Arunika Gantari, seorang perempuan ceria yang tiba-tiba saja menghilang selama 4 tahun.
Asoka Danubrata, putra bungsu pemilik perusahaan yang menyembunyikan identitasnya sebagai putra pemilik perusahaan dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan miliknya sendiri.
4 tahun Asoka menunggu kepulangan Arunika, menepati janjinya untuk memantaskan diri. Namun ketika gadis itu kembali, sosoknya berubah. Tak ada lagi Arunika yang ceria, yang ada hanya Arunika yang tertutup.
Apa yang menjadi rahasia kepergian Arunika 4 tahun lalu? Akan kah Asoka berhasil mengembalikan kecerian perempuan yang dia cintai? Atau kan posisi Arunika sudah digantikan oleh perempuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1%
Hari sabtu seperti yang telah dijanjikan Arunika datang ke rumah Oka dengan jantung berdebar, dia bahkan berulang kali mengecek penampilannya, seolah ini adalah kali pertama bertemu dengan keluarga besar Oka.
Kecuali ayah Andi yang sedang pergi mancing bersama dengan kakek Magrib, semua orang menyambutnya ramah termasuk bu Mega. Drama Queen tidak menghindarinya atau berprilaku penuh drama seperti halnya drama queen, tidak, sama sekali tidak. Dia tetap mengajak ngobrol Arunika, bahkan secara khusus menyiapkan makan siang istimewa hari itu.
Tidak ada yang aneh bukan? Semua berjalan lancar, normal seperti yang diharapkan, jadi darimana Arunika tahu kalau bu Mega kurang menyukai hubungannya dengan Oka?
Jawabannya adalah dari kata-katanya yang penuh sindiran di setiap ada kesempatan, seperti saat ini.
“Teh, bilang dulu tidak sama kakang kamu mau ke sini?” tanya bu Mega ketika Kirana datang hanya berdua bersama dengan Danish.
“Bilang dong, Mah, nanti kakang menyusul ke sini kok,” jawab Kirana sambil bergabung duduk di ruang keluarga.
“Iya, kalau mau pergi kemana-mana tuh harus pamit dulu, bilang dulu jadi kakang tidak khawatir karena kamu tiba-tiba menghilang begitu saja. Kakang juga jadinya tahu kan harus mencari dan jemput kamu kemana, tidak bingung mencari-cari kamu sama Danish.”
Kirana mengangkat alisnya mendengar ucpaan ibunya berbeda dengan Arunika yang hanya bisa terdiam, tertunduk.
“Kalau Teteh pergi, kakang tidak akan nyari Teteh kok, karena kakang tahu Teteh pasti akan pulang. Kakang hanya tinggal duduk manis menunggu istri dan anaknya kembali pulang ke rumah dengan membawa tas belanjaan. Paling-paling dia kaget lihat tagihannya,” ucap Oka membuat Kirana tertawa.
“Hahahaha, itu sih, Bi, bukan aku.”
“Itukan keperluannya Zi bukan cuma keperluanku saja.”
“Iya, buat Zi 2, kamu 4,” ujar Kirana sambil mengambil sirup cocopandan yang terlihat menggoda dengan es di dalamnya.
“Hahaha.”
Pembicaraan pun berlanjut tentang segala hal, dari mulai anak-anak, gossip di grobak sayur bang Jarwo dimana trending topic kali ini adalah tentang Kayas yang terlihat diantar pulang oleh lelaki dengan mobil mewah. Tentu saja hal itu membuat kehebohan di dalam komplek mengingat selama ini mereka mengenal Kayas sebagai kekasih Sakha yang orangtuanya juga tinggal di komplek yang sama juga langganan bang Jarwo.
“Jadi Kayas selingkuh?”
“Sama siapa?”
“Kamu tahu tidak cowok selingkuhannya siapa?” tanya bu Mega antusias.
“No comment,” jawab Oka yang membuat ibu dan kakaknya berdecak.
“Kamu tahu ya? Siapa sih, Ka?” tanya Kirana penasaran.
“Tanya langsung saja sama Kayas.”
“Justru itu emaknya si Magrib juga penasaran soalnya Kayas nggak mau cerita. Nih, Munaroh kirim pesan suruh tanyain kamu.”
“Apa mungkin mobil yang kemarin itu ya, yang hitam?” ujar Salwa yang terlihat berpikir membuat semua orang kini menatap ke arahnya.
“Kamu lihat, Wa?”
“Iya, Kak, semalam aku duduk di teras terus melihat kak Kayas turun dari mobil hitam besar.”
“Mobil hitam besar?”
“Iya, mobilnya mirip punya Mas Oka, tapi … tidak mirip juga.”
“Gimana sih, Wa? Mirip atau tidak?”
“Gimana ya? Mirip-mirip begitu, besar, hitam, tapi … beda juga.” Salwa berusaha menjelaskan dengan wajah bingung.
“Kamu lihat orangnya tidak?” tanya Kirana berusaha melupakan mobil hitam, besar yang dilihat Salwa.
“Tidak,” jawab Salwa membuat bu Mega, Kirana, dan Bentari menghela napas kecewa karena tidak dapat update gossip terbaru.
“Hahaha.” Oka tertawa sedikit tenang karena rahasia Kayas masih aman.
“Sudah ah, mamah mau siap-siap dulu, ada undangan arisan RT. Mumpung di sini mamah mau datang, siapa tahu sudah ada gossip terbaru.”
Bu Mega masuk ke dalam kamar, tak lama bu Mega ke luar setelah berganti pakaian dengan gamis berwarna coklat susu.
“Tante tinggal dulu. Di kulkas ada puding sama salad buah nanti kamu bawa pulang buat di makan di rumah ya.”
“Iya, Tante, terima kasih.”
“Kalau masih lapar, kamu minta kakak atau teteh traktir kamu makan mie ayam si Jangkung, sebentar lagi lewat.”
Arunika tersenyum sambil mengangguk, dan bu Mega pun pergi dengan membawa Zelia juga Danish untuk dia pamerkan kepada ibu-ibu komplek kalau kedua cucunya sangat lucu dan menggemaskan.
“Tarjo, beli mie ayam sana!”
“Mie ayam?”
“Iya, tidak dengar kamu tadi mamah nyuruh Teteh teraktir Arunika mie ayam?” Kirana menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Oka. “Mie ayam di samping pasar Cibubur ya, tahu kan?”
Tentu saja Oka tahu, itu adalah tempat biasa Oka dan Arunika makan bakso dulu ketika pulang kuliah.
“Tadi mamah kan nyuruhnya si Jangkung.”
“Nunggu si Jangkung kelamaan, keburu lapar deh.”
“Sudah sana, nih Kakak tambahin buat beli es campurnya.”
“Yang dari Teteh sudah cukup itu.”
“Rezeki tidak boleh ditolak.” Dengan cepat Oka mengambil uang dari tangan Bentari. “Ayo, Ra!”
“Eit!” Kirana dan Bentari seketika menahan Arunika yang hendak bangkit.
“Arunika biar di sini, kamu saja yang pergi.”
Oka menatap kedua kakaknya penuh curiga, sedangkan Arunika hanya mengangguk seolah mengatakan kalau dia akan baik-baik saja ditinggalkan bersama kedua kakak Oka.
“Awas, jangan diapa-apain!” ancam Oka sambil berdiri bersiap pergi.
“Iya, sudah sana!”
Dengan ragu Oka pun pergi meninggalkan Arunika bersama Kirana, Bentari dan Salwa.
“Bagaimana hubunganmu sama Oka? Baik-baik saja, kan?” tanya Kirana langsung tanpa basa basi setelah Oka pergi dengan menaiki si bujang.
“Baik, Teh.”
“Syukurlah, kami senang mendengarnya.” Kirana tersenyum tulus ketika mengatakan itu. “Oka itu terkadang kurang peka, kurang bisa memahami apa pikiran dan perasaan kita. Sering kali dia memendam perasaannya, berusaha terlihat tegar di luar padahal hatinya rapuh. Jadi teteh harap kamu yang akan lebih peka, lebih terbuka dengan apa yang kamu rasakan agar Oka tahu dan kalian bisa saling memahami.”
Arunika mengangguk mengerti dengan apa yang Kirana ucapkan.
“Soal, mamah … jangan dipikirkan ucapan mamah tadi,” ucap Kirana sambil tersenyum membuat Arunika ikut tersenyum. “Membuat mamah menyukai kita itu gampang, karena pada dasarnya mamah itu tidak neko-neko, cuma bukan bu Mega sang drama queen namanya kalau tidak ngedrama dulu di awal.”
Arunika kembali tersenyum mendengar ucapan Kirana.
“Tapi mungkin kali ini mamah sedikit keras sama kamu karena kejadian beberapa tahun lalu ketika kamu meninggalkan Oka tanpa kabar berita.” Kirana menatap Arunika yang terdiam, terlihat penyesalan juga kesedihan dala sorot matanya. “Kami semua bisa menjadi saksi bagaimana Oka berjuang menemukanmu, sampai akhirnya berada pada titik pasrah meski tetap setia menunggu kepulangamu.”
Arunika semakin merasa bersalah mendengar itu.
“Jangan kamu merasa bersalah atau pun sedih, itu kemauannya Oka untuk tetap percaya dan menunggumu. Teteh tidak mengatakan kamu tidak salah. Tidak. Tentu saja kamu salah karena telah meninggalkan Oka begitu saja tanpa kabar sedikitpun, tetapi kesalahanmu hanya sebatas itu. Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, itu adalah pilihannya Oka.”
Kirana menggenggam tangan Arunika yang terasa dingin.
“Oka sudah dewasa, dia sudah bisa berpikir mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri. Dengan dia memilih menunggumu, artinya dia sudah tahu dia harus bertanggung jawab dengan segala resikonya … dan kepulangan kamu ke sisinya, telah membuktikan kalau pilihannya untuk menunggu dan setia padamu itu tidak salah. Dan mamah juga tahu itu.”
Kirana tersenyum, tangannya menepuk tangan Arunika yang masih dalam genggaman tangannya.
“Mamah hanya perlu kepastian kalau kamu tidak akan pergi meninggalkan Oka kembali, juga sebuah penjelasan yang masuk akal tentang alasan kepergianmu.”
“Saya sudah berjanji kepada abang kalau saya tidak akan pergi lagi.”
“Tunjukan itu, yakin kan mamah kalau kamu akan menepati janjimu itu.”
Arunika mengangguk dengan penuh keyakinan.
“Tentang alasan kepergianmu, apa Oka sudah mengetahuinya?”
Arunika terdiam, kemudian menggeleng.
“Kakak yakin kamu memiliki alasan kuat kenapa kamu pergi begitu saja 4 tahun lalu,” ucap Bentari membuat Arunika yang dari tadi fokus kepada Kirana kini mengalihkan pandangannya ke arah Bentari. “Mungkin bagi Oka itu tidak penting selama kamu sudah kembali, tapi berbeda dengan mamah. Bagi mamah itu tetaplah sesuatu yang harus diketehui agar mamah bisa tenang melepaskan putra kesayangannya kepadamu.”
Arunika tahu itu, bukan hanya bu Mega, Oka, tapi semua keluarga Oka berhak atas penjelasan tentang alasan kepergiannya, dan itu telah menjadi perang bathin bagi Arunika sejak memutuskan untuk kembali bersama dengan Oka.
Di satu sisi dia memiliki kewajiban untuk menjelaskan alasan kepergiannya, tapi di sisi lain ketika dia harus menjelaskan semuanya bukankah artinya dia harus membuka keburukan ayahnya?
Orangtua tetaplah orangtua, seburuk apapun orangtua kita, tak mungkin kita membeberkan aib orangtua kita. Dan seandainya Arunika nekad memberitahu alasan kepergiannya adalah karena untuk melindungi Oka dari ayahnya yang merupakan otak di balik kasus Birendra, apa keluarga Oka masih akan menerimana? Menerima putri dari lelaki yang telah membuat keluarganya dalam masalah?
Belum lagi statusnya sebagai putri di luar nikah, apa keluarga Oka akan menerimanya? Menerima putri dari hasil perselingkuhan untuk menikah dengan satu-satunya putra di dalam keluarga BUMI?
Dilema, karena ketika semua kebenaran itu terkuak, 99% jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah TIDAK. Ketika saat itu tiba Arunika hanya akan berpegang pada 1% yang tersisa, yaitu pada takdir yang telah ditetapkan di atas langit.
*****