NovelToon NovelToon
BATAS KESABARAN RENATA

BATAS KESABARAN RENATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.

​Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
​Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.

Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

​Dengan ragu, Aris melangkah menuju meja rias. Dia mengambil dompet kulitnya yang sudah mulai mengelupas di bagian sudut, membukanya dengan perlahan, lalu mengambil dua lembar uang merah pecahan seratus ribu rupiah. Pria itu berbalik dan mengulurkan uang dua ratus ribu itu kepada Rena tanpa berani menatap langsung mata istrinya.

​"Hanya ada ini yang tersisa di dompetku, Ren. Gunakan saja dulu seadanya," ucap Aris dengan suara yang nyaris berbisik.

​Melihat dua lembar uang merah itu di telapak tangan suaminya, Rena hanya tersenyum sinis. Dadanya berdenyut nyeri, bukan karena sedih, melainkan karena rasa miris yang mendalam. Ternyata hanya segini yang bisa diberikan Aris kepadanya untuk membeli seluruh keperluan sekolah anak kandung mereka. Dua ratus ribu rupiah untuk tas, sepatu, buku, dan alat tulis di zaman sekarang? Sungguh keterlaluan dan tidak masuk akal. Padahal, jika untuk keperluan Siska atau ibunya pergi ke mall, Aris bisa dengan mudah mengeluarkan uang berkali-kali lipat dari jumlah ini.

​Tanpa banyak bicara, Rena terpaksa menerimanya. Dia menyambar uang itu dari tangan Aris dengan gerakan cepat. Yah, daripada tidak sama sekali, pikir Rena dalam hati. Setidaknya uang ini bisa menambah tabungan rahasianya dan meringankan sedikit beban pengeluaran untuk keperluan Dio esok hari. Setelah itu, Rena langsung berbalik memunggungi Aris dan merebahkan tubuhnya di samping Dio yang sudah terlelap, mengakhiri konversasi malam itu dengan keheningan yang menyesakkan.

​Keesokan harinya, seperti biasa, Rena kembali bangun lebih awal sebelum fajar menyingsing. Dia melakukan pekerjaan rumah seperti biasa dengan cepat, dan tanpa ekspresi. Saat semua orang di rumah itu terbangun dari tidurnya sekitar pukul enam pagi, semua makanan sudah terhidang rapi di atas meja makan. Rumah sudah bersih, pakaian sudah dijemur, dan aroma kopi sudah menguar.

​Perubahan Rena yang mendadak menjadi sangat disiplin namun dingin ini membuat Bu Broto dan Siska kembali terkejut dengan perubahan Rena. Mereka yang biasanya siap melontarkan makian karena menganggap Rena lambat, kini mati kutu karena tidak menemukan celah sedikit pun untuk marah. Rena benar-benar bekerja seperti robot.

​Setelah semua orang selesai sarapan yang hening, Aris berdiri dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun, pandangannya terhenti saat melihat Rena juga langsung masuk ke dalam kamar dan keluar beberapa saat kemudian dengan pakaian yang sudah rapi dan siap untuk pergi. Melihat istrinya ikut bersiap-siap di jam yang sama dengan jam berangkat kerjanya, membuat Aris dilingkupi rasa keheranan yang besar.

​"Kamu mau ke mana sepagi ini, Ren?" tanya Aris, menahan langkahnya di dekat pintu.

​Sebelum suaminya sempat bertanya lebih jauh atau melontarkan keberatan, Rena memotong dengan suara yang tegas dan dingin.

"Aku akan pergi kerja, Mas. Jangan melarangku, karena aku juga ingin mendapatkan uang tambahan untuk keperluan sekolah Dio yang tidak bisa kamu penuhi sepenuhnya."

​Mendengar kalimat menohok itu keluar dari mulut istrinya, membuat Aris seketika terdiam seribu bahasa. Ada rasa bersalah yang mencubit hatinya, namun ego sebagai kepala keluarga membuatnya merasa tersindir. Dia sadar betul bahwa dirinya tidak bisa memberi Rena uang lebih belakangan ini, dan setelah mendapatkan peringatan keras dari Rena tadi malam, hal itu membuatnya benar-benar tidak bisa berkutik lagi untuk melarang.

​"Satu hal lagi, Mas," imbuh Rena sebelum melangkah keluar kamar. "Katakan pada ibu dan adikmu, jangan ikut campur dengan urusanku di luar sana. Aku tidak mau mendengar mereka meributkan apa yang aku lakukan."

