Alara percaya, jika ia berhasil menikah dengan cinta pertamanya, ia akan menjadi orang paling bahagia.
Karena itulah ia rela meninggalkan kariernya sebagai desainer dan model demi menikah dengan Bagas, pria yang telah ia cintai sejak remaja.
Namun pernikahan impiannya berubah menjadi mimpi buruk.
Bagas selalu sibuk bekerja dan tak pernah membelanya saat ibu mertuanya menghina serta memperlakukannya seperti pembantu. Bertahun-tahun tidak memiliki anak membuat Alara dicap mandul. Hingga suatu hari, ibu mertuanya membawa seorang wanita muda ke rumah dan memaksa Bagas menikah lagi.
Saat itulah kesabaran Alara habis.
Ia memilih bercerai dan pergi dengan harga diri yang tersisa.
Semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Nyatanya, Alara bangkit.
Ia kembali mengejar mimpi yang pernah ditinggalkan. Serta membalas rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepaskan
"Terkadang, langkah paling berani yang bisa diambil seseorang bukanlah menyerang, melainkan berhenti berjalan di jalan yang sama dengan orang yang telah menghancurkan jiwa."
Dua minggu telah berlalu sejak badai kebenaran yang terkuak di ruang sidang. Selama itu, waktu bagi Alara terasa seperti air yang mengalir tenang setelah banjir besar. Tidak ada lagi panggilan telepon dari Bagas yang penuh tuntutan, tidak ada lagi pesan intimidasi dari Wendah yang menyebalkan. Alara benar-benar telah mengunci pintu masa lalunya, bukan dengan kunci biasa, melainkan dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
Pagi itu, gedung pengadilan berdiri kokoh di bawah langit yang sedikit mendung. Alara melangkah masuk dengan setelan blazer hitam sederhana yang rapi. Di sampingnya, kuasa hukumnya berjalan dengan langkah percaya diri. Tidak ada lagi tangan yang gemetar, tidak ada lagi tatapan yang menunduk takut. Ia datang bukan sebagai seorang istri yang memohon keadilan, melainkan sebagai seorang wanita yang datang untuk mengambil kembali kemerdekaannya.
Di ruang tunggu, ia melihat Bagas. Pria itu tampak sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya yang dulu selalu terlihat segar dan penuh ambisi, kini terlihat kuyu. Lingkaran hitam di bawah matanya menjadi saksi bisu betapa malam-malamnya telah dihabisi oleh insomnia dan penyesalan.
"Alara," panggil Bagas saat mediator mempersilakan mereka masuk ke ruangan khusus. Suaranya serak, nyaris seperti bisikan.
"Silakan, Tuan Bagas," jawab Alara dengan nada formal.
Di dalam ruang mediasi, suasana tidak lagi penuh dengan api. Bagas duduk di hadapan Alara, menatap wanita yang pernah ia miliki namun tak pernah ia hargai itu dengan tatapan yang penuh kehancuran.
"Aku tidak datang ke sini untuk membujukmu mencabut gugatan," ujar Bagas mengawali pembicaraan. Ia menatap tangannya sendiri yang gemetar di atas meja. "Aku sudah membatalkan rencana pernikahan dengan Nindy. Hubunganku dengannya... sudah berakhir. Ibu juga sudah aku beri batasan tegas. Aku tidak lagi menginginkan siapa pun selain memperbaiki apa yang telah hancur."
Alara hanya diam, membiarkan Bagas bicara.
"Aku sadar," lanjut Bagas dengan suara yang semakin berat. "Selama ini aku adalah suami yang pengecut. Aku membiarkanmu menghadapi dunia sendirian, sementara aku sibuk membangun kejayaan yang ternyata kosong. Aku menyesal, Alara. Aku menyesal karena baru sekarang aku bisa melihat betapa berharganya dirimu ketika kamu sudah berada di luar jangkauanku."
Alara menarik napas panjang. Ia menatap mata Bagas, mencari bayangan pria yang pernah ia cintai sepenuh hati di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah seorang pria yang baru saja terbangun dari mimpi buruk dan merasa kedinginan.
"Bagas," suara Alara tenang, namun setiap katanya memiliki bobot yang menghantam dada Bagas. "Aku menghargai kejujuranmu. Permintaan maafmu ... itu berarti banyak untuk kewarasanku. Tapi maaf tidak bisa menyambung kembali apa yang sudah hancur menjadi debu. Kamu menyesal karena kamu kehilangan kenyamanan, karena rumahmu kini sepi, dan karena kamu baru menyadari betapa banyak hal kecil yang aku lakukan dulu. Tapi bagiku, ini bukan tentang penyesalanmu. Ini tentang hidupku yang ingin kusebuhkan."
"Apakah tidak ada kesempatan sama sekali?" Bagas menatapnya dengan putus asa. "Kita bisa mulai dari nol. Kita bisa pindah dari rumah itu."
Alara tersenyum getir. "Kesempatan itu sudah ada setiap hari selama sepuluh tahun, Bagas. Tapi kamu tidak pernah memilihku. Kamu selalu memilih ibumu, memilih pekerjaanmu, memilih untuk diam. Kamu tidak bisa meminta aku untuk kembali hanya karena kamu sekarang merasa kesepian."
Mediator mencoba menengahi. "Ibu Alara, mungkin ini adalah momen di mana kedua belah pihak bisa merenungkan kembali—"
"Keputusan saya sudah bulat," potong Alara tegas namun tetap sopan. "Saya menghormati proses hukum ini, tetapi saya tidak lagi memiliki ruang untuk perdebatan emosional."
Melihat keteguhan di mata Alara, Bagas tiba-tiba berhenti bicara. Ia tidak lagi mencoba membujuk. Ia tidak lagi mencoba memanipulasi keadaan. Untuk pertama kalinya, Bagas melakukan satu hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu: ia menghargai keputusan Alara tanpa ego.
"Baiklah," ucap Bagas pelan. "Jika ini yang membuatmu bisa bernapas dengan lega, aku tidak akan menghalangimu lagi. Aku tidak akan lagi menjadi beban dalam hidupmu."
Kalimat itu membuat Alara sedikit tertegun. Itu adalah jawaban yang paling dewasa yang pernah keluar dari mulut pria itu. Sebuah pelepasan yang jujur.
Sidang pun dilanjutkan ke tahap berikutnya di hadapan majelis hakim. Tidak ada lagi perlawanan. Keduanya sepakat bahwa ikatan itu telah usai. Saat majelis hakim menetapkan tanggal sidang putusan, Alara merasa seolah-olah sebuah beban berton-ton telah diangkat dari pundaknya.
Di luar gedung pengadilan, Wendah masih berdiri dengan wajah yang penuh dendam. Ia menatap putranya dengan murka. "Kenapa kamu diam saja, Bagas? Kenapa kamu tidak melawan? Kamu membiarkan wanita itu menang?"
Bagas menoleh ke arah ibunya. Kali ini, tidak ada lagi rasa takut di matanya. "Dia tidak menang, Bu. Kita berdua yang kalah. Dan ini adalah konsekuensi dari apa yang telah Ibu buat dan apa yang telah aku biarkan terjadi."
Bagas berjalan pergi tanpa menoleh lagi ke arah ibunya. Ia masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan gedung pengadilan, membiarkan ibunya berdiri di sana bersama amarahnya sendiri yang tak lagi memiliki sasaran.
Sementara itu, di sebuah kafe tidak jauh dari sana, Alara duduk menatap ponselnya. Panggilan telepon yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Pihak Lumina Fashion House memberikan kabar bahwa presentasi desainnya sangat memukau.
"Ibu Alara, koleksi Anda benar-benar menangkap esensi dari kebangkitan dan ketangguhan. Kami ingin menawarkan kontrak eksklusif sebagai desainer utama untuk koleksi musim gugur kami. Apakah Anda bersedia?"
Alara memejamkan mata sejenak, membiarkan kebahagiaan itu meresap ke dalam jiwanya. "Tentu saja. Saya akan menandatangani kontraknya besok."
Sambungan telepon terputus. Alara menatap ke luar jendela. Di hari yang sama saat pernikahannya menemui garis finish, semesta membukakan pintu baru yang megah untuknya.
Ia berdiri dan melangkah keluar menuju jalanan kota yang ramai. Ia bukan lagi Alara yang pasrah. Ia adalah seorang desainer berbakat, seorang wanita yang merdeka, dan seorang pribadi yang siap menulis bab baru dalam hidupnya. Masa lalu telah ia tinggalkan di ruang sidang, dan masa depa yang cerah dan tak terduga, kini menunggunya dengan tangan terbuka.
Ia tidak menoleh ke belakang lagi. Baginya, setiap langkah yang ia ambil adalah sebuah pembebasan. Dan di ujung jalan itu, ia tahu, kebahagiaan yang sesungguhnya telah menanti untuk diraih. Bab ini ditutup, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena apa pun yang terjadi, ia tahu ia akan baik-baik saja.
Bersambung...
Smngt trs alara....bkin mreka mnysal dgn ksuksesanmu....😘😘😘
Ga msti nunggu lma,trnyta siluman rubah ngmong sndri....bkn krna cnta ktanya,tp dmi hrta.....bagoosss.....😛😛😛.....
Alara ttp smngt....jgn pdulikan mreka yg mnyktimu,tnjukkan sm mreka kl km bs sukaes.....
msih ngeyel ga mau cerai atw ada ssuatu yg lain????
jgn smp alara mkin bnci sm situ y....😡😡😡
mga abs ni hkum krma dtng buat dia...dn buat bagas,slmt mnikmti pnyesalan......😛😛😛😛
Aku udh mmpir....slm knal....
aku udh ksel dr awal,gemes sm alara yg msih ngemis pnjlasan sm suami dn mrtua durjana....tp sykurlah krna skrng dia ush sdar....ttp smngt alara,abs ni km bkln jd orng sukses dn bhgia.....😘😘😘