“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Menikah Dengan Ku
Tubuh Nathan mematung di tempat, tetapi kedua tangannya masih menopang tubuh Arin di pelukannya. Beberapa orang yang melihat kejadian itu mulai memperhatikan mereka. Menyadari hal tersebut, Nathan segera mengangkat tubuh Arin dan membawanya masuk ke dalam lift. Ia lalu menekan tombol menuju basement tanpa banyak berpikir.
Begitu pintu lift terbuka, Nathan melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir di sana. Ia segera membuka pintu, lalu dengan hati-hati menempatkan Arin di kursi penumpang. Setelah memastikan tubuhnya bersandar dengan aman, Nathan menutup pintu dan bergegas ke sisi kemudi. Di dalam, ia sempat menatap Arin yang masih belum sadar untuk beberapa saat.
Lalu Nathan menyalakan mesin mobilnya. Tapi melalui spion, ia melihat beberapa wartawan mengawasinya dari kejauhan. Namun tanpa peduli, ia melajukan mobilnya keluar dari basement, membiarkan mobil-mobil wartawan mengikuti di belakang.
Di perjalanan matanya sesekali berpindah ke layar Map digital di dashboard, menelusuri rute tercepat menuju rumah sakit terdekat. Hampir satu jam kemudian, akhirnya ia tiba di rumah sakit.
Nathan menghentikan mobilnya tepat di depan IGD. Seorang petugas jaga segera membuka pintu mobil, dan tanpa banyak bicara, Nathan turun lalu mengangkat tubuh Arin yang tak sadarkan diri. Langkahnya cepat dan terukur, menembus pintu darurat yang terbuka otomatis.
...*****...
Beberapa jam berlalu, Arin akhirnya tersadar ia perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, pikirannya kosong, masih berusaha memahami apa yang terjadi. Beberapa detik kemudian, ingatan tentang kejadian di hotel mulai kembali, membuat rasa takut kembali meliputi dirinya. Ia mencoba bergerak, tapi tangannya terasa nyeri. Saat menoleh, ia mendapati sebuah jarum infus tertancap di sana.
Lalu suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuatnya menoleh. Arin terkejut ketika melihat siapa yang masuk, Nathan.
"Pak Nathan…?" suara Arin terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
"Kau sudah sadar," ucap Nathan tenang. Ia meletakkan segelas air putih di meja samping ranjang, air yang baru saja diambilnya dari luar.
"Kenapa Pak Nathan ada di sini?" tanya Arin, masih kebingungan.
"Kau tidak ingat?" Nathan menatapnya datar. "Kau menabrakku di hotel, lalu pingsan."
Arin terdiam. Ia mencoba mengingat, dan perlahan potongan kejadian di hotel kembali berputar di kepalanya. Tubuhnya menegang, dan tanpa sadar ia menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar halus.
"Kenapa kau berlari seperti orang ketakutan?" suara Nathan terdengar lagi, datar namun tajam. Ia sudah duduk di sofa, tapi pandangannya tak lepas dari Arin. "Kau bahkan sempat berteriak minta tolong."
Arin akhirnya melihat ke arah Nathan. Tatapan mereka bertemu cukup lama, namun tak satupun dari mereka berbicara. Hening itu terasa menekan hingga akhirnya Arin menunduk kembali. Ia tidak sanggup menatapnya lebih lama, terlalu banyak hal yang tak ingin ia jelaskan, terlalu banyak luka yang tak siap ia buka.
"Sudah berapa lama saya tidak sadar?" tanyanya pelan tanpa menatap Nathan.
Nathan melirik jam tangannya. "Enam jam." Suaranya datar, tapi matanya tak beranjak sedikitpun dari wajah Arin.
Nathan akhirnya mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Bekas genggaman di tanganmu masih jelas, bajumu robek, dan ada tanda merah di lehermu. Dokter bilang kau mungkin baru saja mengalami kekerasan fisik."
