Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Suara kaca yang pecah memecah keheningan rumah keluarga Mahendra.
Brak!
Arga yang masih menggenggam tangan Nayla langsung berlari menuju lantai bawah.
“Dimas!”
“Di ruang arsip, Pak!”
Beberapa petugas keamanan sudah mengepung koridor belakang rumah. Lampu-lampu taman dinyalakan hingga halaman belakang terang benderang.
Arga tiba di depan ruang arsip.
Jendelanya pecah.
Lemari arsip terbuka.
Beberapa map berserakan di lantai.
“Jangan sentuh apa pun,” kata salah satu polisi yang baru tiba. “Kami akan mengamankan sidik jari.”
Arga mengangguk, tetapi tatapannya menyapu seluruh ruangan. Ada sesuatu yang terasa janggal.
“Pelaku tidak mencari uang,” gumamnya.
Dimas mengikuti arah pandangan Arga.
“Pak?”
“Dia mencari dokumen tertentu.”
Nayla yang berdiri di belakang memperhatikan sebuah map tua yang terjatuh di bawah meja.
“Pak Arga…”
Arga menoleh.
“Itu…”
Ia mengambil map tersebut dengan hati-hati.
Di bagian depan tertulis:
PROYEK GARUDA – 2011
Jantung Arga berdetak lebih cepat.
“Ini dokumen yang disebut di video Ayah…”
Namun saat ia membukanya, hampir seluruh isi map telah hilang.
Yang tersisa hanya satu lembar laporan dan sebuah foto lama.
Arga mengangkat foto itu.
Foto tersebut memperlihatkan empat pria berdiri di depan sebuah proyek pembangunan pelabuhan.
Pria pertama adalah ayahnya.
Pria kedua dikenali Arga sebagai Lukas Pranata, yang saat itu masih muda.
Pria ketiga adalah seseorang yang belum pernah ia lihat.
Sedangkan wajah pria keempat…
Robek.
Seseorang sengaja merobek bagian wajahnya dari foto.
“Kenapa hanya wajah orang ini yang dihilangkan?” gumam Nayla.
Arga mengamati bekas sobekan itu.
“Seseorang tidak ingin identitasnya diketahui.”
Dimas mengambil lembar laporan yang tersisa.
“Pak…”
“Di sini tertulis proyek dihentikan karena kecelakaan kerja.”
Arga membaca cepat.
“Dua belas pekerja meninggal…”
“Dan kerugian mencapai ratusan miliar.”
Nayla mengangkat kepala.
“Tapi…”
“Saya tidak pernah dengar berita sebesar itu.”
“Itulah anehnya,” jawab Arga pelan.
“Kalau benar ada kecelakaan sebesar ini…”
“Pasti pernah menjadi berita nasional.”
Berarti…
Ada seseorang yang menutupi kasus tersebut.
Di tempat lain…
Lukas duduk di sebuah vila terpencil di pegunungan.
Televisi di depannya menayangkan berita tentang penyusupan ke rumah keluarga Mahendra.
Ia tersenyum puas.
“Pasti sekarang kau mulai menemukan potongan-potongannya, Arga.”
Seorang pria masuk membawa secangkir kopi.
“Pak Lukas.”
“Semua berjalan sesuai rencana.”
“Bagaimana dengan halaman terakhir surat?”
Pria itu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
Lukas membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat halaman terakhir surat Mahendra.
Ia membaca beberapa kalimat sambil tersenyum.
“Lihat…”
“Mahendra sendiri yang menulis nama orang itu.”
Pria tersebut bertanya pelan.
“Apakah kita akan menyebarkannya?”
“Belum.”
“Lalu kapan?”
“Saat Arga sudah benar-benar percaya bahwa ayahnya adalah orang baik.”
“Setelah itu…”
“Aku akan menghancurkan semua keyakinannya.”
Pagi harinya…
Mahendra Group kembali dipenuhi wartawan.
Kasus video yang beredar masih menjadi sorotan.
Investor mulai gelisah.
Harga saham perusahaan belum sepenuhnya pulih.
Di ruang rapat utama, para direktur mulai saling menyalahkan.
“Kita harus mengadakan konferensi pers.”
“Tidak!”
“Itu justru memperbesar masalah.”
“Kalau kita diam, publik menganggap kita bersalah.”
Suasana rapat semakin panas.
Arga yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.
“Cukup.”
Suaranya tenang.
Namun cukup membuat seluruh ruangan kembali hening.
“Kita tidak akan membuat keputusan berdasarkan kepanikan.”
“Mulai hari ini…”
“Seluruh audit Proyek Garuda dibuka kembali.”
Beberapa direktur saling berpandangan.
“Pak Arga…”
“Proyek itu sudah lima belas tahun.”
“Justru karena itu.”
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Tak ada lagi yang berani membantah.
Selesai rapat…
Arga kembali ke ruangannya.
Di atas meja sudah ada secangkir kopi hangat.
Tidak perlu bertanya.
Ia tahu siapa yang meletakkannya.
Tak lama kemudian terdengar ketukan.
Tok… Tok…
“Masuk.”
Nayla muncul sambil membawa beberapa dokumen.
“Pagi, Pak.”
“Pagi.”
“Bapak sudah sarapan?”
Arga tersenyum tipis.
“Belum.”
Nayla menghela napas.
“Kenapa selalu begitu?”
“Sibuk.”
“Bapak boleh sibuk.”
“Tapi kesehatan juga penting.”
Arga memperhatikan wajah Nayla beberapa saat.
“Kalau aku sarapan…”
“Kamu ikut?”
Nayla tampak terkejut.
“Saya?”
“Iya.”
“Anggap saja menemani.”
Pipi Nayla langsung memerah.
“Baik…”
Mereka akhirnya sarapan di kantin eksekutif yang biasanya hanya digunakan jajaran direksi.
Begitu melihat CEO duduk semeja dengan Nayla, hampir semua karyawan menoleh.
“Eh…”
“Itu Pak Arga, kan?”
“Iya.”
“Kok sama Mbak Nayla?”
Rina yang kebetulan lewat hanya tersenyum kecil.
“Akhirnya…”
gumamnya pelan.
Di meja makan, suasana justru terasa canggung.
Nayla sibuk mengaduk supnya.
Arga beberapa kali ingin berbicara, tetapi mengurungkan niat.
Akhirnya Nayla yang lebih dulu membuka percakapan.
“Pak.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena kemarin…”
“…Bapak datang menyelamatkan saya.”
Arga menggeleng.
“Itu sudah seharusnya.”
“Bukan.”
“Belum tentu semua orang akan mempertaruhkan nyawanya.”
Arga tersenyum tipis.
“Kalau harus mengulang malam itu…”
“Aku tetap akan memilih datang.”
Jantung Nayla kembali berdegup lebih cepat.
Ia buru-buru menunduk agar Arga tidak melihat wajahnya yang memerah.
Namun, kebahagiaan singkat itu tidak berlangsung lama.
Di ruang keamanan…
Salah satu petugas berlari membawa sebuah paket tanpa pengirim.
“Pak Dimas!”
“Kami menemukan ini di depan lobi.”
Dimas membuka kotak itu dengan hati-hati.
Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk dan secarik kertas.
Tulisan di kertas itu membuat wajah Dimas berubah.
Ia segera membawa kotak tersebut ke ruang Arga.
“Pak.”
“Ada kiriman.”
Arga membaca isi kertas itu.
“Kalau ingin mengetahui siapa pembunuh sebenarnya dalam Proyek Garuda, datanglah sendiri malam ini. Jangan bawa polisi. Jangan percaya siapa pun.”
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah alamat gudang tua di pinggir kota.
Arga terdiam.
Nayla yang ikut membaca surat itu langsung menggeleng.
“Jangan datang, Pak.”
“Itu pasti jebakan.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa Bapak terlihat ingin datang?”
Arga menatap alamat yang tertulis.
“Karena…”
“Mungkin hanya itu satu-satunya cara mengetahui siapa yang sebenarnya menghancurkan keluargaku.”
Nayla menggenggam lengan Arga.
“Kalau Bapak tetap pergi…”
“Saya ikut.”
Arga langsung menggeleng tegas.
“Tidak.”
“Saya tetap ikut.”
“Nayla.”
“Saya tidak mau Bapak menghadapi semua ini sendirian.”
Tatapan mereka bertemu.
Belum sempat Arga menjawab, ponselnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia mengangkatnya.
Suara berat di seberang sana berkata pelan,
“Kalau kau ingin ibumu tetap hidup…”
“…datang sendiri malam ini.”
Sambungan langsung terputus.
Wajah Arga seketika berubah pucat.
Mentari pagi menyinari gedung Mahendra Group.
Setelah beberapa minggu penuh kekacauan, keadaan akhirnya kembali normal. Polisi berhasil menangkap Lukas beserta komplotannya, sementara kasus yang sempat mengguncang perusahaan perlahan mereda. Arga memilih menutup semua urusan itu dan fokus membangun kembali citra perusahaan.
jd senam jantung🤧