Rumah tangga diibaratkan sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas! Dimana suami sebagai nahkodanya, sementara isteri dan anak berperan sebagai penumpangnya. Nahkoda bertugas mengemudikan perahu agar perahu bisa sampai ditujuan dengan selamat, sementara penumpang akan mengikuti kemanapun perahu itu berlayar.
Terkadang dalam perjalanan berlayar kita dibuat bahagia dengan keindahan di lautan, angin sepoi-sepoi dan ikan-ikan yang berenang di lautan menjadi kebahagiaan yang akan kita dapatkan selama berlayar.
Lalu bagaimana jika ditengah perjalanan perahu dihadapkan dengan hantaman keras gelombang ombak dan juga badai di lautan?
Sama halnya dengan rumah tangga, gelombang ombak bisa kita artikan pihak ketiga atau wanita idaman lain.
Perahu akan bisa bertahan dari terjangan badai dan ombak besar, jika nahkoda sekuat tenaga mempertahankan kemudinya agar tetap seimbang, meski dihantam ombak dahsyat sekalipun. Tapi jika nahkoda memutuskan untuk tidak mempertahankan kemudi perahunya.
Maka yang akan terjadi adalah! Badan perahu akan retak lalu perlahan akan dimasuki oleh debit air laut yang semakin lama akan semakin menenggelamkan perahu hingga membuat PERAHU KARAM.
Begitu juga dengan rumah tangga, jika ditengah perjalanan dalam kehidupan berumahtangga, seorang suami tidak bisa tahan dengan godaan dari wanita lain, dan tidak mau mempertahankan pernikahannya!
Membiarkan wanita idaman lain untuk terus memasuki kehidupan rumah tangganya.
Maka yang akan terjadi adalah pernikahan itu akan hancur dan berujung dengan perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suci yang sudah geram dengan sikap Dimasta yang lebih memilih mengacuhkan dirinya sendirian hingga mati kutu dihadapan Qiara, berinisiatif untuk membongkar semuanya saat ini juga pada Wili dan Wilo agar Dimasta tidak banyak alasan lagi dan mempercepat perceraiannya dengan Qiara.
"Ini apa-apaan nih? Qiara kamu mengenalkan laki-laki lain sama anak-anak secepat ini? Kita belum cerai loh, aku belum pernah menyetujui untuk kita cerai?" tanya Dimasta.
"Apa cerai?" kata Wili dan Wilo yang shock karena mereka sudah sedikit banyak mengerti bahwa kata cerai artinya tidak tinggal bersama lagi.
"Sayang, Wili sama Wilo main dulu ya sama Tante Nadine ke time zone!" bujuk Qiara karena sudah melihat wajah Wili dan Wilo bersedih.
Tiba-tiba momen ini dimanfaatkan oleh Suci yang langsung menghampiri Wili dan Wilo.
"Iya cerai! Wili sama Wilo tau kan, cerai itu artinya Papih kalian sama Mimi kalian akan berpisah dan tidak tinggal serumah lagi, terus Papih kalian akan segera menikah sama aku, jadi mulai sekarang kalian bisa panggil aku Mimi," kata Suci dengan percaya dirinya.
"Suci stop! Kamu engga waras!" bentak Qiara.
Hikssss, hikssss, hiksssss Wili dan Wilo pun menangis keras. Nadine pun segera menggendong Wilo untuk menjauh dari perdebatan ini, sementara Darren langsung sigap menggendong Wili dan membawanya pergi.
"Heh itu anak-anak aku mau dibawa kemana sama laki-laki itu?" teriak Dimasta.
"Diam kamu mas! Lebih baik kamu urus aja wanita engga tau diri ini aku sudah muak dengan kalian berdua, kalian sama-sama gila!" kata Qiara.
"Bu Qia, sudah cukup ya Bu Qia selalu merendahkan saya! Saya juga punya perasaan Bu, dan memangnya apa salah saya memberitahu Wili sama Wilo kebenarannya? Toh mereka cepat atau lambat juga akan mengetahuinya," kata Suci.
Qiara seketika mengangkat satu tangannya keudara hendak menampar Suci. Namun Darren kembali menemui Qiara, untuk menghadapi Dimasta dan Suci, ditahannya tangan Qiara yang sudah hampir mengenai wajah Suci.
