NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman-teman pendakian

Langkah Dedi semakin cepat. Sesampainya di depan Bima, ia berhenti. Jarak mereka tinggal beberapa puluh sentimeter. Tangannya yang mulai dipenuhi keriput perlahan terangkat, tetapi kembali turun. Ia takut.

Takut jika semua ini hanyalah mimpi.

"Bim..."

"Iya, Kang."

Dengan tangan gemetar, Dedi menyentuh pipi adiknya. Hangat. Benar-benar hangat. Bukan bayangan. Bukan mimpi. Air mata Dedi langsung pecah. Tanpa mampu menahan diri lagi, ia menarik tubuh Bima ke dalam pelukan yang sangat erat.

"Ya Allah..." Suara itu pecah bersama isak tangis yang selama puluhan tahun ia pendam.

"Kamu benar-benar hidup..."

Bima membalas pelukan kakaknya.

"Maaf, Kang..."

"Jangan minta maaf." Dedi menggeleng berkali-kali.

"Jangan pernah minta maaf lagi."

Tangannya terus menepuk-nepuk punggung Bima, seolah memastikan adiknya tidak akan hilang untuk kedua kalinya.

"Akang sudah capek nyari kamu, Bim..." Kalimat sederhana itu justru membuat semua orang kembali menangis.

Pak Hendra menundukkan kepala. Maya memalingkan wajah sambil mengusap air mata. Ayah Arga dan keluarganya ikut terdiam menyaksikan pertemuan dua saudara yang telah dipisahkan waktu selama tiga puluh tahun. Beberapa saat kemudian Dedi melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua bahu Bima. Matanya mengamati wajah itu dari dekat.

"Kamu..." Dedi tersenyum sambil menangis.

"Wajahmu nggak berubah."

Bima ikut tersenyum.

"Tapi Kang Dedi berubah."

Dedi tertawa kecil di sela tangisnya.

"Iya. Akang sudah tua. Rambut sudah putih. Makanya jangan hilang lagi. Nanti waktu kita habis."

Ucapan itu membuat Bima kembali menundukkan kepala.

"Kang..."

"Hm?"

"Maafin aku."

Dedi langsung menggeleng.

"Kamu dengar baik-baik." Ia menggenggam kedua tangan adiknya.

"Yang hilang itu jejakmu, bukan kasih sayangmu."

Bima menatap kakaknya.

"Akang nggak pernah marah. Setiap orang bilang kamu sudah nggak ada. Tapi setiap kali mereka bilang begitu..." Suara Dedi kembali bergetar.

"...Akang selalu marah."

Pak Hendra menutup matanya. Ia masih ingat bagaimana putra sulungnya berkali-kali pulang dari gunung dengan tubuh penuh luka karena tetap bersikeras mencari Bima.

Dedi mengusap air matanya.

"Masih ingat Gunung itu?"

Bima mengangguk.

"Ingat."

"Setelah kamu hilang, hampir setiap tahun Akang naik lagi ke sana."

Bima membelalak.

"Masih?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena Akang takut. Takut kalau suatu hari kamu pulang, tapi nggak ada yang menjemput."

Ruangan kembali sunyi. Kalimat itu terasa begitu berat. Bima tak lagi mampu menahan air matanya.

"Kang..."

Dedi tersenyum.

"Untung hari ini Allah sendiri yang menjemput kamu pulang."

Pak Hendra menghela napas panjang.

"Sudahlah. Hari ini bukan hari untuk menangis terus."

Maya yang sejak tadi berdiri di dekat dapur ikut mengangguk.

"Betul. Masakan sudah matang."

Dedi menoleh.

"Kamu masih masak?"

Maya langsung memasang wajah kesal.

"Kang, kenapa semua orang heran kalau aku masak?"

Dedi tertawa.

"Karena dulu kamu pernah bikin dapur hampir kebakaran."

Semua orang langsung tertawa. Maya memukul pelan lengan kakaknya.

"Itu juga gara-gara kalian!"

Bima ikut tertawa untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah itu. Tawa yang sederhana. Namun telah hilang dari rumah itu selama tiga puluh tahun. Tak lama kemudian, meja makan dipenuhi berbagai hidangan sederhana.

Sayur asem.

Ikan goreng.

Tempe.

Sambal.

Dan sepiring nasi hangat yang baru saja ditanak.

Bima memandang semua makanan itu cukup lama.

"Ada apa, Mas?" tanya Maya.

Bima tersenyum pelan.

"Nggak ada apa-apa. Hanya saja, sudah lama sekali ternyata aku nggak melihat meja makan keluarga. Rasanya baru minggu lalu aku pergi."

Semua yang mendengar kalimat itu kembali terdiam. Pak Hendra menarik kursi di sampingnya.

"Duduk sini."

Bima menurut. Pak Hendra mengambil nasi, lalu menyendokkan lauk ke piring putranya. Gerakan yang sangat sederhana. Namun terakhir kali beliau melakukannya adalah tiga puluh tahun yang lalu. Bima hanya mampu menatap tangan ayahnya.

"Ayah..."

Pak Hendra tersenyum.

"Dulu kamu selalu minta ikan yang paling besar."

Bima tertawa kecil sambil menghapus air matanya.

"Ternyata Ayah masih ingat."

"Ayah ingat semuanya."

Suasana makan berlangsung hangat. Sesekali terdengar tawa ketika Dedi dan Maya menceritakan kenakalan Bima semasa kecil. Ayah Arga dan keluarganya pun ikut larut dalam kebersamaan itu. Namun di balik senyum yang mulai kembali menghiasi rumah tersebut, masih tersimpan satu pertanyaan besar yang belum terjawab.

Bagaimana mungkin Bima tetap berusia dua puluh satu tahun, sementara dunia telah berjalan tiga puluh tahun meninggalkannya?

Pertanyaan itu menggantung di benak semua orang.

Dan di luar sana...

Di balik lebatnya hutan yang pernah menyembunyikan Bima selama tiga puluh tahun,

Rawa itu masih ada.

Tenang.

Sunyi.

Seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya selesai.

Selesai makan malam, suasana ruang keluarga kembali hening. Jam dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Namun tak seorang pun merasa mengantuk. Terlalu banyak cerita yang belum sempat terucap selama tiga puluh tahun yang terpisah.

Bima menatap wajah Kang Dedi.

"Kang."

"Iya, Bim."

Bima menarik napas pelan.

"Teman-temanku..."

Dedi langsung memahami maksud pertanyaan itu.

"Yang ikut mendaki bersamaku." Suaranya mulai bergetar.

"Arif, Bayu, Rasyid, Amin, Asep, dan Eko."

Ruangan kembali sunyi. Pak Hendra menundukkan pandangannya. Maya menggenggam kedua tangannya sendiri. Mereka tahu, cepat atau lambat pertanyaan ini pasti akan muncul. Dedi menghela napas panjang.

"Yang pertama ditemukan hanya Eko."

Bima menatap kakaknya.

"Hari ketujuh, Dia turun sendirian. Kondisinya cukup baik. Hanya kelelahan dan dehidrasi."

Bima mengangguk pelan.

"Dia bilang apa?"

"Dia mengaku terpisah dari kalian saat kabut turun. Katanya dia berusaha mencari. Memanggil nama kalian satu per satu. Tapi tidak ada jawaban. Dan meski turun di hari ketujuh, dia mengaku baru beberapa jam terpisah dari kalian. Dia mengaku setelah lelah mencari, dia menemukan hutan bambu dan setelah hutan bambu selesai dia kembali menemukan pos pendakian."

Bima memejamkan mata. Bayangan kabut tebal itu kembali memenuhi ingatannya.

"Eko tidak tahu aku ke mana?"

