"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ajakan Bertemu
Keesokan paginya, Nadira datang ke bengkel lebih awal untuk mengambil motor maticnya. Jalanan Jakarta belum terlalu padat ketika ia memarkir langkah di depan bengkel kecil yang semalam menjadi tempat motornya dititipkan. Begitu melihat kedatangannya, salah seorang montir segera menghampiri sambil menyerahkan kunci motor yang kini sudah kembali menyala dengan normal. Nadira mengembuskan napas lega. Setidaknya ia tidak perlu lagi memikirkan bagaimana harus berangkat ke toko menggunakan transportasi umum.
"Berapa total biaya servisnya, Pak?" tanyanya sambil membuka dompet.
Montir itu justru menggeleng pelan. "Sudah lunas, Mbak."
Nadira mengernyit bingung. "Lunas?"
"Iya. Semalam Pak Arga yang bayar sebelum pulang. Beliau bilang kalau Mbak datang tinggal ambil motornya saja."
Ucapan itu membuat Nadira terdiam cukup lama. Tatapannya beralih ke motor putih miliknya, sementara perasaan tidak enak perlahan memenuhi dada. Semalam Arga sudah bersusah payah mencarikan montir, menemaninya menunggu hingga kendaraan itu diperiksa, lalu mengantarnya pulang ketika motor belum bisa diperbaiki. Kini laki-laki itu bahkan diam-diam melunasi seluruh biaya servis tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Di sepanjang perjalanan menuju Toko Buku Senja, pikiran Nadira dipenuhi rasa tidak nyaman. Ia memang bukan orang yang mudah menerima bantuan, apalagi dari seseorang yang baru kembali ditemuinya setelah bertahun-tahun. Baginya, kebaikan sekecil apapun seharusnya dibalas, bukan dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Sesampainya di toko, Maya langsung menyambutnya dengan wajah penasaran. "Motornya gimana, Mbak? Udah sembuh?"
"Udah," jawab Nadira sambil meletakkan tas di meja kasir. "Ternyata biaya servisnya udah dibayarin Arga."
"Wah ... baik banget."
"Itu dia masalahnya."
Maya terkekeh pelan melihat ekspresi Nadira yang justru terlihat pusing. "Ya tinggal bilang makasih."
"Kalau cuma makasih rasanya nggak cukup."
"Lah terus?"
Nadira memandang ponselnya yang tergeletak di atas meja. Nama Arga yang baru semalam tersimpan di daftar kontak terasa begitu mencolok. Untung saja mereka sempat bertukar nomor sebelum Arga pulang.
Setelah menimbang beberapa saat, Nadira akhirnya mengambil keputusan. Wanita itu akhirnya menekan tombol panggil. Entah mengapa, hanya untuk menghubungi Arga saja rasanya gugup. Mungkin karena sudah bertahun-tahun mereka tidak pernah berkomunikasi atau mungkin karena laki-laki itu sudah terlalu banyak membantunya dalam waktu yang begitu singkat.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
"Halo?" Suara Arga terdengar tenang seperti biasanya.
"Ga ... ini Nadira."
"Aku tahu." Jawaban singkat itu membuat Nadira terkekeh pelan. Tentu saja Arga tahu. Nomornya baru semalam disimpan.
"Aku ganggu, ya?"
"Nggak. Kebetulan baru selesai rapat."
Nadira menarik napas pelan sebelum berkata, "Aku baru ambil motor di bengkel."
"Gimana? Udah normal?"
"Udah. Tapi..." Ia berhenti sejenak, berusaha menyusun kalimat yang tepat. "Kenapa biaya servisnya kamu yang bayar?"
Di seberang sana terdengar tawa pelan. "Cuma itu?"
"Itu penting buatku."
"Nad, aku cuma bantu."
"Justru itu. Aku nggak enak."
"Kamu nggak usah kepikiran."
"Nggak bisa."
