Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~02
Dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun dan siap meledak, Zizan melangkah lebar-lebar, berjalan begitu cepat sampai-sampai ia mengabaikan jam dinding yang telah menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh menit. Artinya, Ia sudah resmi terlambat! Celakanya lagi, ia masih harus merebut kitabnya yang entah mengapa bisa berpindah ke tangan Ares.
"Awas kamu, Res! Bisa-bisanya tadi nuduh aku lupa naruh, ternyata malah dibawa sendiri! Kalau sampai aku kena marah Abah, siap-siap aja nama kamu tinggal kenangan!"
Zizan merutuk sepanjang jalan. Tangannya mengepal kuat, bersiap mengamuk Ares tanpa ampun.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Zizan langsung mendobraknya.
"Woy, Ares! Bangun! Di mana kitabku?!" bentaknya keras. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung melayangkan peci hitamnya, memukul tubuh Ares yang sedang asyik terkapar di lantai.
Tak ada hasil. Ares hanya terdiam. Jangankan bangun, bergeser satu sentimeter pun tidak. Membangunkan Ares yang sudah sangat terlelap memang butuh kesabaran.
"Res, ah! Bangun dong! Aku udah telat ini!" pekik Zizan frustrasi.
Namun, pandangannya mendadak terpaku pada jam dinding kamar. Angkanya sudah bergeser ke pukul 09.15 WIB.
"Hah?!" Zizan menepuk jidatnya keras-keras. Panik setengah mati, ia kembali mengobrak-abrik isi lemari pakaiannya yang sebenarnya sudah hancur lebur seperti habis diterjang puting beliung akibat pencariannya tadi.
"Di mana sih?! Dasar Ares beban! Habis ini tamat riwayatku!"
Kehabisan kesabaran, mata Zizan menangkap segelas air di atas meja samping lemari. Tanpa pikir panjang, ia mengambil gelas itu dan langsung mencipratkan dan mengguyur air tersebut ke wajah sahabatnya.
"Woy, bangun! Kebakaran, woy!" teriak Zizan sambil terus memercikkan air.
"Apaan sih, Zan?!" Ares akhirnya menggeliat, terbangun dalam kondisi setengah sadar dengan wajah yang sudah basah kuyup mirip korban banjir bandang.
"Apa, apa?! Masih nanya kamu?! Mana kitabku? Aku udah terlambat ngajar!
'Oh... udah dibawa Mas Charis tadi," sahut Ares santai sambil mengusap air di wajahnya.
"Hah?! Maksudmu apa?!" Suara Zizan sedikit naik karena tensinya kian memuncak. "Duduk nggak kamu?!" Zizan menarik paksa lengan Ares, memaksanya agar duduk tegak.
"Aduh, sakit tahu!" Ares menggerutu, mengusap lengannya yang memerah.
"Tadi aku udah ke ndalem, katanya kitabnya udah dititipin ke kamu. Sekarang kenapa bisa ada di Kang... eh, di Mas Charis? Gimana ceritanya Ares?!"
"Maaf, ih. Jadi gini, emang tadi dititip ke aku, tapi aku lupa terus aku taruh di atas kusen pintu. Pas aku ingat, kamu udah pergi. Mau aku susul, tapi kaki aku rasanya udah nggak kuat, capek banget. Maaf ya?" rengek Ares dengan wajah sangat polos tanpa dosa.
"Astaghfirullahaladzim... Terus, terus kenapa bisa dibawa Mas Charis?!"
"Katanya kelas kamu belum ada yang ngisi. Udah telat sepuluh menit dan anak-anak udah hampir bubar jalan. Akhirnya langsung diisi sama Mas Charis."
"Ya Allah, Areeesss!" Zizan langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai telentang. Ia menutupi seluruh wajahnya dengan peci hitam, meratapi nasib.
"Jadi dari tadi aku lari ke sana kemari kayak orang kesurupan itu nggak ada hasilnya? Terus sekarang malah diisi Mas Charis? Habis aku bisa kena marah Mas Charis."
Ahmad Nizami Charis Al-Fatih, atau yang lebih akrab disapa Mas Charis. Beliau adalah santri senior yang masa baktinya paling lama di pondok ini, bahkan sudah dianggap seperti penghuni asli pesantren karena saking lamanya berkhidmah. Beliau juga memegang kepercayaan tertinggi dari Abah dan Umi untuk membimbing pengurus serta santri lainnya.
Di tengah kekhawatiran Zizan yang sedang merenungi nasib di lantai, bayangan tinggi besar mendadak menghalangi cahaya lampu kamar. Sesosok pemuda tampan, berkulit putih, dengan tatapan mata selembut namun setegas elang, sudah berdiri tegak di hadapannya.
Zizan terlonjak kaget dan langsung bangkit berdiri dengan kikuk.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Zizan, ini kitabmu," ucap Mas Charis dengan suara beratnya yang berwibawa. "Maaf tadi saya langsung mengambil alih kelas. Saat saya berjalan menuju asrama, saya melihat para santri masih terdiam mengantuk karena pengajar belum datang. Jam pelajaran sudah terlambat sepuluh menit. Jadi, saya langsung ke sini mencari kamu, tapi katanya kamu sedang pergi. Karena saya tidak punya banyak waktu untuk membiarkan pengajian tertunda, maaf, langsung saya isi."
Kata-kata itu meluncur dengan tegas. Zizan bahkan tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap sang senior. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap ujung jempol kakinya sendiri.
"Maaf, Mas. Tadi itu..." Kalimat Zizan langsung terputus.
"Sudah, saya tidak peduli dengan alasanmu," potong Mas Charis, dingin namun telak. "Yang pasti, lain kali jika kamu berhalangan atau terlambat mengajar, carilah pengganti. Suruh orang lain menggantikanmu. Jangan biarkan para santri menunggu terlalu lama tanpa kepastian. Belajarlah untuk lebih disiplin."
Sebagai sosok yang terkenal sangat menjunjung tinggi waktu, wajar saja jika Mas Charis paling alergi dengan ketidakdisiplinan.
"Baik, Mas. Maafkan kelalaian saya," Zizan pasrah.
Mas Charis mengangguk pelan. "Assalamu'alaikum." Beliau kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan kamar Zizan yang suasananya mendadak sedingin es.
Begitu langkah Mas Charis tak lagi terdengar, emosi Zizan yang tertahan langsung meledak.
Brak!
Zizan menyambar bantal di sebelahnya dan melemparkannya sekuat tenaga, tepat mendarat di wajah Ares yang masih setengah mengantuk.
"Aduh!!" Ares menjerit keras akibat hantaman bantal maut tersebut.
"Gara-gara kamu, aku kena semprot Mas Charis! Hancur, Res! Hancur sudah reputasiku sebagai santri teladan di pondok ini!" amuk Zizan.
"Ya maaf, namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa," sahut Ares sambil nyengir tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Maaf, maaf! Makan tuh maaf!" ketus Zizan sebelum akhirnya melangkah keluar kamar dengan menghentakkan kaki karena kesal.
***
Sementara itu, di koridor luar, Mas Charis sedang berjalan kembali menuju ndalem. Di tengah perjalanan, langkahnya mendadak melambat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat matanya melihat sosok wanita yang selama ini diam-diam menghuni hatinya, ia adalah Zia.
Gadis itu sedang sibuk menyapu halaman depan ndalem bersama Salsa, sahabat dekatnya. Meskipun berbeda angkatan, kedewasaan dan tingkat kedisplinan Zia yang tinggi membuat Salsa yang dua tahun lebih senior merasa sangat cocok berdiskusi banyak hal tentang pesantren dengannya. Apalagi, di kelas Salsa kini tinggal dirinya sendiri setelah teman-teman seangkatannya memutuskan untuk pulang.
Fakta pentingnya adalah Charis dan Zia sebenarnya sudah dijodohkan oleh Abah. Namun, dari Abah sendiri belum memberi ruang untuk mereka menjawab perjodohan tersebut. Mereka boleh memutuskannya setelah ngajinya selesai agar tidak mengganggu proses belajar mereka. Di samping memang hubungan itu masih hanya sekitar santri pengurus yang tahu dan belum dibawa ke arah yang lebih serius, keduanya memang berkomitmen untuk menyelesaikan tugas dan mengaji terlebih dahulu.
Langkah kaki Charis mendadak terasa berat. Ingin rasanya ia putar balik dan mencari jalan lain, tetapi sialnya, Zia telanjur melihat kedatangannya.
"Kalau aku putar balik sekarang, malah kelihatan aneh. Nanti dikira kenapa-kenapa," batin Charis panik.
Mau tidak mau, harga dirinya sebagai santri senior memaksa kakinya untuk tetap melangkah maju.
Namun, jika ia hanya lewat begitu saja tanpa menyapa, suasananya pasti akan terasa sangat kaku dan canggung. Otaknya yang biasa encer mendadak buntu, berputar keras mencari topik pembicaraan agar bisa mengobrol walau hanya sebentar.
Sebenarnya, sudah lama ia berniat menemui Zia, tetapi kesibukan pesantren selalu mengambil waktunya. Begitu jarak mereka semakin dekat, Charis berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak gugup sebelum mendekat.
Akhirnya, demi memecah kecanggungan sekaligus mencari alasan legal agar bisa berdiri di dekat Zia, sebuah ide taktis melintas di kepalanya.
"Maaf, Mbak. Tolong sampaikan pada adik saya, saya ingin bertemu nanti jam lima sore," ujar Charis kepada Zia. Nada bicaranya mendadak melunak sekitar 180 derajat, sangat jauh dari ketegasannya saat mengomeli Zizan beberapa menit lalu.
Pesan untuk adiknya itu sebenarnya bisa disampaikan nanti, tetapi ia tak perduli, yang penting ia punya alasan untuk berhenti dan berbicara dengan Zia sekarang.
"Baik, Mas. Insya Allah nanti saya sampaikan," jawab Zia lembut. Keduanya sama-sama menundukkan pandangan, menjaga pandangan, meski dalam hati ada kembang api yang meletup-letup.
"Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu." Dengan sikap yang sangat sopan dan formalitas yang kaku demi menutupi rasa salah tingkahnya, Charis melangkah pergi.
Sungguh ajaib, pesona seorang Zia mampu melunturkan aura menyeramkan dan ketegasan sang singa pesantren dalam sekejap mata.
Setelah punggung Charis benar-benar menghilang di balik tikungan koridor, Salsa langsung menghentikan aktivitas menyapunya.
"Ehem! Cie... yang baru aja ketemu calon imam masa depan," goda Salsa sambil menyenggol heboh siku Zia dengan wajah usil.
Wajah Zia yang memang sudah asli kemerah-merahan mendadak semakin merona mirip tomat matang. "Apaan sih, Mbak Salsa? Udah ah, ayo lanjut nyapu lagi nanti tidak selesai-selesai!" ujar Zia, berusaha mengalihkan pembicaraan demi menyembunyikan senyumnya yang sudah hampir lolos.
Salsa hanya tersenyum melihat sahabatnya yang salah tingkah, dan keduanya pun kembali melanjutkan kegiatan menyapu halaman dengan sisa-sisa tawa yang tertinggal.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca