"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Benih Ambisi di Teras Joglo
Bab 15: Benih Ambisi di Teras Joglo
Kabut tipis sisa semalam masih menggantung di antara batang-batang pohon jati ketika matahari pagi mulai menyiram pekarangan rumah Paman Harjo. Udara desa yang bersih dan dingin berembus melewati sela-sela dinding kayu joglo, membawa aroma tanah basah dan kayu bakar yang khas.
Di teras samping, Hana sedang duduk di kursi rotan tua sembari menyesap teh hangat tanpa gula. Tangannya mengelus perutnya yang terasa hangat di balik daster longgarnya. Di bawah, di dekat sumur timba, suara tawa kecil yang centil memecah kesunyian pagi. Hana menolehkan pandangannya ke bawah.
Di sana, Santi sedang mencuci piring sisa semalam. Namun, yang membuat dahi Hana berkerut adalah keberadaan Adrian yang berdiri tidak jauh dari sumur, berpura-pura sedang menikmati udara pagi sembari memegang cangkir kopi hitamnya. Setiap kali Santi mengibaskan rambutnya atau membetulkan posisi kain kembennya yang sedikit melonggar karena basah, mata Adrian bergerak liar, terpaku pada leher jenjang dan punggung mulus gadis pelayan itu.
"Mas Adrian... kopinya sudah pas manisnya?" tanya Santi dengan suara yang sengaja dikecilkan, mendayu-dayu penuh kode tersembunyi.
"Sudah... pas sekali," jawab Adrian dengan suara serak, buru-buru meminum kopinya saat menyadari Paman Harjo berjalan keluar dari arah kandang ayam di belakang.
Ketegangan kucing-kucingan itu mendadak terhenti ketika seorang wanita paruh baya dengan kebaya lurik loak dan caping bambu melangkah masuk ke halaman rumah. Langkah kakinya tergesa-gesa, dan matanya langsung menyapu seluruh pekarangan hingga berhenti pada sosok Adrian yang tampak gagah dengan kaus bermereknya, lalu beralih pada mobil mewah hitam yang terparkir gagah.
"Santi! Ndoro Ayu!" seru wanita itu. Dia adalah Yu Sumi, ibu kandung Santi yang tinggal beberapa rumah dari kediaman Paman Harjo.
Santi langsung menghentikan cuciannya, wajahnya sempat menegang sedetik sebelum ia memasang senyum lugunya kembali. "Ibu... kok sudah ke sini?"
Yu Sumi tidak langsung menjawab anaknya. Matanya malah berbinar-binar menatap Adrian, lalu beralih pada Ibu Broto yang kebetulan baru saja keluar ke teras depan dengan menyandang tas jinjing mahalnya. Dengan sikap yang sangat menghamba, Yu Sumi langsung berjalan membungkuk-bungkuk mendekati teras tempat Ibu Broto berdiri.
"Mbak Broto... Gusti Allah, pangapunten... selamat datang kembali di kampung," ucap Yu Sumi sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada, suaranya dipenuhi nada menjilat yang amat kentara. "Saya ibunya Santi, Mbak. Matur nuwun sanget... terima kasih banyak sudah sudi membawa anak saya yang bodoh ini ikut ke kota, bahkan sekarang diajak pulang naik mobil semewah ini."
Ibu Broto yang haus akan sanjungan dan pengakuan langsung menegakkan punggungnya. Ia tersenyum jemawa, melirik sekilas ke arah Hana yang masih duduk diam di teras samping. "Oh, kamu ibunya Santi? Iya, anakmu itu penurut sekali di kota. Kerjanya rajin, tidak seperti orang kota yang baru punya usaha sedikit saja sudah belagu dan sok berkuasa."
Mendengar pujian terselubung yang sebenarnya ditujukan untuk menyindir Hana itu, mata Yu Sumi langsung berbinar serakah. Ia menangkap sinyal hijau yang sangat jelas dari sang nyonya besar. Yu Sumi kemudian menoleh ke arah Adrian yang berjalan mendekat.
"Ini... Den Adrian, ya? Bagus sekali perawakannya, gagah, sukses lagi," puji Yu Sumi bertubi-tubi. Ia lalu sengaja menarik lengan Santi agar berdiri lebih dekat dengan Adrian. "Den Adrian... Santi ini di desa anak yang paling berbakti. Dia pintar masak, pintar mengurus rumah, dan yang paling penting... dia itu bocah yang manut, tidak pernah membantah apa kata lelaki. Kalau di kota ada yang kurang memuaskan hati Den Adrian, Santi ini siap disuruh apa saja, Den. Biar dia jadi pelayan seumur hidup juga saya ikhlas, asal Den Adrian mau terus membimbingnya."
Kata-kata Yu Sumi yang multitafsir itu bagaikan bensin yang menyiram percikan api di dalam dada Adrian. Makna "siap disuruh apa saja" dan "menjadi pelayan seumur hidup" langsung merujuk pada fantasi liar yang belakangan ini menguasai otak Adrian sejak ciuman mereka di dapur kota. Adrian berdeham salah tingkah, matanya melirik Santi yang kini menunduk dengan wajah merona merah, pura-pura malu namun sebenarnya menikmati dukungan penuh dari ibunya.
Ibu Broto tertawa renyah, merasa di atas angin. "Hahaha, ya memang seharusnya begitu, Yu Sumi. Laki-laki itu kalau pulang kerja butuh ketenangan, butuh dilayani dengan lembut, bukan dihadapkan pada wajah ketus dan aturan-aturan yang bikin pusing."
Hana yang menyaksikan adegan drama murahan itu dari teras samping hanya meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan di atas meja kayu. Bunyi dencingan cangkir itu terdengar begitu dingin di tengah tawa jemawa Ibu Broto dan Yu Sumi.
Hana berdiri, membetulkan letak daster hamilnya, lalu menatap lurus ke arah aliansi keserakan yang sedang terbentuk di pekarangan rumah pamannya. Sorot matanya yang tajam dan tak terbaca membuat tawa Ibu Broto mendadak terhenti, dan Yu Sumi pun seketika merasa ciut hingga menyembunyikan tubuhnya di belakang Santi.
"Paman Harjo," panggil Hana dengan suara tenang namun tegas, mengabaikan keberadaan orang-orang serakah itu. "Ayo kita ke pasar desa sekarang. Aku ingin membeli bahan untuk membuat jamu tradisional. Di sini... udaranya mendadak terasa sangat pengap dan kotor."
Tanpa menunggu jawaban dari Adrian atau mertuanya, Hana melangkah turun dari teras dengan anggun, melewati Adrian begitu saja seolah suaminya hanyalah seonggok patung tanpa arti. Adrian menatap punggung Hana yang menjauh dengan rasa kesal yang bercampur cemas. Ketenangan Hana yang tidak terduga ini mulai terasa seperti kabut tebal yang menyembunyikan jurang maut di depannya, sementara di sisinya, benih ambisi Santi dan ibunya baru saja tertanam dengan sangat subur di tanah pusaka ini.