"Tidak."

"Dia bahkan tidak tahu Arif, Bayu, Rasyid, Amin, maupun Asep berada di mana."

Dedi melanjutkan.

"Tim SAR berkali-kali meminta Eko menunjukkan lokasi terakhir. Tapi hutan bambu yanh dia maksud tidak pernah ditemukan. Dia berusaha, bahkan kembali menyusuri pos satu persatu. Namun semua tempat yang ditunjukkannya tidak memberikan hasil apa pun."

Bima menundukkan kepala.

"Lalu... Arif?"

Dedi menggeleng pelan.

"Tidak pernah ditemukan."

"Bayu?"

"Juga tidak."

"Rasyid?"

Dedi kembali menggeleng.

"Amin?"

"Tidak."

"Asep?"

Suasana menjadi semakin sunyi.

"Tidak ada kabar." Satu per satu jawaban itu terasa seperti menghantam dada Bima. Ia masih mengingat jelas wajah-wajah sahabatnya.

Arif yang selalu paling cerewet.

Bayu yang tak pernah lupa membawa kamera.

Rasyid yang paling rajin mengingatkan waktu salat.

Amin yang gemar bercanda.

Asep yang paling tenang di antara mereka.

Kini...

Semua nama itu hanya dibalas dengan gelengan kepala. Bima memegang wajahnya sendiri.

"Berarti, selama ini mereka juga dianggap hilang?" Suaranya hampir tak terdengar.

Pak Hendra mengangguk perlahan.

"Iya. Dalam beberapa bulan pertama, keluarga mereka ikut mencari. Setelah itu pencarian resmi dihentikan. Tetapi, keluarga mereka tidak pernah benar-benar berhenti berharap." Beliau menatap putranya.

Maya ikut menambahkan.

"Setiap tahun selalu ada yang datang ke gunung itu. Kadang keluarga kita. Kadang keluarga teman-teman mas. Kadang relawan yang dulu ikut mencari."

Bima menatap lantai. Dadanya terasa sesak.

"Semua karena kami..."

Dedi langsung menyela.

"Jangan menyalahkan dirimu. Tidak ada seorang pun yang pernah menyalahkan kalian. Tidak ada."

Bima terdiam. Beberapa saat kemudian ia bertanya lagi.

"Kang..."

"Hm?"

"Eko, sekarang bagaimana?"

Ruangan mendadak sunyi. Dedi memandang Ayah Hendra sesaat, lalu kembali menatap Bima.

"Iya. Eko sempat menjalani hidup seperti biasa. Dia bekerja. Berkeluarga. Tapi, beberapa bulan lalu dia sakit sampai meninggal." Suara Dedi melemah.

Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Bima.

Selama ini...

Ia mengira hanya beberapa hari, ternyata bagi banyak orang, waktu memang terus berjalan. Namun luka yang ditinggalkannya tidak pernah benar-benar sembuh.

Bima mengangkat kepalanya perlahan.

"Kalau suatu hari aku bisa bertemu keluarga Arif, Bayu, Rasyid, Amin, Asep... dan Eko..." Suaranya dipenuhi haru.

"aku ingin meminta maaf kepada mereka."

Pak Hendra menggeleng lembut.

"Kamu tidak berutang maaf kepada siapa pun, Nak. Kehadiranmu hari ini justru bisa menjadi secercah harapan. Karena kalau kamu bisa kembali..." Beliau menghentikan ucapannya sejenak.

"...mungkin masih ada jawaban yang selama ini belum ditemukan."

Semua orang kembali terdiam. Untuk pertama kalinya sejak Bima pulang, mereka menyadari bahwa kepulangan Bima bukan hanya mengakhiri penantian satu keluarga.

Mungkin...

Kepulangan itu juga akan membuka kembali misteri yang selama tiga puluh tahun menyelimuti hilangnya enam pendaki muda di gunung tersebut.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!