Rayan Elvaro Wirajaya adalah pewaris tunggal sebuah perusahaan besar di Semarang. Dengan wajah tampan, kekayaan melimpah, dan masa depan yang telah tertata sempurna, hidupnya tampak nyaris tanpa cela. Namun, sebuah malam yang tak pernah ia ingat sepenuhnya menjadi awal dari perubahan besar yang mengguncang kehidupannya.
Di sisi lain, Alya hanyalah seorang gadis pemulung yang berjuang seorang diri menghadapi kerasnya kehidupan. Setiap hari ia bertahan di tengah himpitan kemiskinan, ditemani kenangan pahit yang terus menghantuinya. Dunia seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk bermimpi lebih tinggi.
Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga. Sebuah malam kelam di jalanan sepi mengikat hidup mereka dalam hubungan yang rumit. Rayan tak menyadari apa yang telah terjadi malam itu, tetapi Alya mengingat setiap detiknya bersama air mata, ketakutan, dan luka yang membekas di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Di dalam mobil yang dipenuhi embun tipis di kaca dan hawa malam yang dingin, Arkan masih terduduk di balik kemudi. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi, sementara kedua matanya terkatup rapat. Tubuhnya terasa berat dan lelah, seolah baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang begitu menguras tenaga atau mungkin bayangan itu masih menghantuinya hingga kini.
Dadanya naik turun dengan lambat. Napasnya terdengar kasar di tengah kesunyian malam. Ia mengangkat kepala perlahan, lalu menoleh ke samping. Kursi penumpang di sebelahnya kosong.
Arkan mengerutkan kening. Bibir bawahnya tergigit pelan saat berusaha mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Potongan-potongan ingatan berkelebat samar di benaknya, muncul lalu menghilang sebelum sempat ia rangkai menjadi sebuah jawaban yang utuh.
Tangannya meremas setir tanpa sadar. Jantungnya berdetak lebih cepat. Semakin keras ia mencoba mengingat, semakin kabur semuanya terasa. Yang tersisa hanyalah rasa gelisah yang perlahan merambat memenuhi dadanya.
"Siapa sebenarnya dia...?" gumam Arkan pelan. Suaranya terdengar serak dan asing, bahkan bagi dirinya sendiri.
Ia kembali memejamkan mata, mencoba meredam denyutan di pelipis yang terasa semakin kuat. Jemarinya menekan kening sejenak, berharap rasa pusing itu ikut mereda bersama kekacauan yang memenuhi pikirannya.
Tubuhnya memang sudah mulai tenang, tetapi hatinya terasa hampa. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang seharusnya ia ingat, namun terus luput dari jangkauannya. Perasaan kosong itu membuat dadanya sesak tanpa alasan yang jelas.
Sejak kejadian malam itu di klub, ada sesuatu yang terasa berbeda dalam diri Arkan. Perasaan asing yang sulit ia jelaskan terus menghantuinya. Seolah ada bagian dari dirinya yang selama ini tersembunyi kini mulai muncul ke permukaan, membawa dorongan dan emosi yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.
Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Saat itu, ia hanya bergerak mengikuti arus, membiarkan dirinya terseret oleh keadaan tanpa sempat berpikir jernih.
Kini, ketika semuanya telah berlalu, kegelisahan justru semakin kuat mencengkeramnya.
Arkan menundukkan kepala, menatap kosong ke depan. Ada beban yang menyesakkan dadanya, sebuah perasaan bersalah yang tak kunjung hilang. Ia tidak dapat mengingat setiap detail yang terjadi, tetapi nalurinya mengatakan bahwa ia telah melakukan kesalahan.
Kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Kesalahan yang andai waktu bisa diputar kembali, akan ia hindari dengan segala cara. Namun kenyataan tidak memberi kesempatan kedua. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan pertanyaan yang terus berputar di dalam benaknya.
Namun kepada siapa rasa bersalah itu ditujukan? Arkan tidak tahu. Wajah gadis yang terus menghantui pikirannya muncul begitu samar, lalu menghilang lagi seperti kabut yang diterpa angin. Semakin keras ia berusaha mengingat, semakin kabur bayangan itu. Seolah gadis tersebut tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupnya.
Pintu utama kediaman keluarga Wirajaya terbuka perlahan.
