Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Nyonya Muda yang Cantik
Pagi datang terlalu cepat.
Aku terbangun dengan leher pegal, kepala berat, dan perasaan seperti baru saja menonton drama seratus episode dalam sekali duduk. Tirai kamar sudah terbuka sedikit. Cahaya matahari masuk dari sela kain, menimpa lantai marmer yang mengilap.
Untuk beberapa detik, aku berharap semuanya mimpi.
Lalu aku melihat piyama sutra di tubuhku, cincin di jari manisku, dan panel biru kecil yang melayang malas di sudut pandangan.
[Selamat pagi, Host.]
[Status: masih hidup.]
Terima kasih, sangat menenangkan.
Aku duduk perlahan. Ingatan semalam kembali seperti tamparan beruntun. Gereja. Reynard. Hotel. Kemeja yang kutarik terbuka. Perut kotak-kotak yang tidak seharusnya kupikirkan lagi. Lalu PIK villa yang terlalu besar untuk orang dengan jiwa kos-kosan seperti aku.
Pintu diketuk pelan.
"Nyonya Muda, saya Sari."
Aku hampir tersedak mendengar panggilan itu.
Nyonya Muda.
Dalam kehidupan sebelumnya, panggilan paling formal yang pernah kuterima adalah "Kak, paketnya taruh mana?"
"Masuk," jawabku, berusaha terdengar seperti perempuan kaya yang tahu letak sendok dessert.
Seorang perempuan muda masuk membawa nampan air hangat dan handuk kecil. Wajahnya manis, rambutnya diikat rapi, seragamnya sederhana tapi bersih. Ia menunduk sopan, tidak menatapku terlalu lama.
"Tuan Muda sudah berangkat ke ruang kerja bawah. Beliau meminta Nyonya Muda sarapan setelah siap."
Tuan Muda.
Jadi Reynard benar-benar tipe orang yang punya staf, villa, ruang kerja bawah, dan aura tokoh utama pria dingin.
"Terima kasih, Sari."
Sari tampak sedikit terkejut karena kusebut namanya, lalu tersenyum tipis. "Sama-sama, Nyonya Muda."
Ia membantu menyiapkan kamar mandi, lalu mundur ke dekat pintu dengan jarak yang sopan. Aku masuk ke kamar mandi dan langsung berhenti di depan cermin.
Aku.
Atau Keira.
Wajah di cermin membuatku diam.
Riasan pengantin semalam belum sepenuhnya hilang. Foundation terlalu tebal menutup kulit, alis digambar kaku, warna bibir dibuat pucat, dan ada bayangan kusam di bawah mata yang jelas bukan kurang tidur biasa. Semua itu membuat wajah ini tampak lelah, berat, dan... sengaja dipadamkan.
[Deteksi: lapisan kosmetik korektif berkepanjangan.]
[Catatan gosip: Monica Hartono Liem secara rutin mengatur riasan Host agar terlihat lebih pucat, kusam, dan tidak menarik.]
Tanganku berhenti di atas wastafel.
Jadi bukan cuma perasaan.
Perempuan bernama Monica itu benar-benar membuat Keira terlihat jelek.
Aku mengambil kapas pembersih dan menuang cleansing oil. Sekali usap, warna krem tebal menempel di kapas. Usapan kedua membuat kulit asli di bawahnya mulai terlihat. Usapan ketiga membuatku lupa bernapas.
Kulit Keira bukan pucat mati. Kulitnya cerah, halus, dengan rona hangat yang lembut. Alis aslinya rapi. Mata yang tadi terlihat sayu ternyata besar dan bening. Ketika lipstik pucat itu hilang, bibirnya tampak merah alami.
Aku membilas wajah dengan air hangat.
Ketika mengangkat kepala lagi, perempuan di cermin sudah berubah.
Cantik.
Bukan cantik biasa.
Jenis cantik yang membuat orang berhenti bicara setengah kalimat.
Aku menatap cermin dengan mulut sedikit terbuka.
Gila.
Monica bukan menyembunyikan noda. Dia menyembunyikan berlian.
[Data visual diperbarui.]
[Status penampilan asli: sangat tinggi.]
[Saran Si Kepo: gunakan wajah ini untuk menampar musuh secara estetis.]
Aku hampir tertawa, tapi dada tubuh ini terasa nyeri. Entah kenangan siapa yang muncul, hanya potongan-potongan kecil. Keira berdiri diam di depan meja rias. Monica di belakangnya berkata, "Kau cocok begini. Jangan terlalu mencolok." Celine tertawa kecil. Seorang pelayan menunduk, pura-pura tidak melihat.
Berapa lama perempuan ini dibuat percaya bahwa dirinya tidak pantas dilihat?
Aku menggenggam tepi wastafel.
"Mulai hari ini," bisikku pada pantulan di cermin, "tidak lagi."
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Sari menjatuhkan handuk kecil yang sedang ia lipat.
"Nyonya..."
Ia langsung menutup mulut, panik karena merasa tidak sopan.
Aku mengangkat alis. "Ada yang aneh?"
"Tidak." Sari menggeleng cepat, pipinya memerah. "Maaf, Nyonya Muda. Hanya saja... saya baru pertama kali melihat wajah Nyonya tanpa riasan."
Jadi bahkan staf di sini belum pernah melihatnya.
"Lebih buruk?"
"Lebih..." Sari mencari kata, lalu berbisik, "cantik sekali."
Aku tersenyum.
Di saat yang sama, pintu kamar diketuk lagi. Kali ini ketukannya lebih keras, lebih tua, lebih merasa berhak.
