Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah terakhir sebelum menjadi istrinya
Melihat ketegasan Yamal dan keterkejutan yang melanda orang banyak, perlahan wajah wanita itu berubah menjadi pucat pasi. Penonton yang tadinya berkerumun kini mulai bubar dengan tergesa-gesa, tampak takut jika mereka pun ikut terseret ke dalam masalah yang sebenarnya tidak mereka pahami.
Yamal kemudian memalingkan wajahnya perlahan ke arahku, nada bicaranya seketika berubah menjadi lembut dan penuh perhatian. “Bagaimana pendapat Nona Zara mengenai hal ini? Apakah Nona ingin saya melanjutkan penyelesaian masalah ini melalui jalur hukum yang berlaku?”
Aku mengusap sisa air mata di pipiku dengan punggung tanganku yang masih terasa perih dan berdenyut nyeri. Hatiku terasa begitu lelah, aku tidak ingin ada pertengkaran atau keributan yang berlanjut lebih lama lagi. “Tidak perlu, terima kasih. Biarlah semua ini berakhir sampai di sini saja.”
“Baiklah, saya mengerti keinginan Nona. Mari kita tinggalkan tempat ini sekarang juga, Nona Zara.”
Aku pun berjalan lebih dulu menuju pintu gerbang rumah sakit. Sementara itu Yamal masih berdiri diam di tempat, menatap tajam ke arah wanita itu sejenak seolah memberi peringatan terakhir, baru kemudian ia berjalan menyusulku dari belakang. Saat tanganku hendak menyentuh gagang pintu masuk, suara Yamal kembali terdengar memanggilku. “Mohon tunggu sebentar, Nona Zara.”
Aku tidak berani menoleh kembali ke arahnya, aku hanya semakin meremas gagang pintu itu dengan erat menggunakan tangan yang masih terasa nyeri dan lecet. Di dalam hatiku aku berpikir: rasanya tidak ada gunanya lagi memperpanjang segala urusan ini, biarlah orang mau berpikir apa saja tentang diriku, aku sudah terlalu lelah untuk sekadar memikirkannya. Namun meski begitu, aku tetap menahan langkah kakiku di tempat begitu saja.
Yamal segera berdiri di sampingku, menatapku dengan raut wajah yang tampak cemas namun tetap bersikap sopan sebagaimana mestinya. “Nona Zara, segala perlengkapan serta gaun pengantin yang diperlukan sudah saya siapkan dengan baik. Nona bisa mulai bersiap dari sekarang. Selain itu… apakah Nona benar-benar dalam keadaan yang baik-baik saja?”
Aku hanya berusaha mengukir senyum tipis di bibirku, berusaha sekuat tenaga meyakinkannya meski hati kecilku masih terasa perih dan bergetar. Setelah itu aku melangkah masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit, menyusuri lorong yang panjang itu perlahan. Sesampainya di depan pintu ruang perawatan intensif, terlihat seorang wanita sedang berdiri menunggu di sana. Begitu melihat kehadiranku, ia segera bangkit berdiri dari tempat duduknya. Sebuah tas berukuran besar berwarna hitam tergantung rapi di lengannya.
Wajahnya tampak halus dan berseri tanpa riasan yang berlebihan, rambut hitam panjangnya terurai rapi jatuh lembut di atas bahunya. Kulitnya tampak bersih dan cerah, tubuhnya ramping namun tegap, setiap langkah kakinya terlihat lembut namun sangat anggun mengenakan gaun berwarna krem polos yang sederhana namun memancarkan kesan yang sangat berkelas.
Ia segera menghampiriku dengan senyum yang tampak tulus dan hangat, suaranya terdengar lembut seketika menenangkan hati yang sedang gelisah. “Permisi, apakah Anda yang bernama Nona Zara?”
Aku hanya menganggukkan kepalaku perlahan sebagai jawaban.
“Saya dikirim khusus untuk membantu merias diri serta menyiapkan busana yang akan Anda kenakan hari ini,” ucapnya kembali dengan nada yang tenang dan meyakinkan.
“Terima kasih atas bantuannya,” jawabku singkat. “Izinkan saya membersihkan diri terlebih dahulu dan mengganti pakaian yang saya kenakan ini.”
Aku pun masuk ke dalam ruang bilik mandi yang tersedia di ruangan khusus itu, lalu membasuh seluruh wajahku dengan air yang terasa dingin. Saat menatap pantulan diriku di cermin, aku kembali melihat bekas kemerahan di pipi kananku bekas tamparan tadi, telapak tanganku yang masih terlihat lecet dan berdarah, serta pakaian lusuh yang masih kusematkan di tubuhku. Segala kejadian yang baru saja kualami terputar kembali dengan jelas di dalam kepalaku, membuat dadaku kembali terasa sesak dan berat. Aku hanya bisa memejamkan mataku rapat-rapat, mencoba menahan segala rasa sedih yang kembali meluap di dalam dadaku dengan kesabaran yang tersisa.
Tak lama kemudian, di ruangan yang telah disiapkan khusus untuk itu, aku kini telah mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih yang tampak sangat anggun. Modelnya dibuat sederhana namun indah — bagian leher berbentuk persegi rapi, lengannya menjuntai hingga tiga perempat bagian lengan, pas melingkar lembut di bagian pinggang sebelum akhirnya jatuh terurai halus hingga menyentuh lantai dengan ekor gaun yang pendek namun tetap terlihat anggun dan sopan. Bahan kainnya terasa sangat halus dan lembut di kulit, sama sekali tidak menimbulkan rasa kasar atau sakit pada bagian tubuhku yang sedang terluka. Rambutku yang sedari tadi hanya terikat asal kini telah ditata menjadi sanggul yang longgar namun rapi, dengan beberapa helai rambut dibiarkan menjuntai lembut membelai pipiku. Tanpa riasan yang berlebihan, wajahku terasa tampak lebih tenang dan damai, meski bayangan yang terpantul di cermin itu terasa sangat asing bagiku sendiri.
Penata rias itu tersenyum puas sambil menatap hasil kerjanya. “Semuanya sudah terlihat sangat sempurna, Nona. Anda terlihat sangat cantik sekali hari ini.”
Saat ia sedang membereskan perlengkapan di dalam tasnya, tiba-tiba ia kembali bersuara dengan nada yang tampak penuh perhatian dan kekhawatiran yang tulus. “Mohon maaf jika pertanyaan ini terasa lancang… namun di mana calon suami Anda saat ini? Sudah hampir waktunya namun ia belum juga terlihat datang. Apakah Anda yakin dia benar-benar menghargai Anda dengan baik? Jika di hati Anda masih ada keraguan, pertimbangkanlah kembali keputusan ini sekali lagi sebelum semuanya terlambat.”
Aku tahu bahwa pertanyaan itu lahir dari niat yang baik dan bentuk kepeduliannya, bukan bermaksud ikut campur urusan orang lain. Aku hanya tersenyum tipis sambil menyentuh ujung kain gaun itu dengan lembut. “Terima kasih banyak atas perhatian dan kebaikan hati Anda. Namun percayalah kepada saya — dia adalah orang yang selalu menepati setiap janjinya. Saya sama sekali tidak menyesal telah memilih jalan hidup ini.”
Ia pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan memahami perasaanku, tatapan matanya terlihat semakin lembut. “Semoga kalian senantiasa dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan selamanya, semoga segala hal yang terjadi membawa kebaikan bagi kalian berdua. Mohon maaf sekali lagi jika perkataanku tadi membuat Anda merasa terganggu. Saya pamit undur diri sekarang.”
Setelah kepergiannya, aku kembali duduk sendirian di sana, membiarkan pandanganku menerawang jauh seolah sedang melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh mata orang lain. Hingga terdengar ketukan halus di pintu, dan tak lama kemudian pintu itu terbuka perlahan. Yamal berdiri tegap di ambang pintu dengan penampilan yang rapi seperti biasanya. “Nona Zara, silakan ikut saya sekarang. Tuan Adrian sudah menunggu kedatangan Anda di tempat yang ditentukan.”
Aku pun bangkit berdiri perlahan dari tempat dudukku, lalu mulai melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang sudah mulai ramai kembali. Banyak pasien maupun keluarga pasien yang menoleh ke arahku dengan tatapan penuh rasa heran — terasa aneh melihat seseorang mengenakan gaun pengantin di lingkungan rumah sakit. Namun di balik rasa heran itu, terlihat juga tatapan kekaguman yang tak bisa disembunyikan dari wajah mereka. Terdengar samar-samar suara bisikan-bisikan dari mulut mereka, namun aku tidak lagi mempedulikannya sedikit pun. Kakiku terus melangkah mantap ke depan tanpa menoleh ke belakang.
Langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu ruang perawatan intensif. Aku mendekatkan pandanganku ke arah kaca kecil yang ada di pintu itu, memandang lekat-lekat sosok adikku yang masih terbaring diam dan tenang di dalam sana. Aku menatapnya cukup lama dalam diam, lalu bergumam pelan yang hanya bisa didengar oleh diriku sendiri: Tunggulah Kakak pulang dengan selamat ya, Aslan. Kakak berjanji akan segera kembali ke sisimu. Setelah itu aku pun membalikkan badanku perlahan, lalu mengikuti langkah Yamal menjauh dari tempat itu.
Di halaman depan rumah sakit, banyak sekali orang yang sedang berpapasan maupun berdiri di sana ikut menoleh seketika melihat kehadiranku. Namun aku memilih untuk tetap diam seolah tidak melihat siapa pun yang ada di sekitarku. Yamal membukakan pintu bagian belakang mobil mewah itu untukku, aku masuk dan duduk diam di sana sambil terus menatap pantulan bayanganku sendiri di permukaan kaca jendela yang gelap.
Perjalanan tidak terasa terlalu lama, hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang terlihat sederhana namun berwibawa — tempat pelaksanaan pernikahan yang telah ditentukan. Yamal turun terlebih dahulu sebelum kemudian membukakan pintu mobil untukku. Aku melangkah turun perlahan ke tanah, menatap bangunan itu dalam-dalam, dan tiba-tiba saja dadaku terasa sesak serta jantungku berdegup kencang dengan irama yang tidak menentu.
Aku menghela napas panjang dan pelan dalam usahaku menenangkan diri. Jadi waktunya akhirnya tiba juga… mengapa hatiku terasa berdebar begitu kencang ya? Apakah begini rasanya bagi setiap orang yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan? Padahal aku tahu betul bahwa ini semua hanyalah sebuah perjanjian yang hanya berlaku selama satu tahun saja. Yang paling penting sekarang adalah nyawa Aslan sudah terjamin keselamatannya. Biarlah apa pun yang terjadi selanjutnya, aku akan terima dengan lapang dada.
Yamal kemudian menuntunku masuk ke dalam ruangan yang telah disiapkan. Di sana terlihat sosok Adrian sudah berdiri dengan tegap dan kokoh menungguku. Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam pekat yang terlihat sangat pas dan rapi menyesuaikan bentuk tubuhnya, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang diikatkan dengan rapi di lehernya. Sebuah kuntum bunga berwarna putih bersih tersemat dengan indah di kerah jasnya. Ia tampak jauh lebih gagah, tegas, dan memancarkan wibawa yang luar biasa besar dibandingkan apa yang pernah kulihat sebelumnya. Sepasang matanya yang berwarna biru jernih itu menatapku dengan pandangan yang tajam namun tetap terasa tenang — seolah ia mampu memahami segala perasaan gelisah yang sedang bergemuruh di dalam hatiku saat ini.
Tidak jauh dari sampingnya, sudah berdiri dengan tenang seorang penghulu yang nantinya akan memimpin jalannya upacara pengikatan janji suci pernikahan kami berdua.
Suara Yamal terdengar pelan namun jelas memecah keheningan di ruangan itu. “Nona Zara, silakan maju ke depan. Waktunya telah tiba untuk melaksanakan akad nikah sesuai kesepakatan yang telah dibuat.”
Aku duduk di samping Adrian, bahu kami nyaris saling bersentuhan. Di hadapan kami, penghulu sudah duduk dengan tenang, didampingi oleh beberapa orang saksi yang telah hadir. Tubuhku terasa tegak namun kaku sepenuhnya, telapak tanganku terasa basah oleh keringat dingin, dan meski suasananya begitu khidmat, pikiranku sempat masih melayang ke mana-mana.
Petugas dari kantor KUA pun mulai menjelaskan dengan suara yang tenang dan perlahan:
“Mengingat kedua orang tua Anda telah berpulang ke rahmatullah, saudara kandung Anda saat ini sedang tidak sadarkan diri, serta tidak ada kerabat laki-laki lain dari jalur ayah yang dapat menjadi wali, maka sesuai dengan ketentuan syariat serta peraturan yang berlaku, wali pernikahan Anda adalah Wali Hakim dari kantor kami. Pernikahan ini tetap sah dan diakui secara agama maupun negara.”
Setelah memastikan semuanya, penghulu menatap sekeliling hadirin, lalu memusatkan pandangannya lurus ke arah Adrian. “Hadirin sekalian, mari kita mulai upacara ini. Apakah Anda sudah siap untuk melaksanakan akad nikah?”
Adrian menjawab dengan tegas, suaranya terdengar lantang, mantap, dan bergema lembut di seluruh ruangan itu: “Laksanakanlah.”
Mendengar jawaban itu, jantungku berdegup jauh lebih kencang dari sebelumnya, napasku sempat tertahan sejenak. Tanganku yang telapaknya masih terasa perih dan lecet itu kuremas pelan di balik lipatan gaun pengantin yang panjang ini. Semua ini sungguh nyata. Semua ini kulakukan demi keselamatan Aslan.
Penghulu pun membuka acara dengan kalimat yang penuh keberkahan, lalu kembali menatap lurus ke arah Adrian dengan wajah yang tenang.