Arkan melangkah masuk dengan langkah berat. Bahunya tampak turun, seakan memikul beban yang tak terlihat. Penampilannya jauh dari sosok pewaris tunggal keluarga terpandang yang biasanya selalu tampil rapi dan berwibawa.
Rambutnya berantakan. Kemeja yang masih melekat di tubuhnya kusut dan dipenuhi noda debu. Wajahnya terlihat pucat dan lelah, sementara sorot matanya redup, kehilangan ketegasan yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Di ruang keluarga yang luas dan elegan, Salsabila dan Zayan masih duduk menunggu. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya hangat, tetapi suasana ruangan tetap terasa tegang.
Begitu melihat sosok putranya muncul dari arah lorong, mata Salsabila langsung membelalak. Tubuhnya refleks bangkit dari sofa.
"Arkan... akhirnya kamu pulang juga." ujar Salsabila sambil melangkah mendekat. Nada suaranya bergetar, dipenuhi rasa lega yang bercampur kekhawatiran.
Namun Arkan tidak segera menjawab.
Ia tetap berdiri di ambang pintu, tubuhnya kaku seolah masih tertinggal di tempat lain. Pandangannya tertuju pada sang ibu, tetapi bibirnya tetap terkatup rapat. Tidak ada sapaan, tidak ada penjelasan.
Keheningan yang tercipta justru membuat suasana semakin menyesakkan.
Salsabila mengernyit pelan. Ada sesuatu yang berbeda dari putranya. Bukan hanya penampilannya yang berantakan, melainkan sorot matanya. Tatapan yang biasanya tegas dan penuh keyakinan kini tampak asing, seakan menyimpan beban yang terlalu berat untuk diucapkan.
Zayan yang sejak tadi mengamati dalam diam akhirnya bergerak. Ia membungkukkan tubuh sedikit ke depan, menumpukan kedua lengannya di atas lutut. Sorot matanya tajam meneliti putranya, sementara suaranya terdengar lebih serius daripada biasanya.
"Arkan, sebenarnya kamu berada di mana sejak tadi malam?" tanya Zayan dengan suara rendah namun penuh tekanan. "Sekarang sudah hampir subuh, dan tidak ada satu pun kabar darimu."
Salsabila melirik suaminya sejenak, memberi isyarat agar ia tidak terdengar terlalu keras. Setelah itu, ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Arkan yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Salsabila pelan. Matanya menelusuri penampilan putranya yang berantakan dari ujung kepala hingga kaki. "Kenapa kamu pulang dalam keadaan seperti ini?"
Nada suaranya bergetar. Ia berusaha tetap tenang, tetapi kecemasan seorang ibu tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Arkan tetap membisu.
Tidak ada jawaban. Tidak ada penjelasan.
Ia hanya berdiri diam di tempatnya, seolah tidak benar-benar mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Tatapannya kosong, menerobos jauh melewati kedua orang tuanya, seperti sedang mencari sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak mampu temukan.
Beberapa saat tak ada yang berbicara. Keheningan menggantung di udara, terasa semakin berat di setiap detiknya.
Akhirnya Arkan mengembuskan napas panjang. Ia mengangkat pandangannya sesaat, lalu berkata dengan suara pelan dan hambar,
"Aku ingin istirahat. Nanti saja kita bicara."
Tidak ada penjelasan lain.
Tanpa menunggu tanggapan dari kedua orang tuanya, ia melangkah melewati mereka. Langkahnya pelan dan berat, hampir tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer yang mengilap.
Bahu Arkan tampak merunduk, seolah memikul sesuatu yang terlalu berat untuk dibagikan kepada siapa pun. Ia terus berjalan menuju tangga tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Salsabila hanya bisa memandangi kepergian putranya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi semua itu tertahan di ujung lidah.
Ketika sosok Arkan menghilang di balik lorong menuju lantai atas, Salsabila perlahan menoleh ke arah suaminya.
Salsabila menatap suaminya dalam diam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, tetapi sorot matanya menyimpan begitu banyak pertanyaan yang tak terucapkan.
Apa yang sebenarnya terjadi pada anak kita?
Kegelisahan itu tampak jelas di wajahnya. Matanya yang mulai berkaca-kaca memantulkan kecemasan yang terus tumbuh, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum menemukan jawaban.
Setelah itu, tidak ada lagi yang mereka ucapkan. Keheningan menyelimuti ruangan, jauh lebih dalam dan bermakna daripada percakapan yang baru saja terjadi.
