"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.
Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.
Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.
*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*
Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.
Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Danau Biru
Surya tidak langsung bertanya tentang dua huruf di ponsel Ferdy.
IT.
Ia menyimpan huruf itu di kepala seperti menyimpan pisau kecil di balik lengan. Di dunia yang baru ia masuki, pertanyaan yang terlalu cepat bisa membuat pintu tertutup sebelum ia melihat bentuk ruangan.
Pintu itu justru terbuka malam berikutnya.
Maya mengirim pesan singkat.
Datang ke Nara Bar. Irene ingin bicara.
Bar itu berada di lantai atas gedung kecil di Senopati. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu gelap. Orang-orang yang datang tampak seperti tidak perlu difoto untuk membuktikan mereka punya uang. Maya duduk di sofa sudut dengan jaket kulit, sementara Irene berdiri dekat jendela, memandang lampu Jakarta seperti memandang papan catur.
"Pak Surya," kata Irene.
"Bu Irene."
Maya mengangkat gelas. "Malam ini tidak ada Bu. Kalau kalian terus formal, aku pulang."
Irene duduk. Senyumnya tipis. Namun, matanya lebih lelah daripada biasa.
"Saya dan Kevin Tanuwijaya punya ayah yang sama," katanya tanpa pembukaan.
Surya diam.
Ia sudah terbiasa dengan pengkhianatan. Namun, kalimat itu tetap membuat punggungnya menegang.
"Budiman?"
"Ya. Ibu saya istri pertama yang tidak pernah benar-benar dimenangkan dalam perang keluarga. Ratna Lestari datang belakangan, membawa Kevin, membawa ambisi, dan membawa cara bertahan yang lebih kotor."
Maya menaruh gelas. Kali ini ia tidak bercanda.
Irene melanjutkan, "Enam tahun lalu, ibu saya mengalami kecelakaan di Danau Biru. Mobil masuk ke air. Berita resmi menyebut rem blong dan jalan licin. Saya tidak pernah percaya."
"Kevin?" tanya Surya.
"Saya tidak punya bukti cukup. Tapi sebelum kecelakaan, ibu saya sedang menelusuri pengalihan aset keluarga Tanuwijaya yang menguntungkan Ratna dan Kevin. Setelah kecelakaan, ibu saya koma. Sampai sekarang."
Suara Irene tidak pecah.
Justru karena tidak pecah, Surya merasa dada ruangan itu semakin berat.
"Jadi musuh kita sama," kata Maya.
"Kevin," ucap Surya.
Irene menatapnya. "Kevin, dan orang-orang yang membiarkannya tumbuh tanpa batas."
Maya memanggil pelayan untuk menuang ulang minuman. Irene minum sedikit, lalu menaruh gelas dengan jari yang akhirnya bergetar kecil.
"Ada hal lain."
Surya menunggu.
Irene membuka ponsel. Foto lama muncul di layar. Danau, sepeda rusak, ambulans, seorang remaja laki-laki basah kuyup duduk di tepi jalan dengan selimut tipis di bahu. Wajahnya lebih muda, lebih kurus. Namun, mata itu...
Surya mengenali dirinya sendiri.
"Danau Biru," bisik Irene.
Kenangan yang lama tertutup lumpur muncul perlahan.
Enam tahun lalu, ia masih mahasiswa yang bersepeda sendirian saat libur semester. Ia melewati jalan kecil di sekitar Danau Biru ketika mendengar suara benturan, lalu teriakan pendek yang terpotong air. Mobil hitam menembus pagar pembatas dan miring masuk ke danau.
Orang-orang di pinggir jalan berteriak.
Tidak ada yang melompat.
Surya melompat.
Air danau dingin seperti menggigit tulang. Ia memecah kaca samping dengan batu yang ia ambil dari dasar dangkal. Di dalam mobil, seorang perempuan dewasa tidak sadar. Di kursi belakang, seorang gadis muda terjebak sabuk pengaman, matanya terbuka penuh ketakutan.
"Tolong..." gadis itu berbisik di dalam air yang masuk.
Surya tidak berpikir heroik. Ia hanya menarik, memotong sabuk dengan pecahan kaca, mendorong gadis itu keluar, lalu kembali lagi untuk ibunya. Paru-parunya terasa terbakar. Tangannya berdarah. Ketika akhirnya tubuh ibu itu diseret ke tepi, Surya muntah air dan hampir pingsan.
Setelah ambulans datang, seorang petugas menanyakan namanya. Surya menjawab, lalu pergi sebelum keluarga korban datang. Ia masih mahasiswa miskin. Ia takut diminta memberi keterangan panjang, takut biaya rumah sakit, takut urusan orang kaya yang tidak ia pahami.
Ia hanya ingat gadis itu hidup.
Ia tidak ingat wajahnya.
Sekarang wajah itu duduk di depannya, memakai nama Irene Tanuwijaya.
Irene menatapnya dengan mata merah.
"Kamu menyelamatkan nyawaku," katanya. "Dan kamu bahkan tidak ingat."
Surya tidak tahu harus menjawab apa.
Maya mengusap wajahnya, pura-pura kesal. "Aku benci cerita yang membuatku ingin menangis."
Irene tertawa kecil. Namun, air matanya jatuh juga.
"Enam tahun ini, saya mencari kamu. Tidak agresif. Tidak seperti orang gila. Tapi saya tahu nama Surya Prasetyo, mahasiswa hukum dari Solo. Saya tahu kamu lulus dari UNAIR. Saya tahu kamu menikah dengan Nadia dan masuk rumah Kusuma. Saya juga tahu kamu tidak bahagia."
"Maserati itu..."
"Saya ingin memastikan kamu masih hidup."
"Transfer dua juta?"
"Kamu hampir ditabrak mobil dan tetap mau menolak bantuan. Saya tidak punya cara lebih halus saat itu."
Surya menunduk. Seluruh jejak yang dulu terasa kebetulan mendadak membentuk garis.
Maserati perak.
I. Tanuwijaya.
Sentana.
Ferdy.
IT.
Ia mengangkat kepala. "Ferdy mengirim pesan kepada IT."
Irene tidak terkejut.
Maya menatap Irene. "Kamu akhirnya mau buka?"
Irene menghapus air mata dengan tisu, lalu kembali menjadi perempuan yang bisa mengendalikan ruangan.
"Saya tidak memiliki Sentana secara langsung," katanya. "Itu terlalu bodoh. Tapi saya punya pengaruh pada orang yang membantu menyelamatkan kantor itu ketika hampir bangkrut. Ferdy orang saya dalam arti dia berutang budi dan berbagi tujuan."
"Tujuan apa?"
"Memastikan kamu punya tempat berdiri ketika kamu akhirnya keluar dari rumah Nadia."
Surya merasa tenggorokannya kering.
"Jadi aku masuk Sentana bukan karena rekomendasi Meilu?"
"Rekomendasi Meilu membuka pintu depan. Saya memastikan pintu itu tidak dikunci dari dalam."
Kalimat itu jatuh lebih berat daripada pengakuan cinta mana pun.
"Kenapa tidak muncul lebih awal?" tanya Surya. "Kenapa membiarkan aku tetap di rumah Nadia?"
Irene menerima pertanyaan itu tanpa menghindar. "Karena bantuan yang datang terlalu cepat bisa berubah menjadi rantai lain. Kalau saya menarikmu keluar sebelum kamu sendiri ingin keluar, kamu hanya pindah dari kandang Nadia ke kandang budi saya."
Maya bersandar di sofa. "Dan karena Irene punya kebiasaan buruk: menyelamatkan orang sambil pura-pura tidak peduli."
Irene meliriknya. "Kebiasaan itu menyelamatkanmu juga."
"Aku tidak membantah."
Surya menatap dua perempuan itu. Satu tajam seperti api terbuka, satu dingin seperti kaca tebal. Mereka berbeda. Namun, malam ini ia memahami kenapa mereka bisa menjadi sekutu. Keduanya pernah dirusak oleh dunia Kevin, dan keduanya memilih tidak menangis di depan musuh.
"Mulai sekarang," kata Surya, "kalau kita melawan Kevin, tidak ada rahasia yang membahayakan satu sama lain."
Irene mengangguk. "Setuju."
Maya mengangkat gelas. "Akhirnya. Aliansi yang tidak terlalu membosankan."
Surya berdiri, berjalan ke jendela, lalu memandang Jakarta. Selama ini ia mengira dirinya bangkit hanya karena amarah, bukti, dan kerja keras. Semua itu benar. Tetapi di baliknya, ada tangan yang selama enam tahun tidak menuntut balasan.
Irene berdiri di sampingnya.
"Surya," katanya pelan, "kamu pikir kamu masuk ke Sentana karena kebetulan?"