"Kau terlalu banyak menyimpan kebohongan sehingga kejujuran mu di pandang semu sekarang."
Kepergian Reno bukan lah sesuatu yang salah, aku yang salah disini aku paham arti perginya. "Jangan pergi! jangan tinggalkan rumah."
Dia amat marah setelah berita itu sampai ke telinga nya...
yukk buruan cari sepenggal kalimat ini dibalik cerita aku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video
Aku memilih duduk di sebelah pak amin dengan dalih supaya mereka lebih tenang di depan,"Iyalah Nang, kan kau tau jalan nya." kebiasaan orang kampung! Kan ada maps enggak mungkin lah aku jadi juru jalan Jakarta. "Iya Tante." Aduhh ikut munafik banget aku.
Rumah makan khas Batak ku perkenalkan kepada Tante bahwasanya dijakarta juga ada rumah tempat makan seperti di kampung hanya kebanyakan disini perantau dan juga anak-anak muda Batak untuk sekedar bernostalgia tentang budaya Batak lewat makanannya.
"Pak Amin, Bapak ini ada uang buat makan.
Bapak pilih sendiri ya pak, 1 jam an lagi jemput kita juga gak apa-apa. Intinya jangan kelewatan malam kasihan bapak juga baliknya jauh."
"Terimakasih Bu Adri." ucap nya seraya pergi meninggalkan kami bertiga. "Eh dek lupa aku nawarin kau, enggak sopan kali lah." kata ku dengan logat Medan.
"Bisanya kau makan disini kan?"
"Bisa kak," senyuman manis gadis polos dari kampung, teringat akan seseorang. "Pesanlah ini menu nya."
"Ia." Tante pesan apa yang dia mau, aku tau untuk keuangan dia enggak mungkin kekurangan makanya aku berani bawa dia ke tempat makan kelas premium se Cawang untuk dia nikmati. "Makan ini sama ini aja aku." Hah? Aku? Anak sebiji ini?
Kau dek? Enggak ada gitu kalimat keluar dari mulut nya.Beri jeda dulu 2-5 menitan,benaran enggak ada. Sudah ku duga ternyata memang tidak ada yang dapat mengubah tabiat manusia. "Kamu dulu lah dek, kakak masih bingung." Kalau punya akal sih jelas ini nyindir ya, "Eh iya-iya pilih lah, nanti kakak mu pesan katanya."
"Mau mie gomak kuah aja kak," ku lihat di menu itu harga paling murah. "Kak"
"Nasi paket satu 2,
Nasi paket 2 nya satu.
mie gomak 2.
teh manis 3 kong.
sama...ini lah kak godok-godok dan ketan hitam 20.000 ya." Ia mengangguk pelan, mengulangi orderan kami ,sikap Tante ku yang bikin muak terlihat mulai sekarang.
"Banyak kali itu Nang, dihabiskan nya itu."
"Enggak lah Tan, kalau misalnya enggak habis kita bawa pulang.Enggak biasa dirumah masak pagi aku Tan."
"Yang udah nikah nya kau?"
"Enggak,takut aku nikah... pulang pula karma yang enggak terlihat ke aku." Ya Tuhan sebenarnya dengan memberikan tumpangan ini aku berharap dapat pembalasan apa sih kok keknya malah buat dia tambah sakit aja.
Pesanan itu habis hitungannya,ada beberapa sisa cuman gak mau ku bungkus terlalu jorok untuk di makan."Bungkus lah," kata Tante berbisik.
"Jangan kayak orang susah lah Tan," aku marah cuman mbaknya tersenyum membuat wajah marah ku juga ikut tertawa kecil.
"Berapa hitungan nya kak?" Ia membawa struk pembelian ke kasir, ketika kasir sebut harganya Tante mulai syok.Makanan segini hampir habis tiga ratus ribu batinnya pasti, ku ambil uang dengan pembayaran tunai, kenapaa??? Ya sengaja.
"Murah ya" kata Tante tersenyum,anjirr kalah saing batinku.Ini sendirian atau dia tau permainan ku, "Kalau dikampung masih segitu makan Tan?"
"Enggak lah, SOP nya aja kalau dikampung dua puluh sampai dua puluh lima ribu satu. Ini paket lengkap tujuh puluh lima ribu,enak lagi." Anjirrr benaran kalah telak sih ini.
"Iya ya Tan,"Muak banget sumpah, hah Tuhan ehhh kok manggil Tuhan. Kata-kata apa itu?? Sejak kapan kau memanggil nya lagi.
