Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Sama-sama pertama.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, tapi hujan masih sangat lebat.
"Kapan hujan akan berhenti?" Tanya Danis pada dirinya sendiri.
Danis melihat jam tangannya dan sekarang sudah menunjukkan pukul 10.15 menit.
"Jika terus-terusan menunggu hujan reda, ntah kapan hujan ini akan redah? Udah gitu gadis mesum ini malah tidur lagi." Gumam Danis.
Karena malam semakin larut, akhirnya Danis membangunkan Anin.
"Anin, bangunlah!" Danis menepuk-nepuk pipi mulus Anin dengan pelan.
Perlahan-lahan Anin membuka matanya, ia merasakan dinginnya yang merasuki tubuhnya.
"Hujan belum reda juga." Kata Anin, ia membenarkan posisi duduknya sambil melipat dua tangannya ke dada.
"Dingin sekali." Kata Anin, bibir ia sudah mulai memucat.
"Kalau kita pulang sekarang, pasti kita akan basah kuyup dan aku pasti akan flu." Kata Anin dengan nada pelan.
Danis terdiam, ia berpikir bagaimana cara menghangatkan tubuh Anin. Tidak mungkin kan ia meniduri Anin di saung lagiankan mereka juga belum halal.
Danis menggosok-gosokan kedua tangannya, lalu ia menempelkan kedua tangannya di pipi mulus Anin, sungguh Anin tidak percaya ia ingin tersenyum tapi malu.
"Danis, apa ternyata kamu laki-laki yang begitu perhatian?" Hati Anin berbicara.
Tangan Danis masih anteng di kedua pipi Anin, matanya menatap Anin dengan penuh arti membuat detak jantung Anin sungguh tidak bisa kontrol.
"Danis, jangan terus menatapku atau jantungku akan copot." Hati Anin berbicara lagi.
Sorot mata kedua saling menatap penuh arti, mereka ingin sama-sama tersenyum tapi gengsi. Mata mereka semakin intens dalam memandang, hingga petir yang menggema membuat Anin kaget dan Cupp bibir Anin menabrak bibir Danis.
"Aish, apa yang terjadi? Bibirku kenapa kamu tepat di bibir laki-laki mesum ini, petir aku mengetukmu." Anin menyumpah serapahi dirinya sendiri.
Ia menganggap bibirnya sudah sangat kurang ajar, dan membuat ia malu.
Mata Danis membulat sempurna, sungguh ini bagaikan mimpi menurutnya.
"Apa bibir Anin menyentuh bibirku?" Hati Danis meronta-ronta.
Anin hendak menjauhkan bibirnya dari bibir Danis, tapi dengan cepat Danis menarik tengkuk leher Anin sehingga Anin hanya terdiam dan mulai memejamkan matanya.
"Apa yang mau dia lakukan? Apa dia akan menciumku? Ini adalah ciuman pertamaku." Hati Anin terus meronta-ronta.
Ingin rasanya mendorong tubuh Danis, tapi Petir terus bergemuruh dan mengeluarkan suaranya yang yang keras, membuat Anin takut.
"Jegerrrr.....!!!" Anggap saja suara petir.
"Cup." Danis mencium bibir Anin dengan lembut, awalnya Anin tetap diam tapi lama kelamaan ia membuka mulutnya agar Danis bisa memperdalam ciumannya.
Ciuman mereka semakin panas, Anin yang tadinya tidak bergeming sekarang ia malah melawan membuat ciuman mereka semakin dalam, sungguh petir yang terus bergema hujan yang semakin lebat menjadi saksi ciuman pertama mereka.
"Ini adalah pertama kalinya, aku mencium bibir seorang gadis dan aku janji aku akan menjadikanmu sebagai istriku nanti." Batin Danis dalam hatinya, ia pelan-pelan melepaskan ciumannya dari bibir Anin.
Kini wajah Anin terlihat merah seperti kepiting rebus. Sungguh dedemit mana yang telah merasuki tubuh Anin sehingga Anin bisa berciuman dengan seorang laki-laki.
Anin terus memegangi bibir mungilnya, lalu Danis menyingkirkan tangan Anin dari bibir mungilnya itu.
"Kenapa? Apa kamu menikmatinya?" Tanya Danis, ia memasang wajah penuh dengan semangat.
"Ini adalah ciuman pertamaku!" Anin pasrah, ia menundukkan kepalanya ia merasa dirinya sudah melakukan hal bodoh dalam hidupnya.
"Kenapa, aku berciuman dengan laki-laki yang bukan suamiku?" Sesal Anin dalam hatinya.
Danis tersenyum, ia merasa sangat bahagia karena ia bisa merasakan ciuman pertama dari seorang Anin gadis yang sederhana.
"Kamu juga sudah mengambil ciuman pertamaku." Danis memasang wajah pura-pura sedih.
Anin ternganga karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Danis.
"Dia bilang, aku yang mengambil ciuman pertamanya? Bukankah dia yang tadi mulai menarik tekuk leherku." Anin marah-marah dalam hatinya.
"Apa, laki-laki mesum seperti dirimu sungguh tidak pernah berciuman sebelumnya?" Anin masih tidak percaya, ia terus menatap Danis dengan sorot mata penuh tanda tanya?
"Sungguh." Jawab Danis singkat.
Iya mungkin Danis adalah laki-laki kaya yang bisa mendapatkan wanita mana saja, tapi satu yang selalu Danis jaga ia tidak pernah menyentuh gadis-gadis sembarangan. Ia juga tidak pernah berciuman dengan Fani mantan kekasihnya itu, setiap kali bertemu dengan Fani, Danis ingin mencium bibirnya Fani tapi Fani selalu menolak dengan banyak alasan. Membuat Danis kesal dan akhirnya Danis tidak pernah melakukan ciuman selama beberapa lama menjalin hubungan dengan Fani.
"Kamu tidak sedang bergurau denganku kan?" Anin memastikan, ia menatap Danis dengan kesal.
"Buat apa aku bergurau, sebagai laki-laki aku juga menjaga kehormatanku." Jawab Danis, ia berusaha meyakinkan Anin.
"Tapi, kamu sudah menodaiku!" Anin menatap Danis, kali ini dengan tatapan marah.
"Jika kamu bilang seperti itu, maka aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu." Danis menatap Anin dengan tatapan serius.
Dalam hati Anin, apa dia kira pernikahan itu sebuah permainan ia mengatakannya dengan semudah itu?
"Sudahlah, ayo kita pulang! Aku mau cuci mulut. Aku tidak mau bekas bibirmu ini berlama-lama di bibirku." Anin semakin kesal, ntahlah hatinya saat ini mulai meronta-ronta.
"Baiklah, ayo kita pulang! Lagian hujan juga sudah redah." Kata Danis, ia sudah bangun dari tempat duduknya.
"Aku yakin karena ciuman kita, pasti kamu tidak akan bisa tidur." Danis tertawa dalam hatinya.
Hujan sudah redah, akhirnya Anin dan Danis berjalan menuju ke rumah mereka.
Dalam hati Anin, sungguh dia itu menyebalkan sekali. Baru tadi dia mengajakku menikah, tapi dia begitu acuh padaku sekarang. Apa dia tidak sadar dia sudah mengambil ciuman pertamaku?
Anin bangun dari tempat duduknya dengan kasar, ia berjalan mendahului Danis. Dan Danis juga hanya berjalan dibelakang Anin ia berjalan santai dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celananya.
"Dasar gadis aneh, dia bilang dia ternodai tapi aku ajak menikah malah tidak menjawab." Batin Danis dalam hatinya.
"Anin.....!" Panggil Danis dengan lembut.
"Aku tidak mau bicara denganmu!" Anin terus berjalan, dan enggan menoleh kebelakang.
"Jelas-jelas kamu yang mulai menciumku, tapi kenapa kamu yang kesal padaku?" Tanya Danis yang terus mengekor dibelakang Anin.
"Tapi, kamu yang menarik tekuk leherku." Elak Anin, yang lagi-lagi tidak mau menoleh ke Danis.
Danis berjalan sambil senyam-senyum, ia bahagia biarpun Anin merasa kesal tapi itu membuatnya semakin bahagia dan ia akan berusaha untuk mendapatkan hati dan cinta dari Anindiya.
.
.
Sesampainya dirumah, Anin langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengatakan apapun pada Danis.
"Sungguh wanita itu aneh, dia yang mulai dia juga yang kesal, tapi ini semua akan semakin menarik." Danis senyam-senyum sambil membuka pintu rumahnya.
.
.
Dirumah Anin.
Anin duduk ditepi ranjang, ia terus memegangi bibirnya yang tadi dicium oleh Danis.
"Sungguh, dia menciumku." Kata Anin sambil senyam-senyum sendiri.
Anin merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia terus memegangi bibirnya yang katanya tadi mau dicuci gini tidak ia lakukan.
Gara-gara ciuman dari Danis, Anin senyam-senyum sendiri dan tidak bisa tidur.
Dirumah Danis.
Danis terus memeluk bantal gulingnya sambil menciumi bantal guling miliknya.
"Anggap saja ini Anin." Kata Danis, sambil senyam-senyum.
Danis mulai tidak waras, ia terus mengingat ciumannya dengan Anin tadi.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...