NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

"Mana tasnya?" ulang Amira dengan tatapan mata menancap tajam pada Risma.

Risma mendadak salah tingkah. Kenapa setelah menikah dia jadi jauh lebih galak begini?! gumam Risma panik dalam hati.

"Uhuk! Uhuk... uhuk!"

Mendadak Risma terbatuk-batuk keras seraya memegang dadanya dengan raut wajah kesakitan.

"Kamu enggak apa-apa, Sayang?" Ratna buru-buru memeluk pundak Risma dengan penuh kasih sayang dan kecemasan mendalam.

Usai mengelus Risma, tatapan beracun langsung dilayangkan Ratna pada Amira. "Amira! Kamu tahu sendiri kalau Risma itu punya penyakit jantung, kenapa kamu terus-terusan menekannya?!"

"Aku cuma bertanya di mana tasnya, terus dia langsung mendadak sakit?" jawab Amira tanpa gentar, menatap lurus ke arah Risma. "Benaran sakit... atau cuma pura-pura sakit?"

"Lancang kamu, Amira!" bentak Ratna murka. "Bukannya memberi dukungan pada Risma, malah terus memojokkannya! Apa kamu sama sekali tidak punya rasa peduli sama adikmu sendiri, hah?! Dia itu kena penyakit jantung!"

Amira bersedekap dada, tersenyum sinis. "Kalau memang kena penyakit jantung, kenapa enggak pernah dibawa berobat ke Singapura? Kenapa rumah sakitnya itu-itu saja di sini? Lima tahun kena serangan jantung... tapi anehnya cuma bakal kambuh setiap kali dia terpojok. Aneh sekali, kan?"

"Amira, berhenti!" jerit Ratna marah besar. "Kamu benar-benar keterlaluan! Apa kamu tidak punya simpati sedikit pun sama Risma?!"

"Aku kan sudah kasih saran, bawa berobat ke rumah sakit di Singapura. Di sana fasilitasnya jauh lebih bagus, dan yang paling penting... data medisnya otentik. Aku yakin Mamah masih sanggup membiayainya, kan?"

"A-aku... aku cuma enggak mau membebani Mamah saja, Kak..." ucap Risma dengan suara terbata-bata dan napas terengah-engah yang dibuat-buat.

"Kalau dihitung-hitung, biaya hidup kamu dengan segala kemewahan yang kamu pamerkan itu sudah lebih dari cukup buat membiayai pengobatan ke Singapura!" skakmat Amira menatap tajam adik tirinya. "Kalau kamu enggak mau jadi beban, ya punya semangat untuk sembuh, dong! Atau kamu memang sengaja enggak mau sembuh biar bisa pakai alasan sakit ini buat menekan aku terus?"

"A-aku beneran sakit..." isak Risma mulai meneteskan air mata teaterikalnya. "Kenapa Kakak selalu memojokkanku... Apa Kakak baru puas kalau aku mati, hah?!"

Amira menaikkan sebelah alisnya. "Ya kalau memang tak punya semangat hidup, mending mati saja."

PLAKKK!

Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi mulus Amira. Kepalanya terlempar ke samping.

Amira meringis pelan. Diperlakukan kasar seperti ini sebenarnya sudah biasa baginya, namun rasa panas di pipinya tetap saja membakar, dan yang jauh lebih menyakitkan adalah rasa renyek di hatinya.

"Kejam kamu, Amira!" bentak Ratna dengan napas terengah karena emosi. "Sampai kapan kamu tidak bisa menerima Risma, hah?! Kamu benar-benar anak dingin yang tidak punya kepedulian!"

Amira tidak menangis. Sambil memegang pipinya yang memerah, ia menatap ibunya tanpa gentar sedikit pun.

"Aku enggak akan pernah peduli sama orang yang bermuka dua! Di depan terlihat seperti domba manis, padahal hatinya serigala buas! Dia... Risma, anak tiri kesayangan Mamah ini... adalah orang yang sudah menjebak aku sampai aku harus tidur dengan pria asing!"

"Kurang ajar!" bentak Ratna seraya melayangkan tangannya, hendak menampar Amira untuk kedua kalinya.

Namun kali ini, tangan Ratna menggantung kaku di udara. Pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh sebuah tangan kokoh yang sangat kuat.

Luki berdiri di samping Amira. Tatapannya dingin menembus manik mata Ratna.

"Sekarang Amira adalah istriku. Siapa pun tidak berhak menyakiti Amira... karena kalau ada yang berani, dia akan berhadapan langsung denganku," ucap Luki dengan suara pelan namun sarat ancaman yang mematikan.

"Lepaskan!" bentak Ratna kaget.

Luki melepaskan cengkeramannya secara perlahan.

"Pergi kalian dari sini! Aku muak lihat kalian semua!" usir Ratna.

"Ayo pergi," ucap Amira pelan pada Luki. Ia membalikkan badan dan memegang tangan Luki, mengajaknya melangkah keluar.

