Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Jangan Pergi
Meilin tidak menarik tangannya.
Dia berdiri kaku beberapa detik, menatap jari Kevin yang melingkar lemah di pergelangan tangannya. Genggaman itu tidak kuat. Kalau dia mau, dia bisa melepaskannya dengan mudah.
Tapi dia tidak mau.
"Aku di sini," bisiknya.
Kevin tidak menjawab. Matanya tetap terpejam, napasnya masih panas, tapi kerutan di dahinya perlahan melunak.
Meilin duduk di lantai di samping kasur. Satu tangannya tetap tertahan dalam genggaman Kevin, tangan satunya mengganti kompres dan memeriksa suhu setiap satu jam. Kadang Kevin menggigil kecil. Kadang dia menggumam sesuatu yang tidak jelas. Setiap kali itu terjadi, Meilin membasahi bibirnya dengan air menggunakan sendok kecil, lalu memastikan selimutnya tidak terlalu tebal.
Menjelang subuh, suhu Kevin turun ke 37,8.
Belum normal, tapi tidak sepanas sebelumnya.
Meilin akhirnya menyandarkan kepala di tepi kasur. Dia hanya ingin memejamkan mata sebentar.
Ketika Kevin terbangun, cahaya pagi sudah masuk dari jendela.
Hal pertama yang dia rasakan adalah berat di telapak tangannya.
Dia menunduk.
Meilin tertidur sambil duduk di lantai, pipinya menempel pada sisi kasur, pergelangan tangannya masih berada dalam genggamannya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat karena kurang tidur. Di dekat lututnya ada mangkuk air kompres, termometer, obat, dan struk klinik yang dilipat rapi.
Kevin melepaskan tangannya perlahan.
Meilin langsung terbangun.
"Suhumu?" Dia bahkan belum membuka mata sepenuhnya ketika tangannya sudah mencari termometer.
Kevin menahan pergelangan tangannya. Kali ini sadar.
"Aku sudah lebih baik."
"Cek dulu."
"Meilin."
"Cek dulu."
Nada itu membuat Kevin menatapnya lama, lalu menyerah. Dia membuka mulut dan membiarkan termometer melakukan tugasnya.
37,7.
Meilin mengembuskan napas lega. "Turun, tapi kamu tetap istirahat."
"Aku harus kerja."
"Tidak."
"Aku kontrak. Kalau tidak masuk..."
"Kamu punya surat dari klinik?"
Kevin terdiam.
Meilin membuka plastik obat dan menunjukkan kertas kecil dari klinik. Semalam, saat Kevin setengah tidur di kursi tunggu, dia sempat meminta bukti pemeriksaan dan anjuran istirahat sehari dari dokter. Tidak panjang. Tidak mewah. Tapi cukup untuk dikirim ke kantor.
"Kirim ini ke atasanmu."
Kevin menatap kertas itu. "Kamu minta surat?"
"Dokternya yang kasih setelah aku tanya."
"Kamu tanya?"
"Iya. Karena kamu pasti akan memaksa kerja."
Kevin seperti ingin membantah, tapi bukti di depannya terlalu benar.
Dia mengambil ponsel, mengetik pesan singkat ke supervisor kontraknya, melampirkan foto surat klinik, lalu meletakkannya kembali di meja. Meilin baru bisa bernapas normal setelah pesan itu terkirim.
"Sekarang makan."
"Aku baru bangun."
"Obatnya setelah makan."
"Kamu berubah jadi perawat galak."
"Lebih baik daripada pasien keras kepala."
Kevin menatapnya.
Untuk sesaat, Meilin takut sudah terlalu jauh. Tapi wajah Kevin tidak marah. Lelah, ya. Demam, masih. Namun ada sesuatu di matanya yang tidak sekeras dulu.
Dia makan bubur sedikit lebih patuh daripada semalam.
Setelah obat, Kevin berbaring lagi. Meilin membersihkan mangkuk, lalu membuka buku sketsa di meja. Dia harus menyelesaikan revisi kecil untuk pesanan baru, tapi matanya terus bergerak ke arah Kevin.
"Kerjakan gambarmu," ucap Kevin tanpa membuka mata.
"Aku bisa nanti."
"Klien tidak peduli aku demam."
"Aku peduli."
Kalimat itu membuat kelopak mata Kevin bergerak.
Meilin sendiri ikut diam setelah mengatakannya. Kata-kata itu terlalu langsung. Terlalu sederhana untuk ditarik kembali.
