Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Lapangan dan Serangan Pertama
Kericuhan di auditorium AJA DISPOSA FILM menjadi berita utama di seluruh saluran televisi dan media sosial sepanjang hari. Kehadiran Tio Tanaya secara terbuka bukannya meruntuhkan mental Generasi Baru, melainkan makin menyulut api keberanian di dalam dada Laskar dan Kiyara.
Malam harinya, di studio produksi lantai atas gedung AJA DISPOSA FILM, Laskar berdiri di depan papan tulis raksasa yang dipenuhi peta lokasi syuting di kaki Gunung Salak. Kiyara sibuk memantau alokasi dana darurat bersama Rina, sementara Tiga Jenderal duduk mengawasi dari sofa utama.
"Tio Tanaya tidak akan menyerang lewat jalur hukum atau bursa saham saja," ujar Laskar, menancapkan pin merah pada area perkebunan tua di peta. "Dia tahu kekuatan utama kita ada di Gunung Salak—di mana seluruh warga desa berdiri di belakang Ayah. Target pertama mereka pasti mengacaukan lokasi syuting untuk membuktikan bahwa kita tidak mampu menjaga keamanan investasi."
Kiyara mengangguk setuju, mengetuk tabletnya. "Pagi ini saja, ada tiga vendor peralatan kamera utama yang mendadak membatalkan kontrak secara sepihak. Jelas ada tekanan finansial dari jaringan Tanaya Group."
Adam terkekeh pelan, menyesap kopi hitamnya. "Gaya lama yang sangat membosankan. Tio selalu memakai cara memotong rantai pasokan."
Adam menatap Jimi lalu melirik Ajo. "Jim, hubungi jaringan distributor peralatan kita di Surabaya dan Bangkok. Kirim unit kamera terbaik dalam waktu dua belas jam. Kalau Tio mau main tebal-tebalan modal, kita layani sampai rekeningnya kering."
"Sudah diatur, Dam," sahut Jimi seraya mengedipkan mata. "Peralatan pengganti sedang dalam perjalanan menuju lokasi."
Ajo bangkit dari duduknya, melangkah mendekati papan peta yang dibuat putranya. Jemarinya yang kekar mengelus lembut gambar area kebun cengkeh tua.
"Kalian berdua besok pagi langsung berangkat ke desa bersama tim pra-produksi," kata Ajo, menatap Laskar dan Kiyara. "Elsa dan Juli sudah lebih dulu ada di sana untuk menyiapkan akomodasi warga. Tapi ingat, Laskar... di desa itu, kamu bukan sekadar sutradara, tapi calon pemimpin yang harus menjaga keselamatan seluruh kru."
Laskar menatap ayahnya mantap. "Aku mengerti, Yah. Aku tidak akan mempermalukan nama Tiga Jenderal."
Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing di kaki Gunung Salak. Kabut tipis masih membungkus pepohonan cengkeh saat rombongan truk produksi AJA DISPOSA FILM tiba di pelataran balai desa.
Warga desa menyambut kedatangan Laskar dan Kiyara dengan kehangatan luar biasa. Bagi warga, Laskar dan Kiyara adalah anak-anak mereka sendiri yang kini tumbuh dewasa dan membawa kebanggaan bagi kampung halaman. Elsa dan Juli tampak sibuk membagikan makanan hangat bersama para ibu perkebunan.
Namun, ketenangan pagi itu tidak bertahan lama.
Saat tim teknis mulai menurunkan peralatan lampu dan rel kamera di area perkebunan tua, lima buah mobil jip hitam tanpa plat nomor mendadak datang dengan kecepatan tinggi, menggerung keras membelah jalanan tanah basah. Mobil-mobil itu berhenti mendadak, membunyikan klakson secara brutal dan menghalangi akses masuk menuju lokasi set utama.
Delapan pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam turun dari jip. Pimpinan mereka—seorang pria berwajah keras dengan bekas luka di pipi—melangkah maju sambil menendang salah satu papan penanda lokasi hingga hancur.
"Berhenti!" teriak pria berbekas luka itu dengan suara menggelegar. "Lahan perkebunan ini sedang dalam sengketa hukum di bawah klaim Tanaya Group! Siapa pun yang berani mengambil gambar di sini tanpa izin tertulis dari Tio Tanaya, peralatannya akan kami sita!"
Para kru film muda mendadak panik dan mundur ketakutan.
Laskar melangkah maju tanpa ragu, berdiri tegak di barisan paling depan mengkonfrontasi pimpinan preman tersebut. Kiyara mengikuti di sampingnya dengan ponsel yang merekam seluruh kejadian secara langsung (live streaming).
"Kami memiliki izin sah dari pemerintah daerah dan seluruh warga desa pemilik hak ulayat," tegas Laskar tenang, matanya menatap tajam pria berbekas luka itu tanpa ada sedikit pun rasa gentar. "Kalian tidak punya hak menghalangi produksi kami di tanah kelahiran kami sendiri!"
Pria berbekas luka itu tertawa meremehkan, melangkah mendekati Laskar hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. "Anak kecil sok jagoan... Kamu pikir nama besar ayahmu bisa melindungimu di tengah hutan ini?"
Pria itu mengangkat tangannya, hendak mencengkeram kerah kemeja Laskar.
SERGAP!
Sebelum tangan preman itu menyentuh Laskar, sebuah cengkeraman tangan lain yang amat kuat dan keras bagai besi mencengkeram pergelangan tangan pria itu di udara.
Suara langkah kaki yang berat dan penuh tekanan menggetarkan udara pagi. Dari balik rimbunnya pohon cengkeh tua, Ajo melangkah keluar dengan kaus oblong kusam dan celana kain yang dilipat—penampilan khas sang Jenderal Utama saat berada di tanah kelahirannya. Di belakangnya, puluhan warga desa membawa cangkul dan kayu perkebunan berdiri rapat menyatu.
Ajo memutar pergelangan tangan pimpinan preman itu perlahan hingga sang preman meringis kesakitan dan berlutut di tanah.
"Di kota, kalian boleh pakai hukum uang," bisik Ajo dengan suara dingin yang menusuk tulang. "Tapi di tanah Gunung Salak ini... jangankan menyentuh anakku, mengusik selembar daun cengkeh warga pun... kalian harus berhadapan dengan seluruh isi desa ini!"