Kata-kata itu membuat dada Arin menegang. Ia tetap menunduk, jari-jarinya meremas selimut. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya, hanya rasa takut, malu, dan getir yang bercampur menjadi satu.
"Saat kau belum sadar, seseorang menelpon ponselmu. Aku mengangkat panggilan itu lalu ia menagih hutang padaku," lanjut Nathan, pandangannya tak lepas dari Arin.
Mendengar itu Arin buru-buru menyapu pandangannya, mencari ponselnya. Tasnya terlihat di atas meja, tepat di depan Nathan.
"Bagaimana bisa tas saya ada di—"
"Aku meminta seseorang mengambilnya," jawab Nathan, memotong sebelum Arin sempat menyelesaikan pertanyaannya.
"Seharusnya Pak Nathan tidak menjawab panggilan di ponsel saya," kata Arin, suaranya pelan. Kepala tertunduk, pipinya memerah, malu, takut, dan bingung bercampur jadi satu.
Nathan berdiri, langkahnya mantap. Ia menghampiri Arin dan berdiri tepat di sampingnya.
"Aku pikir itu keluargamu. Tapi siapa sangka, setelah mendengar suaraku, dia mengancamku. Jika aku tidak membayar, mereka akan membunuh pacarku."
Arin terdiam. Ia tidak berani mengangkat kepala, tubuhnya menegang, dan wajahnya tetap menunduk.
"Infusmu sudah habis. Dokter bilang jika sudah habis, kau sudah bisa pulang. Tapi jika masih ingin di sini, akan ada tambahan biaya," jelas Nathan.
Sebenarnya, Nathan sudah membayar semua tagihan rumah sakit. Bahkan jika Arin ingin tinggal satu hari lagi pun, itu tidak menjadi masalah. Namun entah kenapa, ia tiba-tiba menyinggung soal biaya kamar. Ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Mendengar itu, Arin mengangkat kepala. Matanya menyapu seluruh ruangan, menahan napas sejenak. Ini kamar VIP, pikirnya dalam hati, tapi ekspresi wajahnya tak mampu menyembunyikan keterkejutan dan rasa gelisah yang terlihat jelas.
"Ini kamar VVIP, dan ada dokter pribadi yang langsung memeriksamu. 20 juta kau harus membayarnya saat pulang," kata Nathan sambil tersenyum kecil. Saat melihat reaksi Arin, Nathan merasakan ada kesenangan aneh yang muncul, meski ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti alasan di balik perasaan itu.
"20… juta…?" tanya Arin, gagap. Ia memberanikan diri menatap Nathan. Tatapan mereka bertemu, namun Nathan tetap diam, menatap Arin tanpa ekspresi.
Suara getaran ponsel Arin yang samar namun cukup terdengar mengalihkan fokus mereka. Tanpa menunggu lama, Nathan berjalan ke meja dan mengambil ponsel yang bergetar itu.
"Biar aku yang mengangkatnya," sahut Arin cepat dari tempat tidur, namun Nathan mengenali nomor yang tertera di layar, Nathan tidak menghiraukan Arin. Ia lalu menekan tombol jawab, bahkan langsung mengaktifkan loudspeaker dan memperbesar volume suara.
"Pak Nathan!" suara Arin meninggi, jelas menunjukkan ketidaksetujuannya. Nathan sekadar melirik Arin sekilas, tanpa sedikit pun terlihat terusik, matanya tetap menempel pada layar ponsel.
"Aku mendengarmu," ucap Nathan, menjawab panggilan itu.
"Kenapa kau belum mentransfer uangnya?" suara dari seberang terdengar tegas.
"Aku tidak mengatakan akan membayar," jawab Nathan sambil menatap Arin, pandangannya tetap dingin.
"Pak Nathan… tolong matikan teleponnya!" Arin melepaskan jarum infus dan buru-buru melangkah mendekati Nathan, berusaha meraih ponsel itu. Namun Nathan lebih cepat, tangannya menangkap tangan Arin, menahan gerakannya.
