Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Kristal Pertama
Hujan tidak pernah turun pada malam ketika takdir mulai bergerak, tetapi Arga tahu bencana terbesar justru lahir dalam keheningan. Cahaya lampu kamar kos memantul di atas peta Jakarta yang terbentang di meja, sementara sebuah lingkaran merah di sudut timur kota tampak seperti tetesan darah yang sengaja ditinggalkan seseorang. Di kehidupan sebelumnya, titik kecil itu tidak pernah menarik perhatian siapa pun sampai semuanya terlambat.
Ujung jari Arga berhenti tepat di atas lingkaran merah itu. Napasnya perlahan memanjang ketika ingatan yang terkubur selama sepuluh tahun kembali terbuka satu demi satu, seperti lembaran arsip tua yang dipaksa keluar dari debu waktu. Tidak banyak orang mengetahui bahwa kiamat sebenarnya tidak dimulai pada hari ketika jutaan manusia berubah menjadi zombie, melainkan beberapa minggu sebelumnya, ketika kematian pertama sengaja disembunyikan.
Ia masih mengingat percakapan para penyintas di markas besar pada tahun kedelapan kiamat. Seorang mantan ilmuwan pernah mabuk dan tanpa sengaja membocorkan bahwa sebelum wabah menyebar ke seluruh dunia, beberapa laboratorium telah lebih dulu menangani sampel mikroba purba yang ditemukan di lapisan es Siberia. Saat itu semua orang menganggapnya hanya teori konspirasi dari pria yang kehilangan kewarasannya.
Namun setelah mengumpulkan potongan informasi selama bertahun-tahun, Arga akhirnya menyadari bahwa pria tua itu tidak pernah berbohong. Mikroba Necrovirus Sapiens memang belum menyebar melalui atmosfer pada saat itu, tetapi sebagian kecil peneliti telah bersentuhan langsung dengan sumber infeksi. Mereka tidak berubah menjadi zombie seketika karena virus membutuhkan waktu untuk berkembang, namun beberapa tubuh mengalami mutasi yang gagal dan mati jauh lebih cepat daripada masa inkubasi normal.
Kematian mereka tidak pernah muncul di televisi ataupun koran. Pemerintah, pihak laboratorium, atau mungkin organisasi lain memilih menutup semua jejak sebelum kepanikan menyebar. Mayat-mayat itu dibungkam, fasilitas penelitian dikosongkan, dan semua orang yang mengetahui kejadian tersebut dipaksa diam.
Arga menyandarkan punggung ke kursi sambil memejamkan mata. Dalam kehidupan sebelumnya, para penyintas baru mengetahui keberadaan kristal zombie hampir seminggu setelah kiamat dimulai. Padahal, kristal pertama telah lahir jauh sebelum manusia menyadari bahwa dunia sedang menuju jurang kehancuran.
Ia masih mengingat bentuk kristal itu dengan jelas. Benda seukuran kelereng berwarna abu-abu kusam yang tumbuh di dalam otak Zombie Tier 1, terbentuk dari kondensasi energi biologis yang dipicu oleh Necrovirus Sapiens. Saat itu tidak seorang pun memahami nilainya. Banyak orang menghancurkannya bersama kepala zombie atau bahkan membuangnya karena mengira hanya gumpalan tulang yang mengeras.
Padahal, benda kecil itulah yang kemudian mengubah jalannya sejarah umat manusia. Dari kristal itulah lahir ramuan Awakener pertama, senjata pertama, dan harapan pertama untuk melawan kiamat. Jika ia berhasil mendapatkannya lebih awal, maka ia akan selangkah lebih maju dibanding seluruh dunia.
Sudut bibir Arga terangkat tipis. "Kalau sejarah memang memberi hadiah bagi orang yang datang lebih dulu," gumamnya lirih, "aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi."
Ia membuka buku catatan yang telah dipenuhi tulisan semalam. Beberapa halaman berisi lokasi gudang logistik, sebagian lagi dipenuhi nama orang-orang yang kelak menjadi pengkhianat. Namun malam itu ia hanya menatap satu alamat yang ditulis menggunakan tinta merah, sebuah gudang penelitian tua di pinggiran Jakarta yang kelak hanya disebut sekilas dalam laporan investigasi rahasia.
Jam dinding berbunyi, tik... tok... tik... tok..., mengingatkannya bahwa waktu terus bergerak. Ia segera berdiri dan membuka lemari pakaian, lalu mengeluarkan jaket kulit tebal yang sudah lama tidak dipakai. Kainnya memang berat, tetapi cukup keras untuk mengurangi risiko gigitan yang belum terlalu kuat dari Zombie Tier 1.
Setelah itu ia mengambil celana lapangan berbahan tebal, sepasang sarung tangan kulit, dan helm proyek berwarna kuning yang dulu digunakan saat melakukan inspeksi bangunan. Penampilannya terlihat aneh jika dipakai bersamaan, tetapi Arga tidak peduli. Orang yang pernah melihat satu gigitan kecil mengubah manusia menjadi monster tidak akan pernah menganggap perlindungan sebagai sesuatu yang berlebihan.
Laci paling bawah menyimpan sebuah parang yang biasa digunakan saat kegiatan luar ruangan. Arga mengangkatnya perlahan, lalu mengayunkan bilah itu beberapa kali hingga terdengar suara, swussh... swussh..., membelah udara kamar yang sempit. Beratnya masih terasa pas di telapak tangan.
Ia lalu mengambil palu pemecah kaca dengan kepala baja pendek. Senjata itu tidak memiliki bilah tajam, tetapi mampu menghancurkan tengkorak lebih efektif dibanding banyak senjata lain. Pengalaman sepuluh tahun mengajarinya bahwa melawan zombie bukan soal gaya bertarung, melainkan efisiensi.
Senter, masker, tali nilon, korek api, beberapa botol bensin, dan kain lap langsung ia simpan ke dalam Ruang Dimensi. Satu per satu benda itu lenyap dengan suara halus, wusss, seolah ditelan ruang kosong yang tak terlihat. Kemampuan itu membuat persiapannya jauh lebih mudah dibanding kehidupan sebelumnya, ketika setiap perjalanan harus dibatasi oleh berat ransel di punggung.
Sebelum mematikan lampu, Arga berdiri cukup lama di depan cermin. Wajah yang menatap balik masih milik pemuda berusia dua puluh tiga tahun, tetapi sorot matanya berasal dari seseorang yang telah bertahan hidup selama satu dekade di neraka.
Ia mengangkat tangan kanan dan mengepalkannya perlahan.
"Hancurkan otaknya," bisiknya pelan.
Bayangan wajah Zombie Tier 9 yang membunuhnya muncul begitu jelas hingga napasnya sempat tercekat.
"Jangan beri kesempatan menggigit."
Kalimat itu diulangnya berkali-kali seperti mantra. Bukan karena ia takut lupa, melainkan karena kebiasaan adalah satu-satunya hal yang mampu menyelamatkan nyawa saat rasa panik mengambil alih.
Malam berlalu tanpa mimpi.
Keesokan paginya, langit Jakarta diselimuti awan tipis. Matahari baru saja naik ketika Arga menaiki bus kota menuju pinggiran ibu kota. Kendaraan itu berguncang pelan, gruduk... gruduk..., melewati jalanan yang dipenuhi pekerja kantoran dan siswa berseragam.
Tak seorang pun di dalam bus menyadari bahwa seorang pria di antara mereka sedang menuju lokasi kematian pertama dalam sejarah kiamat.
Sekitar satu jam kemudian, Arga turun di sebuah kawasan industri yang mulai sepi. Bangunan-bangunan tua berdiri berjajar dengan cat yang mengelupas dan pagar besi berkarat. Di ujung jalan tampak sebuah kompleks penelitian yang sudah tidak lagi beroperasi secara terbuka.
Dari luar, tempat itu terlihat biasa saja. Tidak ada garis polisi. Tidak ada ambulans. Bahkan beberapa pedagang masih berjualan di seberang jalan sambil bercanda dengan pelanggan mereka.
Arga berhenti melangkah.
Hidungnya bergerak pelan.
Lalu ia mengembuskan napas panjang.
Aroma itu.
Samar.
Hampir tidak terasa bagi manusia biasa.
Namun bagi seseorang yang telah hidup di tengah jutaan mayat selama sepuluh tahun, bau itu mustahil salah.
Bau daging yang mulai membusuk.
Ia menyeberangi halaman yang dipenuhi rumput liar. Sepatu botnya menginjak kerikil dengan bunyi, krek... krek..., sementara matanya terus menyapu setiap sudut bangunan. Semua tampak sunyi, tetapi keheningan seperti ini justru jauh lebih berbahaya dibanding suara keramaian.
Pintu utama ternyata tidak terkunci. Ketika didorong perlahan, engselnya mengeluarkan bunyi panjang, ngiiik..., memecah kesunyian lorong yang gelap.
Udara di dalam terasa lebih dingin.
Lebih lembap.
Dan jauh lebih busuk.
Cahaya senter menyapu lantai keramik yang dipenuhi noda hitam kecokelatan. Di beberapa bagian, bercak darah telah mengering membentuk pola panjang seperti bekas seseorang yang diseret secara paksa.
Arga berjongkok dan menyentuh salah satu bercak menggunakan ujung sarung tangannya.
Sudah lebih dari dua hari.
Sesuai ingatannya.
Ia terus melangkah semakin dalam. Beberapa meja laboratorium terguling, tabung reaksi pecah berserakan, sementara dinding di salah satu ruangan tampak penyok seolah pernah dihantam sesuatu dari dalam.
Kemudian...
Terdengar suara.
Duk...
Arga berhenti.
Duk...
Kali ini lebih jelas.
Duk...
Suara benturan pelan datang dari balik pintu laboratorium di ujung lorong.
Jari-jari Arga perlahan menggenggam gagang parang. Telapak tangannya tetap stabil, tetapi otot-otot lengannya mengencang secara naluriah. Tubuhnya langsung mengambil posisi menyerang, persis seperti ribuan kali yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya.
Ia mendekati pintu itu setahap demi setahap.
Semakin dekat.
Semakin jelas suara kunyahan pelan dari balik ruangan.
Krek... krek... krek...
Arga menarik napas dalam-dalam.
Lalu mendorong pintu itu perlahan.
Kreeeek...
Ruangan laboratorium terbuka sedikit demi sedikit.
Seorang pria berjas putih berdiri membelakanginya. Jas yang semula bersih kini dipenuhi bercak darah yang telah menghitam. Kepalanya tertunduk aneh, sementara kedua rahangnya bergerak perlahan, krek... krek..., mengunyah sesuatu yang tak terlihat dari tempat Arga berdiri.
Suara engsel pintu membuat tubuh pria itu berhenti bergerak.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.
Lalu...
Kepalanya berputar perlahan hingga hampir seratus delapan puluh derajat.
Mata putih keruh tanpa pupil menatap lurus ke arah Arga.
Bibirnya yang robek terbuka lebar, mengeluarkan geraman parau.
"Graaaarrhh!"
Detik berikutnya, zombie itu menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan.