Kerap kali persahabatkan akan menumbuhkan ras cinta, terlebih jika persahabatan antara laki - laki dan perempuan.
Seperti yang aku alami, aku dan Arjuna sudah bersahabat sejak lama tepatnya sejak SMP. Usiaku memang lebih muda dua tahun darinya. Tapi karena keenceran otakku aku bisa tinggat dengannya.
Dan ini kisahku dengan sahabatku Arjuna, yang terpaksa menikah karena suatu alasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Arjuna.
Pagi itu aku menemani mbok Yem, menunggu siKang sayur langganan ibu - ibu kompleks ini. Aku ingin masak makanan kesukaan Arjuna.
Meski hari sabtu dia tetap pergi kekantor karena ada sedikit masalah dipabrik. Mama dan Papa juga dah berangkat kepuncak selepas subuh tadi. Untuk memberitahu oma dan keluarga rencana pernikahan Gina sebulan lagi.
Sementara tuu anak perawan calon pengantin, hari gini masih tidur. Katanya lagi halangan jadi gak usah buru - buru bangun sholat subuh. Dasar emang.
Tak lama menunggu, klakson mobil pick up si akang tukang sayur pun terdengar dan berhenti ditempat biasanya. Tampak beberapa ibu -ibu dan ART bergerombol, memilih sayur. Saling menyapa, berbincang hingga.... berghibah.
" Mbok Yem, tumben simbaknya ikut belanja. Biasanya sama Bu Shinta.?" tanya ibu yang gemuk pada mbok Yem. Sementara aku hanya tersenyum.
" Si Ibu berangkat kepuncak tadi habis subuh, Nya.!" jawab Mbok Yem sopan.
" Ngapain?" tanya ibu - ibu berhijab biru.
" Ada urusan keluarga, bu!" jawabku menyahut.
" Oo, udah isi belum mbak?" tanya ibu tinggi dan cantik itu.
Aku mengulum senyum, " belum bu."
" Gimana mbak, rasanya jadi mantu konglomerat.? Dikasih apa mbak, sampai mau jadi pengantin penganti.?" tanya ibu yang gemuk tadi.
Satu pertanyaan yang sudah lama aku duga. Pertanyaan yang mungkin bukan hanya keingintahuan ibu - ibu itu saja. Tapi, juga orang diluar sana.
" Ibu - ibu jangan asal ngomong yaa.!_" sahut Mbok Yem. Tapi, aku buru - buru memegang tangannya lalu menggeleng, isyarat agar tak menanggapinya.
" Kira - kira kemana yaa bu, pengantin yang kabur itu.?" tanya ibu berhijab biru.
" Itu keponakannya Bu Ratih, ibunya katanya lagi sakit keras, kasihan." ibu yang tinggi menjawab.
" Jadi, bener yaa kaburnya sama laki - laki lain ya.?" tanya ibu berhijab kuning.
" Iya, tapi katanya dipihak keluarga laki - lakinya gak mau menerima. Kualat sama ibunya, apalagi ninggalin laki - laki lain pas akad nikah, nggak bakalan berkah.!" Ibu yang tinggi menjawab lagi.
Sepertinya dia banyak tahu tentang kejadian itu. Tentang Dafina juga.
" Belum - belum udah dapat azab yaa bu." sahut ibu berhijab biru.
Aku tercengang mendengar kenyataan tentang Dafina, meski kami gak dekat dan dia gak suka sama aku. Tapi, kasihan juga.
" Jadi gimana bu, apa sekarang dah nikah bu?" tanyaku.
" Yang saya denger belum yaa, mbak. Karena keluarga laki - laki gak mau menerima. Si perempuan itu kan orang biasa. Ayahnya sudah meninggal, dan sekarang ibunya lagi sakit.!"
" Gimana gak sakit, punya anak gadis nyleneh gitu banyak tingkah. Udah dapat laki dari keluarga konglomerat yang mau menerima, dia malah kabur sama anak pejabat." sahut ibu gemuk, terdengar geram.
" Tapi, yaa bu. Bu Shinta bilang Arjuna kena tipu.!" ujar ibu tinggi.
" Mama gak tau apa - apa, bu. Sama seperti saya yang juga baru tau." Aku menjelaskan.
Merasa gerah dengan perbincangan mereka, aku mengajak Mbok Yem cepat pergi dari sana setelah membayar belanjaan kami.
Terdengar ibu - ibu itu masih bergumam, entah apalagi yang diobrolkan. Sangat pelan, hingga tak dapat ku dengar lagi.
" Sudahlah Non, gak usah didengerin. Mereka memang kaya gitu, tukang gosip.!" kata mbok Yem menenagkan.
