Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
Hari ini, sebelum benar-benar bekerja di hari Senin nanti, Sean memilih untuk berkunjung ke perasaan Sinar Maju. Dia ingin melihat lokasi tempat dimana dia akan mulai bekerja nanti.
Ternyata memakan banyak waktu, karena sejak tadi dia berkeliling sendirian.
Tapi, saat dia hendak pulang, dia melihat ada seorang gadis yang diam-diam terlihat ingin masuk ke area gedung perkantoran.
Sayang sekali, Sean tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Karena penasaran, Sean memilih turun dari mobilnya lagi dan masuk ke dalam gedung perkantoran.
Dia benar-benar mengikuti gadis itu, sampai dimana dia melihat lampu ruangan Divisi keuangan menyala disana.
Merasa ada orang yang datang membuat gadis itu panik, dia sedang menyalin dokumen karena lupa memeriksa semuanya kemarin.
"Mati, gue mati." gumam Embun mengetahui ada orang disana.
Secepat mungkin dia keluar dari bawah meja hingga kepalanya terantuk.
Dug!
"Aduh..." gumamnya kesakitan, tapi tetap berusaha keluar dari sana.
Keduanya saling menatap satu sama lain. Sungguh, siapa laki-laki ini? kenapa tatapannya dingin sekali, seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
Sean masih berdiri diam disana. Dia ingin melihat dan mendengar penjelasan dari gadis itu. Apa yang dia lakukan disana, sampai dua menit berlalu mereka saling bertatapan tidak ada penjelasan apapun hingga membuat Sean berlalu dari hadapannya.
Melihat laki-laki dingin itu pergi membuat Embun langsung lemas. Dia terduduk di lantai sambil mengatur nafasnya.
"Astaga, itu tadi siapa?" gumamnya khawatir dengan sosok tersebut.
"Ah, bodo amat deh. Yang penting file gue selamat." ucapnya buru-buru setelah berhasil memindahkan file dari komputer ke laptop miliknya, lalu segera pergi dari sana.
Saat keluar dari kantor, Embun berlari kecil menuju mess wanita tempat dimana para karyawan tinggal.
Sedangkan Sean, dia masih berada di dalam mobil dan melihat gadis itu keluar dari sana sambil membawa laptopnya.
Kedua tangan Sean menggenggam kemudi mobilnya dengan keras saat bertemu gadis itu. Tapi lihatlah, di bahkan tidak mengatakan sepatah katapun. Bahkan terlihat seperti tidak mengenalinya.
Karena kecewa, Sean melajukan mobilnya dengan cepat melewati gadis itu hingga membuat Embun merasa aneh.
"Hah?" gumamnya melihat mobil hitam yang melaju dengan cepat keluar dari area perkantoran.
Saat sampai di rumah, Sean langsung meninggalkan mobilnya begitu saja.
Brak!
Rean yang mengetahui Sean baru pulang merasa aneh, karena di lihat dari atas adiknya itu terlihat emosi.
"Ada apa?" tanya Rean saat Sean hendak masuk ke dalam kamar.
"Sean?" panggil ibunya melihat putranya baru pulang.
"Aku baik-baik saja." ucapnya langsung masuk ke dalam kamar, dan membanting pintu kamar dengan keras, meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak ibu dan kakaknya.
Bahkan Papa-nya juga sama. "Sean kenapa?" tanya ibunya pada Rean.
"Sejak kecelakaan itu, emosinya sering tidak stabil. Tiba-tiba diam, tiba-tiba marah, tiba-tiba mengurung diri. Rean sudah menyarankan untuk pergi ke psikolog, tapi dia selalu bilang dia baik-baik saja." ujar Rean menjelaskan.
Ibunya benar-benar merasa kasihan. Rasanya sulit sekali meninggalkan mereka lagi.
"Tenang, Sean akan baik-baik saja seperti katanya." ucap papa Pradana menenangkan anak dan istrinya.
"Kamu jangan terlalu mendekatinya, Rean. Biarkan dia memiliki ruang untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun ini tidak mudah baginya, jadi kita biarkan Sean memiliki ruang privasinya sendiri." ucap Papa Pradana membuat ibu dan anak itu mengerti.
Rean dan Sean memang kehilangan sosok ayah sejak berusia 10 tahun, tapi memiliki papa Pradana membuat mereka bisa hidup kembali dengan kasih sayangnya yang luar biasa.
Sesampainya di dalam kamar, Sean membuka ponselnya dan melihat foto Embun yang berada di ponselnya.
"Kamu bahkan tidak mengingat wajah ini, Embun." gumam Sean terlihat kecewa karena gadis yang dia sukai tidak mengenali wajahnya.
Ada rasa marah dalam dirinya, saat Embun sama sekali tidak mengatakan apapun ketika mereka bertemu.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh