seperti apa guys?
Riri-can