Laras adalah gadis yang di besarkan di panti asuhan, dia anak yatim piatu dan sejak masih kecil sampai dewasa di asuh oleh ibu Ramona. Ibu pemilik panti asuhan di mana dia bernaung.
Hingga dewasa, dia di paksa untuk menikah dengan anaknya bernama Danu yang bekerja di sebuah bank ternama. Itu permintaan terakhir ibu asuhnya. Karena pernikahan terpaksa itu, Laras harus menerima kesepakatan dengan Danu kalau pernikahan mereka hanya satu tahun saja, karena Danu sudah punya kekasih seorang gadis SMA. Danu meminta pada Laras, kalau di luar rumah mereka tidak saling mengenal, apa lagi mengaku sebagai suami istri.
Bagaimana Laras menghadapi pernikahan dengan Danu? Apakah Danu akan mencintai Laras?
Simak ya kisahnya...😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pindah Rumah
Esok harinya, Laras sudah bersiap untuk pergi dari rumah Danu. Dia menyewa mobil untuk membawa barang-barang peralatannya yang dia beli sejak sebulan berjualan online. Sedangkan bajunya tidak banyak yang dia punya.
Setelah selesai, dia menghampiri Danu yang sedang membaca pesan masuk di ponselnya. Dia berdiri, menunggu reaksi Danu untuk menatapnya. Dan benar saja, Danu menatapnya datar.
"Aku pergi mas, terima kasih atas tumpangannya di rumah ini. Maaf kalau aku ada salah." kata Laras.
"Kamu memang numpang di rumahku, dan juga punya banyak salah padaku." kata Danu.
Laras diam, dia mengambil tangan Danu untuk bersalaman. Tapi laki-laki itu menepis tangan istrinya, kemudian Laras berbalik dan menuju mobil yang sejak tadi menunggunya. Dia kembali lagi masuk ke dalam rumah, ada sesuatu yang dia lupa di bawa.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Danu.
"Dompetku ketinggalan di kamar mas, aku lupa membawanya." kata Laras.
"Cepat ambil dan cepat juga kamu pergi." kata Danu lagi.
"Iya mas. Emm, apakah mas Danu nanti mau berkunjung ke rumahku nanti? Itu sebelum perceraian tiba, setidaknya kamu berkunjung sekali saja ke rumahku mas." kata Laras.
"Untuk apa? Tapi baiklah, nanti aku berkunjung untuk yang terakhir kalinya. Tapi kamu jangan menungguku."
"Terima kasih."
Dia lalu bergegas masuk ke dalam menuju kamarnya di belakang mengambil dompetnya yang tertinggal, lalu dia keluar lagi dan langsung keluar dari rumah Danu tanpa menoleh pada suaminya itu.
Dia masuk ke dalam mobil dan memberikan kartu alamat pada sang sopir.
"Ke alamat ini ya pak." kata Laras.
"Iya mbak, ini agak jauh mbak tempatnya." kata sopir.
"Ngga apa-apa, nanti aku bayar sesuai tarif kok. Dan tambahan untuk membantu barang-barangku di masukkan ke dalam rumah nanti." kata Laras.
"Baiklah mbak."
Supir itu pun menjalankan mobilnya, Laras menoleh ke arah rumah besar milik Danu. Tidak berharap suaminya itu keluar mengejarnya atau melambaikan tangannya. Seiring mobil melaju, Laras pun menarik nafas panjang.
Nasibnya sekarang akan dia tentukan sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Itulah prinsipnya, urusan jodoh apakah dia akan terus menjadi istri Danu atau tidak. Dia belum memikirkan ke depannya, yang dia pikirkan adalah online shopnya berjalan lancar.
Satu jam setengah perjalanan menuju rumah barunya, kini akhirnya sampai juga. Dia belum tahu rumah seperti apa yang Danu berikan padanya. Apakah rumah BTN atau rumah biasa. Tapi bagi dia tidak masalah, yang penting dia punya tempat untuk bernaung.
Terlihat memang deretan rumah BTN, benar saja rumah BTN yang di berikan Danu untuk Laras. bukan tipe cluster, tapi lumayan untuknya hidup sendiri. Mobil terus mencari blok dan nomor rumah yang tertera di kartu nama itu.
Akhirnya pun ketemu, mobil berhenti di depan rumah yang letaknya agak jauh dari jalan utama perumahan tersebut. Agak memojok, tapi tidak mengapa bagi Laras. Dia akan membeli motor bekas untuk bolak balik mengantar pesanan ke jasad ekspedisi.
