Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kesadaran Yan Kai perlahan kembali. Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya.
"...Di mana aku?"
Ia segera bangkit sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit pening. Ingatan terakhir yang ia miliki adalah cahaya keemasan dari buku tua di perpustakaan yang tiba-tiba menyedot tubuhnya. Namun tempat yang kini berada di hadapannya benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata.
"Ini..."
Yan Kai mematung. Di hadapannya terbentang dunia yang bahkan tidak pernah berani ia bayangkan dalam mimpi. Langit berwarna biru jernih tanpa sedikit pun noda awan.
Puluhan pulau raksasa melayang bebas di angkasa, dihubungkan oleh jembatan-jembatan batu yang seolah terbentuk secara alami. Dari sisi setiap pulau mengalir air terjun yang jatuh ke bawah langit tanpa pernah mencapai dasar, menciptakan pelangi-pelangi indah yang menghiasi seluruh cakrawala.
Pohon-pohon raksasa dengan daun berwarna keemasan tumbuh di berbagai tempat. Bunganya memancarkan cahaya lembut, sementara kupu-kupu berukuran sebesar telapak tangan beterbangan di antara rerumputan yang berkilauan seperti dipenuhi embun abadi.
Tak jauh dari sana tampak sungai yang airnya sebening kristal, mengalir perlahan di udara layaknya seekor naga panjang yang melayang bebas.
Suasana itu begitu damai, begitu suci, seolah bukan bagian dari dunia manusia. Yan Kai bahkan lupa bernapas beberapa saat.
"Tempat apa ini...?"
Belum sempat rasa kagumnya menghilang, tiba-tiba terdengar suara yang sangat berat bergema dari kejauhan.
"Manusia..."
Suara itu mengguncang seluruh ruang. Yan Kai langsung menoleh, matanya membelalak seketika. Di balik hamparan padang rumput yang luas, berdiri sebuah pilar batu hitam setinggi gunung.
Di sekelilingnya menjulang puluhan rantai raksasa berwarna hitam pekat yang dipenuhi rune-rune kuno berwarna emas, melilit sesuatu yang ukurannya bahkan lebih besar daripada sebuah gunung.
Saat Yan Kai memusatkan pandangannya, napasnya seolah berhenti.
Seekor naga hitam raksasa dengan sisik sekelam malam sedang dirantai di tengah-tengah pilar tersebut. Tubuhnya begitu besar hingga kepala naganya saja hampir menyamai sebuah bukit.
Sepasang tanduk panjang melengkung ke belakang, sementara kedua matanya yang berwarna merah darah memancarkan aura yang membuat siapa pun akan gemetar ketakutan.
Sayapnya yang luar biasa besar tertusuk oleh empat rantai raksasa, kedua kaki depannya terkunci oleh belenggu kuno, dan lehernya pun dililit segel yang dipenuhi simbol-simbol aneh. Di atas tubuh naga itu, ribuan aksara emas terus berputar, memancarkan cahaya yang menekan auranya agar tidak dapat keluar.
Yan Kai tanpa sadar menelan ludah. Ia belum pernah melihat makhluk semengerikan itu. Namun anehnya, tatapan naga tersebut justru tertuju kepadanya.
"Manusia. Dekatlah."
Suara itu kembali bergema. Yan Kai sempat ragu beberapa saat, namun rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Dengan langkah perlahan, ia mulai mendekati naga tersebut hingga akhirnya berhenti beberapa puluh langkah dari kepala sang naga.
Barulah ia dapat melihat betapa tua makhluk itu—meski matanya masih dipenuhi wibawa, terdapat kelelahan yang begitu dalam di balik tatapannya.
Yan Kai akhirnya memberanikan diri bertanya. "Di... di mana ini? Dan kenapa kau menyuruhku mendekat?"
Untuk beberapa saat naga itu hanya menatap Yan Kai tanpa berkedip. Lalu terdengar suara tawa pelan yang menggema di seluruh dimensi.
"Hahaha... menarik. Benar-benar menarik. Tak kusangka, setelah ribuan tahun, akhirnya ada manusia yang mampu memasuki tempat ini."
Yan Kai semakin bingung. Naga itu perlahan membuka mulutnya.
"Tempat yang sedang kau pijak bernama Dimensi Tak Berujung. Dimensi ini bukanlah bagian dari dunia tempatmu berasal. Ini adalah sebuah penjara."
"Penjara?" Yan Kai mengulang pelan.
"Benar. Ribuan tahun yang lalu, seorang dewa tertinggi menciptakan dimensi ini hanya untuk satu tujuan—mengurungku."
Mata Yan Kai membelalak. Naga itu melanjutkan kisahnya dengan suara yang jauh lebih berat.
"Dahulu kala, ras naga pernah menguasai langit dan bumi. Kami adalah penguasa sejati dunia. Tidak ada makhluk yang mampu menandingi kekuatan kami. Tetapi kesombongan melahirkan peperangan—kami mengangkat senjata melawan para dewa."
Tatapan naga itu berubah suram.
"Perang berlangsung selama ratusan tahun. Langit runtuh. Lautan mengering. Gunung-gunung hancur. Tak terhitung banyaknya ras yang musnah akibat perang tersebut. Namun pada akhirnya, ras naga kalah."
Yan Kai mendengarkan dengan saksama.
"Sebagian besar naga dibunuh. Sebagian lainnya, termasuk aku, dikurung. Bukan dalam satu tempat, melainkan dipisahkan ke berbagai dimensi yang diciptakan khusus oleh para dewa."
Naga itu mengangkat sedikit kepalanya. Suara rantai langsung bergemuruh.
"Kau sekarang berada di salah satu penjara itu. Dan aku adalah Naga Kegelapan."
Keheningan menyelimuti tempat itu. Yan Kai masih mencoba mencerna semua cerita yang baru saja ia dengar. Semua terdengar begitu mustahil. Namun setelah melihat sendiri tempat ini, ia tidak memiliki alasan untuk meragukannya.
Naga Kegelapan kembali menatapnya. "Manusia. Aku ingin mengajukan sebuah kesepakatan."
Yan Kai mengangkat kepala. "Kesepakatan?"
"Ya." Suara naga itu berubah lebih pelan. "Bebaskan aku."
Yan Kai terdiam. Naga itu menggerakkan sedikit tubuhnya hingga rantai-rantai raksasa bergemerincing keras. "Putuskan rantai yang menyegelku."
Yan Kai langsung menggeleng. "Aku... aku bahkan tidak bisa mengangkat rantai sebesar itu. Aku hanya seorang pelayan sekte. Aku bahkan tidak tahu cara berkultivasi."
Naga itu menganggukkan kepala pelan. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku tidak memintamu menghancurkan segel itu dengan kekuatanmu."
Yan Kai mengernyit. "Lalu bagaimana?"
Tatapan merah sang naga perlahan menyala. "Pinjamkan tubuhmu kepadaku."
Yan Kai terdiam. Naga itu melanjutkan.
"Aku masih memiliki sedikit kekuatan yang tersisa. Jika jiwaku memasuki tubuhmu untuk sementara, aku dapat menggunakan tubuhmu sebagai media untuk menghancurkan segel-segel ini. Begitu aku bebas, aku akan keluar dari dimensi ini. Kemudian aku akan memenuhi janjiku."
Yan Kai bertanya polos. "Janji apa?"
Naga itu tersenyum tipis. "Aku akan memberikan setengah dari seluruh kekuatan yang masih kumiliki kepadamu."
"Setengah... kekuatan?" Yan Kai mengulang lirih. Mata pemuda itu perlahan membesar.
Selama delapan tahun hidup di Sekte Hutan Bambu, ia selalu dipandang rendah karena tidak memiliki kekuatan. Ia dihina, dipukul, diinjak, dipermalukan—semua itu karena dirinya lemah.
Kini, di hadapannya berdiri seekor naga kuno yang menawarkan kekuatan. Bahkan setengah dari kekuatan seekor naga saja mungkin sudah cukup untuk mengubah hidupnya selamanya.
Yan Kai menundukkan kepala sejenak. Di benaknya hanya terlintas satu pemikiran sederhana: kalau aku menjadi kuat, tidak akan ada lagi yang bisa menindasku.
Tanpa sedikit pun mencurigai maksud tersembunyi di balik tawaran tersebut, Yan Kai mengangkat kepalanya dan mengangguk mantap.
"Baik. Aku setuju."
Mendengar jawaban itu, mata merah Naga Kegelapan perlahan menyipit. Di balik wajahnya yang tampak tenang, sudut bibir naga itu perlahan terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan—senyuman yang telah lama tidak muncul selama ribuan tahun masa pengurungannya.