Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ice yang meninggalkan rumah tua itu langsung berjalan menuju jalan utama.
“Untung saja mereka tidak mengikutiku. Benar-benar sekelompok pembunuh. Semoga saja aku tidak bertemu mereka lagi,” gumamnya sambil beberapa kali menoleh ke belakang.
Langit kini benar-benar gelap.
“Sudah malam. Lebih baik aku mencari penginapan. Besok baru melanjutkan pencarian.”
Tiba-tiba ponselnya berdering.
“Halo?”
“Ice, sudah malam. Kenapa kamu belum pulang?” tanya Howard.
“Aku sedang berada di Kota Jiangzhou,” jawab Ice.
“Jiangzhou? Kenapa kau ada di sana?” tanya Howard dengan nada terkejut.
“Aku sedang mencari seseorang.”
“Sendirian?”
“Iya. Sudah terlalu malam. Aku akan mencari penginapan dulu, besok baru pulang,” jawab Ice sambil terus berjalan menyusuri jalanan.
“Baiklah. Hati-hati,” ucap Howard sebelum mengakhiri panggilan.
Di apartemen.
Howard masih memegang ponselnya dengan wajah serius.
“Bos, siapa yang dicari Nona Meng sampai harus pergi sejauh itu?” tanya Mark.
Howard langsung bangkit dari sofa.
“Siapkan mobil. Kita berangkat ke Kota Jiangzhou sekarang juga.”
“Baik, Bos.”
Mark segera mengikuti langkah Howard keluar dari apartemen.
Sementara itu, Ice akhirnya menemukan sebuah penginapan tua di pinggir jalan.
Ia pun melangkah masuk.
“Paman, apakah masih ada kamar kosong?” tanya Ice.
“Masih ada, Nona. Berapa orang?” tanya pemilik penginapan.
“Satu orang.”
“Baik.”
Pria itu mengambil sebuah kunci lalu menyerahkannya kepada Ice.
“Kamarmu di lantai dua.”
“Terima kasih.”
Ice menerima kunci itu dan hendak menuju tangga.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat sepasang pria dan wanita berjalan masuk sambil berpelukan mesra.
Tak lama kemudian, pasangan lain juga masuk sambil tertawa dan langsung meminta kamar.
Ice memandang sekeliling penginapan itu.
“Kenapa tempat ini dipenuhi pasangan? Sepertinya mereka bukan suami istri...”
Ia menggenggam kunci kamarnya.
“Selain penginapan ini, aku tidak tahu harus menginap di mana lagi. Hanya semalam saja. Besok pagi aku langsung pergi.”
Ice menaiki tangga kayu yang sudah mulai usang.
Krek...
Suara anak tangga berderit setiap kali diinjak.
Ia akhirnya tiba di depan kamar bernomor 205
Klik.
Pintu terbuka.
Ruangan itu sederhana. Hanya ada sebuah tempat tidur, lemari kayu kecil, meja, dan jendela yang menghadap ke jalan.
“Lumayan. Setidaknya masih bersih,” gumam Ice.
Ia meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk di tepi ranjang.
Rasa lelah setelah perjalanan jauh mulai terasa.
Saat hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara wanita tertawa dari kamar sebelah.
Disusul suara pintu yang dibanting.
Brak!
Beberapa detik kemudian terdengar suara ranjang bergoyang disertai tawa pria dan wanita.
Wajah Ice langsung memerah.
“Penginapan macam apa ini...” gumamnya pelan.
Ia segera menutup telinganya dengan bantal.
Namun suara dari kamar sebelah justru terdengar semakin jelas.
“Aish... nikmat sekali!" desahannya.
Tak lama kemudian...
Tok... tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Ice langsung duduk tegak.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tok... tok... tok...
Ketukan terdengar lagi, kali ini lebih keras.
Jantung Ice mulai berdegup kencang.
Ia berjalan perlahan mendekati pintu, lalu mengintip melalui lubang kecil.
Namun...
Tidak ada seorang pun di luar.
“Aneh...”
Saat Ice hendak kembali ke tempat tidur
Tiba-tiba terdengar langkah kaki berhenti di depan kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
Ice langsung membuka mata.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Di luar kamar.
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan pintu kembali terdengar.
“Siapa?” tanya Ice.
“Pemilik penginapan. Nona, ada sedikit masalah dengan kamar Anda. Tolong buka pintunya sebentar,” jawab seseorang dari luar.
Ice tidak menaruh curiga.
Ia membuka pintu perlahan.
Baru saja pintu terbuka, seorang pria langsung menutup mulut Ice dengan sapu tangan.
“Mmhh...!”
Dua pria lainnya segera memegang kedua lengannya.
“Cepat bawa dia keluar!” perintah salah seorang.
Ice terus meronta, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan mereka.
Ia diseret keluar kamar menuju tangga belakang penginapan agar tidak menarik perhatian.
Sesampainya di halaman belakang, salah seorang pria baru melepaskan tangannya.
“Lepaskan aku! Siapa kalian?” bentak Ice.
“Tidak perlu tahu. Ikut saja dengan kami,” jawab pria itu sambil mendorong tubuh Ice.
Bruk!
Ice terjatuh ke tanah.
“Aku tidak mengenal kalian!”
“Bos kami ingin bertemu denganmu.”
“Aku tidak akan ikut!”
Salah seorang pria hendak menarik Ice berdiri.
“Berhenti!"
Suara berat terdengar dari belakang mereka.
Semua orang langsung menoleh.
Elvis Huang berjalan perlahan menghampiri sambil memainkan cincin giok hijau tua di ibu jarinya.
Beberapa anak buahnya mengikuti dari belakang.
“Kalian utusan dari siapa?” tanya Elvis datar.
Ketiga pria itu langsung membungkuk.
“Ini bukan urusan Anda.”
Elvis melirik Ice yang masih terduduk di tanah.
“Gadis itu tidak boleh kalian bawa.”
“Bos kami yang menginginkannya.”
“Kalau kau ikut campur, Bos kami pasti tidak akan tinggal diam,” ancam salah seorang pria.
Elvis tersenyum tipis.
“Kalau begitu, suruh dia datang sendiri menemuiku. Sekarang... tinggalkan gadis itu.”
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya