NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Setelah semua pulang

Malam kembali datang. Langit di luar rumah terlihat gelap, hanya diterangi lampu-lampu jalan yang menyala temaram. Udara terasa lebih dingin dibanding biasanya, atau mungkin hanya perasaan Tya saja.

Rumah itu kembali dipenuhi orang. Sejak sore tadi, para tetangga, kerabat, dan beberapa kenalan keluarga terus berdatangan untuk menghadiri tahlilan malam pertama ibunya.

Tya mengenakan gamis hitam sederhana dipadukan dengan hijab berwarna senada. Wajahnya masih terlihat pucat, sementara matanya masih menyisakan sembab yang belum benar-benar hilang.

Tya duduk di ruang tengah bersama para tetangga yang mengikuti rangkaian tahlilan. Kepalanya sedikit tertunduk, jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.

Di sekelilingnya, lantunan doa dan ayat suci Al-Quran mengalun dengan khusyuk. Tya menundukkan kepalanya lebih dalam, dadanya kembali terasa sesak.

Pandangan Tya perlahan beralih ke sudut ruangan tempat ibunya biasanya duduk saat menerima tamu. Tya kembali mengalihkan pandangan sebelum air matanya kembali jatuh.

Di sampingnya, seorang ibu tetangga yang sejak tadi memperhatikan hanya mengusap lembut punggung tangan Tya tanpa kata.

Sementara Tya hanya duduk diam di tempatnya, mencoba mengikuti doa yang dibacakan.

Tya mencoba kuat, mencoba menerima. Meski sampai detik ini, sebagian hatinya masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk yang suatu saat akan berakhir. Namun sayangnya, kenyataan tetaplah kenyataan.

Di tengah lantunan doa yang masih menggema, wajah Tya terlihat semakin pucat. Awalnya tidak terlalu terlihat karena pencahayaan ruangan yang temaram.

Namun bagi seseorang yang sejak tadi memperhatikannya, perubahan itu cukup jelas.

Ibu Faris mengernyit pelan. Sejak tadi gadis itu hanya duduk diam dengan kepala tertunduk. Tidak ada bicara, tidak banyak bergerak. Bahkan, segelas air yang disediakan di dekatnya pun belum tersentuh.

Wanita itu akhirnya berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekat, lalu sedikit berjongkok di sisinya. "Tya," panggilnya lembut.

Tya mengangkat wajah perlahan, "Iya Tante?"

Ibu Faris menatap wajah pucat itu beberapa saat, sebelum akhirnya bertanya. "Kamu sudah makan?"

Tya terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan. "Belum Tante."

Jawaban itu membuat ibu Faris menghela nafas panjang. Namun, seutas senyum samar muncul di wajahnya.

"Tya," suara wanita itu begitu lembut. "Ayo makan dulu."

Tya kembali menggeleng, "Enggak lapar Tante." Ujarnya begitu pelan, nyaris tak terdengar.

"Kamu harus makan," ujar ibu Faris lagi.

Tya menunduk lagi, "Enggak mau, Tan."

"Tya, dengarkan Mama," suara ibu Faris kembali melembut. Perlahan, Tya kembali mengangkat pandangannya.

"Kamu boleh sedih, boleh nangis, dan kamu boleh kangen Mama." Ujar ibu Faris sambil mengusap pelan kepala Tya. "Tapi tubuh kamu juga harus dijaga."

Kalimat itu langsung membuat mata Tya kembali memanas. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. "Tapi Tya gak lapar, Tante."

"Mama tau," lanjut ibu Faris sambil mengusap punggung tangan Tya perlahan. "Tapi kalau kamu enggak makan, nanti kamu sakit. Mama takut kamu pingsan lagi."

Kalimat itu membuat Tya terdiam. Ia teringat malam sebelumnya.

"Tya," Panggil ibu Faris lagi. "Tolong makan sedikit saja, hanya beberapa suap. Mama gak minta kamu menghabiskan semuanya."

Tya menatap wanita di sampingnya. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia melihat kekhawatiran yang begitu jelas di mata ibu Faris. Bukan sekedar rasa iba, tapi kekhawatiran yang tulus. Seolah wanita itu benar-benar takut sesuatu terjadi padanya.