Akhirnya Kevin hanya berkata, "Aku tidur. Kamu gambar."
Itu kompromi.
Meilin menggambar di meja dengan telinga tetap waspada pada napas Kevin. Setiap satu jam, dia mengecek suhu. Setiap kali Kevin membuka mata, dia menyodorkan air. Kalau Kevin terlihat hendak bangun, dia cukup mengangkat alis dan pria itu, entah karena masih lemah atau malas berdebat, kembali berbaring.
Menjelang siang, ponsel Kevin berbunyi terus-menerus.
Awalnya Kevin mengabaikannya. Tapi saat bunyinya datang lima kali berturut-turut, dia meraih ponsel dengan wajah tidak senang.
Meilin langsung berdiri. "Apa dari kantor?"
Kevin membaca layar. "Ada masalah data."
"Kamu sedang istirahat."
"Mereka hanya tanya."
Meilin mendekat dan melihat chat grup kerja yang terbuka. Ada file spreadsheet, beberapa tangkapan layar grafik yang kacau, dan pesan panik dari seseorang yang menyebut deadline presentasi jam tiga.
Kevin duduk perlahan.
"Jangan bangun."
"Aku cuma lihat."
"Kevin."
"Kalau ini salah, mereka bisa kehilangan klien."
Meilin ingin merebut ponselnya, tapi dia tahu itu hanya akan membuat Kevin semakin keras kepala. Jadi dia mengambil bantal, menyelipkannya di belakang punggung Kevin, lalu berkata, "Lima menit. Setelah itu tidur lagi."
Kevin membuka file dari ponsel, memperbesar angka-angka kecil di layar. Meilin hampir pusing melihat deretan kolom itu. Angka penjualan, tanggal, wilayah, kode produk, formula yang error.
"Mereka salah gabung data," ucap Kevin setelah kurang dari satu menit.
Meilin menatapnya. "Kamu sudah tahu?"
"Kolom tanggalnya beda format. Yang satu tanggal Indonesia, yang satu format US. Makanya agregasinya lompat."
Dia mengambil pensil dari meja Meilin, menarik buku catatan kosong, lalu menulis rumus koreksi dengan gerakan cepat. Tangannya masih sedikit lemah karena demam, tapi pikirannya seperti pisau yang baru diasah.
Meilin memperhatikan angka-angka itu berubah menjadi pola di bawah jarinya.
Kevin memotret catatan tersebut, mengirimkannya ke grup, lalu mengetik instruksi singkat.
Kevin: Convert format tanggal dulu. Pisahkan transaksi duplikat dari kode produk yang sama. Pakai rumus ini. Jangan refresh dashboard sebelum pivot bersih.
Balasan datang hampir seketika.
Supervisor: Gila, Kev. Ini bener. Kok bisa lihat secepat itu?
Kevin meletakkan ponsel seolah tidak ada hal luar biasa yang baru terjadi.
"Tidur," kata Meilin pelan.
"Lima menit belum habis."
"Sudah cukup."
Kevin menatapnya. Mungkin dia ingin berdebat lagi. Tapi kali ini Meilin menatap balik tanpa mundur.
Akhirnya dia berbaring.
Meilin mengambil buku catatan yang baru saja dipakai Kevin. Di sana, rumus dan angka ditulis rapi dalam beberapa baris. Sesuatu yang bagi orang lain terlihat seperti kekacauan, bagi Kevin hanya butuh satu pandangan untuk diselesaikan.
Dia mencoba membaca ulang chat grup itu. Satu orang mengirim grafik yang turun tajam, satu lagi menuduh sistem dashboard rusak, sementara yang lain mengirim belasan angka dengan tanda panik. Meilin bahkan tidak tahu bagian mana yang harus dilihat lebih dulu.
"Kenapa tanggal bisa bikin semua salah?" tanyanya tanpa sadar.
Kevin, yang seharusnya tidur, menjawab dengan mata masih terpejam, "Kalau 03/04 dibaca tiga April oleh satu sistem dan empat Maret oleh sistem lain, total bulanannya pindah. Angka benar masuk tempat salah."
Meilin menatapnya.
"Kamu menjawab sambil merem."
"Pertanyaannya gampang."
Bagi dia mungkin gampang. Bagi Meilin, itu seperti melihat seseorang membuka kunci rumit dengan sekali sentuh.
Di novel, dia memang tahu Kevin jenius.
Tapi melihatnya dengan mata sendiri membuat kulit lengannya meremang.
Kevin Halim bukan hanya tahan banting.
Otaknya menakutkan.