NovelToon NovelToon
Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Setelah Dikhianati Istri, Aku Menjadi Penguasa Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Dokter Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Harem
Popularitas:87.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Arka memarkirkan Porsche di pinggir jalan yang cukup sepi. Ia menyalakan lampu hazard, lalu memeriksa keadaan Yulia dengan wajah tegang. Wanita itu masih gemetar, tapi napasnya mulai lebih teratur setelah Arka menekan beberapa titik di tubuhnya.

Pengetahuan yang muncul dari warisan Hantala terasa aneh, tetapi bekerja. Arka bisa merasakan ada panas tidak wajar yang mengalir di tubuh Yulia, seperti obat perangsang yang dipaksa masuk ke pembuluh darah. Jika dibiarkan, wanita itu tidak hanya kehilangan kendali, tapi juga bisa pingsan atau mengalami gangguan jantung.

"Bu Yulia, dengar saya," ucap Arka pelan. "Tarik napas. Jangan ikuti rasa panasnya."

Yulia menggigit bibir. Wajahnya masih merah, rambutnya berantakan, dan matanya dipenuhi rasa malu saat kesadarannya pelan-pelan kembali. Ia menatap Arka seperti baru sadar siapa yang sedang memegang bahunya.

"Arka?" suaranya pecah. "Kamu... muridku dulu?"

"Iya. Saya Arka Pradana."

Yulia langsung menjauh sebisanya, menutup tubuhnya dengan jas yang diberikan Arka. Wajahnya semakin pucat saat menyadari keadaannya. "Maaf. Aku tidak tahu tadi... aku benar-benar..."

"Tidak perlu minta maaf. Ibu dibius."

Mata Yulia berkaca-kaca. Ia menunduk, berusaha merapikan gaun dan rambutnya dengan tangan yang masih gemetar. Bagi seorang wanita yang pernah berdiri di depan kelas dengan sikap anggun, terlihat kacau di depan mantan muridnya pasti jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik.

"Tolong jangan ceritakan pada siapa pun," ucapnya lirih. "Aku mohon."

Arka mengangguk. "Saya tidak akan cerita. Tapi saya harus antar Ibu pulang atau ke rumah sakit."

"Tidak perlu."

"Kondisi Ibu belum aman."

Yulia tetap menggeleng. Ia membuka pintu mobil, turun dengan langkah goyah, lalu menghentikan taksi online yang kebetulan lewat setelah beberapa menit. Arka tidak memaksanya. Namun begitu taksi itu pergi, ia langsung menyalakan mesin dan mengikuti dari belakang.

Ada yang janggal. Dua pria tadi jelas tidak sekadar iseng. Yulia juga terlalu takut untuk pulang dengan tenang. Selain itu, saat Arka memakai tenaga Hantala, ia merasakan sesuatu yang membuatnya terkejut. Yulia sudah menikah, tapi tubuhnya tidak menunjukkan tanda seperti wanita yang hidup sebagai istri dalam arti sebenarnya. Bukan urusan Arka sebenarnya, tapi justru itu membuat semuanya semakin aneh.

Taksi berhenti di sebuah apartemen cukup mewah di kawasan Kuningan. Yulia turun, masuk ke lobi, lalu naik lift. Arka menunggu beberapa saat sebelum ikut masuk melalui tangga darurat.

Saat sampai di lantai lima belas, ia mendengar suara laki-laki dari salah satu unit yang pintunya tidak tertutup rapat.

"Dia janji tutup mulut, kan?"

Arka berhenti.

Ia mendekat tanpa suara dan menyalakan perekam di ponselnya.

Di dalam unit, seorang pria berkacamata dengan piyama mahal sedang mencengkeram pergelangan tangan Yulia. Arka mengenalnya. Raka Surya, putra kepala sekolah tempat Yulia dulu mengajar, sekaligus suami Yulia.

"Kamu bilang cuma diminta menemani minum," suara Yulia bergetar karena marah. "Tapi kamu menjualku ke temanmu sendiri. Kamu masih manusia?"

Raka menamparnya.

Yulia terhuyung dan membentur rak sepatu. Arka hampir langsung menendang pintu, tapi ia menahan diri beberapa detik untuk merekam lebih banyak.

"Jangan sok suci!" bentak Raka. "Kalau bukan keluargaku yang membayar biaya rumah sakit bapakmu, dia sudah lama mati. Kamu tinggal di apartemen ini, makan dari uangku, pakai nama keluargaku. Sekali saja aku minta kamu bantu, kamu malah membuat malu!"

"Membantu?" Yulia menatapnya seperti tidak percaya. "Kamu menyuruh istrimu tidur dengan pria lain supaya rahasiamu tidak terbongkar."

Wajah Raka berubah. Ia mencengkeram rambut Yulia dan menariknya ke arah pintu. "Sekarang kamu ikut aku. Bima sudah marah besar. Kamu harus minta maaf padanya."

Nama Bima membuat mata Arka langsung dingin.

Bima lagi.

Rupanya pria itu bukan hanya meracuni hidupnya bersama Hana, tapi juga menyeret Yulia ke dalam permainan busuknya.

"Aku tidak mau!" Yulia berusaha melepaskan diri. "Lebih baik aku mati daripada kembali ke sana."

Pintu unit ditendang dari luar.

Raka terkejut dan baru menoleh saat tubuhnya sudah lebih dulu dihantam tendangan Arka. Pria itu terlempar ke meja ruang tamu sampai gelas di atasnya pecah berantakan.

"Arka?" Yulia menatapnya dengan wajah syok.

Arka menarik Yulia ke belakangnya, lalu menatap Raka yang sedang memegangi perut.

"Sentuh dia lagi, aku patahkan tanganmu."

Raka mencoba berdiri. "Siapa kamu berani ikut campur urusan rumah tangga orang?"

"Mantan muridnya." Arka mengangkat ponsel dan memutar sebagian rekaman. Suara Raka yang mengaku menjual istrinya sendiri terdengar jelas dari speaker. "Dan kebetulan, aku punya hobi menyimpan bukti."

Wajah Raka langsung pucat.

"Yulia, kamu kerja sama dengan dia?"

Yulia belum sempat menjawab. Raka sudah mengambil pisau buah dari meja dan menerjang Arka. Gerakannya kacau, lebih banyak marah daripada berani.

Bagi Arka, gerakan itu terasa lambat. Ia menggeser tubuh sambil menarik Yulia menjauh, lalu menangkap pergelangan tangan Raka. Teknik kuncian dari warisan Hantala bergerak begitu saja melalui tubuhnya.

Krek.

Raka berteriak dan jatuh berlutut. Pisau buah terlepas ke lantai.

Arka sendiri sedikit terkejut melihat pergelangan tangan pria itu terkilir begitu mudah. Namun ia tidak menunjukkannya. Ia menunduk dan berbicara dekat wajah Raka.

"Kalau besok rekaman ini sampai ke keluarga besar sekolahmu, menurutmu ayahmu masih bisa jadi kepala sekolah?"

Raka meringis kesakitan, tapi tidak berani menjawab.

Arka menarik Yulia keluar dari unit. Di lift, wanita itu berdiri diam dengan wajah pucat. Begitu mereka sampai di parkiran dan masuk ke mobil, Yulia akhirnya menangis tanpa suara. Arka mengambil tisu dari dashboard dan menyerahkannya.

"Aku antar ke tempat aman," ucap Arka sambil menyalakan mesin.

Yulia menerima tisu itu, tapi tidak langsung mengusap air matanya. Ia menatap tangannya sendiri cukup lama, seakan baru sadar tubuhnya masih gemetar. Obat yang tadi masuk ke tubuhnya memang sudah ditekan oleh Arka, namun sisa panasnya belum sepenuhnya hilang. Ditambah semua yang baru saja terjadi di apartemen, napas Yulia terdengar tidak stabil.

"Aku tidak punya tempat aman," katanya pelan.

Arka tidak langsung menjawab.

Yulia menyeka pipinya, lalu menatap kaca depan yang gelap. "Dari luar, semua orang pikir hidupku baik. Suami anak kepala sekolah, tinggal di apartemen bagus, punya biaya untuk merawat ayah. Padahal aku hanya seperti barang jaminan."

"Kamu bisa keluar dari sana."

"Dengan uang apa? Biaya rumah sakit ayahku saja puluhan juta per bulan. Raka selalu memakai itu untuk menahanku." Yulia tertawa kecil, tapi suaranya pecah. "Lucu ya? Dulu aku mengajar murid-muridku supaya berani melawan hidup. Aku sendiri malah terkurung."

Arka menoleh. Ia masih belum terbiasa mendengar Yulia bicara serapuh itu. Dalam ingatannya, wanita ini selalu berdiri di depan kelas dengan suara lembut dan senyum tenang, bukan duduk di kursi penumpang dengan gaun kusut dan mata sembap seperti sekarang.

Yulia menatapnya. Sisa obat membuat pipinya masih merah, tetapi matanya sudah jernih. Rasa malu di wajahnya bahkan lebih jelas justru karena ia sadar sepenuhnya. Tangannya bergerak dari pangkuan, menyentuh punggung tangan Arka di dekat tuas persneling, lalu menahannya di sana.