"Jika kau tidak membayar, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada pacarmu," suara di telepon kembali memberi ancaman.
"Kembalikan ponselku, Pak Nathan… kembalikan!"
Arin terus mencoba meraih ponselnya, tapi gerakannya membuat tubuh mereka terlalu dekat. Keseimbangan mereka goyah, dan Arin nyaris terjatuh.
Nathan sigap. Dengan satu gerakan cepat, ia meraih Arin dan menempatkannya di atas tubuhnya. Keduanya jatuh terduduk di sofa.
Posisi mereka saat ini cukup canggung, tetapi situasi tampaknya tidak mendukung. Mata Arin masih terfokus pada ponselnya. Dengan susah payah, ia akhirnya berhasil meraih benda itu, tapi dengan gerakan cepat, Nathan kembali merampasnya dari tangan Arin.
Ia spontan mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi agar ponsel itu tak terjangkau. Sementara itu, tangan kanannya semakin mengeratkan pelukannya, memastikan Arin tidak bisa bergerak.
"Ternyata kalian berdua ada di sana," suara di telepon terdengar lebih tegas. "Jangan bermain-main denganku. Jika kau masih belum membayar hutang ayahmu, organ tubuhmu mungkin akan menjadi bayarannya."
"Berapa hutangnya?" tanya Nathan, suaranya tenang seolah tidak peduli pada posisi mereka sekarang. Arin masih berusaha meraih ponselnya, tapi Nathan semakin mengeratkan pelukannya.
"Diam," ucap Nathan pada Arin. Pandangan mereka sangat dekat, bahkan napas mereka mengenai wajah satu sama lain.
"10 miliar," jawab suara di telepon.
Mendengar itu, suasana mendadak sunyi. Arin yang tadinya masih meronta berusaha mengambil ponselnya, kini terdiam dan menunduk. Nathan ikut terdiam, namun matanya menatap ekspresi Arin yang sulit dijelaskan.
Nathan akhirnya mematikan panggilan itu sepihak. Ia perlahan menurunkan tangannya yang sedari tadi terangkat tinggi.
Arin tetap dalam posisinya. Nathan sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Arin. Mereka masih terdiam, dengan Nathan yang memeluk Arin erat hanya dengan satu tangan, dan Arin yang seolah belum menyadari bahwa tubuhnya masih berada di atas tubuh Nathan.
"Kau akan terus begini?" Suara Nathan akhirnya membuyarkan lamunan Arin.
Mendengar itu, Arin mendongak. Pandangan mereka kembali bertemu, begitu dekat. Namun, keduanya hanya saling terdiam.
Tak berapa lama, Arin tersentak sadar. Ia cepat-cepat berdiri, dan Nathan pun langsung melepas pelukannya.
Kini Arin berdiri di depan Nathan. Sementara Nathan masih duduk sambil memegang ponselnya. Suasana kembali kaku dan canggung selama beberapa saat, sampai akhirnya Arin dengan cepat merenggut ponselnya dari tangan Nathan. Setelah itu, ia segera menjauh dan beranjak kembali ke tempat tidurnya.
"10 Miliar, itu angka yang sangat besar. Bagaimana kau akan membayar semua itu?"
Ucapan Nathan membuat langkah Arin terhenti. Ia mematung di tempatnya.
Nathan akhirnya berdiri dan mendekat, kini ia tepat berada di depan Arin. Mata mereka terkunci, tatapan itu jauh lebih lama dari sebelumnya. Arin mengepalkan tangan, menggenggam ponselnya dengan kuat, sementara Nathan tenggelam dalam pikirannya.
"Menikahlah denganku," ucap Nathan akhirnya.
Tepat setelah kalimat itu, genggaman Arin melonggar. Ponselnya terlepas dan jatuh dari tangannya.
Catatan Author (Hingga saat ini, General Manager itu belum menerima konsekuensi apa pun. Arin masih belum berani menceritakan apa yang menimpanya🥺. dia malu dan takut kalau ada orang tau apa yg dia alami 😭😭🥺)