NovelToon NovelToon
Setelah Malam Pertama

Setelah Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Pagi itu berlalu seperti biasa. Calista kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya. Beberapa berkas yang telah selesai ia periksa harus segera diserahkan ke divisi keuangan di lantai dua puluh. Ia merapikan map biru di pelukannya.

"Pak, saya antar berkas ini dulu."

Supervisor mengangguk. "Silakan."

Calista pun berjalan menuju lift.

Di saat yang bersamaan...

Dari arah berlawanan, Arga baru saja keluar dari ruang rapat bersama Dimas.

"Pak, jadwal Bapak setelah ini bertemu klien pukul sepuluh."

"Hm."

"Setelah itu ada rapat direksi."

Arga mengangguk singkat.

Mereka tiba di depan lift tepat ketika pintunya terbuka.

Ting...

Calista yang sudah berdiri di dalam lift sedikit terkejut. "Selamat pagi, Pak Arga."

Arga membalas dengan anggukan. "Pagi."

Dimas yang melihat suasana itu langsung tersenyum tipis. "Saya pakai lift sebelah saja, Pak."

Arga menoleh. "Kenapa?" "Masih mau ke bagian personalia dulu."

Padahal itu hanya alasan.

Dimas sengaja memberi kesempatan atasannya berada berdua dengan Calista.

"Pak sebaiknya saya ikut pindah lift saja." Calista merasa tidak enak sama sekali, ia tidak mungkin hanya berduaan saja dengan atasannya itu.

"Eh tidak usah. Kamu temani saja pak Arga. Soalnya beliau tidak bisa sendirian. Pak Arga takut tikus" ucap Dimas langsung kabur.

Arga mendelik, ia ingin mengomel, namun Dimas sudah pergi. Sedangkan Calista meringis mendengar itu

Pintu lift perlahan menutup.

Ting...

Kini hanya ada Arga dan Calista di dalam lift yang luas itu. Suasananya mendadak hening.

Calista berdiri dengan sopan di sudut lift sambil memeluk map di dadanya.

Sedangkan Arga berdiri beberapa langkah di sampingnya.

Entah mengapa... CEO yang biasanya begitu tenang itu justru merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

"Aneh..." gumamnya dalam hati.

Ia sudah berkali-kali bertemu klien penting dari berbagai negara. Berbicara di depan ribuan orang pun tidak pernah membuatnya gugup.

Namun kini... Hanya berdiri di samping seorang perempuan sederhana bernama Calista... Telapak tangannya justru terasa dingin.

Lift terus bergerak naik.

Lantai sepuluh.

Sebelas.

Dua belas.

Tak seorang pun berbicara.

Calista sendiri merasa canggung. Ia beberapa kali melirik angka digital di atas pintu lift.

"Semoga cepat sampai..." batinnya.

Tiba-tiba...

Brak!

Lift berguncang pelan.

Lampunya berkedip.

Lalu... Semua berhenti.

Calista refleks memegang pegangan di sampingnya.

Map di tangannya hampir terjatuh.

Arga dengan sigap menahan beberapa berkas yang nyaris berserakan.

"Hati-hati."

"Terima kasih, Pak."

Suara Calista terdengar pelan. Lift benar-benar berhenti. Lampu darurat menyala. Suasana menjadi sedikit redup.

Calista menelan ludah. "Pak..."

Arga segera menekan tombol darurat. Beberapa detik kemudian terdengar suara petugas.

"Maaf, Pak Arga. Lift mengalami gangguan teknis. Tim kami sedang menuju lokasi."

"Berapa lama?"

"Kemungkinan sekitar lima belas sampai dua puluh menit."

"Baik."

Sambungan terputus.

Calista menarik napas perlahan.

Arga menoleh. "Kamu tidak apa-apa?"

Calista memaksakan senyum. "Iya, Pak."

Namun Arga dapat melihat jemari perempuan itu sedikit gemetar.

"Kamu takut lift?"

Calista terdiam sejenak. "Sedikit..."

Arga mengangguk pelan. "Tidak usah khawatir. Lift ini memiliki sistem pengaman. Tidak akan jatuh."

Calista tersenyum tipis. "Iya, Pak."

Meski begitu, ia tetap menggenggam mapnya erat-erat.

Beberapa menit berlalu.

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Arga berusaha mengalihkan perhatian Calista. "Kamu sudah mulai terbiasa bekerja di sini?"

"Alhamdulillah, Pak."

"Ada kesulitan?"

"Tidak ada."

"Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, sampaikan kepada atasanmu."

"Iya, Pak." Jawaban Calista selalu singkat. Namun terdengar sopan.

Arga tersenyum kecil. "Ternyata... Kamu memang tidak banyak bicara."

Calista tampak sedikit malu. "Ayah saya selalu mengajarkan... kalau tidak ada hal penting, lebih baik tidak terlalu banyak bicara."

Kalimat sederhana itu membuat Arga terdiam. Lagi-lagi... Perempuan ini mengingatkannya bahwa kesederhanaan justru memiliki daya tarik yang luar biasa.

Tanpa sadar, Arga terus memperhatikan wajah Calista.

Sementara itu... Calista yang menyadari tatapan atasannya menjadi semakin canggung. Ia menundukkan kepala. "Kenapa pak Arga melihat saya terus...?" batinnya gugup.

Di luar lift... Dimas berdiri bersama beberapa teknisi. Ia melirik layar penunjuk lift yang masih berhenti di lantai lima belas. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Semoga saja..." gumamnya pelan. "Pak Arga akhirnya berani mengobrol lebih lama dengan Bu Calista."

Beberapa teknisi mulai membuka panel lift. Tak seorang pun menyadari... Di balik pintu lift yang masih tertutup rapat itu...

Jantung Arga berdegup jauh lebih kencang daripada saat menghadapi rapat miliaran rupiah.

Sedangkan Calista hanya berharap satu hal. "Ya Allah... semoga lift ini cepat terbuka."

1
mama
ku pikir udh gk dilanjut ini cerita kak.. kan syg
Julia and'Marian: lanjut kak... kemarin tunggu kontrak nya dulu. lama bingit..
total 1 replies
Lia se
kalau gue jadi faas, udah gue tonjok Lo nis
Lia se
kapok, udah terasa kayaknya dia
Lia se
kau yang nggak tahu diri taiiu
Lia se
Ya ampun cal, kalau aku udah aku Jambak tuh orang
Lia se
benci banget sama keluarga kayak begitu
Lia se
😲
Lia se
Danis...🤭
partini
kena tipu ini mah
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
semoga saja ada maaf untuk mu Danis...,, dan semoga secepatnya bertemu Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Herman Lim
jgn hamil aja nanti Calista
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
rupanya semesta alam belum merestui Danis bertemu Calista 🥺... tetap semangat ya Danis temukan Calista dan minta maaf,
partini
sedikit lagi bertemu tapi ga jadi macam sinet indo gumussss
Eva Karmita
ayo terus cari Calista Denis semangat 🔥💪🥰
partini
Danis tuh cari Calista mau minta rujuk
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
partini
udah di buang sekarang di cari mejilat ludah sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!