"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Lamaran Di Atas Puing Istana.
"Tolong, Yang Mulia Pangeran! Nona Florentia! Jangan tinggalkan Kekaisaran ini dalam kekosongan tanpa takhta!"
Suara Lord Vane bergetar hebat, nyaris meratap di hadapan dua sosok yang berdiri di atas puing-puing gerbang Aula Takhta. Sisa-sisa anggota Dewan Agung yang selamat dari pembantaian malam itu berlutut massal di atas marmer yang retak. Wajah-wajah bangsawan tinggi yang dahulunya begitu sombong kini pucat pasi, menatap Aethan dan Anna dengan ketakutan sekaligus harapan yang putus asa.
Aethan yang mengenakan jubah hitam tanpa pelindung zirah bersedekap dada, menatap Lord Vane dengan pandangan teramat dingin. "Kalian yang menabur racun di istana ini, Tetua. Mengapa sekarang kalian menangis meminta kami membersihkannya?"
"Kekaisaran akan runtuh menjadi perang saudara jika tidak ada pewaris sah yang naik takhta hari ini juga!" pimpin seorang tetua lain dengan tangan gemetar. "Garis keturunan Pangeran Aethan dan darah murni Florentia milik Nona Anna adalah satu-satunya kombinasi legitimasi tertinggi! Kami mohon ... naiklah ke takhta suci ini!"
Anna melangkah satu langkah ke depan. Benang-benang Mana merah anggur yang bergerak tenang di sekitar jemarinya membuat para tetua itu refleks menundukkan kepala lebih dalam.
"Takhta ini dibangun di atas tumpukan bangkai dan darah keluargaku, Lord Vane," ucap Anna, suaranya tenang, namun bergema dengan kuat yang tak terbantahkan. "Aku adalah pewaris Florentia, namun aku tidak sudi menduduki kursi dingin yang merusak akal sehat manusia ini. Keinginanku hanya satu yaitu kembali ke Solmara, hidup tenang di butikku bersama keluargaku."
Para tetua terperangah. Penolakan Anna atas kekuasaan tertinggi Kekaisaran terasa seperti tamparan keras bagi mereka yang selama ini saling bantai demi sejengkal pengaruh di istana.
Aethan menarik sudut bibirnya, melirik wanitanya dengan kilatan rasa bangga dan kasih sayang yang teramat dalam. Pria itu melangkah maju, meletakkan tangan besarnya di atas pundak Anna secara posesif.
"Kalian mendengar keputusannya," tegas Aethan, suaranya bariton dan mengintimidasi. "Urusan pemerintahan Kekaisaran sementara akan dipegang oleh faksi militer perbatasan di bawah pengawasan Leon dan dewan darurat. Perbaiki sistem hukum busuk kalian. Jika aku mendengar ada sisa-sisa faksi Gideon atau Permaisuri yang mencoba mengusik Solmara ... aku sendiri yang akan kembali untuk meratakan Ibukota ini menjadi abu."
Gertakan sang Dewa Perang sudah lebih dari cukup untuk mengunci mulut seluruh bangsawan yang tersisa. Tanpa memedulikan tatapan takjub dan ratapan dewan, Aethan menggenggam jemari Anna, menuntun gadis itu melangkah pergi meninggalkan Aula Takhta yang penuh sejarah kelam.
Beberapa jam kemudian, malam kian larut di Ibukota. Angin malam yang sejuk berembus lembut menyapu balkon tertinggi di paviliun khusus istana, membawa aroma pinus yang menenangkan. Dari balkon megah itu, pemandangan seluruh kota Ibukota yang perlahan mulai tenang di bawah naungan sinar bulan tampak begitu indah.
Anna berdiri bersandar di pembatas batu, menatap lautan lampu kota di bawah sana. Beban berat belasan tahun yang membelit jiwanya seolah menguap bersama angin malam.
TAP ... TAP ... TAP ....
Langkah kaki tegap yang teratur terdengar mendekat dari belakang. Anna tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik langkah itu. Kehangatan yang familiar mendadak menyelimuti punggungnya saat Aethan merangkul pinggang rampingnya dari belakang, menyandarkan dagunya yang kokoh di atas bahu mungil Anna.
"Apa yang sedang kaupikirkan, Anna-ku?" bisik Aethan parau, napas maskulinnya yang hangat menyapu permukaan kulit leher Anna, memicu desir halus yang membuat jantung sang gadis berdetak tak beraturan.
Anna memegang lengan tegap Aethan yang melingkari tubuhnya, tersenyum tipis. "Aku hanya berpikir ... semuanya terasa seperti mimpi. Beberapa minggu lalu aku hanyalah penjahit biasa di Solmara, dan malam ini kita baru saja meruntuhkan sebuah dinasti."
"Kau bukan sekadar penjahit, Anna. Kau adalah takdirku," sahut Aethan lembut. Pria itu perlahan melepaskan pelukannya, memutar tubuh Anna agar menghadap langsung ke arahnya.
Di bawah pendaran cahaya bulan perak, sepasang mata perak Aethan menatap lurus ke dalam netra Anna. Tidak ada lagi kilatan amarah, dendam, atau aura tirani di sana. Yang tersisa hanyalah ketulusan cinta dari seorang pria yang telah menyerahkan seluruh jiwanya pada wanita di hadapannya.
Secara perlahan, pria besar yang ditakuti seluruh Kekaisaran itu menurunkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di atas lantai marmer balkon.
Anna tersentak, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "T-Tuan Aethan?"
Aethan merogoh saku dalam jas hitamnya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kelabu. Saat kotak itu dibuka, sebuah cincin yang begitu memukau terhampar di sana. Cincin itu tidak ditempa oleh pengrajin istana, melainkan diukir secara pribadi oleh Aethan, berbahan dasar perak murni yang memancarkan pendaran petir halus, dengan tahta kristal merah anggur melambangkan gabungan kekuatan Mana mereka berdua.
"Aku melepaskan takhta Kekaisaran ini tanpa rasa penyesalan sedikit pun, Anna," ucap Aethan, suaranya dalam dan bergetar oleh emosi yang teramat dalam. "Satu-satunya wilayah kekuasaan yang ingin kupimpin dan kujaga seumur hidupku ... adalah hatimu. Maukah kau merajut masa depan denganku? Menjadi pendampingku, bukan sebagai Pangeran, tapi sebagai Aethan-mu?"
Air mata haru menetes perlahan di pipi Anna. Rasa hangat meledak di dalam dadanya, menghapus semua sisa ketakutan akan masa lalu. Tanpa ragu sedikit pun, Anna menganggukkan kepalanya dengan senyuman terindah yang pernah Aethan lihat.
"Ya, Aethan ... aku mau," jawab Anna penuh keyakinan.
Aethan tersenyum lebar sebuah senyuman tulus yang teramat langka. Dengan tangan yang sedikit gemetar oleh rasa bahagia, ia menyematkan cincin merah anggur itu ke jari manis kanan Anna. Pria itu lalu bangkit berdiri, menarik pinggang Anna dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, manis, dan penuh kepemilikan di bawah saksi bisu sinar bulan Ibukota.
lanjut yaaaaa