Jawaban Nadira terdengar mantap. "Aku nggak suka punya utang budi."
Arga terdiam beberapa saat. Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat sudut bibirnya terangkat. Nadira ternyata masih sama seperti yang ia ingat. Perempuan itu selalu merasa harus membalas setiap kebaikan orang lain, sekecil apa pun. "Terus maunya gimana?" tanyanya akhirnya.
"Aku mau traktir kamu makan siang."
"Makan siang?"
"Iya."
"Nggak usah repot-repot."
"Kalau kamu nolak, aku bakal tetap merasa punya utang."
Arga mengembuskan napas pelan sambil melirik jadwal di meja kerjanya. Sore nanti masih ada satu pertemuan dengan investor, tetapi makan siang selama satu jam bukan sesuatu yang mustahil. "Baiklah."
Senyum Nadira langsung mengembang. "Serius?"
"Iya. Nanti aku ke toko kamu, aku yang jemput.” Arga mengakhiri percakapan mereka. “Jam dua belas, ya. Soalnya aku ada agenda malamnya.”
“Yaudah kalau gitu,” tutup Nadira.
Tepat pukul dua belas, Arga memarkir mobilnya di depan Toko Buku Senja. Berbeda dengan biasanya, kali ini ia mengenakan kemeja biru muda tanpa jas. Penampilannya terlihat jauh lebih santai dibanding sosok CEO yang setiap hari memenuhi halaman bisnis berbagai media.
Nadira sudah menunggu di depan toko. Ia mengenakan blouse putih sederhana dipadukan dengan celana kain berwarna krem. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai sebahu, bergerak pelan tertiup angin siang yang hangat.
"Jadi mau makan di mana?" Arga bertanya.
"Aku punya tempat langganan."
Arga mengangguk. "Ayo."
Alih-alih mengarahkan Arga ke restoran mewah, Nadira justru mengajaknya berjalan kaki beberapa menit menuju sebuah warung makan sederhana yang berada di sudut jalan. Bangunannya tidak besar, tetapi terlihat bersih dan ramai oleh pegawai kantoran.
Arga sempat menatap papan nama warung itu sebelum menoleh kepada Nadira. "Kamu sering makan di sini?"
"Hampir setiap minggu."
"Kenapa bukan restoran?"
Nadira tertawa kecil. "Karena menurutku makanan enak nggak harus mahal."
Jawaban itu membuat Arga ikut tersenyum. Begitu mereka duduk, pemilik warung langsung menghampiri Nadira dengan wajah ramah.
"Seperti biasa, Nad?"
"Iya, Bu. Khusus hari ini tambah satu porsi, ya."
Perempuan paruh baya itu kemudian melirik Arga dengan senyum yang sulit diartikan. "Temannya?"
"Iya, Bu. Teman."
"Oooh..."
Nadira langsung tahu ke mana arah pikiran perempuan itu. "Bukan seperti yang Ibu pikir."
Pemilik warung itu justru tertawa kecil sebelum pergi menyiapkan pesanan.
Arga menahan tawanya. "Kamu kenapa ketawa?"
"Nggak."
"Jelas-jelas ketawa."
"Lucu aja."
Nadira mendengus pelan. "Ibu Sari memang suka begitu."
Tak lama kemudian, dua piring ayam bakar lengkap dengan lalapan dan sambal terhidang di atas meja. Aroma bumbu bakar yang harum langsung memenuhi udara.
"Gimana?" tanya Nadira setelah Arga mencicipi suapan pertamanya.
Arga mengangguk pelan. "Enak. Jauh lebih enak dari yang aku bayangin."
"Nah, mulai sekarang jangan meremehkan warung pinggir jalan."
"Siap, Bu Guru."
Mereka kembali tertawa.
Obrolan yang awalnya hanya seputar makanan perlahan beralih ke masa-masa kuliah. Arga mengenang pertemuan pertama mereka ketika dirinya sedang sibuk menyelesaikan skripsi di semester delapan, sementara Nadira baru menginjak semester dua. Saat itu Nadira tanpa ragu membantu mencarikan buku referensi yang sulit ditemukan di perpustakaan hingga rela berkeliling dari satu rak ke rak lainnya.
Sejak hari itu, mereka beberapa kali bertemu di kampus, mulai dari saling bertukar jurnal, mengerjakan tugas di perpustakaan, hingga tanpa sengaja berteduh bersama saat hujan mengguyur sore hari. Setelah Arga lulus, mereka tidak bertukar kabar lagi hingga bertemu di pernikahan Raina dan Satria beberapa hari lalu.
Selesai makan, Nadira berdiri lebih dulu menuju kasir. Kali ini ia benar-benar tidak memberi kesempatan Arga mengeluarkan dompet.
"Pokoknya jangan dibayar lagi. Nanti aku beneran marah."
Arga hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Baik, Bu Nadira."
Setelah berpamitan dengan Bu Sari, mereka melangkah keluar dari warung. Matahari mulai condong ke barat. Arga melirik jam tangannya sekilas sebelum mengembuskan napas.
"Aku harus balik ke kantor. Ada rapat jam lima sore."
"Nggak apa-apa. Makasih ya udah mau ditraktir."
"Harusnya aku yang bilang makasih."
Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran. Suasananya hening, tidak canggung. Sesekali Nadira menendang pelan kerikil kecil di jalan.
“Aku pulang naik gojek aja, Ga. Kamu kayaknya lagi buru-buru.”
“Aku mau antar kamu pulang.”
Nadira menggeleng. “Nggak usah, deh.”
“Kalau gitu aku pesan taksi, ya.” Arga langsung merogoh ponsel dari saku baju.
“Haduh, tapi aku udah pesen ojek duluan.” Nadira tersenyum lebar sembari menunjukkan ponselnya yang menampilkan layar aplikasi pesanan, menunggu sepuluh menit lagi hingga sopir online itu datang.
Arga terkekeh, “Aku kalah cepat ternyata.”
Nadira mengerling puas, kemudian sibuk melacak sopirnya dari aplikasi. Arga memperhatikan perempuan itu diam-diam. Dia menggaruk pelipisnya pelan. Entah kenapa, pikirannya seperti belum selesai.
"Nad,” panggilnya membuat Nadira mendongkak.
Dengan terbata-bata, Arga mulai bertanya. “Kamu ... masih jomblo?"
Nadira mengernyit. "Iya. Kenapa?"
"Nggak cuma nanya."
"Oh."
Hening beberapa detik. Arga mengangguk pelan, seolah baru menemukan jawaban dari sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Kalau gitu nikah sama aku aja." Kalimat itu meluncur begitu saja. Bahkan Arga sendiri baru menyadari apa yang baru saja diucapkannya.
Nadira menatapnya selama beberapa detik. Lalu, tanpa aba-aba, tawanya pecah. "Ya ampun, Arga!" katanya di sela-sela tawa. "Kamu kalau banyak pikiran omongannya suka ngelantur, ya?"
Arga berkedip pelan. "Ngelantur?"
"Iya." Nadira masih menahan tawanya. "Baru ketemu lagi dua hari, langsung ngajak nikah. Untung aku nggak gampang baper."
Arga ikut terkekeh kecil, memilih mengangguk daripada menjelaskan.
"Iya deh, anggap aja bercanda."
"Nah, gitu lebih masuk akal." Nadira melambaikan tangan usai sopir pesanannya datang. “Aku pergi dulu, ya.”
Sementara Arga berdiri mematung di samping mobil sambil mengembuskan napas pelan, lalu mengusap wajahnya sendiri.
"Aku barusan ngomong apa, sih?" Entah kenapa, ucapan yang dianggap lelucon oleh Nadira itu justru terus terngiang di kepalanya sepanjang perjalanan kembali ke kantor.