Salsabila dan Zayan saling berpandangan sesaat, lalu mengalihkan tatapan masing-masing. Keduanya larut dalam pikiran sendiri, mencoba mencerna keadaan Arkan yang begitu berbeda dari biasanya.
Perlahan, Salsabila mengembuskan napas panjang. Rasa lelah dan cemas yang sejak tadi menumpuk membuat bahunya terasa berat. Ia pun menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya, mencari sedikit ketenangan di tengah kegelisahan yang belum juga mereda.
Zayan tidak bergerak. Pandangannya tetap tertuju ke arah lorong yang beberapa saat lalu dilalui putra sulung mereka. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyimpan banyak hal yang tidak ia ungkapkan.
Bagi mereka, mungkin Arkan hanya terlalu banyak minum seperti biasanya.
Bukankah ini bukan pertama kalinya ia pulang larut setelah menghabiskan waktu bersama teman-temannya? Selama ini, Arkan selalu mampu mengurus dirinya sendiri. Ia jarang bercerita tentang kehidupan pribadinya, dan kedua orang tuanya pun tidak pernah terlalu jauh mencampuri urusannya.
Karena itu, malam ini tampak tidak berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Setidaknya, itulah yang mereka yakini.
Mereka memilih menganggap kelelahan, tatapan kosong, dan sikap aneh Arkan sebagai dampak dari malam panjang yang berakhir dengan terlalu banyak alkohol. Sebuah kejadian yang akan berlalu setelah beberapa jam tidur dan segelas kopi hangat keesokan paginya.
Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.
Tidak ada yang menyadari bahwa malam ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar pesta yang berakhir terlambat. Ada sebuah peristiwa yang telah mengubah sesuatu dalam diri Arkan, meninggalkan jejak yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Tak seorang pun menyadari bahwa sebuah rangkaian peristiwa besar telah mulai bergerak perlahan. Tidak mencolok, tidak menimbulkan suara, namun diam-diam membawa konsekuensi yang kelak sulit dihindari.
Sementara itu, Arkan memasuki kamar mandi dengan langkah lesu. Kepalanya terasa berat, dan ada perasaan ganjil yang sulit ia jelaskan, seolah tubuh yang ia bawa pulang malam ini bukan lagi miliknya sepenuhnya.
Tanpa banyak berpikir, ia memutar keran shower. Air hangat segera mengalir deras, membasahi rambut, wajah, dan seluruh tubuhnya yang dipenuhi rasa lelah.
Arkan memejamkan mata, membiarkan dirinya berdiri di bawah guyuran air yang menenangkan.
Namun ketenangan itu hanya terjadi di permukaan.
Pikirannya tetap kacau. Potongan-potongan ingatan yang samar terus berkelebat di benaknya, muncul sesaat sebelum kembali tenggelam dalam kabut yang sama. Semakin ia berusaha menangkapnya, semakin jauh kenangan itu menjauh.
Di balik tirai air yang terus mengalir, benak Arkan dipenuhi pertanyaan yang berputar tanpa henti.
Siapa perempuan itu?
Pertanyaan itu kembali muncul, mengusik pikirannya seperti gema yang tak mau menghilang. Ia mencoba mengingat wajahnya, tetapi yang muncul hanya bayangan samar yang tidak utuh. Semakin keras ia memaksa ingatannya bekerja, semakin kabur sosok itu terasa.
“Siapa yang semalam berada di bawahku…?” batin Arkan, suara itu terasa asing bahkan di dalam kepalanya sendiri.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Ia menggertakkan rahangnya, berusaha keras memaksa ingatannya bekerja.
Potongan-potongan samar terus muncul, lalu lenyap lagi sebelum sempat membentuk gambaran utuh. Semuanya seperti terbungkus kabut tebal yang tidak bisa ia tembus.
Setelah selesai mandi, Arkan berganti pakaian bersih lalu melangkah menuju balkon kamarnya. Udara pagi yang sejuk menyentuh kulit wajahnya, tetapi tidak mampu meringankan beban di kepalanya.
Ia duduk di kursi balkon, memandangi langit yang perlahan berubah terang. Cahaya matahari yang mulai muncul seolah tidak membawa ketenangan, hanya memperjelas kekosongan yang terasa di dalam dirinya.