"Tangan kamu sangat halus dan bersih, jangan membuatnya kotor dengan menyentuh sesuatu yang kotor!" kata Darren, lalu mengusap tangan Qiara.
Seketika Qiara dibuat melongo dengan sikap manis Darren, ternyata Darren yang sudah lama dia kenal dan pendiam serta cuek bisa bicara panjang lebar juga.
Dimasta yang kesal melihat Darren dan Qiara yang masih saling menatap serat tangan Qiara yang masih dipegang oleh Darren, langsung memisahkan tangan keduanya.
"Apa-apaan ini! Jangan pernah sentuh tangan isteri saya!" kata Dimasta dengan nada jengkel.
"Mas kamu ngapain? Kamu cemburu?" tanya Suci dengan kesal.
"Diam! Ini urusan laki-laki, aku engga bisa biarkan laki-laki ini seenaknya menyentuh Qiara," kata Dimasta.
"Sebaiknya anda segera mencari pengacara handal untuk melawan saya dipersidangan! Karena dengan kasus perselingkuhan yang sudah mengarah pada perzinahan, saya pastikan Anda akan kehilangan semuanya!" kata Darren.
"Kurang ajar! Sini kamu!" teriak Dimasta lalu mencengkram kerah kemeja Darren.
"Atau mau saya tambahkan kasus penganiyaan? Sebaiknya anda tidak melakukan hal-hal yang akan semakin menjerumuskan Anda pada kesulitan," kata Darren dengan santai.
"Mas udah ayo kita pulang!" ajak Suci sambil menarik tangan Dimasta.
Dimasta pun melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja Darren, lalu tatapannya mengarah pada Qiara.
"Qiara, nanti aku akan ke rumah! Kita bicarakan ini baik-baik di rumah, oke!" kata Dimasta.
"Mas, ayo pergi!" kata Suci yang terus menarik-narik tangan Dimasta hingga membuatnya meninggalkan Qiara dan juga Darren.
Qiara pun hendak berterimakasih pada Darren karena sudah membantunya menghadapi Dimasta. Namun ketika Qiara menengok kearah Darren, dia sudah melangkah pergi meninggalkan Qiara.
"Em, bang!" panggil Qiara.
Darren pun berhenti melangkah, untuk mendengarkan Qiara.
"Terimakasih," kata Qiara.
Seperti biasanya Darren tidak menjawab dan terus melangkahkan kakinya, diiringi dengan Qiara yang mengikutinya dari belakang! Mereka berjalan seperti orang yang tidak saling kenal untuk menemui Wili dan Wilo.
Sementara itu keributan terjadi pada Dimasta dan Suci. Bahkan Dimasta membanting pintu mobilnya dengan keras, membuat Suci kaget.
"Mas, kamu kenapa si?" tanya Suci.
"Kamu yang kenapa? Kok bisa-bisanya kamu bicara seperti itu pada anak-anakku? Gak habis pikir aku sama kamu, gak bisa apa kamu itu sabar dulu!" kata Dimasta.
"Loh emangnya kenapa kalau aku beritahu sekarang? Sama aja kan mas, kamu selalu nyuruh aku sabar, sabar, sabar terus! Sampai kapan mas?" kesal Suci.
"Ya nanti aku akan bicara sendiri pada Wili dan Wilo dengan caraku, agar mereka bisa mengerti! Kamu malah seenak jidat aja bicara seperti itu!" kata Dimasta.
"Kamu itu keterlaluan ya mas! Nyesel aku percaya dengan rayuan kamu," kata Suci, lalu Suci pun keluar dari mobil dan membanting pintu mobil.
Bught..
"Suci, Suci!" panggil Dimasta, lalu Dimasta pun mengejar Suci keluar mobil.
🔥🔥🔥🔥
Up lagi siang sama sore ya Mak! Likenya jangan kendor ya☺️
memang ya pelakor semakin di depan
cerita enak' di baca
pisah adalah jalan yang terbaik.
yang menabur benih kejahatan dia juga yang menuai hasilnya siapa yg berselingkuh dia juga yg nemuin kehancuran dihidupnya.