Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Yasmin berdebar-debar ketika Marco mendekati mobil angkutan, ia tentu tahu jika pria itu mencarinya. Hingga pada akhirnya dada berdebar itu berangsur tenang ketika supir angkot menjalankan kendaraan yang bersuara kasar, dan nyaris rusak karena dimakan waktu.
Yasmin menoleh ke belakang memperhatikan Marco yang masih berdiri memandangi angkutan yang ia tumpangi. Yasmin sebenarnya tidak mau berburuk sangka jika Marco itu pria yang berkelakuan buruk, tapi di dalam hati Yasmin masih belum siap berdekatan dengan pria manapun, apa lagi baru kenal.
Hingga akhirnya Yasmin turun dan berjalan kaki menuju perumahan elite, tidak jauh dari situ nampak rumah besar lantai dua berdiri megah. Yasmin memberanikan diri menekan bel. Tak disangka, Nyonya Susana sendiri yang keluar menyambutnya dengan senyum ramah.
Yasmin mengucap salam, lalu mengikuti pemilik rumah yang sudah mempersilakan masuk.
"Duduk Yasmin," titah Susana wanita 50 tahun itu, lalu minta art untuk membuatkan minimum.
"Terima kasih Nyonya," ucap Yasmin tersenyum getir. Melihat rumah ini seketika ingat kedua orang tuanya yang tinggal di Bandung, semenjak diusir dulu belum pernah berkunjung. Bukan tidak rindu beliau, tapi Yasmin masih menyimpan ketakutan tentang ayahnya.
Miris memang, Yasmin anak satu-satunya saudagar terbesar di kota asal tapi pada akhirnya harus hidup kekurangan.
"Ada apa Yasmin?" Tanya Susana, tidak mungkin pekerja restoran datang ke rumah jika bukan karena ada alasan.
Namun, Yasmin menunduk, lidahnya kelu dan berat untuk menyampaikan tujuannya. Ada rasa ingin mengurungkan niatnya dan beralasan bahwa kedatangannya ke rumah ini hanya silaturahmi, tapi ia benar-benar butuh.
"Yasmin... Jangan ragu, bicara saja," ujar Nyonya Susana seolah tahu jika Yasmin tidak sanggup untuk menyampaikan.
"Anu, Nyonya..." ucap Yasmin, dengan kata terbata-bata menceritakan kesulitannya membayar sewa kontrakan, lalu mohon izin untuk meminjam uang, berjanji akan mengembalikannya sedikit demi sedikit dari gajinya setiap bulan.
"Maafkan kelancangan saya Nyonya... sekali lagi minta maaf," ucap Yasmin mengurangi.
"Memang berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Susana iba, menatap wajah cantik Yasmin tapi tampak menyimpan beban pikiran.
"Dua juta Nyonya," Jawab Yasmin tanpa ragu lagi, meminjam uang sejumlah itu sudah ia pikirkan dengan matang. Sisa untuk membayar kontrakan akan ia gunakan untuk membeli beras dan telur sebelum gajian.
"Baiklah," Susana tidak berpikir lagi seketika minta nomor rekening, hendak mengirim uang tersebut.
"Saya, tidak punya nomor rekening Nyonya..." jujur Yasmin tersenyum malu. Mungkin sebagian orang berpikir ketinggalan jaman karena tidak punya rekening bank, tapi selama ini dia dan teman-temannya setiap gajian pun dibayar langsung.
"Ya sudah, kamu minum dulu ya," ucap Susana lalu masuk, tidak lama kemudian kembali memberikan amplop yang berisi uang sesuai yang Yasmin butuhkan.
"Terus... Ibu titip ini untuk anak-anak kamu," Susana meletakkan paper bag di depan Yasmin.
"Terima kasih Nyonya... semoga Allah membalas kebaikan Nyonya," ucap Yasmin, air matanya menetes karena terharu.
Susana kembali duduk, lalu menanyakan tentang pribadi Yasmin yang selama ini terlalu tertutup itu tentang keberadaan ayah anak-anak Yasmin.
"Eemmm... Bapaknya anak-anak sudah meninggal Nyonya," Jawab Yasmin kepada siapapun yang bertanya tentang hal itu.
"Lalu, apa kamu tidak ada keinginan untuk menikah lagi Yasmin? Bukankah teman-teman kamu di restoran banyak yang mengajak kamu untuk menikah?" Susana rupanya diam-diam memperhatikan Yasmin setiap berkunjung ke restoran.
"Untuk saat ini belum Nyonya, kalau gitu saya permisi," Yasmin pun pamit pulang, selain tidak ingin membahas jodoh, ia juga ingin cepat tiba di rumah dan bertemu si kembar.
"Sebaiknya kamu makan dulu, Yasmin..."
"Terima kasih Nyonya, tapi lain kali saja," Yasmin hanya izin shalat magrib sebentar, lalu pulang.
Hati Yasmin terasa bahagia saat melangkah keluar dari gerbang rumah Nyonya Susana. Di dalam tas kecilnya terselip amplop berisi uang dua juta rupiah, dan menenteng buntalan rezeki pemberian Susana, berupa makanan dan pakaian untuk Fatir dan Fathia. Walau uang tersebut boleh hutang, tapi setidaknya mengurangi beban berat di pundaknya. Ia tak sabar ingin segera pulang, memeluk kedua anaknya, dan memberikan uang tersebut kepada bu Retno agar bebas dari ancaman pengusiran.
Yasmin tetap bersyukur menerima ujian yang seolah terus mengejar-ngejar, walau dunia ini kejam kepadanya tapi masih ada juga orang baik. Contohnya, ibu Parmi dan nyonya Susana.
Hari sudah gelap ketika tiba di pinggir jalan, tergantikan oleh lampu-lampu yang menerangi jalanan tersebut. Di tempat itulah Yasmin menunggu angkutan. Namun, sudah hampir satu jam berdiri di tempat itu, bahkan kaki dan pinggangnya sampai pegal, tidak ada satu pun angkutan umum yang lewat. Yasmin mulai gelisah, karena lagi-lagi tidak bisa memenuhi janjinya kepada anak-anak untuk pulang tepat waktu, lagi pula jarak dari tempat itu lebih jauh dibandingkan dari restoran untuk tiba sampai di rumah.
Sepi terasa, tapi iba-tiba dari arah semak belukar di pinggir jalan, muncul dua orang pemuda dengan penampilan lusuh dan memamerkan tato di pangkal lengan. Yang lebih menakutkan lagi, tatapan mata pria itu tajam dan menyeramkan.
Firasat Yasmin tidak baik, lalu memeluk tas yang ia pegang di dada.
Jantung Yasmin seakan berhenti berdetak ketika dua orang itu berjalan ke arahnya. Yang menjadi tanda tanya, kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang jahat menghantuinya? Padahal ia tidak pernah merasa mengganggu orang lain.
"Serahkan tas yang kamu pegang!" bentak pria itu sambil menarik tas yang Yasmin peluk.
Yasmin berusaha mempertahankan tas itu sekuat tenaga dengan wajah ketakutan.
"Lepaskan!" Yasmin menghempas tangan pria itu, setelah berhasil, mencoba untuk berlari tapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan dua preman yang kini berusaha keras merebut tas hingga Yasmin mentok di pinggir pagar tembok.
"Jangan coba-coba berlari, karena pantang bagi kami untuk melepaskan orang semacam kamu!"
Yasmin meneteskan air mata, ketika dua pria itu sudah berhasil merampas tas miliknya dan menariknya ke semak-semak hendak melecehkan. Ia berusaha berontak sambil berdoa agar masa lalu yang kelam itu tidak akan terulang.
Buk!
"Aagghhh..."
Yasmin terperanjat ketika tubuh dua pria itu jatuh terkapar di rerumputan, disertai teriakan keras ketika sebuah kaki menendang mereka.
"Pergi dari sini atau saya hancurkan tulang-tulang kalian!" Bentak pria yang tidak lain adalah Marco penuh ancaman. Membuat dua pria yang sudah berdarah-darah itu menyeret kakinya pergi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Marco memungut tas Yasmin yang tergeletak di tanah. Namun, Yasmin masih berdiri terpaku, tidak ingat lagi benda yang ia bawa. Dadanya masih berpacu cepat karena hampir saja peristiwa buruk terulang.
"Terima kasih," lirih Yasmin, lalu membersihkan air matanya.
"Kamu kenapa sengaja menghindar dari saya, memang wajah saya ini tampang penjahat? Untung saya mengikutimu dari jauh tadi," tutur Marco. Ketika Yasmin berada di angkutan tadi, ia sudah melihat, tapi membiarkan saja begitu angkutan menjauh, Marco memilih mengikuti secara diam-diam.
Yasmin hanya diam, melirik Marco sekilas lalu menatap kosong ke semak-semak.
"Sekarang kamu saya antar, tidak boleh menolak," ucap Marco berjalan lebih dulu sembari membawa bawaan Yasmin, sengaja tidak ia berikan khawatir menolak diantar.
Yasmin tidak membantah lagi, lalu melangkah mengikuti Marco, ketika hendak membuka pintu tengah, Marco segera mencegah.
"Di depan saja Yasmin, kenapa kamu takut sekali, kalau kamu masih menganggap saya ini penjahat, pegang identitas saya," Marco membuka dompet, lalu menyerahkan kartu SIM, sengaja ia menyuruh supir pulang supaya ada kesempatan ngobrol bersamanya tapi Yasmin justru ingin duduk di belakang.
Yasmin ambil benda tersebut lalu memperhatikan asal usul pria yang wajahnya bukan orang Indonesia itu.
"New York..." Batin Yasmin setelah membaca tanggal lahir Marco Bellini, ternyata pria itu berasal dari negara A. Yasmin pun akhirnya menurut duduk di samping kemudi, tapi tidak mengembalikan identitas tersebut.
Marco tersenyum lega, lalu menyalakan mobilnya.
"Di mana alamat kamu?"
"Jalan Mawar, Gang Melati," jujur Yasmin, membuat Marco terkesiap. Jalan itu tempat Fatir dan Fathia tinggal. Tangan Marco yang sudah memegang setir tiba-tiba bergetar.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau