NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Komplotan

"Sampaikan salam saya untuk ayahmu."

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada bau kopi di kantin.

Dalam setengah hari, hampir semua orang di RSUD Harapan Bangsa sudah mendengar versi masing-masing. Bimo disebut terpeleset saat menyerang, jatuh setelah Rangga menyentuh bahunya, bahkan dikalahkan dengan ilmu bela diri rahasia.

Rangga tidak membantah.

Ia lebih memilih kembali ke UGD.

Tetapi di lantai administrasi, kabar itu tidak terdengar sebagai cerita lucu.

dr. Herman Gunawan menutup pintu ruangannya dengan wajah gelap. Di hadapannya, Bimo duduk dengan sling penyangga bahu. Wajahnya masih pucat, tapi matanya penuh amarah.

"Om Herman," Bimo menahan suara agar tidak berteriak, "dia mempermalukan saya di depan semua orang."

dr. Herman menatap bahu Bimo. "Dokter UGD bilang tidak ada cedera permanen."

"Itu bukan masalahnya!"

"Justru itu masalahnya." dr. Herman mengetuk meja pelan. "Kalau dia membuatmu cacat, kita bisa menyerang langsung. Tapi dia cukup pintar. Dia membuatmu terlihat seperti penyerang yang kalah."

Bimo menggertakkan gigi.

Di atas meja, ponsel dr. Herman menyala. Nama Pak Santoso muncul di layar.

dr. Herman mengangkatnya.

Ia tidak banyak bicara. Hanya "baik, Pak", "saya paham", dan "akan saya urus sesuai prosedur".

Setelah panggilan berakhir, udara di ruangan itu terasa lebih berat.

"Ayah saya bilang apa?" tanya Bimo.

"Pak Santoso tidak suka rumah sakit daerah membuat putranya jadi bahan tertawaan."

"Maka singkirkan Rangga."

dr. Herman menatapnya dingin. "Rumah sakit bukan jalanan. Kita tidak menyingkirkan orang dengan tangan kosong. Kita menunggu dia membuat kesalahan."

"Kalau dia tidak membuat kesalahan?"

"Kita bantu agar kesalahan itu muncul."

Sore itu, di ruang kecil belakang laboratorium, Joko Susanto menerima pesan singkat dari dr. Herman.

Urus pasien yang ditangani Rangga. Jangan kasar. Buat laporan terlihat normal.

Joko membaca pesan itu dua kali, lalu menghapusnya.

Ia sudah lama tahu cara bekerja untuk atasan yang tidak pernah memberi perintah kotor secara terang-terangan. Tidak perlu kata "palsukan". Tidak perlu kata "jebak". Cukup satu kalimat yang bisa disangkal kapan saja.

Malamnya, UGD kembali penuh.

Seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun duduk di ranjang observasi sambil memegang dada. Napasnya pendek, wajahnya berkeringat dingin. Di sampingnya, seorang perempuan paruh baya terus mengipasi dengan map BPJS yang sudah lecek.

"Bapak saya bilang dadanya seperti ditekan batu, Dok," kata perempuan itu cemas. "Namanya Karto. Dari pagi sakitnya hilang timbul, tapi sekarang makin berat."

Rangga berjongkok di sisi ranjang.

"Pak Karto, sakitnya menjalar ke lengan kiri atau rahang?"

Pak Karto mengangguk lemah. "Ke... sini." Ia menyentuh lengan kirinya. "Dada panas. Seperti diremas."

Rangga memegang nadi. Cepat, tidak nyaman. Kulit dingin. Keluhan klasik, tapi di UGD tidak ada yang boleh dianggap remeh.

"Dokter Yoga," panggil Rangga, "EKG sekarang. Ambil darah: troponin I, CK-MB, D-dimer, darah lengkap, elektrolit. Pasang monitor."

dr. Yoga tidak membantah. Sejak kasus Bimo, ia jarang berbicara kepada Rangga dan bekerja jauh lebih cepat.

"Siap."

Perempuan itu menatap Rangga. "Dok, ini serangan jantung?"

"Kita belum bisa memastikan sebelum EKG dan hasil lab," jawab Rangga. "Tapi gejalanya mengarah ke sana. Ibu tolong jangan beri makanan atau minuman dulu. Kami pantau ketat."

"Saya anaknya, Dok. Sri."

Rangga mengangguk singkat. Nama itu tercatat di formulir keluarga, dan ia tidak memperpanjang percakapan. Fokusnya kembali ke Pak Karto.

EKG awal menunjukkan perubahan samar. Tidak cukup jelas untuk membuat semua orang berteriak STEMI, tapi terlalu mengganggu untuk diabaikan. Rangga meminta pasien tetap di observasi.

Empat puluh menit kemudian, hasil lab masuk.

Normal.

Troponin I normal.

CK-MB normal.

D-dimer normal.

Rangga membaca lembar itu dua kali.

Ada yang salah.

Pak Karto masih berkeringat dingin. Nyeri dadanya tidak membaik. EKG ulang menunjukkan perubahan yang makin jelas di lead inferior. Tubuh pasien berkata satu hal. Kertas berkata hal lain.

Rangga tidak menyukai kertas yang terlalu rapi.

"Saya minta ulang lab," katanya.

dr. Yoga melihat hasil itu. "Secara angka memang normal, tapi gejalanya..."

"Tidak cocok."