Seorang perempuan paruh baya masuk tanpa menunggu izinku. Seragamnya rapi, rambutnya disanggul ketat, wajahnya membawa senyum pelayanan yang terlalu lama dilatih.
"Nyonya Muda, saya Bibi Susi. Saya mengurus kebutuhan rumah ini."
Matanya naik ke wajahku.
Senyumnya retak.
Hanya sedetik, tapi cukup.
Ia terkejut. Bukan terkejut senang seperti Sari. Terkejut seperti seseorang yang melihat rencananya mendadak bocor.
[Pemindaian karakter tersedia.]
[Bibi Susi.]
[Posisi: kepala staf sementara di PIK villa.]
[Afiliasi rahasia: Veronica Hartono Wijaya.]
[Fungsi: memantau Reynard Wijaya, melaporkan aktivitas rumah, mengendalikan akses staf.]
Oh.
Jadi rumah ini bukan rumah.
Ini kantor cabang intelijen mertua.
Aku menatap Bibi Susi sambil tersenyum manis. "Selamat pagi, Bibi Susi."
"Selamat pagi, Nyonya Muda." Ia menunduk, tapi matanya bergerak cepat, menilai rambutku yang basah, wajahku yang bersih, dan gaun tidur sederhana yang kupakai. "Saya tidak tahu Nyonya ingin tampil... natural pagi ini."
Kalimatnya sopan.
Rasanya seperti kuku menggores kaca.
"Saya juga baru tahu wajah saya seperti ini kalau tidak ditutupi terlalu banyak bedak," jawabku.
Sari menunduk lebih dalam, jelas menahan napas.
Bibi Susi tersenyum kaku. "Nyonya Monica pasti punya alasan. Beliau sangat memperhatikan Nyonya sejak kecil."
Wah.
Baru pagi sudah mulai gaslighting.
Aku duduk di depan meja rias, mengambil sisir, lalu menatapnya lewat cermin. "Kalau begitu, mulai hari ini Bibi tidak perlu mengikuti alasan lama. Di rumah ini, saya ingin wajah saya bersih."
Untuk sesaat, kamar hening.
Bibi Susi menunduk. "Baik, Nyonya Muda."
[Poin kewaspadaan Bibi Susi meningkat.]
[Saran: jangan langsung menyerang. Kumpulkan data.]
Tenang, Kepo. Aku juga bukan mau perang sebelum sarapan.
Aku turun ke lantai bawah dengan Sari berjalan setengah langkah di belakangku. PIK villa lebih besar dari yang kulihat semalam. Ruang keluarga menghadap laut, kaca tingginya memantulkan langit Jakarta yang agak kelabu. Di meja makan, sarapan sudah tertata rapi: bubur ayam, roti panggang, buah potong, kopi, dan teh.
Reynard duduk di ujung meja.
Ia sedang membaca tablet, Topeng Perak tetap menutup separuh wajahnya. Kemeja hitamnya membuat kulitnya terlihat lebih pucat. Ketika aku masuk, ia mengangkat mata.
Lalu diam.
Hanya satu detik.
Tapi aku melihatnya.
Tatapannya berhenti di wajahku, lebih lama dari orang yang hanya kebetulan melihat.
Jantungku langsung salah ritme.
Kenapa dia melihat begitu? Apa ada sisa sabun di pipiku? Atau dia baru sadar istrinya berubah jadi karakter utama setelah patch update?
Jari Reynard yang memegang tablet nyaris tidak bergerak. Tapi suara di kepalanya masuk begitu jelas, cepat, dan panik.
Patch update?
Ia menurunkan tablet perlahan.
"Duduk," katanya.
Hanya itu.
Dingin sekali.
Padahal semalam dia jelas menatapku seperti mendengar rahasia negara. Pagi ini kembali jadi kulkas dua pintu.
Aku duduk di sisi kanan meja. "Pagi."
"Pagi."
Sari menuangkan teh untukku. Bibi Susi berdiri dekat pintu ruang makan, terlalu diam untuk orang yang katanya hanya mengurus rumah.
Reynard tidak melihat Bibi Susi, tapi ia tahu perempuan itu ada di sana. Ia sudah tahu sejak lama siapa yang ditempatkan Veronica di villa ini. Bedanya, pagi ini Keira juga tahu.
Dan Keira tidak takut.
Ia melihat istrinya mengambil bubur, meniupnya pelan, lalu tersenyum pada Sari. "Terima kasih."
Sari tampak seperti baru diberi bonus tahunan.
Di dalam kepala Keira, suara itu muncul lagi.
Bibi Susi ini harus dipantau. Jangan sampai aku baru hidup sehari sudah kena racun sarapan. Kalau ada drama mertua, minimal aku harus sempat mandi dulu.
Sudut bibir Reynard hampir bergerak.
Hampir.
Ia mengangkat cangkir kopi untuk menutupinya.
Sebuah bunyi mesin mobil terdengar dari halaman depan.
Bibi Susi langsung menegakkan punggung. Matanya menyala dengan kepanikan yang cepat ia sembunyikan.
Seorang staf laki-laki muncul di ambang pintu. "Tuan Muda, Nyonya Muda."
Ia menunduk.
"Mobil Nyonya Besar sudah tiba."
Sendok di tanganku berhenti di udara.
Nyonya Besar.
Veronica.
Si Kepo berkedip tepat di depan wajahku.
[Peringatan: pemeriksaan mertua pertama dimulai.]
Dari balik kaca, aku melihat mobil hitam berhenti di depan villa.
Pintu belakang terbuka.
Sepatu hak tinggi warna nude menyentuh lantai marmer halaman.
Pagi pertamaku sebagai istri Reynard Wijaya resmi berubah menjadi sidang.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih