Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Jakarta
Kabar Jessica diterima jalur SNBP datang pada Senin pagi.
Ia tidak berteriak. Tidak melompat. Tidak menangis. Ia hanya berdiri di depan papan pengumuman digital yang dibuka lewat laptop guru BK, menatap namanya selama beberapa detik, lalu menghela napas seperti orang yang baru selesai menahan sesuatu terlalu lama.
Angie justru yang berteriak.
"Jessica!"
Seluruh ruang BK menoleh. Jessica menutup wajahnya dengan satu tangan, tetapi telinganya merah. Erlyn berdiri di sampingnya, ikut melihat baris nama itu.
Tung Jessica.
Program Desain Komunikasi Visual.
Jakarta.
"Kamu diterima," kata Erlyn.
"Aku bisa baca," jawab Jessica, tetapi suaranya sedikit bergetar.
Angie memeluknya lebih dulu. Jessica kaku selama dua detik, lalu menyerah. Erlyn ikut memeluk mereka, dan untuk beberapa saat, tiga anak perempuan itu berdiri di ruang BK seperti tidak peduli guru, laptop, atau tatapan orang lain.
Setelah semua ucapan selamat selesai, kenyataan datang pelan-pelan.
Jessica akan pindah lebih cepat untuk mengikuti program persiapan dan tinggal dengan tantenya di Jakarta. Tidak hari itu, tetapi tidak lama lagi. Dua minggu, mungkin kurang. Ia harus mengurus berkas, mencari kos cadangan, membeli perlengkapan, dan menyerahkan beberapa tugas lebih awal.
"Cepat sekali," kata Angie di kantin.
"Lebih cepat lebih baik," jawab Jessica.
"Kamu tidak sedih meninggalkan kami?"
"Aku sedih meninggalkan roti keju kantin."
Angie memegang dada. "Aku hanya setara roti?"
"Kadang di bawah."
Erlyn tertawa, tetapi tawa itu tidak penuh. Ia senang untuk Jessica. Sungguh. Jessica pantas pergi ke tempat yang ia pilih sendiri. Namun bagian kecil dalam dada Erlyn terasa kosong membayangkan satu orang yang berani berdiri di depan kelas untuknya akan pergi.
Jessica melihatnya.
"Jangan pasang wajah begitu."
"Wajah apa?"
"Wajah anak yang ditinggal."
Erlyn menunduk pada teh botolnya. "Aku tidak begitu."
"Begitu."
Angie mengangguk. "Sedikit."
"Kalian kompak sekali sekarang."
"Karena benar," kata Jessica.
Minggu itu berjalan dengan rasa perpisahan yang aneh. Jessica tetap belajar seperti biasa, tetap mengoreksi poster kelas yang menurutnya menyedihkan, tetap menegur murid yang membuang sampah sembarangan. Namun setiap hal yang ia lakukan terasa seperti diberi batas waktu.
Di rumah, Erlyn menceritakan kabar itu saat makan malam.
"Jessica yang membantumu waktu masalah grup itu?" tanya Jing.
"Iya."
"Anak itu hebat," kata Om Changli.
Chisen yang sejak tadi makan dalam diam berkata, "Jakarta bagus untuk desain."
Erlyn menoleh. "Koh tahu?"
"Tahu sedikit."
"Koh tahu semua sedikit."
"Lebih baik daripada tahu banyak tapi salah."
Erlyn hampir tersenyum. "Jessica akan pergi dua minggu lagi."
Chisen mengangkat mata. "Kamu sedih?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Erlyn berhenti.
"Senang," katanya. "Tapi juga sedih."
"Itu normal."
"Koh pernah begitu?"
Chisen tidak langsung menjawab. Jing dan Om Changli tampak sengaja tidak ikut campur. Meja makan menjadi lebih sunyi.
"Pernah," katanya akhirnya.
"Waktu siapa pergi?"
Chisen menunduk kembali ke piringnya. "Waktu aku pergi."
Erlyn tidak tahu harus membalas apa.
London kembali berdiri di antara mereka seperti pintu yang belum terbuka.
Hari terakhir Jessica di sekolah datang dengan langit mendung.
Ia membawa satu tas besar berisi buku yang ingin ia berikan pada teman-teman. Untuk Angie, satu buku catatan dengan sampul ungu. Untuk Erlyn, satu map plastik berisi contoh layout poster, daftar akun desain, dan beberapa catatan belajar yang rapi sampai terlihat seperti dicetak.
"Kamu memberi PR perpisahan?" tanya Erlyn.
"Aku memberi alat bertahan hidup."
Di halaman pertama map itu, Jessica menempelkan sticky note berisi tiga kalimat pendek.
Kalau ada yang menyebarkan screenshot, simpan bukti.
Kalau ada yang menyindir, jangan jawab sendirian.
Kalau ada yang membuatmu merasa kecil, cari orang yang membuatmu ingat ukuranmu yang sebenarnya.
Erlyn membaca catatan itu dua kali.
"Kamu menulis seperti guru BK."
"Guru BK terlalu lembut. Aku versi yang lebih efisien."
"Ini maksudnya Angie?"
"Angie untuk perang." Jessica melipat tangan. "Chisen untuk membuat orang takut. Kamu tetap harus belajar berdiri sendiri."
Kalimat itu tidak terdengar menggurui. Justru karena Jessica tidak pernah banyak memeluk dengan kata-kata, nasihat itu terasa lebih kuat.
Erlyn menyelipkan sticky note itu ke bagian paling depan map, seperti jimat kecil yang masuk akal.
Ia membutuhkannya.
Nanti.
Angie mengendus dramatis. "Dia akan merindukan kita."
"Aku akan merindukan ketenangan yang tidak pernah ada saat kalian bersama."
Namun saat bel pulang berbunyi, Jessica yang biasanya paling praktis menjadi lebih diam.
Mereka bertiga berdiri di dekat gerbang, tidak jauh dari tempat dulu Erlyn pernah menjadi bahan tontonan. Kali ini tidak ada ponsel terangkat. Tidak ada bisikan. Hanya tiga gadis yang belum pandai mengucapkan selamat tinggal.
Mobil tante Jessica sudah menunggu.
Angie memeluk Jessica kuat-kuat. "Jangan sombong di Jakarta."
"Kalau aku sombong, itu karena pantas."
"Tetap menyebalkan."
Jessica tersenyum, lalu menoleh pada Erlyn.
Erlyn memegang map plastik di depan dada. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Waktu itu. Di kelas."
Jessica menggeleng. "Aku hanya melakukan hal yang harusnya dilakukan orang normal."
"Tetap saja."
Jessica menatapnya beberapa detik. Wajahnya masih tegas, tetapi matanya lebih lembut daripada biasa.
"Jaga dirimu," katanya.
Erlyn mengangguk.
Jessica melirik sebentar ke arah jalan, ke mobil keluarga Erlyn yang menunggu tidak jauh, lalu kembali menatapnya.
"Dan jaga hatimu."