****
Setelah selesai masak aku mengirimkan pesan untuk Arjuna,
Makan siang dirumah yaa, aku dah masak makanan kesukaan kamu.!
'Siaapp'. balasan dari Arjuna.
Aku merenggangakan tubuh, duduk bersandar disofa. Pikiranku kembali tertuju pada Dafina. Pantas saja Arjuna mati rasa, ternyata dia menerima Dafina apa adanya. Tapi, gadis itu malah lari bersama laki - laki lain. Arjuna juga gak pernah cerita tentang keadaan Dafina, dulu.
Sekarang Arjuna bertahan denganku karena rasa nyaman. Sakit sebetulnya, tapi aku mencoba ikhlas menjalaninya. Memahami bila perasaan memang tak bisa dipaksakan. Tak mudah mengobati hati yang kecewa sedalam itu.
Aku menunggu cukup lama, hingga terdengar suara pagar terbuka. Diiringi dengan suara deru mobil yang memasuki pelataran rumah. Tak lama muncul sosok laki - laki yang sudah aku tunggu.
" Mbak Hana, masak apa? Aku lapar nii." tanya Bayu yang baru turun dari lantai dua itu.
" Udah ayo, keruang makan aja! Bau masakannya wangi banget nii, dek." sahut Gina yang juga baru keluar dari kamarnya.
Aku menggeleng, tersenyum melihat dua adik iparku itu. Sedang Arjuna duduk disebelahku, lalu mengambil ponsekku dari tangan. Ia menatapku dalam, seperti ingin mengatakan sesuatu.
" Jangan bilang kamu tergoda sama perempuan lagi.!" Aku menerka - nerka.
" Ais," ia memutar bola matanya malas.
" Ibu dosen killer, mikirannya ngeres juga ternyata!" katanya menggetok kepalaku.
Bu guru galak, dosen killer apa gak ada panggilan sayang yang bagus buat aku. Dari dulu itu mulu, yaa ampun.
" Gak takut, sama guru galak? Heeh.... Galak - galak gini ditidurin juga kan." aku gemes sendiri selalu dianggap sahabat yang selalu digoda kaya gini.
" Baperan amat, jangan bilang lagi PMS?" Arjuna menautkan alis, cengengesan lalu meletakkan ponsel diatas meja.
" Apaan sih, Jun?" Aku menggigit bibir bawah, ada rasa hangat yang mengaliri pipi. Tatapannya membuatku salah tingkah. Yaa, cuma tatapan mesum sih, bukan tatapan cinta.
" Ada apa?" tanyaku.
" Nii, buat kamu." Arjuna meraih tanganku lalu meletakkan sebuah kotak kecil dalam genggaman.
" Tumben.?"
" Makasih kek, ngerusak suasana banget. Orang lagi serius juga."
Aku tertawa, " oh, ceritanya mau romantis. Ekspresinya harus gimana? Mau diulang nggak?" aku masih mengekeh pelan.
" Aku mau makan." Arjuna berdecak nampak sebal, dilanjutkan beranjak berjalan menuju ruang makan.
Merasa penasaran, perlahan aku membuka kotak kecil berwarna hitam itu. Sebuah cincin berlian, sederhana tapi manis. Lalu ku tutup kembali. Rasanya ada bunga bermekaran, bersama kupu - kupu yang berterbangan keseluruh arah. Aku tersenyum, Arjuna mulai romantis.
Aku menyusul keruang makan, terlihat Gina dan Bayu sudah mulai makan sejak tadi. Sementara Arjuna baru saja selesai cuci tangan diwastafel dapur.
Belajar jadi istri yang baik, aku mengambilkan makanan untuk suami ku. Seperti niatku, aku memasak ayam bakar bumbu rujak dan sambel pete kesukaannya. Aku melihat binar bahagia saat dia menyantap makan siangnya.
" Enak nggak Bay, masakan mbak Hana?" tanyaku pada Bayu yang telah selesai makan itu.
" Juara mbak." jawabnya mengacungkan kedua jempolnya.
" Masakan mbak Hana the best pokoknya!" puji Gina, dasar tuu anak udah mau nikah, tapi masih males aja bangun pagi.
Bayu dan Gina pun meninggalkan meja makan. Entah kemana, mungkin kembali kekamar masing - masing.
" Enak yaa,?" tanyaku pada Arjuna yang nampak lahap dan menghabiskan dua potong ayam.
Tak menjawab hanya isyarat menutup mulut dengan jari telunjuknya. Tanda aku gak boleh bertanya dulu. Benar - benar keterlaluan, suamiku ini.
Terima kasih sudah mampir.
Semoga masih bisa bertahan untuk ketik satu bab lagi yaa.
Sehat selalu semua.