​Aris hanya diam, tidak memberikan jawaban, tapi telinganya mendengar dengan sangat jelas setiap penekanan kata dari Rena. Dengan perasaan campur aduk, Aris segera membalikkan badan dan berangkat ke kantor menggunakan mobilnya.

​Tak lama setelah deru mobil suaminya menjauh, Rena juga bersiap pergi dari rumah bersama Dio. Melihat Rena berpakaian rapi dan tampak tergesa-gesa menggandeng putranya, membuat ibu mertuanya yang sedang duduk di ruang tengah kembali bertanya dengan nada tinggi.

​"Mau kelayapan ke mana lagi kamu, Rena?! Pekerjaan rumah memang sudah selesai, tapi bukan berarti kamu bisa keluyuran seenaknya setiap hari!" seru Bu Broto dengan mata melotot.

​Tapi lagi-lagi, Rena mengacuhkan pertanyaan dan ocehan ibu mertuanya itu. Dia terus berjalan lurus ke halaman, menuntun sepedanya, dan mengayuh pedal dengan kuat tanpa membuang waktu untuk menoleh ke belakang. Di atas sepeda, dia mengembuskan napas lega karena berhasil lolos dari rumah itu untuk sementara waktu.

​Sesampainya di rumah Ririn, Rena kembali bekerja seperti biasa. Dia menyapu, mengepel, dan menyetrika dengan sangat teliti. Kali ini, suasana terasa lebih hangat. Ririn sesekali mengajak Rena mengobrol saat anaknya bangun atau sedang disusui di ruang tengah. Ririn yang pada dasarnya adalah wanita yang ramah, merasa penasaran dengan sosok asisten rumah tangga barunya yang sangat pendiam ini.

​"Mbak Rena aslinya orang mana? Sudah lama tinggal di daerah sini?" tanya Ririn membuka percakapan sambil menimang bayinya.

​"Saya asli sini juga, Mbak. Tinggal beberapa kampung dari sini ikut suami," jawab Rena sopan sambil terus menyetrika pakaian.

​Ririn mengangguk-angguk. Dia mulai bertanya tentang keseharian Rena dan bagaimana kehidupan rumah tangganya. Namun, saat menceritakan sekilas tentang rumah tangganya—tentu saja dengan menyembunyikan detail-detail yang terlalu memalukan—wajah Rena seketika terlihat murung. Tatapan matanya meredup, menyiratkan beban batin yang sangat berat yang selama ini dia pikul sendirian.

​Melihat perubahan ekspresi itu, Ririn seketika merasa bersalah karena telah melontarkan pertanyaan yang sensitif.

"Ah, maaf ya Mbak Rena... saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Mbak."

​"Tidak apa-apa, Mbak Ririn. Sudah biasa," sahut Rena dengan senyum tipis yang dipaksakan.

​Untuk mengalihkan suasana yang mendadak canggung, Ririn merogoh sakunya. "Oh iya, Mbak. Saya boleh minta nomor ponsel Mbak Rena? Supaya kalau ada keperluan mendadak atau saya butuh Mbak datang lebih cepat, saya bisa langsung hubungi lewat WhatsApp."

​Mendengar permintaan itu, Rena menghentikan gerakan setrikanya sejenak. Dia menunduk ragu, lalu menjawab dengan suara lirih.

"Maaf, Mbak Rin... saya tidak punya ponsel."

​Jawaban itu membuat Ririn terbelalak tidak percaya. Di zaman maju seperti sekarang ini, di mana teknologi sudah menjadi kebutuhan primer, rupanya masih ada seseorang yang tidak memiliki ponsel sama sekali di tangannya. Ririn seketika dilingkupi rasa kasihan yang amat sangat kepada wanita malang yang ada di hadapannya ini. Dia bisa menebak, pastilah keterbatasan ekonomi atau perlakuan suaminya yang membuat Rena sampai tidak memiliki alat komunikasi paling dasar tersebut.

​Rasa iba Ririn semakin bertambah besar apalagi saat melihat Dio. Anak laki-laki itu sedang duduk di sudut ruangan, menggambar dengan sangat tenang dan menurut tanpa pernah merengek meminta mainan atau mengganggu ibunya yang sedang bekerja. Ibu dan anak ini benar-benar orang baik yang sedang mengalami masa sulit, batin Ririn dengan rasa simpati yang mendalam, berjanji dalam hati untuk memperlakukan Rena dengan sebaik mungkin.

1
vania larasati
lanjut
Mefiani
kuat rena...sabar dulu suatu saat kebahagian akan datang kepadamu..💪💪
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!