Arkan terdiam lama, tenggelam dalam pikirannya sendiri, berharap meski ia sendiri tidak yakin apa yang sedang ia harapkan agar sesuatu yang kabur di ingatannya bisa kembali tersusun dengan jelas.
Namun keheningan itu tidak bertahan lama.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu dari dalam kamar memecah lamunannya.
Tok… tok…
“Iya, masuk,” jawab Arkan pelan dari dalam kamar.
Pintu perlahan terbuka, dan sesosok wanita paruh baya masuk dengan langkah hati-hati. Ia adalah Bi Enna, pelayan setia keluarga Wirajaya yang sudah mengabdi lebih dari dua puluh tahun.
Usianya sekitar lima puluh satu tahun, dengan wajah yang teduh dan sorot mata yang selalu memancarkan ketulusan. Di rumah itu, ia sudah seperti bagian dari keluarga sendiri.
“Tuan muda, Bibi bawakan makanan. Bibi taruh di sini ya,” ujar Bi Enna sambil meletakkan nampan di meja kecil dekat balkon.
Arkan hanya mengangguk singkat, tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya dari luar jendela.
#
Bi Enna tersenyum tipis, lalu mundur perlahan. Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya memberi ruang pada tuan mudanya yang tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setelah itu, ia pun keluar dari kamar dan menutup pintu dengan pelan.
Kini ruangan kembali sunyi.
Arkan menatap makanan di hadapannya beberapa saat tanpa ekspresi. Uap hangat yang masih mengepul tidak cukup menggugah seleranya. Namun akhirnya ia mengambil sendok, mulai menyuap perlahan.
Satu suapan… lalu suapan berikutnya.
Rasanya hambar, nyaris tidak ia rasakan sama sekali. Ia makan bukan karena lapar, melainkan karena tubuhnya menuntut energi agar tetap bisa bertahan menjalani hari.
Sementara itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tinggal di kamar ini.
Ia masih terjebak di malam itu.
Di antara potongan ingatan yang tidak utuh, dan bayangan samar seorang perempuan yang terus muncul tanpa wajah yang jelas. Semakin ia mencoba mengingat, semakin kuat bayangan itu menghantuinya diam, tapi menusuk, seolah menyimpan sesuatu yang penting dan berbahaya.
*****
Cahaya pagi perlahan merayap masuk melalui celah-celah dinding gubuk yang sudah lapuk dimakan waktu. Sinar lembut itu menyelinap di antara retakan kayu, membawa hangat yang samar ke dalam ruangan yang dingin dan sunyi.
Dari kejauhan, suara ayam berkokok bersahutan, disusul kicauan burung yang saling bersautan di pepohonan. Suara-suara alam itu pelan-pelan mengusir sisa gelap malam yang masih menggantung berat di udara, meninggalkan keheningan baru yang terasa lebih tenang namun juga hampa.
Alya perlahan membuka mata. Kelopak matanya terasa berat, masih sembab akibat tangisan panjang semalam yang seolah tak ada habisnya. Tubuhnya pun terasa lelah, setiap sendi nyeri pinggang, kaki, hingga lengannya seperti menyimpan sisa luka dari malam yang begitu berat dilalui.
Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih tercecer. Namun saat itu juga, ingatan tentang malam tadi perlahan kembali muncul di benaknya.
Satu per satu potongan kejadian itu menyeruak, tidak utuh, namun cukup untuk membuat dadanya kembali sesak. Ia menutup mata rapat-rapat, seolah berharap bisa menyingkirkan semua itu.
Sebuah luka yang masih terasa basah di dalam dada itu belum sempat reda, ketika suara ketukan pelan di pintu gubuk menyentaknya kembali ke kenyataan.
Tok… tok…
Alya terperanjat kecil. Dengan tergesa ia mengusap wajahnya menggunakan punggung tangan, menyembunyikan sisa air mata yang belum sepenuhnya kering. Ia menarik napas dalam, lalu bangkit perlahan dari tempatnya.
Langkahnya berat saat mendekati pintu. Tangannya sedikit ragu sebelum akhirnya membuka kayu tua itu.
Di ambang pintu, berdiri seorang wanita tua. Wajahnya lembut, dengan garis usia yang justru menambah keteduhan pada sorot matanya. Tatapannya hangat, penuh perhatian, seolah sudah cukup lama mengenal kepedihan yang tak terucap.
“Alya, Mbok kira kamu belum pulang, nduk. Mbok tadi sempat khawatir.” ucap wanita itu dengan nada lembut dan penuh kepedulian.
