Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
"Sebulan lagi ulang tahunmu, kau mau merayakan bersama dengan mereka?"
Aruna terdiam kaget, ia menoleh ke arah Elvio yang ternyata sedang melihatnya juga. Ia tak menyangka Elvio yang akan menawarkan hal itu. Pasalnya selama dua tahun ulang tahunnya, Aruna selalu merayakannya sendirian di kamar tanpa ada salah satu dari anggota keluarga Adijaya yang ikut juga. Mereka bahkan tidak mengucapkan apa pun padanya.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Ya?"
"Kenapa tiba-tiba menjadi peduli padaku?" tanya Aruna tanpa rasa takut.
Elvio terdiam sejenak sebelum menghela nafas. "Maaf. Aku tahu itu tak cukup untuk mengobati luka hatimu, tapi aku minta maaf jika semua tindakanku selama ini menyakitimu, Aruna. Setelah kepergian si bungsu aku tak tahu apa yang harus aku lakukan padamu, aku takut tindakanku menyakitimu. Itulah mengapa aku memilih mengabaikanmu dan membiarkanmu sendirian selama dua tahun ini. Aku tak tahu ternyata tindakanku malah semakin menyakitimu. Mungkin terdengar tak masuk akal, tapi itulah kenyataannya. Aku harap kau mau memaafkanku dan memberikanku kesempatan sekali lagi untuk menebusnya, Aruna."
Hening.
Aruna hanya diam mendengar penuturan Elvio. Bukan bermaksud mengabaikan tapi ia tak tahu harus merespon seperti apa.
"Aku ingin mendengarmu memanggilku ayah lagi seperti sedia kala. Aku tak ingin merasa jauh darimu, Aruna. Kali ini aku akan benar-benar melakukan peranku sebagai seorang ayah. Jadi, bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi?"
Tak ada jawaban lagi.
Sejujurnya Aruna sedang berperang dengan batinnya saat ini. Mengingat alasan ia memutar waktu yaitu karena keluarga yang mencampakkannya bertahun-tahun. Itulah mengapa Aruna bertekad untuk pergi meninggalkan mereka nanti setelah ia mampu.
Tapi ia tak menyangka malah perubahan sikap mereka yang di dapat. Terasa aneh sebenarnya karena Aruna sudah terbiasa di abaikan. Jika ia menerima mereka kembali, lalu apa gunanya ia memutar waktu lagi? Bukankah Tuhan memberikannya kesempatan ini untuk merubah takdir dan jalan hidupnya yang begitu malang?
Lalu apa ini?
Apa yang harus ia lakukan jika akar dari permasalahan ini malah berubah dan mencoba untuk dekat dengannya?
Bagaimana jika Elvio tidak sungguh-sungguh?
Tapi bagaimana jika itu benar adanya?
Sial! Memikirkannya membuat kepala Aruna menjadi berdenyut sakit. Kenapa rasanya sulit sekali menerima perubahan mereka semua?
Sepanjang perjalanan, Aruna hanya diam tanpa mengatakan apa pun sebagai jawabannya. Hal itu cukup membuat Elvio sedih dan panik. Berfikir apakah Aruna tak mau memberinya kesempatan lagi?
Jika begitu, apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan anak itu? Bahkan Elvio pun kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Aruna tentang keinginannya itu. Biasanya Elvio selalu dapat menghandle apa pun dengan baik tanpa ada cela, ia bahkan bersikap sangat tegas pada apa pun itu. Tapi kali ini ia benar-benar tak berdaya mengahadapi Aruna.
Tak lama mobil mereka tiba di kediaman Adijaya. Pagar terbuka otomatis dan membiarkan dua mobil mewah itu masuk ke dalam setelahnya. Ketika mobil berhenti, Aruna langsung keluar tanpa menunggu untuk di bukakan lebih dulu. Hal itu cukup membuat Elvio merasa sedih, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Ia yang bersalah di sini jadi ia akan menerima konsekuensinya tanpa mengeluh.
Pria berusia sekitar 50 tahunan lebih itu menghela nafas dan keluar dari mobilnya. Langkahnya terhenti ketika melihat Aruna hanya berdiri diam di depannya. Apa anak itu ingin mengatakan sesuatu?
"Aruna? Ada apa?" tanya Elvio.
Aruna berbalik menghadapnya, menatap mata pria itu dengan tatapan tak terbaca.
"Aku tidak tahu kenapa kau lakukan ini. Semua terasa aneh karena aku sudah terbiasa di abaikan selama ini," ucap Aruna pelan.
