NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 #Ego yang tersentil

​Sebelum jemari lentik Alena sempat menyambar kertas kecil yang Anya jatuhkan ke meja itu, dengan gerakan secepat kilat Anya langsung merenggut dan meremas kertas tersebut di dalam kepalan tangannya. Napasnya tertahan, sementara dadanya bergemuruh hebat akibat pasokan adrenalin yang tiba-tiba melonjak. Anya melirik ke arah kasir wanita di hadapannya. Benar saja, kasir itu kini tengah menundukkan kepala, berusaha keras menyembunyikan senyuman geli di bibirnya karena dialah orang yang mencetak struk berisi catatan khusus dari Bara Fernandez.

​Rasa malu yang teramat sangat seketika menjalar hingga ke urat leher Anya. Wajahnya yang sudah memerah padam kini terasa semakin panas. Tanpa memedulikan protes dari kedua sahabatnya, Anya langsung menyambar tas jinjingnya dan melangkah tergesa-gesa keluar dari salon mewah itu. Dia bahkan membiarkan kuku di jari manisnya tetap dihiasi oleh lukisan seni nail art bergambar bara api yang menyala dengan inisial huruf B yang tegas di tengahnya. Penghapusan kuku itu bisa menunggu, tapi melarikan diri dari tatapan menggoda orang-orang di salon adalah prioritas utamanya sekarang.

​Anya berjalan cepat menuju area parkir eksklusif, tempat di mana mobil sedan mewah berwarna merah menyala miliknya terparkir rapi.

​"Bella, kamu yang nyetir. Aku benar-benar sedang tidak fokus," cetus Anya sembari melemparkan kunci mobil ke arah Bella yang baru saja tiba di sampingnya dengan napas sedikit terengah-engah akibat mengejar langkah Anya.

​"Heh, kamu kenapa sih, Nya? Kayak dikejar setan aja!" gerutu Bella, namun tetap menangkap kunci itu dan segera masuk ke kursi pengemudi. Sementara Alena langsung mengambil tempat di kursi belakang, bersandar sembari menatap Anya penuh selidik.

​Anya tidak menyahut. Dia mendudukkan dirinya di kursi penumpang samping kemudi, menyandarkan punggungnya yang mendadak terasa tegang. Jemarinya perlahan membuka remasan kertas dari Bara tadi, membacanya sekali lagi di bawah sapuan angin sore yang menerpa rambut panjangnya karena kap mobil sengaja dibiarkan terbuka.

'​Satu jam bolos, satu tanda merah di leher? Dasar pria gila super menyebalkan!' maki Anya di dalam hatinya.

​Namun, Anya bukanlah gadis lemah yang akan tunduk begitu saja pada ancaman Bara. Otaknya yang cerdas mulai berputar cepat, mencari celah untuk membalas dendam sekaligus menjatuhkan harga diri pria yang usianya terpaut empat belas tahun di atasnya itu. Sebuah seringai kecil yang licik perlahan terbit di bibir tipis Anya. Dia tahu persis di mana titik lemah seorang Bara Fernandez, yaitu usia.

​Anya merogoh ponselnya, membuka aplikasi pesan singkat, lalu dengan jemari yang bergerak lincah, dia mengetik sebuah balasan yang sengaja dirancang untuk menyentil ego kedewasaan Bara.

​'Terima kasih banyak atas traktiran treatment salonnya untuk keponakanmu ini ya, Om Bara yang terhormat. Tapi menurutku, hukuman yang Om sebutkan tadi agak sedikit berlebihan. Aku ini kan masih kecil masih sangat muda, Om... Masa seorang paman yang sudah matang memperlakukan keponakannya sendiri seperti itu sih? Ingat umur deh, Om. Dijaga ya kesopanannya,'

​Send..

​Anya menekan tombol kirim dengan perasaan puas yang membubung tinggi. Dia membayangkan bagaimana wajah datar dan kaku milik Bara akan mengeras saat membaca pesan ini. Merasa telah memenangkan pertempuran mental hari ini, Anya menyandarkan kepalanya dengan rileks, mengulas senyuman manis yang begitu lebar.

​Di kursi kemudi, Bella melirik sekilas ke arah Anya, lalu bertukar pandang dengan Alena di belakang lewat spion tengah. Kedua sahabat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan dahi berkerut bingung. Sahabat mereka yang baru saja keluar salon dengan wajah sekuyu udang rebus dan penuh amarah, kini tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponsel seolah baru saja memenangkan lotre.

.

.

​Di belahan kota yang lain, atmosfer yang teramat kontras dan sarat akan kemewahan yang tenang sedang melingkupi sebuah butik perhiasan kelas atas.

​Bara Fernandez sedang berdiri tegap di depan sebuah etalase kaca antipeluru. Pria matang itu mengenakan setelan kemeja formal abu-abu gelap dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat tegas di tangan kekarnya. Sepasang mata elangnya yang dingin meneliti deretan perhiasan berharga fantastis di hadapannya, sebelum pandangannya terkunci pada satu kotak beludru hitam di sudut etalase.

​Di dalam kotak itu, terbaring sebuah kalung emas putih murni yang sangat indah. Desainnya minimalis namun tampak teramat mewah, dengan sebuah liontin berbentuk buah ceri merah yang terbuat dari batuan berta berlian berpotongan sempurna. Merah yang ranum, segar, dan menggoda persis seperti bibir milik seseorang yang terus mengusik isi kepalanya setiap hari.

​"Saya ambil yang ini," ujar Bara dengan suara baritonnya yang berat dan mutlak kepada pramuniaga butik.

​"Pilihan yang sangat luar biasa, Tuan Fernandez. Kalung ini adalah koleksi terbatas kami," sahut sang pramuniaga dengan sikap yang teramat hormat dan membungkuk dalam.

​Bara hanya memberikan anggukan samar. Dia melangkah mundur, membiarkan Reno asisten pribadinya yang setia, maju ke depan konter untuk menyelesaikan seluruh proses administrasi pembayaran prioritas menggunakan kartu hitam eksklusif milik sang tuan.

​Sembari menunggu Reno menyelesaikan tugasnya, Bara merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Anya yang dia simpan dengan nama Ceri manis, langsung menyita seluruh atensinya. Bara menaikkan sebelah alisnya, lalu ibu jarinya bergerak membuka pesan tersebut.

​Sepasang mata elang milik Bara membaca untaian kalimat yang dikirimkan oleh Anya. Perlahan, garis wajahnya yang tampan dan kokoh tampak mengeras. Rahangnya mengetat sempurna hingga urat di sekitar lehernya menonjol. Sentilan kata 'Om', 'ingat umur', dan 'keponakan' yang ditulis oleh Anya benar-benar mendarat tepat sasaran pada ego maskulinnya yang tinggi.

​Gadis kecil itu sengaja menantangnya. Anya sengaja memanfaatkan perbedaan usia mereka yang terpaut empat belas tahun untuk mengejeknya, seolah-olah Bara adalah seorang pria tua bangka yang tidak lagi memiliki daya tarik seksi di mata gadis muda.

​Bara menurunkan ponselnya, tatapannya mendadak berubah menjadi sangat pekat, gelap, dan sarat akan gairah kompetisi yang berbahaya. Seringai dingin namun teramat menawan perlahan terukir di sudut bibirnya.

'​Masih kecil masih sangat muda, hm?' batin Bara dengan suara rendah yang mengancam. 'Kita lihat saja nanti di villa, Anya. Apakah kamu masih bisa menyebutku Om saat aku mengurungmu di bawah kuasaku tanpa ampun.'

​Namun, di balik kemarahannya, pesan Anya berhasil memicu sesuatu yang jarang terjadi dalam hidup seorang Bara Fernandez. Pria yang selama ini selalu tampil dengan gaya formal, kaku, dominan, dan penuh wibawa khas penguasa bisnis itu mendadak merasakan sebuah dorongan ego yang bergejolak. Dia ingin merombak penampilannya untuk liburan akhir pekan nanti. Dia ingin membuktikan secara mutlak pada Zevanya bahwa meskipun usianya lebih tua, pesona kematangan, tubuh atletis, serta kharisma yang dimilikinya tidak akan pernah bisa ditandingi oleh bocah ingusan mana pun, termasuk Calvin salah satunya.

​Bara berbalik menatap Reno yang baru saja menerima kotak perhiasan berlogo ceri merah tersebut.

​"Reno," panggil Bara, suaranya terdengar dingin namun penuh penekanan.

​"Iya, Pak Bara?" Reno langsung berdiri tegap.

​"Hubungi desainer pribadi saya sekarang. Katakan padanya untuk menyiapkan seluruh pakaian liburan akhir pekan saya di villa nanti dengan konsep yang berbeda. Saya tidak mau ada setelan formal, kemeja kaku, atau pakaian bisnis biasa," perintah Bara mutlak.

​Reno sempat tertegun sejenak, menatap tuannya dengan tatapan heran. Selama bertahun-tahun bekerja, Bara selalu memilih pakaian kasual yang tetap terlihat seperti pria kantoran saat liburan. Ini adalah pertama kalinya sang tuan meminta perombakan gaya pakaian. Namun, sebagai asisten yang profesional, Reno buru-buru menguasai diri.

​"Baik, Tuan. Ada konsep khusus yang Anda inginkan?" tanya Reno patuh.

​Bara melangkah lebar meninggalkan butik perhiasan mewah tersebut, menyunggingkan senyuman iblisnya yang teramat seksi di bawah sorotan lampu kota. "Katakan padanya untuk membuatku terlihat jauh lebih menarik, santai, namun tetap mendominasi... Aku ingin menunjukkan pada seseorang bagaimana cara seorang pria dewasa sejati berpakaian di depan wanitanya."

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!