Dialah Mbok Lia, tetangga tua yang sejak lama tinggal tak jauh dari gubuk itu. Sosok sederhana yang hangat, penyayang, dan satu-satunya orang yang selama ini memperlakukan Alya dengan ketulusan tanpa syarat.
“Aku sudah pulang, Mbok.” ucap Alya pelan, suaranya hampir hilang tertiup angin pagi.
Mbok Lia mengangguk kecil, namun sorot matanya tidak berhenti memperhatikan wajah gadis itu dengan lebih teliti. Ada sesuatu yang terasa janggal, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.
“Lha tapi… kenapa matamu sembab begitu, nduk?” tanyanya hati-hati, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
“Nggak apa-apa, Mbok… mungkin cuma kurang tidur saja.” ulang Alya pelan, berusaha meyakinkan.
Mbok Lia menatapnya lama, namun tidak lagi bertanya lebih jauh. Ada jeda singkat sebelum ia akhirnya mengangguk kecil, seolah memahami sesuatu yang tidak diucapkan.
Ia tahu, kadang seseorang tidak siap untuk bercerita. Dan memaksa justru hanya akan membuat luka itu semakin dalam.
“Ya sudah, sana mandi dulu. Mbok hari ini masak agak banyak, sengaja buat kamu juga.” ucap wanita tua itu dengan nada hangat yang terasa tulus.
Alya menatapnya sejenak. Dadanya terasa menghangat, seperti ada sesuatu yang lama dingin pelan-pelan mencair. Matanya kembali berkaca-kaca, bukan karena sedih kali ini, melainkan karena haru yang sulit ia sembunyikan.
“Terima kasih, Mbok… maaf jadi merepotkan.” ucap Alya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh rasa sungkan yang ia tahan-tahan.
“Repot apa, nduk? Kamu itu sudah kayak anak Mbok sendiri.” ucap Mbok Lia sambil tersenyum hangat, matanya menyiratkan ketulusan yang sulit diragukan.
Alya terdiam sejenak. Senyum itu terasa seperti pelindung kecil di tengah pikirannya yang masih kusut. Ia menatap punggung wanita tua itu yang perlahan menjauh menuju dapur rumahnya.
Ada rasa hangat yang sulit ia jelaskan, seperti menemukan sedikit tempat pulang di tengah hari-hari yang terasa asing.
Tanpa membuang waktu lagi, Alya menghela napas pelan. Ia mengambil pakaian ganti yang tadi ia siapkan, lalu melangkah menuju rumah Mbok Lia.
Langkahnya pelan, tapi pasti.
Ia hanya ingin satu hal mandi, membersihkan diri, dan berusaha menghapus jejak lelah yang masih menempel dari malam yang panjang dan berat itu meski ia tahu, tidak semua hal bisa benar-benar hilang hanya dengan air.
Meski pagi sudah tiba, Alya tahu kegelapan itu belum benar-benar pergi dari hidupnya.
Setelah selesai mandi, tubuhnya memang terasa lebih segar, tetapi tidak dengan hatinya. Ada sesuatu yang masih tertinggal bekas lelah yang tidak bisa hilang hanya dengan air dan sabun. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya.
Dengan pakaian bersih yang masih tampak sederhana dan sedikit lusuh, Alya melangkah perlahan keluar dari kamar mandi. Kakinya bergerak menuju rumah kecil Mbok Lia yang letaknya hanya beberapa langkah dari gubuk tempat ia singgah.
Saat Alya tiba, pintu rumah sudah terbuka lebar.
Dari dalam, aroma masakan sederhana langsung menyapa, hangat dan menenangkan bau tumisan sayur yang baru matang bercampur dengan wangi nasi hangat yang membuat perut kosongnya seolah ikut bereaksi.
“Masuk, nduk. Ayo makan dulu,” ucap Mbok Lia dengan senyum hangat yang selalu membuat suasana terasa lebih ringan.
Alya perlahan melangkah masuk, lalu duduk bersila di lantai kayu yang sudah bersih dan rapi. Matanya sempat memandang sekeliling, merasakan ketenangan sederhana yang jarang ia temui akhir-akhir ini.
Di hadapannya sudah tersaji dua piring nasi lengkap dengan lauk sederhana, tapi cukup untuk mengisi perut yang sejak malam belum terisi.