"Jangan antar aku pulang dulu," ucapnya.

Arka menoleh.

Yulia tidak memberi pidato. Ia melepas jas dari bahunya dan melemparkannya ke kursi belakang. Gaun kremnya kusut, bagian bawahnya tersingkap sampai memperlihatkan paha yang masih gemetar. Ia malu, tetapi saat Arka belum bergerak, Yulia justru meraih kerah kemejanya.

"Jangan cuma lihat," bisiknya.

Arka mematikan mesin, menarik rem tangan, lalu mengunci pintu mobil. Klik kecil itu seperti memotong sisa keraguan di antara mereka. Detik berikutnya, ia sudah menarik pinggang Yulia dan mencium bibirnya.

Ciuman itu keras, panas, dan tidak memberi ruang untuk kalimat panjang. Yulia sempat menahan dada Arka dengan kedua tangan, tetapi dorongan itu segera berubah menjadi cengkeraman. Bibirnya membalas dengan canggung, napasnya berantakan, tubuhnya masih terlalu hijau untuk menyembunyikan reaksi sendiri.

Arka menurunkan sandaran kursi dan menariknya ke pangkuan. Ruang Porsche yang sempit membuat lutut mereka saling menabrak, membuat gaun Yulia semakin naik. Wanita itu mengeluarkan suara tertahan ketika paha telanjang menyentuh celana Arka yang panas oleh tubuhnya. Wajahnya langsung merah sampai ke telinga.

"Arka..." panggilnya, lebih mirip keluhan daripada penolakan.

Arka tidak menjawab. Telapak tangannya bergerak dari pinggang ke punggung, menekan tubuh Yulia agar menempel lebih rapat, lalu turun menyusuri pahanya. Sentuhan itu membuat Yulia kaku seketika. Matanya terpejam rapat, bahunya tegang, tetapi tangannya justru meremas kemeja Arka sampai kusut.

Ia memang pernah menjadi istri Raka, tetapi tubuhnya tidak punya kebiasaan seorang wanita yang dicintai laki-laki. Setiap sentuhan Arka terasa asing, panas, dan membuatnya panik oleh reaksinya sendiri.

Arka mencium lehernya. Yulia menggigil, lalu memiringkan kepala tanpa sadar, memberi ruang lebih banyak. Ketika jemari Arka menyusup ke balik lipatan gaunnya dan menemukan panas basah yang tidak bisa ia sembunyikan, napas Yulia langsung patah. Pahanya sempat merapat karena malu, namun Arka menahannya dengan satu tangan, cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa kabur dari rasa yang sudah ia bangunkan sendiri.

"Terlalu sensitif," gumam Arka di dekat telinganya.

Yulia menggigit bibir. Matanya basah oleh malu, bukan tangis. "Jangan tertawa."

"Aku belum tertawa."

"Kamu pasti mau."

Arka menunduk dan menggigit ringan bahunya. Yulia terkejut, tubuhnya menegang, lalu suara kecil lolos sebelum sempat ia tahan. Suara itu membuat mata Arka menggelap. Ia menarik Yulia lebih rapat, membiarkan wanita itu merasakan sendiri betapa panasnya laki-laki yang sejak tadi ia tarik mendekat.

Yulia mencoba membalas. Tangannya yang gemetar turun dari bahu Arka, meraba dengan takut-takut, lalu berhenti mendadak saat menyentuh panas keras yang menunggu di balik kain. Ia seperti tersengat. Wajahnya memerah hebat, dan untuk sesaat ia benar-benar tidak tahu harus meletakkan tangan di mana.

Arka menangkap pergelangan tangannya, menuntunnya pelan.

"Begini," ucapnya rendah.

Yulia mengikuti dengan kikuk. Gerakannya kacau, terlalu lembut, kadang terlalu takut, namun justru kepolosan itu membuat napas Arka semakin berat. Ia menahan tengkuk Yulia dan menciumnya lagi, lebih dalam dari sebelumnya, sampai wanita itu tidak sempat bertanya apa pun.

Kaca mobil mulai berkabut. Jaket Arka jatuh menutupi konsol tengah, rambut Yulia lepas dari ikatan, dan gaunnya sudah tidak lagi rapi. Tubuhnya berkali-kali menegang saat Arka mengubah posisi, seakan setiap kedekatan baru membuatnya belajar ulang bagaimana bernapas. Ia masih malu, tetapi saat Arka sedikit menjauh, lengannya langsung melingkar di leher laki-laki itu.

"Jangan pergi," bisiknya di sela napas.

"Aku di sini."

"Kalau begitu..." Yulia menunduk, suaranya hampir hilang. "Lebih dekat."

Permintaan pendek itu membuat Arka tidak lagi menahan diri. Ia memegang pinggang Yulia lebih erat, menuntunnya pelan sampai tubuh mereka benar-benar melewati batas terakhir. Pada detik itu, Yulia membeku. Napasnya tertahan panjang, kedua tangannya mencengkeram bahu Arka, dan wajahnya pucat merah seperti tidak tahu harus menangis atau memaki. Rasa asing yang terlalu penuh membuat tubuhnya menegang kuat, hampir menolak karena gugup, tetapi lengannya justru memeluk Arka semakin erat.

"Peluk aku," bisiknya dengan suara bergetar.

Arka menahan pinggangnya, membiarkan Yulia menyesuaikan napas. Beberapa saat kemudian, tubuh kaku itu mulai melunak sedikit demi sedikit. Malu masih memenuhi wajahnya, tetapi ketika Arka bergerak lagi, Yulia hanya menenggelamkan wajah di bahunya dan menggigit kain kemejanya agar suara yang keluar tidak terlalu keras.

Setelah batas itu terlewati, Arka membimbing tubuhnya mengikuti ritme yang lebih dalam dan lebih panas. Awalnya Yulia masih kacau, terlalu rapat, terlalu gugup, membuat setiap gerakan terasa seperti membuka rasa malu yang sudah bertahun-tahun terkunci. Namun semakin lama, kekakuan itu berubah menjadi pelukan yang putus asa. Tubuhnya berkali-kali mengunci dan melemah di atas pangkuan laki-laki itu, seolah baru kali ini ia benar-benar mengerti mengapa tubuh perempuan bisa kehilangan kendali.

Di luar, lampu parkiran berkedip redup. Tidak ada yang melihat apa yang terjadi di dalam Porsche gelap itu. Dari luar, mobil itu hanya tampak diam sesekali bergoyang pelan, kaca filmnya tertutup embun. Di dalam, napas mereka saling berburu, kain bergeser di ruang sempit, dan Yulia semakin sulit menyembunyikan betapa tubuhnya menjawab setiap gerakan Arka.

"Pelan sedikit..." Yulia merintih rendah, lalu segera memeluknya lebih erat seolah takut Arka benar-benar melambat.

Arka tertawa serak di dekat telinganya. "Kamu sendiri yang menarikku."

Yulia tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, malu setengah mati, tetapi pinggangnya bergerak lebih jujur daripada mulutnya. Arka menahan dagunya dan memaksanya menatap. Mata Yulia berkabut, bibirnya merah karena terlalu sering digigit, dan wajah anggun mantan gurunya itu kini runtuh oleh panas yang tidak lagi bisa ia pura-purakan.

Setelah itu, Porsche di sudut parkiran benar-benar tidak tenang. Yulia beberapa kali menutup mulutnya sendiri, tetapi suara kecil tetap lolos di antara jari-jarinya. Setiap kali tubuhnya menegang, Arka memeluknya lebih kuat, membuatnya tidak jatuh, membuatnya tidak punya tempat untuk berpura-pura tenang.

Jauh di luar mobil, lift parkiran berdenting.

Yulia langsung membeku di pelukan Arka, napasnya masih berantakan, sementara bayangan seseorang muncul dari arah lobi apartemen.

1
Sampe Batara
bagus menarik untuk dibaca
Don Juan
Lanjut Thor
Sampe Batara
👍 menarik untuk dibaca
Ismed Aidil
sudah 3 hari gak bisa lanjutan cerita, ya saya hapus aja aplikasi ini ! kecewa banget !
Jefry Maarebia
kalau di baca enak alur ceritanya ,aku puas membacanya ,lanjut..bosku.......
Ismed Aidil
mantap...lanjut thor !
Ismed Aidil
wau seru banget
Don Juan
Mantap thor👍
Ismed Aidil
lanjut cerita
Eva Rosita
up yg banyak and tiap hari ya thor💪
Ismed Aidil
seru sekali cerita nya
Don Juan
Good job Thor
Ismed Aidil
tambah seru !
Dian Purnomo
lanjut thor
Dian Purnomo
tnkyu thor
Don Juan
Terima kasih updatenya thor👍
Don Juan
Ditunggu kelanjutan ceritanya thor👍
Don Juan
Good job
Ismed Aidil
seru, lanjut !
Ismed Aidil
seru banget ! lanjut !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!