Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Restoran Golden Lotus
"Bu Eve, makan malam bareng yuk."
Feli muncul di pintu ruang kerja Eve dengan wajah terlalu cerah. Sudah empat hari ia menahan diri untuk tidak memanggil perempuan itu ci ipar, dan perjuangan itu membuat pipinya hampir kram.
Eve mengangkat mata dari laptop. "Ada apa?"
"Tidak ada. Aku mau traktir. Aku baru gajian magang."
"Gaji magangmu cukup untuk traktir di mana?"
"Golden Lotus."
Eve menatapnya. "Feli."
"Aku punya voucher."
Itu bohong. Voucher bernama Ko Edric.
Malam itu mereka tiba di Menara Sudirman. Golden Lotus berada di lantai atas, dengan interior kayu gelap, lampion merah tua, dan jendela besar menghadap SCBD. Restoran itu tidak ramai, tetapi setiap tamu terlihat seperti orang yang biasa memesan tanpa melihat harga.
Di depan resepsionis, seorang perempuan bergaun Valentino sedang berbicara dengan nada yang membuat semua staf tegang.
"Kamar 666 itu selalu untuk saya. Kenapa ada orang lain yang booking?"
Manajer Hadi menunduk sopan. "Maaf, Nona Calista. Malam ini kamar itu sudah dipesan."
"Batalkan."
"Tidak bisa, Nona."
Feli berhenti begitu melihat perempuan itu.
Calista Sia.
Perempuan yang dulu pernah dipertemukan Oma dengan Edric, lalu sejak itu berkeliling Jakarta seolah status "pernah dekat dengan Edric Kho" adalah gelar kebangsawanan.
Calista menoleh, melihat Eve dan Feli. Matanya menyapu mereka dari kepala sampai kaki, lalu berhenti pada Eve.
"Dua orang saja mau pakai private room?" Ia tertawa kecil. "Yang biasa-biasa saja cukup kali."
Eve tidak suka nada itu, tetapi ia juga tidak ingin ribut. "Feli, kita bisa duduk di luar."
Feli langsung memegang tangannya. "Tidak."
"Feli."
"Kita pesan duluan."
Calista mengangkat alis. "Anak magang sekarang berani juga."
Feli tersenyum, manis sekali sampai Eve merasa bahaya. "Berani kalau benar, Nona Calista."
"Kamu tahu namaku?"
"Siapa yang tidak tahu? Akunmu sering lewat di explore."
Calista menerima itu sebagai pujian. Dagu perempuan itu naik sedikit. "Kalau begitu kamu harusnya tahu, kamar ini memang biasa saya pakai."
"Biasa bukan berarti milik."
Eve hampir tersedak udara. Anak ini benar-benar tidak punya rem.
Calista menatap Feli lebih tajam. "Kamu dari keluarga mana?"
Feli membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Nama Kho hampir keluar dari lidahnya. Ia teringat ancaman Oma, siapa bocor akan diusir dari rumah.
"Dari keluarga yang diajari antre," jawab Feli akhirnya.
Manajer Hadi pura-pura batuk. Resepsionis menunduk menyembunyikan senyum.
Feli tersenyum manis, mengambil ponsel, lalu mengetik cepat.
Koh, Calista Sia mau rebut kamar kita di Golden Lotus.
Balasan tidak datang. Telepon Manajer Hadi yang berdering.
Pria itu mengangkat, mendengar dua kalimat, lalu wajahnya berubah total.
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Calista menyilangkan tangan, masih percaya diri.
Manajer Hadi menutup telepon. "Maaf, Nona Calista. Kamar 666 sudah dikonfirmasi untuk tamu VIP kami. Saya tidak bisa mengubahnya."
"Kamu tahu siapa aku?"
"Saya tahu, Nona. Tapi keputusan ini dari atas."
Calista memucat karena marah. "Keluarga Sia bisa membuat restoran ini kehilangan banyak klien."
"Kami menghargai keluarga Sia." Manajer Hadi menunduk lagi, tetapi suaranya tidak goyah. "Namun malam ini kamar 666 tetap bukan untuk Nona."
Lalu ia berbalik kepada Eve dan Feli.
"Nona Evelina, Nona Felicia, silakan. Malam ini seluruh pesanan Anda ditanggung oleh kebijakan manajemen sebagai tamu VIP."
Eve berkedip. "Maaf?"