Barang-barang dibantu turun oleh pak Amin setelahnya sampai ia bertanggung jawab benar atas mobil, enggak sayang kan bayar jasanya kalau begini. "Tante, disini kan ada dua kamar ; satu pake kipas itu di kamar belakang satu sama aku. Kalau mau sama aku bilang ya Tan,kita bersih-bersih dulu."
Ia membuka tas, ternyata ada ikan mas dibuat di kup gitu ada nitak dan juga makanan lainnya, mungkin penangkal bala kali ya kan takut juga dia kalau ku racun nanti makanan nya disini. "Nang, sini dulu."Panggil Tante.
Padahal aku sudah melepas pakaian atas ku terpaksa pakai lagi deh. "Sofi...sudah lama Tante pribadi enggak ingat atau bahkan mencari mu Nang, entah apa pun itu persoalan kita dimasa lalu Tante minta maaf ya."
Aku menangis haru dengan kata-kata maaf, selama ini itu Lo yang ku tunggu dari Mama mau pun kalian sekeluarga. "Ia Tan," berat namun aku terus mencobanya sampai ke titik mana usaha damai ini berakhir.
Sulangan ikan dan juga kain tenun bermotif warna merah di selendang pada ku, malam itu Tante tidur dengan ku sementara adek itu mengambil kamar belakang untuk dia sendiri.
"Tante kalau mau tidur, duluan aja ya Tan. Aku masih capek."
"Justru bukan karena capek enak tidur?" Tante mulai menarik selimut, meletakkan handphone nya dan mengambil tempat posisi tidur. "Enggak bisa aku Tan," kata ku.
Tante terlebih dahulu pejamkan matanya, terlelap pulas tanpa ada aba-aba lebih lanjut. Siap dengan hati rasa ngantuk mengajak untuk segera berbaring disebelahnya Tante, malam ini rumah tidak sepi lagi.
POV: MIMPI
Aku datang lagi kerumah Paman, rumah yang penuh luka itu... dan kalian tau kan di bab sebelumnya aku sudah jelaskan soal denah rumah Paman ku di kampung terbengkalai itu. Bahkan kini Paman ku sudah pindah ke daerah yang jauh lebih ramai.
Anak itu datang lagi, aku dan dia berdua di sekolah tepat didepan rumah Paman. Disana ada pohon alpukat tinggi nya bisa ku panjat artinya aku masih kecil dalam mimpi itu, dia dibawah ku "Kamu datang," katanya. Aku berusaha mengingat detail wajahnya tapi enggak kunjung bisa ku dapatkan.
"Iya." kataku
"Buanglah baju mu yang kau pake itu,supaya nanti kalau kau sudah dewasa datang lagi ketempat ini." Katanya kepada ku, aku yakin itu suatu tanda. Aku mengikutinya cuman karena tangan ku kotor menyentuh tanah kuning aku ingin mencuci nya ke suatu tempat, aku melewati gereja tua Katolik itu satu rumah dan terakhir aku ingat itu rumah nya, rumah teman masa kecil ku itu namun kala aku memasuki rumah itu, ketakutan itu timbul lagi. Rumah tua dengan banyak kamar mandi, ada Jahe berhamburan dan aku teriak ketakutan dengan penampakan rumah itu, badanku kaku namun berusaha digerakkan.
"Sofi-sofi kenapa?" Ternyata Tante berusaha bangunin aku,lega rasanya.untuk pertama kalinya aku bisa kalah dengan ketenangan. Memilih untuk tidur lagi dan mengabaikan Tante malam ini.
Keesokan pagi Tante bangun lebih awal dari kami semua, dia tidak bermalas-malasan dan sigap membersihkan semua rumah sekaligus sudah masak dengan bahan yang ada. Dia datang ke kamar menghampiri ku dan segera membangunkan sebab hari sudah siang.
"Kemarin mimpi apa kau?"
"Panjang kalau di jelaskan Tan," aku tunduk dan segera membersihkan diri. Kehidupan sudah ada makanan di meja makan ku rasakan dengan adanya Tante. Kalau di rumah Tante Yanti enak, cuman Tante Yanti tidak memanjakan ku dengan persiapan konyol seperti ini, dia lebih aware terhadap kebutuhan ku ketimbang perhatian seperti ini.
"Iya cerita pun enggak apa-apa."
Apakah orang ini bisa di percaya? Kalau bisa pasti mungkin aku menemukan siapa laki-laki itu sebenarnya, apa dia juga mencari ku seperti aku mencari dia sekarang.