NovelToon NovelToon
Istriku Seorang Putri

Istriku Seorang Putri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Sinopsis

Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.

Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.

Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Hutan dan Jejak yang Hilang

Lorong rahasia itu sempit dan gelap. Viona merangkak di dalamnya selama apa yang terasa seperti berjam-jam, meskipun sebenarnya mungkin hanya beberapa menit. Dinding tanah di sekelilingnya lembab dan berbau akar pohon. Sesekali, akar-akar kecil menyentuh rambut dan wajahnya, membuatnya harus berhati-hati agar tidak tersandung.

Di belakangnya, suara-suara dari kabin mulai memudar. Ia tidak lagi mendengar Nenek Gita, tidak lagi mendengar teriakan para penyerbu. Yang ada hanya suara detak jantungnya sendiri dan napasnya yang terengah-engah.

Akhirnya, cahaya mulai terlihat di ujung lorong. Viona mempercepat gerakannya, merangkak secepat mungkin. Saat ia keluar dari lubang kecil di balik semak-semak, ia hampir terjatuh ke dalam sungai dangkal yang membentang di depannya.

Udara malam yang dingin menyapa wajahnya. Viona menarik napas panjang, bersyukur masih hidup. Namun, rasa syukurnya segera berubah menjadi kepanikan saat ia menoleh ke belakang. Dari kejauhan, ia masih bisa melihat cahaya obor di sekitar kabin. Para penyerbu sedang mencari di sekitar area itu.

Mereka akan menemukan lorong ini. Aku harus segera pergi.

Viona berlari menyusuri sungai, meninggalkan kabin sejauh mungkin. Kakinya yang masih lemah terpeleset di atas batu-batu licin, tetapi ia terus berlari. Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu bahwa ia harus menghindari mereka.

Setelah berlari selama sekitar setengah jam, Viona akhirnya berhenti di bawah sebuah pohon besar. Napasnya tersengal-sengal, dan tubuhnya terasa lemas. Ia duduk di atas akar pohon, menundukkan kepalanya, dan air mata mulai mengalir.

Derek... di mana kau?

Ia meraih cincin delima di jarinya, menatapnya dengan tatapan kosong. Cincin itu seolah menjadi satu-satunya penghubungnya dengan Derek sekarang. Namun, ia juga sadar bahwa cincin itulah yang membuat hidupnya dalam bahaya.

"Aku tidak bisa terus berlari seperti ini," bisik Viona. "Aku harus mencari bantuan."

Ia mengangkat kepalanya, mencoba mengingat arah mana yang harus ia tuju. Dari cerita Nenek Gita, ia tahu bahwa ada sebuah desa kecil di sebelah timur lembah—Desa Embun. Itu mungkin tempat yang lebih aman daripada tinggal di hutan sendirian.

Viona bangkit, dan ia mulai berjalan ke arah timur. Namun, setelah beberapa langkah, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.

Di atas tanah berlumut, ada jejak kaki—jejak kaki manusia yang masih baru. Jejak kaki itu tidak sendirian. Ada beberapa jejak kaki yang saling tumpang tindih, seolah beberapa orang baru saja lewat di sini. Dan di antara jejak-jejak itu, ada sesuatu yang mencolok: sebuah batu kecil berwarna hitam dengan ukiran huruf di permukaannya.

Viona menunduk, mengambil batu itu. Di permukaannya, terukir dengan rapi sebuah kata: "NEIL".

Jantung Viona berdegup kencang. Neil? Apakah Neil ada di dekat sini? Atau ini hanya kebetulan?

Ia melihat ke arah jejak kaki itu menuju. Jejak kaki itu membentang ke arah barat—berlawanan dengan arah yang ingin ia tuju. Namun, rasa penasarannya terlalu besar. Neil adalah adik Derek. Neil adalah kunci dari semua kekacauan ini. Jika ia bisa menemukan Neil, mungkin ia bisa menghentikan perang.

Viona mengambil keputusan. Ia mengikuti jejak kaki itu, berjalan dengan hati-hati, dan terus memperhatikan sekelilingnya.