Feli menariknya sebelum ia sempat bertanya lebih jauh. "Ayo, Bu Eve."
Saat melewati Calista, Eve bisa merasakan tatapan perempuan itu menusuk punggungnya.
Begitu pintu kamar 666 tertutup, Feli meletakkan tas dan menepuk kedua pipinya sendiri dengan gaya dramatis.
"Rasakan. Mukanya tadi priceless."
Eve tertawa meski masih bingung. "Kamu kenal dia?"
"Dari media sosial. Dia selebgram, sering pamer."
"Kamu terlihat seperti punya dendam pribadi."
"Aku punya alergi pada orang sombong."
Jawaban itu membuat Eve tertawa lagi.
Mereka memesan terlalu banyak makanan. Bebek panggang, dimsum, sup asparagus, dan teh oolong. Feli bercerita tentang kerjaan kantor dengan gaya heboh, sementara Eve sesekali membetulkan cara Feli menerjemahkan istilah teknis. Hubungan mereka terasa aneh, bukan lagi sekadar atasan dan anak magang. Feli terlalu dekat, terlalu hangat, seolah sejak awal ia sudah memutuskan Eve adalah keluarga.
Saat dimsum datang, Feli otomatis memindahkan hakau udang terbaik ke piring Eve.
Eve menatapnya. "Kamu tidak makan?"
"Aku bisa ambil yang lain."
"Kenapa selalu memberiku bagian terbaik?"
Feli membeku, sumpit masih di udara. "Karena... Bu Eve sudah kerja keras?"
"Kamu terdengar seperti Oma."
"Oma siapa?"
"Entahlah. Kamu yang terdengar punya Oma galak."
Feli tertawa terlalu keras. "Semua orang punya Oma galak, kan?"
Eve tidak menjawab. Ia justru merasa hangat. Setelah lama menjadi orang yang harus menjaga diri sendiri, diperhatikan lewat sepotong hakau terasa aneh, kecil, tapi nyata.
"Feli," kata Eve saat menuang teh, "kamu selalu cepat akrab begini?"
Feli hampir tersedak. "Tergantung orangnya."
"Aku galak padamu."
"Galak tapi baik."
"Itu pembelaan anak magang yang takut revisi?"
"Itu fakta."
Di luar ruangan, Calista belum benar-benar pergi. Ia berdiri di dekat ujung koridor, menelepon seseorang dengan suara tertahan.
"Cari tahu dua perempuan itu siapa. Terutama yang namanya Evelina."
"Sekarang, Nona?" suara asistennya terdengar ragu.
"Sekarang. Aku mau tahu kenapa Manajer Hadi lebih takut pada mereka daripada padaku."
Calista menatap kuku jarinya yang mengilap. Ia sudah terlalu lama berada di lingkaran yang membuat semua pintu terbuka sebelum ia mengetuk. Pintu yang tertutup malam ini terasa seperti tamparan.
"Dan cek juga apakah mereka ada hubungan dengan Edric," tambahnya setelah jeda.
Nama itu ia ucapkan lebih pelan.
Edric Kho pernah menolaknya dengan sopan, begitu sopan sampai tidak ada celah untuk marah. Justru karena itu Calista tidak pernah benar-benar bisa melepaskan bayangan bahwa suatu hari pria itu akan menyesal.
Ia menutup telepon, lalu menatap pintu 666.
Tidak ada yang pernah mengambil ruangnya begitu saja.
Di dalam, Feli mendapat pesan dari Edric.
Jangan berlebihan.
Feli membalas.
Terlambat. Aku sudah menikmati wajah Calista.
Edric hanya membalas titik.
Feli menyembunyikan ponsel sebelum Eve melihat. "Bu Eve, coba supnya. Ini enak banget."
Malam berjalan lebih ringan dari dugaan Eve. Untuk pertama kalinya sejak bandara, ia makan tanpa memikirkan Rangga, tanpa menghitung utang, tanpa takut ditinggalkan.
Namun saat Feli keluar sebentar ke toilet, langkahnya berhenti di dekat pintu kamar lain.
Dari dalam terdengar suara yang sangat ia kenal.
"Tehnya terlalu pekat. Hadi selalu lupa selera Oma."
Feli membeku.
Oma Kho.
Ia menoleh ke arah kamar 666, lalu ke pintu itu lagi.
Celaka. Dunia benar-benar terlalu kecil malam ini.