NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Cinta yang Terlambat

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Keira tidak tahu bagian mana dari dirinya yang lebih sakit.

Rayhan masih berlutut di bawah hujan.

Kalimat cintanya menggantung di antara suara air dan angin laut. Tidak ada musik, tidak ada saksi romantis, tidak ada cahaya lembut yang membuat semuanya tampak indah. Hanya teras basah, kertas perjanjian yang sobek, dan seorang pria pucat yang nyaris roboh tetapi tetap menatap Keira.

Keira ingin tertawa.

Tiga tahun ia menunggu kalimat itu.

Tiga tahun ia membayangkan suatu hari Rayhan akan menariknya dari dapur, memegang tangannya, dan berkata bahwa ia melihat semua yang Keira lakukan. Bahwa ia tahu Keira lelah. Bahwa ia memilih Keira, bukan Anya, bukan keluarganya, bukan nama Sutanto.

Kalimat itu akhirnya datang.

Namun datang setelah ia sudah belajar hidup tanpa menunggu.

"Cinta yang terlambat lebih murah dari rumput," kata Keira.

Rayhan tidak bergerak.

Hujan mengalir di wajahnya, menyamarkan apa pun yang mungkin terlihat seperti air mata.

"Aku tahu," jawabnya.

"Kau tidak tahu." Suara Keira serak, dan ia membenci kelemahan kecil itu. "Kalau kau tahu, kau tidak akan mengatakannya seperti hadiah."

"Aku tidak menganggapnya hadiah."

"Lalu apa? Tebusan?"

Rayhan menunduk. "Pengakuan."

"Pengakuan tidak menghidupkan apa pun yang sudah mati."

Keira melangkah keluar sedikit. Hujan langsung membasahi ujung bajunya. Udara dingin menusuk kulit, tetapi ia tidak mundur.

"Dulu, aku akan memberikan apa saja untuk mendengar kalimat itu. Sekarang, saat kau mengatakannya, yang kurasakan hanya lelah."

Rayhan menggenggam sobekan perjanjian di lantai.

"Kalau kau ingin aku pergi, aku akan pergi setelah masa kontrak selesai."

"Aku baru saja memberimu kesempatan pergi malam ini."

"Aku menolak."

"Karena egomu?"

"Karena untuk pertama kalinya aku ingin menyelesaikan sesuatu yang kusakiti sendiri."

Keira menatapnya.

Pria itu menggigil. Bahunya sedikit turun, napasnya berat, tetapi tatapannya tidak lagi menuntut. Tidak meminta dimaafkan. Tidak meminta disentuh. Hanya bertahan.

Itu membuatnya lebih sulit.

Keira membenci jawaban yang membuatnya sulit.

"Baik," katanya akhirnya.

Rayhan mengangkat wajah.

"Kau boleh tinggal sampai sisa masa perjanjian selesai. Bukan karena aku menerima cintamu. Bukan karena aku memaafkanmu. Tapi karena aku ingin kau menyelesaikan hukuman yang kau pilih sendiri."

"Baik."

"Setelah itu, kau menghilang dari hidupku."

Wajah Rayhan memucat lebih jauh.

Keira melanjutkan, setiap kata ia paksa keluar dengan rapi. "Tidak ada Villa Teluk. Tidak ada Sutanto Corp. Tidak ada alasan masa lalu. Kau pergi, dan aku tidak perlu melihatmu lagi."

Rayhan menelan ludah. Tenggorokannya bergerak berat.

"Kalau itu yang kau mau."

"Itu yang kumau."

Kebohongan itu terasa seperti pecahan kaca di lidahnya.

Keira berbalik masuk.

Rayhan masih berlutut.

Ia tidak memanggil. Tidak memohon. Tidak menggunakan tubuh lemahnya untuk memeras belas kasihan. Justru diamnya membuat langkah Keira makin berat.

Di dalam rumah, pelayan Liem berdiri cemas dengan handuk dan obat. Keira mengambil handuk itu, lalu melemparkannya ke lantai dekat pintu tanpa menoleh.

"Masuk setelah lima menit. Mandi air hangat. Minum obat. Besok tetap bekerja."

Rayhan menatap handuk itu.

Untuk orang lain, perintah itu mungkin terdengar kejam.

Untuk Rayhan, itu adalah celah terkecil yang masih Keira sisakan agar ia tidak mati.

"Baik, Bu Keira," katanya.

Keira naik ke lantai dua.

Setiap anak tangga terasa lebih tinggi daripada biasanya. Ia masuk ke kamar, menutup pintu, lalu berdiri di tengah ruangan dalam gelap.

Ia berhasil.

Ia tidak menangis di depan Rayhan.

Ia tidak mundur.

Ia tidak memaafkan.

Namun ketika tangannya menyentuh pipi, ujung jarinya basah.

Hanya satu garis air mata.

Satu saja.

Keira menatap jari itu lama, lalu menghapusnya dengan kasar.

"Tidak lagi," bisiknya kepada dirinya sendiri.

Di bawah, Rayhan masuk setelah lima menit tepat. Tubuhnya hampir jatuh saat melewati pintu, tetapi ia menahan diri pada dinding. Pelayan hendak membantu, namun ia menggeleng.

"Saya bisa."

Ia mengambil handuk yang dilempar Keira dan menggenggamnya seolah itu sesuatu yang lebih berharga daripada semua kontrak yang pernah ia tanda tangani.

Malam itu, Rayhan demam.

Ia tetap tidak memanggil dokter sampai pelayan Liem melapor diam-diam kepada Keira. Keira berdiri di depan pintu kamar pelayan selama beberapa detik, mendengar napas berat dari dalam.

Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk.

Lalu berhenti.

Ia memanggil pelayan dengan suara rendah. "Panggil dokter. Katakan itu perintah rumah, bukan perintahku."

"Baik, Nona."

Keira pergi sebelum dokter datang.

Pagi berikutnya, Rayhan tetap muncul di dapur pukul enam, wajahnya pucat, tetapi seragamnya rapi.

Keira turun pukul tujuh.

Di meja, sarapan sudah siap. Kopinya lebih pekat, tepat seperti catatan.

Rayhan berdiri di samping meja.

"Sarapan, Bu Keira."

Keira menatapnya sebentar.

Tidak ada pembicaraan tentang cinta. Tidak ada pembicaraan tentang air mata. Tidak ada pembicaraan tentang dokter yang ia panggil diam-diam.

Hanya kontrak yang tersisa di antara mereka, meski sobekan pertama sudah basah dan hancur di teras.

Keira duduk, mengambil cangkir, lalu berkata, "Mulai hari ini, kau menulis ulang perjanjian itu. Dengan tangan. Sepuluh salinan."

Rayhan menunduk.

"Baik, Bu Keira."

Ia menerima hukuman itu.

Siang harinya, Rayhan duduk di meja kecil dekat pantry dengan kertas kosong bertumpuk di depannya. Sepuluh salinan. Tidak boleh difotokopi. Tidak boleh diketik. Setiap pasal harus ditulis ulang dengan tangan.

Pada salinan ketiga, pergelangan tangannya mulai kaku.

Pada salinan kelima, demamnya naik lagi.

Pada salinan ketujuh, tinta sedikit melebar karena setetes keringat jatuh di atas kata patuh.

Keira lewat sekali, hanya sekali. Ia melihat tulisan Rayhan yang makin tidak stabil, melihat obat demam yang belum disentuh di sisi meja.

"Minum obat."

Rayhan mengangkat wajah. "Setelah selesai."

"Itu perintah."

Ia langsung mengambil obat dan menelannya dengan air.

Keira menatapnya beberapa detik, lalu berkata, "Jangan salah paham. Kalau tulisanmu rusak karena tanganmu gemetar, kau harus mengulang dari awal."

"Saya mengerti."

Namun setelah Keira pergi, Rayhan menatap gelas air itu lama. Bahkan alasan paling dingin darinya tetap lebih hangat daripada semua perhatian palsu yang pernah ia terima.

Malamnya, sepuluh salinan itu diletakkan di meja kerja Keira.

Keira memeriksa halaman terakhir. Tanda tangan Rayhan ada di setiap lembar, lebih lemah di salinan terakhir, tetapi tetap terbaca.

"Mulai besok, salinan pertama ditempel di pantry," katanya. "Agar kau ingat."

Rayhan menunduk. "Baik."

"Dan agar aku juga ingat," tambah Keira nyaris tanpa suara.

Rayhan mendengarnya, tetapi pura-pura tidak.

Dadanya sakit sekali, diam-diam.

Karena selama Keira masih memberinya hukuman, berarti ia masih diizinkan tinggal di dalam badai yang sama.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!