"Di sini ya mbak alamatnya." kata sopir.
"Iya kali bang, ya udah tolong bantuin memasukkan peralatan ke dalam rumah bang." kata Laras.
Laras keluar dari mobil dan mengambil kunci rumah barunya. Membukanya dan melihat isi rumah tersebut. Masih kosong, dia belum punya apa-apa di rumah itu, kasur saja tidak ada. Apa lagi lemari, tidak ada sama sekali.
"Baiklah, aku harus merangkak dari awal lagi. Semuanya masih kosong, jadi aku harus membeli barang penting dulu." kata Laras melihat-lihat sekeliling rumah setiap ruangannya.
"Mbak, semua sudah di bawa masuk nih." kata sopirnya.
"Iya bang, tunggu ya aku ambil uang dulu." kata Laras.
Laras masuk ke dalam kamar yang akan dia tempati untuk tidurnya nanti, mengambil dompet dan menarik uang tiga ratus ribu. Di tambah lima puluh ribu, jadi total dia memberikan uang itu pada sopir tiga ratus lima puluh ribu dia serahkan padanya.
"Ini bang, terima kasih ya." kata Laras.
"Iya mbak, kalau begitu saya pergi dulu. Masih ada orderan lagi." kata sopirnya.
"Iya bang."
Laras masuk lagi ke dalam rumahnya, melihat-lihat setiap ruangan dan juga bagian dapur. Sudah ada dapur, tapi belum ada apa pun juga.
"Aku harus membeli peralatan dapur lagi. Kompor, panci, penanak nasi dan lainnya. Uangku tinggal berapa ya di tabungan." gumam Laras.
Dia mengambil ponselnya dan mengecek lewat M-bankingnya. Ada sekitar delapan juta, jika di berikan beberapa peralatan dan juga kasur sebesar lima juta cukup. Modal untuk membeli bahan kue juga sudah ada.
"Baiklah, ini uangku yang terakhir. Bulan ini mas Danu belum memberiku uang, dia keburu tahu kegiatanku dulu." ucapnya lagi.
Tuuuut
Suara dering ponselnya berbunyi. Laras mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang menelepon. Ibu Rima.
"Assalamu alaikum bu." kata Laras.
"Walaikum salam, Laras. Ibu khawatir sama kamu, bagaimana denganmu? Kata Dian dia di bentak dan di usir dari rumah Danu. Dia tidak tahu kalau suamimu itu pulang, Laras. Bagaimana denganmu?" tanya ibu Rima.
"Laras pindah rumah bu, mas Danu yang belikan." kata Laras.
"Kamu di usir?" tanya ibu Rima lagi.
"Ngga bu, cuma di suruh pindah jika mau buka usaha. Jadi Laras pindah ke rumah baru Laras." kata Laras tidak memberitahu yang sebenarnya.
"Kata lain dari beri rumah baru itu, kamu di usir Laras. Ya sudah, ibu tidak akan mendesakmu bercerita lagi. Lalu kamu pindah kemana?"
"Di permuahan BTN bu, agak jauh dari panti asuhan dan juga rumah mas Danu. Emm, Dian bagaimana bu? Apa dia tidak mau ikut lagi denganku?" tanya Laras.
"Ibu tidak tahu, dia pulang dengan ketakutan sekali. Tapi nanti ibu tanyakan sama dia, apakah masih mau bekerja denganmu."
"Nanti Laras ke panti bu, ingin tahu keadaan Dian. Dia pasti syok banget melihat kemarahan mas Danu." kata Laras.
"Ya, dan dia di kamar terus setelah kemarin dia pulang ketakutan."
"Baiklah bu, besok Laras akan bujuk lagi Dian untuk ikut Laras membuat kue lagi. Sekarang tidak di rumah mas Danu lagi, jadi lebih bebas nantinya." kata Laras.
Dia berniat akan membawa Dian ke rumahnya dan tinggal dengannya. Merintis lagi pembuatan kue untuk di jual secara online. Laras menyudahi sambungan teleponnya dan menarik nafas panjang.
"Jadi mas Danu membentak dan memarahi Dian. Aku pikir Dian sudah pulang lebih dulu." kata Laras.
Akhirnya Laras membereskan perakatan membuat kuenya untuk di bawa ke dalam dapur. Besok dia akan berbelanja kebutuhan untuk memenuhi rumah barunya itu.
_
_
***************