Melihat kepergian mereka, Angga melangkah menghampiri Ratna seraya mengelus pundaknya lembut. "Seharusnya kamu jangan terlalu keras sama anak kamu, Sayang..."

"Maafkan aku, Mas..." lirih Ratna menahan penyesalan. "Aku memang enggak bisa mendidik Amira dengan baik."

"Ini semua salahku, Mah..." isak Risma lagi seraya memeluk lengan Ratna. "Andai saja aku tidak punya penyakit ini, mungkin Kak Amira bakal suka sama aku..."

Buru-buru Ratna mendekap anak tirinya itu penuh rasa iba. "Jangan bicara begitu, Sayang... Memang Amiranya saja yang arogan dan keras kepala. Maafin Amira ya, demi Mamah..."

"Iya, Mah... Kak Amira enggak salah kok..."

"Kamu memang anak yang sangat baik," puji Ratna tulus seraya memeluk Risma erat-erat.

Di balik pundak Ratna, Risma menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis. *Amira*, lihatlah... Walau kamu yang benar, Mamahmu akan selalu membela aku.

Ratna lalu mengurai pelukannya. "Kamu baik-baik saja, kan?"

"Iya, Mah," jawab Risma manja. "Mah... nanti aku mau ketemu sama Mas Raka."

"Oh, ya? Kapan?" Wajah Ratna seketika berubah antusias.

"Nanti siang."

"Tuh, kan! Mamah bilang juga apa! Raka itu sebenarnya lebih suka sama kamu, Nak. Nanti kamu bujuk Raka ya, supaya mau meningkatkan kerja sama bisnis dengan perusahaan Mamah."

"Iya, Mah... Aku ajak makan di mana ya dia?"

"Kamu ajak makan di restoran bintang lima saja!" sahut Ratna cepat. Jarinya lincah memainkan layar ponsel. "Nanti menunya pilih yang sederhana saja, yang penting kan isi pembicaraannya."

Ting!

"Mamah sudah kirim dua puluh juta. Cukup, kan?"

"Terima kasih banyak, Mah!" ucap Risma berbinar-binar, meski di dalam hati ia menggerutu habis-habi*san.*Astaga, pelit sekali! Uang segitu mana cukup buat pamer makan di restoran bintang lima!

Ratna memang selalu gercep dan royal jika Risma yang meminta uang atau fasilitas. Namun jika berkaitan dengan Amira, ia akan memperhitungkan setiap rupiahnya hingga ke detail terkecil.

Sementara itu, Amira sedang berdiri menunggu di teras depan rumah. Setitik air mata menetes membasahi pipinya, tangannya menggenggam erat tali tas kerja.

Tiba-tiba, ia merasakan usapan lembut di pipinya. Ibu jarinya menyapu sisa air mata itu dengan sangat perlahan.

"Jangan menangis, Sayang... Kamu harus kuat," bisik Luki menatapnya teduh.

"Aku... aku sudah biasa diperlakukan begitu," lirih Amira menunduk.

"Kalau begitu, kenapa kamu masih mau bertahan di rumah ini?"

"Karena aku masih sayang sama Mamah..."

Luki berdehem kecil. "Sepertinya... Mamah kamu yang kurang begitu sayang sama kamu."

"Biarkan saja. Dia enggak sayang sama aku juga enggak apa-apa," sahut Amira menatap lurus ke depan. "Kalau aku pergi dari rumah ini, dua perampok anak-dan-bapak itu bakal menguras seluruh harta Mamah sampai habis. Jadi... alasan aku masih bertahan adalah karena aku sayang sama Mamah."

Luki menatap profil wajah istrinya dari samping seraya batinnya bergumam, 'Sebenarnya kamu ini sayang sama Mamahmu... atau sayang sama harta Mamahmu?'

"Kok mobilku belum datang juga, ya?" tanya Amira mengalihkan topik seraya melirik gerbang.

Luki melirik jam tangan mewahnya sejenak. "Sebentar lagi sampai."

"Kamu itu jangan kebiasaan merepotkan orang lain, ya! Teman-teman ojol kamu pasti lagi sibuk kejar target, malah kamu repotkan buat mengantar mobil dan motor kita ke sini."

"Tenang saja, mereka semua anak buahku kok," sahut Luki santai.

"Kamu jangan semena-mena! Walaupun kamu ketua komunitas ojol, kamu enggak boleh seenaknya menyuruh-nyuruh teman kamu!" omel Amira.

Luki cuma bisa menelan ludah. 'Aku ini calon iNVESTOR  yang mau mengakuisisi aplikasi driver online-nya, Sayang... bukan ketua komunitas ojol,' gumam Luki dalam hati.

"Iya, iya... lain kali aku enggak akan merepotkan mereka lagi," jawab Luki mengalah.

Tak lama kemudian, dari luar gerbang tampak sebuah mobil Grand Livina hitam milik Amira melaju pelan, diikuti oleh sebuah motor NMAX mulus di belakangan.

"Motor kamu bagus juga ya... Berapa cicilan per bulannya?" tanya Amira mengamati motor NMAX tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!