Aku adalah Chu Xiaoli, Ratu di abad kaisar ketiga belas. Karena sebuah kecelakaan membawa jiwaku ke dimensi lain.
Aku masuk kedalam tubuh seorang gadis di zaman modern, Lin Xia. Setiap hari ditindas kemapun ia berada.
Ling Xia yang mudah ditindas, sudah tidak ada. Sekarang yang berdiri disini adalah Chu Xiaoli, Sang Ratu penindas sampah tidak berguna. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang menyingungku.
Selain menindas sampah, aku ahli berpura-pura lemah "ingin berakting? aku temani!"
Meskipun semua sangat mudah bagiku. Tapi, mengapa aku tidak bisa keluar dari jeratan pria itu?
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndems, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"apa matamu habis kemasukan debu? atau habis potong bawang?" tanya Xia yang khawatir.
Ken menyentil kening Xia dan berkata, "berhenti bercanda." sembari memeluk Xia kembali, "bagaimana keadaanmu?"
"kau lihat bagaimana?" sahut Xia dengan mendorong Ken perlahan, "apa kamu tidak mau mengatakan sesuatu?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya kearah Ken.
Ken mengusap air matanya dan berkata, "selamat atas kemenangan mu, Kapten." ucapnya sambil melingkarkan tangannya ke leher Xia.
"itu saja?" ucap Xia berbalik sambil melipat tangannya sembari menendang-nendang kerikil di jalanan.
Ken berjalan kedepannya sambil mengambil sekotak coklat dari dalam sakunya, "bagaimana dengan ini?" sembari menyodorkannya kearah Xia. Ekspresi Xia berubah menjadi berseri, "kau benar membelinya?" mengambil kotak coklat itu dengan cepat.
"jika tidak? untuk siap lagi?" ucap Ken dengan wajah datar. Xia membuka kotak coklat itu sembari memakannya satu, "aa…ehm…" memejamkan matanya.
"bagaimana rasanya?"
"ini sangat manis." membuka matanya sembari menoleh kearah Ken, "kau juga cobalah." menyodorkan coklat ditangannya kearah Ken dan dia menerima suapan itu sambil berkaca-kaca.
Xia menutup kotak coklat itu sembari membersihkan tangannya dengan tisu yang ia bawa, "apa matamu kemasukan debu lagi?" tanyanya sambil memegang pipi Ken.
Ken sontak memeluknya dengan erat, "jangan lakukan itu lagi kak, itu bahaya." bisiknya yang tak kuat menahan air matanya.
"kenapa kau jadi cengeng begini, aku bukan Lin Xia yang dulu lagi." bisik Xia sambil menepuk ringan punggung Ken, "jadi tidak perlu…"
"tetap saja, jika terjadi sesuatu padamu aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri." ucap Ken yang memotong kalimat Xia, "kedepannya jangan lakukan itu lagi, aku pernah kehilanganmu sekali dan aku tidak mau itu terjadi lagi." sambungnya dengan gemetaran.
Xia melepaskan pelukannya sembari memegang wajah Ken, "lihat aku, hei." memaksa Ken untuk menatapnya, "itu tidak akan terjadi, karena kau ada bersamaku." ucapnya dengan tersenyum manis, "jadi…" mengusap air mata Ken, "hapus ini dan tersenyumlah, lalu… kita rayakan kemenangan ini."
"merayakan apa?" tanya Rio yang mendekat bersama Vivan.
Xia memiringkan tubuhnya dan menjawab, "kak Rio? Pak Vivan?"
"merayakan apa?" tanya Vivan.
Xia menjawab, "teman-teman mau merayakan kemenangan ini di luar, jadi aku ingin mengajak dia." sembari menarik Ken ke sisinya, "kak Rio dan pak Vivan harus ikut. Oh iya, jangan lupa kabari Nino juga, dia pasti senang." ucapnya dengan wajah bahagia.
"kemana?" tanya Rio sembari mendekati Xia.
"nanti juga tau." jawab Xia yang mengedipkan matanya.
Diluar Rumah Makan.
"kita kemari lagi?" tanya Vivan yang menatap papan nama rumah makan itu.
Xia memiringkan kepalanya kearah Vivan dan menjawab, "iya, tapi… sepertinya ada yang aneh disini." ucapnya yang bertanya-tanya dengan rumah makan yang gelap dan tanpa suara itu, kemudian seorang wanita keluar tempat itu menghampirinya, "apa anda Nona Xia?" tanya wanita itu kepadanya. Xia menoleh kearahnya dan menjawab, "iya, saya sendiri."
"ikuti saya."
"mereka juga?" tanya Xia yang menunjuk kearah yang lain.
"ya" jawab wanita itu sembari berjalan masuk kedalam tempat itu lagi.
Beberapa saat kemudian…
"kenapa aku bisa terjebak disini?" gumam Rio dan Vivan yang menatap dirinya berpakaian barista. Setelah semuanya selesai berganti pakaian, mereka menunggu Xia dengan kostum yang ia pakai, ketika tirai dibuka… "kenapa tidak sama dengan kita?" gumam Rio yang melihat Xia memakai setelan jeans dengan make up tipis diwajahnya dan rambut panjangnya yang terurai, lalu mereka melirik kearah Ken yang keluar dari kamar ganti sebelah dengan pakaian seragam dengan dasi dikendurkan hingga terlihat kalung rantai putih dilehernya serta rambut yang agak berantakan.
Xia melipat tangannya sembari memiringkan kepalanya, "lumayan." ucapnya yang menatap Ken sambil tersenyum, "jadi, kamu pemeran utamanya?" tanya dia yang memegang kerah seragam Ken.
Ken membelai rambut Xia dan menjawab, "menurutmu?" sahutnya sembari mendekatkan wajahnya kearah Xia.
"uhuk… ini naskah kalian." ucap Alan yang datang membawa beberapa lembar kertas dan memberikannya kepada mereka.
Xia mengambil lembar yang agak tebal, "kau mau menyiksaku?" ucapnya yang menatap naskah yang berada didalamnya.
"ayolah, ingatanmu kan kuat, kau pasti bisa." sahut Alan yang mencoba membujuknya.
"sebagai imbalan?"
"coklat?"
"tidak, Ken sudah memberiku tadi."
Alan mulai berpikir sambil melihat jam tangannya, "terserah, asal aku bisa memenuhinya."
Xia menarik dasi Alan sembari membisikkan sesuatu padanya, "kau juga harus melakukannya." ucap Alan dengan nada pelan.
Xia menggelengkan kepalanya dengan membentuk tanda silang dengan tangannya, "tidak, ini bukan taruhan, tapi imbalan." ucapnya sambil menaik turunkan alisnya, "tapi jika kau ingin taruhan, kau harus membayar mahal jika kalah." sambungnya sembari menepuk pelan pundak Alan.
Xia memutar badannya kearah rekannya, "kalian sudah siap?"
"ya" sahut mereka secara serempak.
Ken bersama yang lain keluar dari ruang ganti menuju meja rumah makan, sementara Xia keluar dari rumah makan itu. Disaat Raisa, pegawai Alan yang menjadi saksi tempo hari, memasuki rumah makan itu semua lampu dinyalakan. Dia terkejut dengan tatanan rumah makan yang berubah menjadi kafe klasik, tempat dimana dia bertemu dengan Alan untuk pertama kalinya di Negara H. Wanita yang menghampiri Xia tadi mengarahkannya kepada kursi duduk yang mereka siapkan. Lalu Ken pergi ke tempat pemesanan kopi, "mau pesan apa kak?" tanya barista tampan yang tak lain adalah Vivan sambil menatap Ken.
Ken menatap menu dan menjawab, "dua cappucino dan dua caffe latte."
"oke, silahkan tunggu di meja anda." ucap Vivan memberikan senyuman hangat.
Ken kembali ke mejanya bersama teman-temannya. Setelah kopi dibuatkan, Rio datang ke meja Ken untuk mengantar pesanannya, "dua cappucino dan dua caffe latte anda." ucapnya yang menaruh empat gelas itu satu persatu ke meja.
Siapa yang tau, ketiga teman Alan saat itu tak lain adalah Marcell, Rolland dan, Glen. Saat mereka berempat tengah asik berbincang soal wanita pujaannya masing-masing, Xia datang dengan pakaiannya dan rambutnya yang agak basah karena terkena rintikan air hujan, "Yah… bajuku basah lagi." ucapnya sambil menepuk ringan bajunya yang basah.
Vivan menghampirinya dengan menyodorkan kain kearahnya, "ambil, atau kau akan sakit." ucapnya dengan khawatir.
Xia menyisipkan rambutnya yang menutupi wajahnya ke telinganya, "terimakasih." ucapnya sembari mengambil kain itu dengan tersenyum. Ketiga pria yang berada dalam satu meja dengan Ken terkejut, "dia?" batin ketiganya yang menatap wajah Xia.
Xia duduk di kursi yang bertolakbelakang dengan Ken sambil mengeluarkan kaca dari tasnya, "gawat, jika Zian melihatku begini, dia akan lari dariku." celoteh dia yang menatap make up diwajahnya luntur, "semoga sempat." gumamnya melihat jam tangannya sekilas sembari mengeluarkan lipstik dan membersihkan wajahnya dengan kain yang diberi oleh Vivan tadi.