NovelToon NovelToon
Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"

​Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.

​Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.

​Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.

​Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Kincaid Group," ujar Emma.

Sudut bibirnya terangkat dan membentuk seulas senyuman sinis yang dingin.

"Mereka bergerak secepat anjing pelacak yang kelaparan."

​Xavier kembali menegakkan punggungnya dan menatap abu foto pernikahan yang telah mendingin di atas meja.

"Alfie putus asa. Divisi perhiasan mereka merugi besar setelah rumor itu mencuat. Dia butuh penyegaran dan desain The Weeping Willow-mu adalah umpan yang sempurna. Apa rencana selanjutnya, Emma?"

​Emma menutup map dokumen itu dengan sentakan pelan namun tegas.

"Tolak mereka. Jangan berikan alasan apa pun. Biarkan timnya pulang ke London dengan tangan hampa. Aku ingin Alfie merasakan bagaimana rasanya diabaikan dan ditolak mentah-mentah sebelum dia tahu siapa di balik nama Emma Ellis."

​"Pilihan yang cerdas," sahut Xavier sembari menatap Kevin.

"Kevin, urus penolakan resmi. Buat sekaku mungkin agar harga diri Kincaid Group sedikit terkoyak."

​"Baik, Tuan. Saya akan langsung mengirimkan surat penolakannya malam ini," jawab Kevin mantap sebelum membalikkan badan dan meninggalkan ruangan

***

​Sementara itu, di London suasana di dalam ruangan kerja Samuel, sang detektif swasta tampak kacau. Kertas-kertas rute jalan berserakan di atas meja dan bersanding dengan tumpukan salipan data digital yang gagal ditembus.

​Alfie Kincaid berdiri di samping meja Samuel, mencengkeram tepi meja kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya merah dan kantung matanya menghitam akibat berhari-hari menolak untuk memejamkan mata.

​"Apa maksudmu dengan jejaknya terputus, Samuel?!" bentak Alfie frustrasi.

"Kamu adalah detektif terbaik! Bagaimana bisa sebuah mobil hitam mewah berukuran besar menghilang begitu saja dari rekaman satelit. Ini sudah 4 bulan?!"

​Samuel menghela napas berat dan melepas kacamata bacanya dengan lelah.

"Tenang dulu, Pak Alfie. Saya sudah mengerahkan seluruh tim IT terbaik saya. Masalahnya, kita tidak sedang berhadapan dengan pengendara biasa. Orang-orang yang mengendarai mobil hitam dan minibus malam itu tahu persis titik buta kamera pemantau kota."

​"Mereka membersihkan TKP! Mereka menaruh sandal Flossie seolah dia melompat ke sungai!"

Alfie mencengkeram kerah kemejanya sendiri, karena merasa dadanya terhimpit batu besar.

"Siapa mereka, Samuel? Siapa yang membawa istriku?!"

​"Itulah yang sedang kami cari tahu," sahut Samuel sembari mengetuk layar monitor komputer yang menampilkan peta digital.

"Mobil hitam pertama melaju dengan kecepatan tinggi, langsung memotong jalur arteri dan masuk ke sebuah kawasan steril. Begitu masuk ke area itu, pelat nomornya tidak terlihat jelas, dan semua rekaman CCTV milik pemerintah di sekitar radius dua kilometer mendadak mengalami gangguan sinyal pada jam yang sama."

​Alfie memukul meja dengan kepalan tangannya.

"Gangguan sinyal? Skenario macam apa ini?! Siapa yang memiliki kekuasaan sebesar itu untuk mengacak-acak sistem keamanan kota dalam hitungan menit?!"

​"Hanya ada sedikit pihak yang memiliki teknologi enkripsi tingkat militer dan jaringan kabel optik pribadi di kawasan steril tersebut, Pak," ujar Samuel dengan nada suara yang merendah dan penuh kehati-hatian.

"Seseorang sengaja memutus arus informasi malam itu untuk melindungi identitas penumpang di dalam mobil hitam tersebut."

​Alfie terdiam dan napasnya memburu di tengah keheningan ruangan yang mencekam. Pikirannya berputar liar. Ibunya, Willa, tidak mungkin menggunakan metode serumit ini jika tujuannya hanya ingin membunuh Flossie di tempat.

Skenario pembersihan TKP ini terlalu rapi dan terlalu melindungi seolah-olah ada pihak lain yang sengaja menyelamatkan Flossie dan menyembunyikannya dari dunia.

​"Cari terus kawasan steril itu," desis Alfie.

"Aku ingin tahu siapa pemilik tanah, gedung, atau apa pun yang ada di perbatasan sayap barat itu."

​"Tim saya sedang membongkar sertifikat digital kepemilikan wilayah itu, Pak. Mohon tunggu sebentar," kata Samuel kembali mengetikkan beberapa baris kode di papan tiknya.

Jam dinding di ruang kerja Samuel telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Suara ketukan papan tik mendadak berhenti dan digantikan oleh bunyi beep panjang dari sistem komputer Samuel.

​"Pak Alfie, sistemnya berhasil membongkar enkripsi kepemilikan lahan steril tersebut," ucap Samuel.

​Alfie yang nyaris tertidur di kursi langsung menegakkan tubuhnya dan melangkah cepat ke belakang kursi Samuel.