Jejak kaki itu membawanya melewati area hutan yang semakin lebat. Pepohonan menjadi lebih rapat, dan cahaya bulan sulit menembus dedaunan. Suara jangkrik dan burung malam semakin keras, menciptakan suasana yang mencekam. Viona terus berjalan, meskipun kakinya sudah terasa perih.

Setelah sekitar satu jam, jejak kaki itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah pondok kayu tua. Pondok itu jauh lebih kecil dari kabin Derek, dengan atap yang sudah bocor di beberapa tempat. Namun, ada asap tipis yang mengepul dari cerobongnya, menandakan bahwa ada seseorang di dalam.

Viona mendekat perlahan. Ia bersembunyi di balik semak-semak, mengintip ke dalam pondok melalui celah jendela kayu yang retak.

Di dalam, ada dua orang. Seorang pria muda dengan rambut cokelat yang berantakan, dan seorang wanita dengan rambut pirang panjang. Pria itu duduk di kursi kayu, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia terlihat sangat lelah dan putus asa. Wanita itu duduk di sebelahnya, berbicara dengan suara pelan, seolah mencoba menenangkannya.

Viona tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, tetapi dari postur tubuhnya, dari rambutnya yang mirip Derek, dan dari batu bertuliskan nama "NEIL" yang ia temukan di jalan, Viona yakin bahwa pria itu adalah Neil Minos.

Neil... ada di sini.

Viona menggigit bibirnya, memikirkan apa yang harus dilakukan. Jika ia muncul sekarang, Neil mungkin akan terkejut. Atau marah. Atau bahkan takut. Neil adalah pria yang melarikan diri dari kerajaannya, dan ia mungkin tidak ingin bertemu dengan siapa pun.

Namun, di sisi lain, Neil adalah satu-satunya orang yang bisa memberinya jawaban. Mengapa Neil mengumumkan kematiannya? Mengapa Neil melarikan diri dengan wanita ini? Dan yang terpenting, apakah Neil tahu bahwa Derek masih hidup?

Viona mengambil napas dalam-dalam, lalu melangkah keluar dari balik semak-semak. Ia berjalan menuju pintu pondok, dan mengetuknya dengan pelan.

Ketukan itu membuat suara di dalam pondok langsung berhenti. Ada keheningan yang mencekam. Lalu, suara pria muda itu terdengar, pelan dan hati-hati.

"Siapa di luar?"

Viona menelan ludah. "Aku... aku datang mencari Neil Minos."

Pintu terbuka perlahan. Pria muda itu keluar, menatap Viona dengan tatapan waspada. Saat cahaya bulan menerangi wajah Viona, mata pria itu membelalak. Ia mundur satu langkah.

"Kau... kau?" Suara pria itu bergetar. "Kau seharusnya sudah mati."

Viona menatap pria itu—Neil. Wajahnya benar-benar mirip dengan Derek, tetapi lebih muda, lebih rapuh. Ada ketakutan di matanya. Dan di baliknya, wanita pirang itu berdiri dengan tatapan curiga.

"Aku tidak mati," jawab Viona. "Dan aku perlu tahu mengapa kau mengatakan bahwa aku mati. Mengapa kau melarikan diri. Dan mengapa kau meninggalkan Derek."

Neil menatap Viona, dan Viona melihat ada penyesalan di matanya. Neil menghela napas panjang, lalu membuka pintu lebih lebar.

"Masuklah. Aku akan menjelaskan semuanya."

Viona melangkah masuk ke dalam pondok. Di dalam, udara terasa hangat, tetapi ada ketegangan yang sangat besar. Viona duduk di kursi kayu, menatap Neil, dan menunggu jawaban yang telah lama ia cari.

Dan saat Neil mulai berbicara, Viona menyadari bahwa rahasia yang ia bawa lebih besar dari yang ia bayangkan. Neil tidak melarikan diri dari Dewan Raja—ia melarikan diri dari sesuatu yang lebih mengerikan. Dan wanita di sampingnya bukanlah kekasih gelapnya. Wanita itu adalah mata-mata Dewan Raja yang telah memanipulasinya sejak awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!