Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Main yang Kamu Suka
Pagi datang juga.
Naomi tahu bahkan sebelum membuka mata, karena cahaya dari celah tirai sudah berubah lebih putih. Lampu mejanya masih menyala sejak semalam, kalah terang oleh matahari, tetapi tetap setia berdiri di sudut kamar.
Ia mematikannya pelan.
Seolah kalau lampu padam, hari ini bisa menjadi hari biasa.
Di luar kamar, apartemen terdengar sunyi. Tidak ada suara Kelvin mengetik. Tidak ada suara pintu ruang kerja dibuka. Tidak ada panggilan telepon pendek yang biasanya berisi kata kirim, tunggu, atau jangan bodoh.
Naomi mencuci muka lebih lama dari biasa.
Saat keluar, Kelvin sudah duduk di ruang tengah dengan dua cangkir kopi di meja dan satu gelas air hangat di sisi tempat Naomi biasa duduk.
Ia memakai kaus hitam, bukan kemeja. Rambutnya belum dirapikan sempurna. Dari jauh, ia terlihat seperti seseorang yang sengaja memilih tidak pergi ke mana-mana.
"Tidak ke kantor?" tanya Naomi.
Kelvin mengangkat mata dari ponsel. "Remote."
"Oh."
"Kamu ada kelas?"
"Tidak."
"Bagus."
Naomi menunggu lanjutan. Tidak ada.
Bagus untuk apa?
Ia ingin bertanya, tetapi kata-kata itu tersangkut. Hari ini penuh kata yang tidak boleh disentuh. Sekali salah menyebut, semuanya bisa pecah.
Kelvin mengambil remote TV.
"Mau nonton?"
Naomi duduk di sofa dengan jarak aman. "Pagi-pagi?"
"Kamu yang kemarin bilang drama itu belum selesai."
"Aku cuma bilang episodenya terpotong."
"Berarti lanjut."
Naomi menatap profil wajah Kelvin. Ia ingin tertawa, tetapi tenggorokannya terlalu kencang.
Mereka menonton dua puluh menit pertama tanpa benar-benar menonton.
Di layar, pemeran utama bertengkar tentang pernikahan palsu yang berubah rumit. Naomi menegang saat dialog itu muncul. Kelvin mengulurkan tangan mengambil remote dan mengganti tontonan tanpa menoleh.
Sekarang layar menampilkan acara memasak.
Naomi menatapnya.
"Kenapa diganti?"
"Aktor prianya bodoh."
"Dia baru bicara satu kalimat."
"Sudah cukup."
Naomi menggigit bibir agar tidak tersenyum. "Kamu menilai orang cepat sekali."
"Tidak semua orang."
Kalimat itu jatuh di antara mereka.
Naomi menunduk, mengambil gelas air hangat. Ujung jarinya menyentuh kaca, dan ia baru sadar airnya suhu yang pas. Tidak panas. Tidak dingin.
Lagi-lagi pas.
Ia meminumnya sedikit, lalu meletakkan gelas kembali.
"Mau main game?" tanya Kelvin tiba-tiba.
Naomi berkedip. "Sekarang?"
"Iya."
"Kamu tidak kerja?"
"Aku sedang kerja."
"Main game?"
"Menjaga mood penghuni apartemen."
Naomi menatapnya. "Itu bukan pekerjaan."
"Kamu tidak tahu betapa sulitnya."
Kali ini Naomi benar-benar tertawa kecil.
Kelvin mengambil konsol dari laci meja. Mereka duduk bersebelahan di lantai, bersandar pada sofa. Felix berbaring di belakang mereka, hidungnya sesekali menyentuh bahu Naomi seperti memastikan semua orang masih di tempat.
Mereka memilih permainan balap yang dulu pernah membuat Naomi kalah berkali-kali.
"Aku tidak mau kamu menertawakanku," kata Naomi sebelum mulai.
"Aku tidak pernah menertawakan."
"Kamu tertawa pakai mata."
"Mata aku sopan."
"Sangat tidak."
Permainan dimulai. Naomi memegang controller dengan serius, sampai bahunya ikut miring saat mobil di layar belok. Kelvin duduk di sampingnya, wajah tenang, jempol bergerak pelan.
Lap pertama, Naomi unggul.
Ia menahan napas.
Lap kedua, Kelvin menabrak pembatas jalan dengan cara yang sangat tidak masuk akal.
Naomi menoleh.
Kelvin menatap layar. "Licin."
"Itu jalan kering."
"Ada debu."
"Di game?"
"Grafiknya realistis."
Naomi menyipit. "Kamu mengalah."
"Tidak."
Ia kembali fokus. Di tikungan berikutnya, mobil Kelvin melambat sepersekian detik, cukup untuk Naomi melewatinya. Layar menampilkan namanya di posisi pertama.
Naomi tidak merasa menang.
Ia malah merasa dadanya semakin berat.
"Kamu lagi-lagi mengalah," katanya.
"Tidak."
"Kelvin."
"Aku salah tekan."
"Kamu tidak pernah salah tekan."
Kelvin diam.
Suara mesin dari layar memenuhi ruang tengah. Mobil Naomi melaju ke garis akhir, confetti digital meledak di layar, dan tulisan winner muncul besar-besar.
Biasanya Naomi akan bersorak kecil.
Hari ini ia hanya memegang controller di pangkuan.
"Kenapa?" tanya Kelvin.
Naomi menatap layar. "Aku suka menang kalau memang menang."
"Kamu menang."
"Bukan begitu."
Kelvin meletakkan controller.
Naomi merasakan gerakannya, tetapi tidak berani menoleh.
"Kamu mau aku main serius?"
Tidak.
Ia mau Kelvin berhenti berpura-pura semuanya normal.
Ia mau Kelvin mengatakan sesuatu lebih dulu.
Ia mau dirinya sendiri punya keberanian untuk berkata, jangan akhiri.
Namun yang keluar hanya, "Terserah."
Kelvin tidak langsung menjawab.
Beberapa hari lalu, ia pasti akan memprotes kata itu. Tidak ada terserah, katanya dulu di bioskop. Pilih yang kamu mau.
Hari ini, ia hanya menatap Naomi lama.
Mungkin karena mereka berdua sama-sama tahu, yang Naomi tidak berani pilih bukan game, bukan film, bukan makanan.
Yang tidak berani ia pilih adalah tinggal.
"Kita main yang kamu suka," kata Kelvin akhirnya.
Naomi menggenggam controller lebih erat. "Aku tidak tahu."
"Kalau begitu pikirkan."
"Sekarang?"
"Tidak harus sekarang."
Naomi menoleh.
Kelvin menatap layar, tetapi suaranya lebih rendah. "Tapi jangan terlalu lama."
Jangan terlalu lama.
Kalimat itu nyaris terdengar seperti permintaan.
Naomi ingin bertanya apakah ia juga sedang menunggu. Apakah ia juga takut. Apakah ia juga menghitung jam dari pagi tadi.
Tapi jam dinding di dekat ruang makan berdetak terlalu jelas.
Setiap bunyinya seperti mengurangi sesuatu dari mereka.
Mereka menghabiskan siang dengan hal-hal kecil yang terlalu dipaksakan. Memesan makan lewat aplikasi, memilih minuman, menonton acara memasak lagi, memberi Felix camilan, membahas apakah karakter drama terlalu bodoh untuk dimaafkan.
Tidak ada satu pun yang menyebut kata kontrak.
Tidak ada satu pun yang menyebut hari terakhir.
Menjelang sore, langit di luar jendela berubah kelabu. Hujan belum turun, tetapi udara Jakarta sudah berat dan lembap.
Naomi berdiri lebih dulu.
"Aku mau ke kamar sebentar."
Kelvin mengangkat mata. "Naomi."
Ia berhenti, punggungnya menegang.
"Apa?"
Kelvin melihatnya lama.
Lalu berkata, "Jangan terlalu lama."
Naomi tidak menjawab.
Ia masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa menguncinya.
Di dalam, lampu hangat belum menyala. Kamar itu tampak asing dalam cahaya sore. Sertifikat BEM masih berada di meja. Pulpen baru tersusun rapi. Di kursi, sweter yang kemarin dipakainya terlipat asal.
Semua benda kecil itu seperti berkata bahwa ia pernah benar-benar tinggal di sini.
Naomi berdiri di depan lemari.
Tangannya bergerak pelan membuka pintu.
Bagian bawah lemari menyimpan koper kecil yang ia bawa saat pertama kali pindah dari kos Tebet. Koper itu tidak besar. Dulu semua hidupnya bisa masuk ke dalamnya.
Sekarang, ia tidak yakin apakah hatinya muat.
Naomi berlutut.
Jarinya menyentuh pegangan koper.
Lalu ia menariknya keluar dari lemari.
Roda kecil koper menggesek lantai dengan suara pendek.
Naomi menatapnya lama, dan tangannya mulai gemetar.