Pada akhirnya, Tya menyerah juga. Bukan karena lapar, melainkan karena wanita di hadapannya itu tidak berhenti membujuk dengan sabar.

Tya menunduk sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Iya Tante."

Ibu Faris tersenyum tipis, lalu mengajak Tya berjalan menuju dapur. Begitu masuk, Tya otomatis memperhatikan meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan kiriman tetangga dan kerabat.

Tya berdiri diam di dekat meja. Sementara ibu Faris langsung bergerak mengambil piring.

"Tya duduk aja."

Tya menurut tanpa banyak bicara. Ia duduk di salah satu kursi sambil memperhatikan wanita itu yang sibuk memilih makanan untuknya. Entah mengapa, pemandangan itu cukup familiar.

Ibu Faris mengambil nasi secukupnya, seolah tahu Tya tidak mungkin menghabiskan satu porsi penuh. Lalu ia memilih lauk yang ringan, menuangkan sedikit kuah.

Tanpa sadar, dada Tya kembali terasa sesak. Karena dulu, ibunya juga seperti itu. Saat Tya sedang sakit atau terlalu sibuk belajar sampai lupa makan, ibunya selalu mengambilkan makanan untuknya. Persis seperti yang sedang dilakukan wanita di hadapannya sekarang.

Ibu Faris meletakkan piring di depannya, lalu menarik kursi di samping Tya. "Makan pelan-pelan aja."

Tya menatap piring itu cukup lama, lalu perlahan mengambil sendok. Meski tidak ada selera, setidaknya kali ini ia mencoba. Entah mengapa perhatian sederhana itu membuat hati Tya hangat sekaligus perih di waktu yang bersamaan.

Ibu Faris hanya duduk di sana, menemani dalam diam. Sesekali ia memperhatikan gadis itu yang makan perlahan. Namun setidaknya Tya makan. Dan itu sudah cukup membuat hatinya sedikit lega.

Hati ibu Faris terasa sesak. Setiap kali melihat Tya, ia seperti melihat bayangan sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu sering bercerita tentang putri semata wayangnya.

Begitu banyak cerita yang masih ia ingat sampai sekarang. Dan kini, orang yang menceritakan semua itu sudah tidak ada lagi.

Ibu Faris menundukkan pandangan sesaat, menahan rasa haru yang kembali muncul. Lalu matanya kembali tertuju pada Tya.

Gadis itu masih makan perlahan dengan kepala menunduk. Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, ibu Faris membuat sebuah janji dalam hati. Ia akan menjaga Tya.

Bukan karena status baru mereka, bukan juga semata karena Tya kini menjadi menantunya, melainkan karena Tya adalah anak dari sahabatnya.

Ibu Faris tidak tahu apakah ia bisa mengurangi kesedihan Tya. Mungkin tidak, tidak ada yang bisa menggantikan seorang ibu. Namun setidaknya, ia ingin memastikan bahwa gadis itu tidak sendirian.

Perlahan, ibu Faris mengulurkan tangan dan merapikan sedikit anak rambut yang jatuh di dekat wajah Tya. Tya sempat terdiam sesaat, lalu kembali menunduk tanpa mengatakan apa-apa.

Sementara ibu Faris hanya tersenyum tipis. Dalam hati, ia berharap sahabatnya tenang di sana. Karena meskipun tidak akan pernah bisa menggantikan tempatnya, ia akan berusaha menjaga putri sahabatnya sebaik yang ia mampu.

Tya masih menatap piring di depannya. Nasi yang tadi terasa begitu sulit ditelan kini perlahan mulai berkurang, meski hanya sedikit.

Ibu Faris tidak lagi membujuk ataupun menyuruhnya makan lebih banyak. Wanita itu hanya duduk menemani di sisinya. Namun karena keheningan itu justru membuat hati Tya semakin terasa sesak. Karena selama ini, ibunya juga sering seperti itu.

Kenangan itu datang begitu saja tanpa permisi, membuat tenggorokan Tya kembali terasa sakit. Tangannya yang memegang sendok perlahan berhenti. Tanpa sadar, ia menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi dengan tangan satunya.

Ibu Faris melihat itu. Ia menatap Tya sesaat, hatinya ikut terasa perih. "Tya," panggilnya pelan.

Tya langsung menunduk lebih dalam. "Maaf Tante."

Tatapan ibu Faris langsung melembut. "Kenapa minta maaf?"

"Tya jadi nangis lagi," jawaban itu keluar begitu saja, terdengar begitu rapuh hingga membuat dada ibu Faris terasa sesak.

Ibu Faris menghela nafas pelan, lalu mengusap punggung Tya. "Nangis aja kalau emang mau nangis. Enggak ada yang marah."

Air mata yang kembali Tya tahan kini mulai menetes ke pangkuannya. "Tya kangen Mama..." Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan.

Suasana dapur terasa sunyi, ibu Faris terdiam sesaat. Karena tidak ada jawaban yang benar untuk rasa rindu seperti itu. Ia hanya bisa mengusap punggung Tya, seperti yang biasa dilakukan seorang ibu ketika anaknya sedang menangis.

Beberapa menit kemudian, Tya akhirnya meletakkan sendoknya perlahan. Porsinya tidak habis. Rasanya tetap hambar, bukan karena makanannya, melainkan karena hatinya yang belum mampu merasakan apa-apa selain kehilangan.

"Udah makannya?" Suara Ibu Faris terdengar lembut, penuh perhatian.

Tya mengangguk kecil, "Udah Tan."

Ibu Faris mengangguk pelan. Tangannya terulur merapikan sedikit ujung hijab Tya yang bergeser tanpa sengaja. Gerakan sederhana yang membuat Tya sedikit terdiam. Masih terasa asing, namun entah mengapa tidak membuatnya merasa risih.

"Mau balik ke depan?"

Tya menundukkan pandangannya sejenak. Membayangkan ruang tengah yang masih dipenuhi para tamu mengingatkannya pada banyak hal. Namun, ia tidak mungkin terus bersembunyi di dapur.

Tya akhirnya mengangguk pelan. "Iya Tante."

"Kalau gitu ayo," ibu Faris tersenyum kecil, lalu berdiri lebih dulu sambil menunggu Tya bangkit dari kursinya.

Saat mereka kembali menuju ruang tengah, suara tahlilan masih terdengar mengalun khusyuk.

Di antara para tamu yang hadir, Starla dan Megan duduk berdampingan di barisan belakang perempuan. Keduanya mengikuti jalannya tahlilan dengan tenang. Sampai tanpa sengaja pandangan Megan mengarah ke lorong menuju dapur.

Starla refleks mengikuti arah pandang Megan. Wajah Tya masih terlihat pucat, tapi setidaknya tidak se-pucat sebelumnya. Megan menghembuskan nafas lega, sementara Starla mengangguk kecil.

Tak jauh dari sana, di barisan para pria, Faris duduk dengan ekspresi datar seperti biasa. Jujur saja, jika boleh memilih ia pasti lebih suka nongkrong bersama temannya sekarang, daripada duduk berjam-jam mengikuti tahlilan.

Namun kedua orang tuanya sudah memberi peringatan sejak sore, bahkan Faris tidak punya tenaga untuk membantah.

Faris duduk bersila di antara para tamu, mendengarkan. Atau lebih tepatnya berusaha bertahan. Pandangannya yang semula kosong akhirnya bergerak tanpa sengaja.

Tepat saat itu, ia melihat Tya kembali berjalan dari arah dapur bersama ibunya. Untuk sesaat, Faris memperhatikan. Tanpa sadar, bahu Faris sedikit mengendur. Lalu detik berikutnya ia mengernyit sendiri.

"Kenapa juga gue merhatiin?" Batin Faris.

Faris langsung mengalihkan pandangan ke depan, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, pikirannya justru semakin kesal. Karena ia terus tidak sengaja memperhatikan Tya, padahal biasanya ia tidak pernah peduli.

Waktu terus berjalan. Lantunan doa yang tadi memenuhi rumah perlahan berakhir. Satu persatu para jamaah mengaminkan doa terakhir yang dipimpin oleh ustadz malam itu.

Tya duduk diam di tempatnya. Kedua tangan bertumpu di atas pangkuan, matanya sesekali menatap kosong ke arah lantai.

Entah sejak kapan, Tya mulai lelah dengan segala hal. Bukan lelah secara fisik, melainkan lelah karena harus menerima begitu banyak kenyataan dalam waktu yang bersamaan.

Satu per satu tetangga menghampiri ayahnya untuk berpamitan.

"Yang sabar ya, Pak."

"Semoga almarhumah husnul khatimah."

"Kami pamit dulu."

Ayah Tya hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dengan senyum tipis yang begitu lelah.

Tak lama kemudian, Starla dan Megan ikut menghampiri. Megan langsung memeluk Tya lebih dulu, seolah ia tahu sahabatnya sedang berusaha bertahan sekuat mungkin.

"Nanti gue datang lagi," bisik Megan.

Tya hanya mengangguk pelan. Lalu, Starla menyusul memeluknya. "Kalau butuh apa-apa, telepon."

"Iya," jawab Tya singkat dengan senyum rapuh.

Setelah berpamitan, Starla dan Megan berjalan menuju pintu depan. Tak lama setelah itu, giliran keluarga Faris yang bersiap pulang.

Ibu Faris menghampiri Tya, lalu mengusap lembut pucuk kepala gadis itu. "Kalau butuh apa-apa, kabarin Mama."

"Iya Tante." Ujar Tya dengan anggukan pelan.

Ibu Faris hanya tersenyum kecil. Ia memahami, karena semuanya membutuhkan waktu. Ayah Faris juga menghampiri dan menepuk pundak Tya pelan. "Jaga kesehatan ya."

Tya mengangguk sekali lagi, "Terima kasih, Om."

Lalu, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Faris yang berdiri beberapa langkah di belakang kedua orang tuanya. Untuk sesaat, keduanya hanya diam tanpa berkomentar sinis.

Faris berdehem pelan. Dengan canggung ia berkata singkat. "Jangan pingsan lagi."

Tya sedikit terkejut, begitu pula dengan kedua orang tua Faris. Sementara Faris sendiri sudah ingin menarik kembali kalimatnya. Karena terdengar begitu aneh dan bukan sesuatu yang biasa ia katakan.

Tya hanya mengangguk kecil, "Iya."

Kalimat itu membuat Faris buru-buru memalingkan wajah. Lalu berjalan keluar lebih dulu. "Ck."

Kedua orang tua Faris berpamitan kepada ayah Tya. Dan akhirnya, rumah itu benar-benar sepi. Disitulah Tya benar-benar merasakan arti dari kehilangan. Karena setelah semua orang pulang, rumah itu tidak lagi sama

"Tya," suara ayahnya terdengar pelan.

Tya mengangkat wajahnya perlahan. Ayahnya sudah berdiri di dekatnya. Lingkar hitam samar tampak di bawah matanya, sementara sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam.

Meski begitu, pria itu tetap berusaha tersenyum untuk putrinya. Tangannya mengusap kepala Tya dengan lembut. "Tya capek kan?" Tanyanya pelan.

Tya menunduk, lalu mengangguk kecil. Ayahnya menghela nafas perlahan. "Kalau gitu istirahat ya, nak."

"Iya Pa," jawab Tya setelah hening beberapa saat.

"Papa juga mau istirahat," lanjut ayahnya.

Tya akhirnya melangkah menuju kamarnya dengan langkah pelan. Tya tiba di kamarnya, pandangannya perlahan menyapu isi kamar.

Tya berjalan menuju tempat tidurnya, lalu duduk di tepi ranjang. Matanya tertuju pada sebuah foto di atas meja, foto dirinya bersama keluarganya beberapa tahun lalu.

Jemarinya meraih foto itu, lalu memeluknya erat di dada. Air mata jatuh diam-diam di pipinya, membasahi bingkai foto itu.

Perlahan, Tya membaringkan tubuhnya di atas kasur, masih memeluk bingkai foto itu. Ia mencoba memejamkan mata meski tahu tidur tidak akan datang dengan mudah.

Bagi Tya, ada bagian dari dirinya yang ikut terkubur bersama ibunya tadi pagi. Di tengah keheningan itu, Tya akhirnya memejamkan mata bersama rindu yang baru saja dimulai.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!