"Siapa? Siapa pemilik kawasan steril di perbatasan sayap barat itu?!"

​Samuel menunjuk ke arah layar monitor yang menampilkan sebuah logo perusahaan besar berbentuk elang perak yang sangat familier di mata Alfie. Lembar dokumen hukum itu memuat nama korporasi yang menjadi rival abadi keluarganya selama dua dekade terakhir.

​"Kawasan steril itu adalah kompleks laboratorium medis rahasia dan klinik privat yang seluruh aset tanahnya terdaftar di bawah nama ...."

Samuel menelan ludah sebelum melanjutkannya. "Ellis Corporation, Pak."

​Alfie membeku di tempatnya. Seluruh darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir dan menyisakan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang belakang.

Jantungnya berdentum begitu keras hingga telinganya berdenging.

​"Xavier Ellis," bisik Alfie dengan suara yang bergetar antara syok dan kemarahan.

"Jadi bajingan itu yang mengambil Flossie dari jalan malam itu?!"

***

Di Paris, waktu terus berjalan membawa kedamaian baru bagi Emma. Pagi harinya, ia sudah berada di studio privatnya di lantai bawah griya tawang. Ruangan itu dipenuhi dengan meja gambar besar, balok-balok lilin untuk cetakan perhiasan, dan berbagai contoh batu mulia mentah.

​Seorang wanita paruh baya keturunan Prancis bernama Madame Helene, maestro desainer legendaris yang disewa khusus oleh Xavier, berdiri di samping Emma yang sedang tekun mengukir sketsa baru.

​"Gerakan tanganmu sangat rapi, Emma," puji Madame Helene dengan bahasa Prancis yang anggun.

"Kamu memiliki intuisi alami tentang bagaimana logam harus memeluk batu permata. Sentuhanmu tidak kaku."

​Emma mendongak dan menyeka keringat tipis di dahinya dengan ujung lengan baju.

"Terima kasih, Madame. Setiap kali saya mengukir, saya merasa sedang menuangkan sebagian dari jiwa saya yang sempat hancur ke dalam benda-benda ini."

​"Itulah rahasia seorang maestro sejati," sahut Madame Helene tersenyum lembut.

"Perhiasan terbaik lahir dari emosi yang paling pekat. Rasa sakit, cinta, dan dendam. Semuanya adalah bahan bakar terbaik untuk sebuah mahakarya."

​Xavier melangkah masuk ke dalam studio dan bersedekap di ambang pintu sembari memperhatikan interaksi mereka. Setelah Madame Helene pamit undur diri untuk memberi Emma waktu istirahat, Xavier mendekati meja gambar.

​"Kamu terlihat lebih hidup di sini, Emma," ucap Xavier datar.

​Emma mengusap perutnya yang terasa memberikan tendangan kecil dari dalam.

"Anak-anak ini yang memberiku kehidupan baru, Xavier. Setiap kali aku merasa lelah, mereka mengingatkanku mengapa aku harus bertahan di negara asing ini."

​Xavier menatap perut Emma sejenak, lalu beralih ke matanya.

"Tim dari Kincaid Group baru saja menerima surat penolakan kita di London. Kevin melaporkan bahwa Alfie Kincaid mengamuk di kantornya karena lamarannya ditolak mentah-mentah oleh pihak Emma Ellis."

​Emma terkekeh.

"Biarkan dia mengamuk. Dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan uang dan kekuasaannya. Sekarang, dia harus belajar bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan nama besar Kincaid."

1
tia
lanjut thor
sunaryati jarum
Lega Flossie dan kedua bayine selamat dan sehat
sunaryati jarum
Semoga berhasil dalam.karir dan membesarkan dua anakmu Flossie
sunaryati jarum
Jangan kesuksesan kamu terbuka Emma
sunaryati jarum
Dendammu jangan sampai.membuatmu jadi monster tapi jadi wanita tangguh yang berkualitas
sunaryati jarum
Pembalasan baru dimulai dengan.penolaksn pembelian desain
sunaryati jarum
Good job ternyata kamu punya.keahlian desain perhiasan Flossie semoga sukses dengan bimbingan Xavier
sunaryati jarum
Penyesalan kamu makin dalam.Alfie apalagi jika kebenaran tentang teh herbal dan foto
sunaryati jarum
Flossie semangat demi kedua janin di rahimmu dan membalas perlakuan Madam Willa dan Alfie
sunaryati jarum
Berarti.foto- foto editan perselingkuhan Flossie itu kerjasama Wiila dan Nadia
sunaryati jarum
Xavier mafia dan musuh Kincaid
sunaryati jarum
Kau cari sepanjang sungai sampai muara laut tidak akan ketemu,Alfie
sunaryati jarum
Ada maksud lain Xavier menolong kamu
sunaryati jarum
Setelah tidak terlihat menyesal
sunaryati jarum
Semoga bayimu kuat seperti kamu Flossie
sunaryati jarum
Akhirnya dapat pertolongan
sunaryati jarum
Kuat dan jadi orang hebat Flossie
sunaryati jarum
Kuat dan tabah semoga kau menemukan kesuksesan bersama anak yang kau kandung Flossi
sunaryati jarum
Baru mampir
Miarosa: makasih sdh mau mampir 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ditunggu lanjutannya kk 💪
Miarosa: sudah lanjut ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!