Rangga berjalan ke laboratorium dengan lembar hasil di tangan.

Di loket lab, Joko Susanto sedang menempel label tabung. Wajahnya datar, seperti orang yang sudah menyiapkan jawaban sebelum pertanyaan datang.

"Mas Joko," kata Rangga, "saya butuh ulang troponin I dan CK-MB untuk Pak Karto dari UGD. Hasil ini tidak sesuai klinis."

Joko mengambil lembar itu, pura-pura memeriksa.

"Dok, antrean banyak. Kalau ulang, paling cepat satu setengah jam."

"Pasien nyeri dada aktif. Saya minta prioritas UGD."

"Semua juga minta prioritas, Dok." Joko tersenyum tipis. "Kalau hasilnya normal, mungkin diagnosisnya bukan jantung."

Rangga menatapnya.

Nada itu terlalu santai untuk pasien yang bisa mati di kursi observasi.

"Siapa analis yang memproses sampel ini?"

"Sistem kami tercatat otomatis."

"Saya minta lihat log penerimaan sampel."

Senyum Joko hilang sedikit. "Dokter muda biasanya tidak punya akses ke log lab."

"Kalau begitu panggil penanggung jawab lab."

"Beliau sedang tidak di tempat."

Rangga menahan napas. Di dalam dirinya, amarah bergerak naik, tetapi ia tidak membiarkannya keluar sebagai suara keras. Orang seperti Joko justru menunggu itu. Satu ledakan emosi bisa diubah menjadi laporan bahwa Rangga mengganggu unit lain.

"Saya mengerti," kata Rangga pelan. "Saya catat bahwa permintaan ulang pemeriksaan emergensi ditolak karena antrean."

Joko menatapnya tajam.

"Saya tidak bilang ditolak."

"Tadi Anda bilang paling cepat satu setengah jam."

"Itu prosedur."

"Untuk pasien UGD dengan nyeri dada aktif?"

Joko tidak menjawab.

Rangga membawa lembar hasil itu langsung ke ruang Pak Bambang.

Pak Bambang membaca cepat. Semakin lama, wajahnya semakin dingin.

"Gejala?"

"Nyeri dada menjalar ke lengan kiri, keringat dingin, EKG inferior berubah progresif. Hasil lab normal semua. Saya minta ulang prioritas, Joko menunda."

Pak Bambang berdiri.

"Herman."

Nama itu keluar seperti pisau.

Mereka menuju ruang wakil direktur. dr. Herman tampak tidak terkejut saat Pak Bambang masuk tanpa banyak basa-basi.

"Pak Wakil Direktur," kata Pak Bambang. Nada formalnya justru lebih berbahaya. "Sejak kapan pasien UGD dengan dugaan infark miokard harus menunggu satu setengah jam untuk ulang troponin?"

dr. Herman melepas kacamatanya perlahan. "Dokter Bambang, laboratorium punya beban kerja. Jangan semua masalah teknis dibawa ke ruang saya."

"Masalah teknis?" Pak Bambang melempar salinan hasil lab ke meja. "Pasien klinisnya jelas. Hasilnya terlalu bersih. Anak buah Anda menolak prioritas UGD."

"Menolak atau mengikuti antrean?"

Rangga memperhatikan kata-kata itu.

dr. Herman tidak membela diagnosis. Ia membela celah prosedur.

"Saya akan ajukan audit internal ke komite medik," kata Pak Bambang. "Sekarang juga."

Mata dr. Herman menyipit. "Hati-hati, Dokter Bambang. Menuduh unit lain memalsukan hasil tanpa bukti bisa mencoreng rumah sakit."

"Yang mencoreng rumah sakit adalah membiarkan pasien mati demi memberi pelajaran pada dokter muda."

Ruangan itu sunyi.

dr. Herman menatap Rangga untuk pertama kalinya secara langsung.

"Dokter Rangga," katanya dingin, "popularitas satu hari tidak membuat Anda kebal terhadap kesalahan medis."

Rangga membalas tatapannya.

"Saya tidak butuh kebal, Pak. Saya butuh hasil pemeriksaan yang benar untuk pasien saya."

Sebelum dr. Herman menjawab, pintu ruangannya diketuk keras.

dr. Yoga masuk dengan wajah pucat.

"Pak Bambang! Pak Karto kolaps di ruang observasi!"

Rangga sudah berbalik.

Mereka berlari kembali ke UGD.

Di ruang observasi, Sri menangis di samping ranjang. Pak Karto terkulai, kedua tangannya mencengkeram dada, wajahnya membiru tipis. Monitor yang baru dipasang menjerit dengan irama kacau.

"Nyeri dada hebat, tekanan turun!" teriak perawat.

Pak Karto membuka mata setengah. Tangannya mencengkeram jas putih Rangga begitu kuat sampai buku jarinya memutih.

"Dok... dada saya..."

Rangga menahan bahu lelaki tua itu. "Pak Karto, dengar saya. Jangan bicara. Hemat napas."

Monitor berbunyi makin cepat.

Di dalam kepala Rangga, suara dingin yang kini sudah ia kenal menyala seperti kilat.

[Terdeteksi pasien kritis: infark miokard akut.]

[Aktifkan check-in?]

1
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
Ria Gazali Dapson
se x ,gaji dari sistem ja 200jeti , 1 M , buat setaun , ya kalah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!