Elvio tersenyum getir, "Maafkan aku, nak."
"Tapi ... Tapi aku akan mencobanya. Aku akan mencoba menerima semua perlakuan dan afeksi darimu mulai sekarang, Ayah."
Mendengar hal itu membuat Elvio termenung karena kaget.
Apa Aruna baru saja memanggilnya dengan "Ayah" lagi?
Belum sempat Elvio mengatakan sesuatu, Aruna sudah kembali berbalik dan pergi masuk ke dalam rumah. Sementara Elvio langsung tersenyum lebar seperti orang bodoh di depan rumahnya sendiri.
"Terim kasih, anakku."
***
Aruna yang sudah berada di kamarnya itu langsung duduk terdiam. Sejujurnya ia tak tahu apa yang telah ia lakukan. Rasanya begitu tak adil memaafkan semua perlakuan mereka tapi entah kenapa hati kecilnya percaya bahwa mereka akan benar-benar berubah. Ia tak munafik, Aruna memang berharap hal ini akan terjadi suatu hari nanti.
Ketika terjadi, Aruna tergelitik untuk mencobanya.
Brak!
"Aruna!"
Aruna terkejut ketika pintu kamarnya di buka kasar dengan suara panggilan yang keras. Keningnya terangkat heran mendapati presensi Antares di hadapannya saat ini. Apa lagi mau anak itu? Apa ia mau memarahinya sekarang karena membuat Elvio harus capek-capek menjemputnya?
Jika iya, maka lakukan sekarang agar Aruna merasa yakin dengan keputusan yang akan ia ambil sekarang.
"Ma-maaf. Aku pikir kau tidak di dalam," ucap Antares pelan.
"Itu bukan alasan untuk masuk begitu saja ke dalam kamar seorang gadis."
Antares terkejut dan menunduk malu setelahnya, "Maaf."
Kenapa anak sombong itu jadi sering meminta maaf padanya begini? Aruna menghela nafas pelan. Perubahan sikap Elvio sudah cukup membuatnya pusing, jangan di tambah Antares juga.
"Aku hanya ingin memberikan ini," katanya sambil menyerahkan sepasang sepatu roda berwarna putih cantik.
"Aku tahu kau menginginkannya, jadi aku membelikan yang baru untukmu," lanjutnya lagi lalu memberikan sepatu itu pada Mia untuk di pegang. Kemudian anak itu diam sejenak dengan tatapan mata tak fokus seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ia ragu.
"Terima kasih. Kalau tak ada yang ingin kau katakan lagi, silahkan—"
"Aku!"
"Ha?"
"A-aku minta maaf atas semua perlakuan jahatku padamu, Aruna. Aku akan lakukan apa pun untuk menebusnya. Jadi, bisa kah kau memanggilku 'kakak' juga sama seperti Kak Abi?"
Hening.
Antares sampai tak sanggup menatap Aruna dan hanya bisa menundukkan kepalanya saja. Lama tak mendengar jawaban membuat Antares semakin sedih, ia tak tahu apa lagi yang harus di lakukan agar Aruna mau memaafkannya.
"Aruna, aku—"
"Aku mengerti, Kak Ares. Jika tak ada lagi yang mau dibicarakan, bisakah Kak Ares membiarkanku istirahat sejenak?"
Mendengar hal itu membuat senyuman Antares langsung mengembang, ia mendongakkan kepalanya menatap Aruna lalu tersenyum lebar sekali. Saking lebarnya Aruna takut bibir anak itu akan robek.
"Baiklah. Istirahatlah kalau begitu. Kita akan makan malam bersama nanti, oke?"
"Ya."
Aruna mengangguk semangat lalu berjalan keluar dari kamar dengan senyuman yang sama. Setelahnya Aruna menghela nafas, ia tak tahu keputusannya ini benar atau tidak, tapi setidaknya ia sudah selangkah lebih maju untuk merubah takdirnya.
Apa pun yang terjadi nanti kedepannya. Aruna berharap keputusannya saat ini tidak salah nantinya.
Setidaknya ia harus sedikit berharap meski kemungkinannya kecil.
Hah! Rasanya lelah sekali.
Aruna membaringkan tubuhnya di ranjang sejenak sembari menutup kedua matanya, hari ini ia masih harus istirahat di rumah jadi ia tak perlu bersiap ke sekolah.
"Mia, biarkan aku tidur sejenak. Bangunkan aku saat waktunya makan nanti."
"Baik, Nona."