NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Syukur , Niat Dan Tanda Tanya Di Hati

Sesampainya di rumah, Adrian langsung turun dari mobil. Melangkah tenang ke sisi pintu, dibukanya perlahan lalu mengangkat tubuhku — ekspresinya tetap datar, dingin, tak ada satu pun emosi yang terlihat. Langkahnya mantap menyusuri tangga, melintasi lorong sampai tiba di depan kamarku.

Begitu sampai di tepi tempat tidur, dia meletakkanku pelan tapi pasti. Aku hanya diam membeku, seluruh tubuh terasa kaku, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Sesekali aku melirik sekilas ke arahnya, tapi langsung menunduk cepat karena jantungku berdegup kencang, jari-jariku tanpa sadar meremas ujung sprei sampai terasa sedikit berkerut.

Tanpa sepatah kata pun, Adrian berbalik dan keluar begitu saja, pintu tertutup pelan dengan bunyi klik lembut.

Baru saat itu aku bisa mengembuskan napas panjang yang terasa terjebak di dada sejak tadi, rasanya seperti beban berat terangkat. Hatiku penuh syukur — tadi sempat terpikir, begitu sampai rumah dia akan melakukan hal buruk padaku, bahkan mencekikku seperti yang pernah dia lakukan pada Fara. Ternyata dugaan itu salah.

Di dalam mal yang ramai, Fara berjalan mengikuti teman-temannya sambil sesekali melirik jendela toko. Tapi setelah berjalan cukup lama, kakinya terasa berat dan bahunya merosot lelah — ia mengusap peluh tipis di dahi dengan punggung tangan, lalu mengajak mereka berhenti untuk beristirahat sekaligus makan.

Mereka duduk di sudut restoran yang agak sejuk dan tak terlalu bising. Fara memanggil pelayan, memesan makanan kesukaannya serta segelas jus alpukat dingin. Setelah habis makan, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menyeruput jus itu perlahan sambil memainkan layar ponsel di tangannya.

Salah satu temannya menatapnya dengan wajah serius sambil menyeka sudut bibir: “Fara, kau bilang suamimu itu yang datang tepat waktu menyelamatkanmu dari orang mesum itu, kan?”

Fara mengangkat wajah sedikit, menjawab santai: “Iya, memang dia. Kenapa memangnya?”

“Kalau begitu dengarkan nasihatku,” lanjut temannya sambil sesekali mengambil suapan makanan, “cobalah dekati dia pelan-pelan. Memang ini cuma pernikahan kontrak, tapi lihat saja dia — tampan, kaya raya, punya segalanya, tak ada kekurangan sedikit pun. Bahkan dia menyelamatkanmu, berarti pasti ada rasa di hatinya. Percayalah, hidupmu bakal jauh lebih enak dan aman kalau hatinya bisa kau rebut. Lebih baik kau gerak duluan, sebelum… siapa tadi namanya? Oh ya, Zara itu, mulai berani mendekat dan jatuh cinta padanya. Aku bicara begini semata-mata demi kebaikanmu sendiri.”

Fara terdiam, jari-jarinya mulai memutar-mutar gelas jus yang tinggal sedikit isinya. Kata-kata itu meresap pelan ke dalam pikirannya, membuatnya mengerutkan kening ringan — ia mulai mempertimbangkan, benarkah ini jalan yang harus diambil?

Sesampainya di rumah, Fara masih melangkah dengan pikiran melayang, terus memutar ulang ucapan temannya tadi. Sampai tiba-tiba bayangan buruk itu muncul begitu saja di kepalanya.

Ia membayangkan suatu hari nanti Adrian benar-benar jatuh cinta pada Zara, menjadikannya nyonya utama, dikelilingi kemewahan, hidup bahagia tanpa kekurangan apa pun. Sedangkan dirinya… terbuang jauh, tak punya apa-apa, hidup melarat seperti orang yang tak berguna.

Semakin ia membayangkannya, dadanya terasa sesak dan panas membara. Tanpa sadar ia menepuk kedua pipinya sendiri dengan telapak tangan, cukup keras untuk mengusir gambaran itu pergi. Napasnya memburu sejenak, lalu ia bergumam pelan tapi tegas: “Tidak… tidak boleh terjadi seperti itu! Aku tak akan membiarkannya.”

Tak lama kemudian Fara turun dari tangga, matanya langsung menangkap kehadiranku di ruang tamu. Ia menyunggingkan senyum tipis sambil menghampiri: “Zara, sejak kapan kau sudah ada di sini?”

Aku sedang duduk bersandar di sofa, sambil memegang sepotong jeruk yang sudah dikupas. Begitu Fara duduk di sampingku, aku menceritakan apa saja yang terjadi sejak pagi sampai kejadian keracunan dan bagaimana akhirnya aku dibawa pulang.

Mendengar itu, mata Fara langsung membelalak kaget. Ia segera memegang bahuku dan memeriksa wajah serta tanganku dengan cermat, suaranya terdengar cemas: “Zara, kau yakin sudah benar-benar baik? Dan kenapa bisa sampai keracunan begitu tiba-tiba?”

Setelah memastikan aku tak terlihat lemah lagi, ia menatapku dengan wajah serius sambil menepuk pelan pundakku: “Dengarkan baik-baik ya, Zara. Kalau ada orang yang berani menyakitimu atau menghinamu, jangan diam saja. Lawanlah sedikit. Jangan terlalu polos dan lembut terus, nanti orang malah seenaknya memperlakukanmu.”

Aku hanya mendengarkan, lalu mengangguk perlahan dengan tatapan bening dan polos, tersenyum seolah mengerti sepenuhnya.

Melihat reaksiku itu, napas Fara terasa lega sebentar, tapi dalam hatinya ia bergumam kesal sendiri: “Mengangguk paham tapi tatapannya tetap seperti itu… Rasanya percuma saja aku menasihatinya, hatinya tetap selembut kapas.”

Namun ia tak menunjukkan perasaannya itu, tiba-tiba mengubah nada bicara jadi santai seolah baru teringat sesuatu: “Ngomong-ngomong, Zara… menurutmu bagaimana Adrian itu?”

Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, aku langsung menoleh menatapnya dengan wajah bingung, mengerutkan kening pelan sambil hanya mengeluarkan suara ragu: “Hm…?”

Melihat aku terlihat kebingungan, Fara buru-buru melambaikan tangan kecil sambil tertawa canggung, mencoba menutupi rasa ingin tahunya: “Ah tidak, tidak apa-apa kok. Cuma iseng bertanya saja, jangan dipikirkan.”

Di balik meja kerja luas itu, Adrian duduk tegap, matanya menatap layar laptop dengan pandangan tajam dan teliti. Jarinya sesekali mengetuk pelan sisi meja sambil membaca dokumen satu per satu sampai selesai. Setelah yakin semuanya beres, dia menutup penutup laptop itu perlahan, suaranya lembut tapi jelas terdengar di ruangan hening.

Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi kulit yang empuk, kepala sedikit menengadah, matanya menatap keluar lewat kaca jendela besar. Pikirannya melayang jauh, memutar ulang semua kejadian tadi sore.

Beberapa saat sebelumnya, saat dia masih sibuk memimpin rapat lewat telepon, Yamal masuk pelan-pelan, membungkuk sopan lalu melaporkan dengan suara rendah: “Tuan, baru saja dapat kabar — Nyonya Zara dibawa ke rumah sakit, diduga keracunan makanan.”

Kata-kata itu membuat Adrian terdiam sesaat, napasnya terhenti sebentar tanpa sadar. Sekarang, sendirian di ruangan itu, dia bergumam pelan hanya untuk dirinya sendiri, alisnya sedikit mengerut bingung: “Kenapa juga aku tiba-tiba bergerak pergi menjemput dia…”

Belum sempat pikirannya selesai, bayangan itu tiba-tiba melintas jelas di kepalanya — wajah pemuda tinggi berpostur kokoh itu, duduk tenang tepat di samping tempat tidur Zara, tatapannya terjaga dan penuh perhatian seolah tak akan membiarkan siapa pun mendekat. Adrian mengeratkan sedikit rahangnya, pandangannya kembali tajam, entah kenapa rasa tak suka itu muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Di tempat lain

Di ruangan kerjanya yang remang-remang, cahaya lampu meja menerangi wajah Fernando yang serius. Jemarinya bergerak lincah menekan tombol keyboard dan memutar tetap fokus penuh pada layar monitor sampai pertandingan dalam gamenya berakhir.

Begitu selesai, dia meletakkan kedua tangannya perlahan, lalu menekan tombol mematikan PC itu. Layar perlahan meredup, meninggalkan cahaya hangat dari rak-rak di sekitarnya. Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi kulit, menjulurkan sedikit kakinya, lalu mengusap pelan wajahnya yang terasa lelah.

Namun pikirannya tak bisa diam, terus kembali ke kejadian tadi di rumah sakit. Terbayang jelas di matanya — bagaimana pria asing itu datang begitu saja, menggendong Zara dengan leluasa, lalu pergi membawanya keluar tanpa memberi kesempatan bicara sedikit pun.

Fernando mengerutkan kening samar, jari-jarinya mengetuk pelan sisi lengan kursi, suaranya terdengar rendah dan penuh rasa ingin tahu: “Siapa sebenarnya dia…?”

Bayangan tatapan dingin pria itu masih terasa jelas, membuatnya mengeratkan rahang sedikit — ada rasa tak nyaman yang mengganjal di hatinya, tak bisa hilang begitu saja.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!