NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : Telaga Tempat Mengadu

Suara gemercik air hujan yang mulai turun rintik-rintik berpadu dengan riuh rendah deru klakson kendaraan di sepanjang jalur lambat Sudirman. Di bawah naungan tenda terpal biru sebuah warung kopi pinggir jalan yang sederhana, Bagus Sanjaya duduk dengan tenang di atas bangku kayu panjang. Di hadapannya, segelas kopi hitam hangat yang mengepulkan asap tipis sengaja ia biarkan mendatar. Bagus tidak membuka suara sedikit pun. Sepasang matanya yang teduh hanya menatap lurus ke arah Dedi, penumpangnya yang kini duduk bersandar dengan bahu yang tampak sangat merosot, seolah-olah sedang memikul beban seberat bumi di atas pundaknya.

Bagus sengaja memilih untuk diam, memberikan ruang sepenuhnya bagi batin Dedi yang sedang terluka parah. Sebagai seorang pria paruh baya yang terbiasa hidup kaku di dalam sekat administrasi kantor, Dedi bener-bener telah mencapai titik jenuhnya sore itu. Tanpa perlu dipancing lebih jauh, seluruh sumbatan emosi, rasa sakit hati, dan keputusasaan di dalam dada Dedi seketika tumpah ruah keluar melalui rangkaian kalimat yang bergetar hebat dari mulutnya.

"Saya ini kurang apa lagi, Mas?" keluh Dedi, suaranya parau, menatap nanar ke dalam permukaan gelas teh tawar hangatnya. "Setiap hari saya masuk kantor paling pagi, pulang paling malam, semua urusan pembukuan divisi saya selesaikan tanpa ada cacat sedikit pun. Tapi kenapa di mata atasan saya selalu terlihat salah? Rekan kerja saya yang kerjanya cuma cari muka malah yang dipuja-puja. Seminggu ini rasanya makin gila, Mas. Seluruh staf bawahan saya yang dulunya penurut, sekarang berani menatap saya dengan pandangan meremehkan. Mereka menertawakan saya di belakang, memfitnah saya melakukan korupsi dana proyek yang sama sekali tidak pernah saya sentuh."

Dedi menjeda kalimatnya, menarik napasnya yang terasa sangat sesak seakan pasokan oksigen di bawah tenda terpal itu tiba-tiba menipis. Air mukanya tampak sangat kusam, legam berkabut, dikunci oleh sisa-sisa hawa negatif kiriman gaib Ki Demang yang terus-menerus memicu orang lain untuk membencinya.

"Yang paling bikin dada saya mau pecah itu urusan di rumah, Mas..." Dedi mulai menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan gurat wajahnya yang kian hari kian menua. "Istri saya... dia tidak pernah lagi menyambut saya dengan senyuman. Setiap kali saya melangkah masuk menembus pintu rumah, yang saya dengar cuma caci maki. Dia bilang saya suami tidak berguna, lelaki mandul karisma yang tidak bisa menaikkan kasta ekonomi keluarga. Harga diri saya sebagai laki-laki sejati bener-bener sudah hancur lebur diinjak-injak sampai ke dasar tanah, Mas. Saya merasa kosong, tidak punya wibawa lagi di depan siapa pun. Hidup ini rasanya sudah tidak ada artinya lagi."

Sepasang mata Dedi mulai berkaca-kaca merah, menahan bendungan air mata penyesalan dan keputusasaan yang hampir saja tumpah di siang bolong itu. Ego pertahanan seorang kepala divisi di kawasan elite Sudirman runtuh total di atas meja warung kopi pinggir jalan.

Bagus masih tetap setia mendengarkan dengan penuh rasa empati, mengunci rapat seluruh saraf emosinya. Setelah memastikan Dedi telah mengeluarkan seluruh sampah batinnya tanpa ada yang tersisa, Bagus perlahan menggeser posisi duduknya. Ia memberikan wejangan tipis dengan nada suara yang sangat tenang, dalam, namun memancarkan aura tekanan mental yang meneduhkan saraf Dedi.

"Pak Dedi," ucap Bagus lembut, memecah kesunyian di antara mereka. "Dunia ini memang tempatnya ujian materi, dan manusia sering kali buta hanya melihat apa yang tampak di permukaan jasad saja. Tapi ingat satu hal, Pak; wibawa dan karisma sejati seorang lelaki itu tidak pernah lahir dari seberapa tebal dompetmu atau seberapa tinggi jabatan divisimu di mata makhluk. Karisma itu adalah pancaran murni dari ketenangan jiwamu yang terhubung langsung dengan Sang Pencipta."

Bagus bangkit berdiri dari bangku kayunya, lalu menepuk pelan pundak kanan Dedi yang terasa sangat dingin akibat sumbatan hawa negatif. "Beban yang membuat dada Bapak sesak dan kepala pening sejak seminggu ini, bukan murni karena masalah kantor atau urusan istri Bapak. Ada kabut hitam yang sengaja ditiupkan dari kejauhan untuk merusak sistem logika orang-orang di sekitar Bapak agar selalu melihat Bapak dengan rasa benci."

Dedi mendongakkan kepalanya dengan sepasang mata yang melotot tidak percaya, menatap wajah bersahaja Bagus yang tampak sangat berwibawa tegap. "Maksud... maksud Mas Bagus apa?"

"Kalau Pak Dedi bener-bener sudah yakin, mantap, dan percaya penuh kepada saya, mari kita ikut saya pulang sekarang," ajak Bagus dengan nada suara yang sangat tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Kita tidak bisa menyelesaikan urusan sensitif ini di warung kopi pinggir jalan yang bising ini. Ikutlah ke rumah kontrakan saya, di sana ada sebuah ruangan khusus yang tenang. Mari kita bersihkan sisa kotoran batin ini melalui jalur langit agar hidup Bapak kembali terang."

Dedi tidak mampu menolak. Getaran ketulusan dan rasa aman murni yang memancar dari pembawaan Bagus membuat sistem motoriknya patuh seketika. Setelah Bagus melunasi pembayaran kopi, mereka berdua kembali naik ke atas jok motor Beat karbu tua, melaju cepat membelah guyuran hujan sore menuju ke arah gang sempit kompleks kontrakan milik Bagus.

Sesampainya di rumah kontrakan, setelah disambut dengan senyuman ramah bersahaja oleh Sri yang langsung menyiapkan air minum di dapur, Bagus menuntun Dedi melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan khusus berukuran kecil di sudut belakang kontrakan. Ruangan itu sangat sederhana, hanya beralaskan selembar karpet hijau tua yang bersih tanpa ada hiasan apa pun, namun memancarkan atmosfer kesucian dan kedamaian spiritual yang sangat kental.

Di dalam ruangan yang sunyi inilah, Bagus bersiap mengamalkan esensi utama dari Ilmu Tawakalan Ahadi yang didasarkan pada ayat 'Faidza azamta fatawakkal 'alallah'. Bagus menyadari sepenuhnya bahwa ilmu hikmah jalur putih yang ia timba susah payah selama setahun di tanah Wetan tidak boleh ia simpan sendiri untuk kesaktian pribadi, melainkan harus mendatangkan manfaat nyata untuk menyelamatkan nasib hidup orang lain yang sedang dizalimi kegelapan. Bagus duduk bersila berhadapan langsung dengan Dedi, bersiap mengunci fokus batinnya untuk memulai proses penjajaran rasa dan pembersihan gaib tahap pertama bagi jiwa Pak Dedi.

“Ketika beban keduniawian telah meruntuhkan seluruh takhta harga dirimu di hadapan manusia, jangan pernah kau biarkan jiwamu mengemis perlindungan pada makhluk yang fana. Masuklah ke dalam ruang kesunyian, pasrahkan ragamu seutuhnya di bawah perlindungan Sang Pemilik Semesta, karena karisma sejatimu hanya akan bangkit bersama kesucian cahaya doa.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!